Anda di halaman 1dari 26

Refrat

Vaginosis Bakterialis
OL EH

GEBBY BERRI

1110312121

PRESEPTOR
DR. YULIA MARGARETA SARI, SP.OG

ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2016

PENDAHULUAN

Bakterial vaginosis adalah


sindrom klinik akibat
pergantian Lactobacillus
Spp penghasil hidrogen
peroksida (H2O2) yang
merupakan flora normal
vagina dengan bakteri
anaerob dalam konsentrasi
tinggi

Keluhan
tersering
vaginitis

10-30 % pada
wanita hamil

Vaginosis
Bakterialis

50 % pada
pemakain
AKDR

Meningkat
pada PMS,
misal :
Trikomoniasis

50 % pada
wanita aktif
seksual

Wanita tidak
hamil

Sebagian besar
sembuh dengan
sendirinya
Prematuritas

BV

Ketuban pecah
dini
Wanita hamil
Bayi dengan
berat lahir
rendah
Endometritis
post partum

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Vaginosis bakterial adalah keadaan abnormal pada ekosistem
vagina yang disebabkan bertambahnya pertumbuhan flora
vagina bakteri anaerob menggantikan Lactobacillus yang
mempunyai konsentrasi tinggi sebagai flora normal vagina.

EPIDEMIOLOGI

Keluhan tersering
dibanding vaginitis
jenis lain

Meningkat pada
PMS, misal :
Trikomoniasis

50 % pada
pemakain AKDR

50 % pada wanita
aktif seksual,
meningkat pada
aktifitas seksual
bebas

10-30 % pada
wanita hamil

ETIOPATOGENESIS
Flora
normal

Flora
Patogen
Gardnerella
vaginalis
Mycoplasma
hominis

Lactobacillus

Mobilincus spp
Bacteriodes spp

Vaginosis
Bakterialis

LACTOBACILLUS

Asam
Laktat,
ph vagina
3,8-4,2

Hidrogen
Peroksida
(H2O2)
Bakteriosin

Kesehatan
Ekosistem
Vagina

PATOGENESIS

G. vaginalis

Menghasilkan
asam amino

Simbiosis
G.vaginosis
dengan bakteri
anaerob lain

pH vagina naik,
iritasi vagina, bau
tidak sedap

Asam amino
diubah menjadi
amin

INFEKSI INTRAUTERIN

Bakteri masuk
ewat serviks yang
pendek

Infeksi bakteri di
rongga
koriodesidua

Aktivasi desidua
dan korioamnion

Pelepasan Sitokin,
Endotoksin,
Eksotoksin

sintesis prostaglandin
pelepasan
metalloproteases

menyebabkan pecah
ketuban
Metalloprotease meremodeling kolagen
dalam serviks dan
melembutkannya

prematuritas

Prostaglandin

merangsang kontraksi
uterus
Perubahan pada fetus

MANIFESTASI
KLINIS

Vaginal discharge dari Vaginosis bacterialis

DIAGNOSIS

Anamnesis

Pemeriksaa
n Fisik
Pemeriksaa
n Penunjang

Preparat
Basah

Whiff test

Tes
Lakmus

Pewarnaan
Gram

Kultur

DIAGNOSIS
Kriteria Amsel (1983),
tiga dari empat gejala
Sekret
vagina yang
homogen, pH vagina
tipis, putih,
> 4,5
melekat
pada dinding
vagina

Tes amin
Adanya clue
positif,
cells pada
vagina
sediaan
berbau amis
basah
sebelum
(sedikitnya
atau setelah
20 dari
penambahan
seluruh
KOH 10%
epitel)
(Whiff test).

DIAGNOSIS BANDING
KANDIDIASIS

TRIKOMONIASIS

V.BAKTERIAL

Gejala

Gatal,iritasi

Nyeri,iritasi

Berbau

Warna

Putih kental

Kuning/hijau

Abu-abu

Konsistensi

Tebal

Berbusa

Cair

Bau

Jamur

Amis/bau busuk

Amis menyengat

pH

<4,5

>5,0

>4,5

Mikroskopis

Leukosit80%

Leukosit trikomonas Leukosit,Clue cell

Kultur

Perlu

Perlu

Tidak perlu

TATALAKSANA
Metronidazol
2 x 400 500 mg perhari,
7 hari

Amoksilav
3 x sehari selama 7 hari

Tetrasiklin 250 mg,


4 x sehari selama 5 hari.

Doksisiklin 100 mg,


2 x sehari selama 5 hari.

Eritromisin 500 mg,


4 x sehari selama 7 hari.

Cefaleksia 500 mg,


4 x sehari selama 7 hari.

Metronidazol gel intravagina


(0,75%) 5 g, 1 x sehari
selama 5 hari.

Topikal

Sistemik

Klindamisin 300 mg,


2 x sehari selama 7 hari

Klindamisin krim (2%)


5
g, 1 x sehari selama 7 hari.

Tetrasiklin intravagina 100


mg, 1 x sehari.

Triple sulfonamide cream.3,6


2 x sehari selama 10 hari

TATALAKSANA WANITA HAMIL

Trimester
I
Trimester
II dan III

Krim Klindamisin vaginal


Metronidazole oral dosis
yang lebih rendah dianjurkan
(Metronidazol 200-250 mg,
3 x sehari selama 7 hari)

Metronidazol oral
Gel Metronidazol vaginal
Krim Klindamisin vaginal

KOMPLIKASI
Wanita
tidak hamil
Tidak ada
komplikasi
setelah
pengobatan

Wanita
hamil
Prematuritas

Ketuban pecah
dini

Bayi dengan
berat lahir
rendah

Endometritis
post partum

PROGNOSIS

Pengobatan
ulang
dengan
antibiotik
yang sama
Angka kesembuhan
84-96%, perbaikan
spontan pada lebih
dari 1/3 kasus

PENUTUP

KESIMPULAN

Gangguan keseimbangan flora vagina

sekret vagina yang homogen, tipis,


putih dan melekat, pH vagina > 4,5,
tes amin yang positif; adanya clue
cells pada sediaan basah

Selulitis
Orbita
Vaginosis

Bakterialis
Pengobatan biasanya menggunakan
antibiotik seperti metronidazol dan
klindamisin.

Prognosis sangat baik, perbaikan


spontan pada lebih dari 1/3 kasus.
Screening dianjurkan bagi wanita
hamil mencegah komplikasi seperti
kelahiran prematur, ketuban pecah
dini, bayi berat lahir rendah, dan
endometritis post partum.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Judanarso J. Vaginosis bakterial. In: Adhi djuanda, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin
4th edition . Jakarta: Balai penerbit FKUI ; 2006. P.384-89

2.

Farid. Vaginosis Bakterialis: Duh tubuh nan kelabu. serial on the internet: about 3 p.
available from: http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=545

3.

Sylvia YM. Bakteri anaerob: yang erat kaitannya dengan problem di klinik. Jakarta: EGC;
2007.

4.

Davey Patrick. Duh tubuh vagina dan uretritis. In : At a Glance Medicine. Jakarta:
Erlangga; 2005. P.74-75.

5.

Sweet RL. Gibbs RS. Infectious diseases of the female genital tract. Baltimore: Williams
and Wilkins. 2004.

6.

Hiller SL. Holmes KK. Bacterial vaginosis. In : Holmes KK. Mardh PA. Sparling PF et al
eds. Sexually transmitted diseases. New York. Mc Graw hill information services co. 2003
: 547-59.

7.

Dewi AW. Studi prevalensi dan keberhasilan terapi vaginosis bakterialis pada ibu hamil
(dissertation). Semarang: Universitas Diponegoro; 2003

TERIMAKASIH