Anda di halaman 1dari 27

AKHLAK SUAMI ISTRI

Kelompok 6
1.
2.
3.
4.

M Ilham (12008)

Tri Wahyu Nurhayati (12008)


Riana Lisnawati (12008151)
Erlisa Suryati (12008)

AKHLAK SEORANG SUAMI

Pertama mengedepankan sikap welas asih, cinta,


dan kelembutan
Dalam Al-Qur`an, Allah berfirman;














Dan bergaullah dengan mereka (para istri)
secara patut, kemudian bila kamu tidak
menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena
mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak. (Qs. An-Nisa` : 19)

Rasulullah
Shallallahu
alaihi
Wassalam
bersabda, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah,
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik
kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang
paling baik perlakuannya kepada keluargaku.

Kedua, Sebagai seorang kepala keluarga, suami


dianjurkan untuk memperlakukan istri dan
anak-anaknya dengan kasih sayang dan
menjauhkan diri dari sikap kasar.
Adakalanya seorang suami menjadi tokoh
terpandang di tengah masyarakat, ia mampu
dan pandai sekali berlemah lembut dalam tutur
kata, sopan dalam perbuatan tapi gagal
memperlakukan keluarganya sendiri dengan
sikapnya saat berbicara kepada masyarkat.

Ketiga, seorang suami sangat membutuhkan pasokan


kesabaran agar ia tangguh dalam menghadapi
keadaan yang tidak mengenakkan. Suami tangguh
adalah suami yang tidak mudah terpancing untuk
lekas naik pitam saat melihat hal-hal yang kurang
tepat demi cinta dan rasa sayangnya kepada istri.
Betapa sabarnya Rasulullah sebagai seorang suami
dalam
mengurusi
para
istrinya.
Begitu sabarnya, sampai-sampai sebagai sahabat
beliau mengatakan, Tidak pernah aku melihat
seseorang yang lebih pengasih kepada keluarganya
melebihi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam.
(HR. Muslim).

Contoh seorang suami yang penyayang lainnya


dapat kita simak dari kisah Sayidina Umar bin
Khaththab Ra. Beliau yang terkenal ketegasan
dan sikap kerasnya dalam mengahadapi
kemunkaran, pernah berkata saat didatangi oleh
orang Badui yang akan mengadukan sikap
cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun
baru saja mendapat omelan dari istri dengan
suara yang cukup keras.

Umar memberi nasihat kepada si Badui, Wahai


saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri
dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak
atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri
meski sebenarnya aku bisa saya menyakitinya
(bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, aku
sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan
mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan
tidak ada yang merendahkan mereka selain orang
yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi
orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan
aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti
meski aku termasuk orang yang menang.

LANJUTAN
Umar
meneruskan
nasihatnya,
Wahai
Saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan
diri, karena dia (istriku) memiliki hak-hak atas
diriku. Dialah yang memasak makanan untukku,
membuatkan roti untukku, menyusui anakanakku, dan mencucui baju-bajuku. Sebesar
apapun kesabaranku terhadap sikapnya, maka
sebanyak itulah pahala yang aku terima.

Keempat, seorang suami hendaknya mampu


mencandainya. Adanya canda dan tawa dalam
kehidupan berumah tangga lazim selalu
dilakukan. Bayangkan apa yang terjadi jika
pasangan suami-istri melalui hari-harinya tanpa
canda. Lambat laun rumah tangganya menjadi
bak areal pemakaman yang sepi, senyap, hampa.
Suami yang ingin menunaikan hak-hak istrinya
akan berusaha mengundang canda, gurauan,
yang mencairkan suasana dengan senyum dan
tawa; berusaha untuk bermain perlombaan
dengan istri seperti yang dilakukan Rasulullah
kepada istrinya Aisyah Ra.

Dalam diri setiap manusia terdapat sifat


kekanak-kanakan, khususunya pada diri seorang
wanita. Istri membutuhkan sikap manja dari
suaminya dan karenanya jangan ada yang
menghalangi sikap manja seorang suami untuk
istrinya.

AKHLAK SEORANG ISTRI

Adapun kewajiban bagi pihak istri adalah tidak akan


membebani suaminya dengan hal-hal yang tidak
sanggup ia kerjakan dan tidak menuntut sesuatu yang
lebih dari kebutuhan. Sikap ini dapat menjadi
bantuan untuk suami dalam urusan finansial.
Alangkah mulianya seorang wanita yang berjiwa
qana`ah, cermat dalam membelanjakan harta demi
mencukupi suami dan anak-anaknya. Dahulu kala,
para wanita kaum salaf memberi wejangan kepada
suami atau ayahnya, Berhatilah-hatilah engkau dari
memperoleh harta yang tidak halal. Kami akan
sanggup menahan rasa lapar namun kami tak akan
pernah sanggup merasakan siksa api neraka. Inilah
akhlak pertama bagi pihak istri.

Kedua, istri shalihah adalah istri yang berbakti


kepada suaminya, mendahulukan hak suami
sebelum hak dirinya dan kerabat-kerabatnya.
Termasuk dalam masalah taat kepada suami
adalah berlaku baik pada ibu mertua.
Ketiga, istri sebagai guru pertama bagi anakanak, hendaknya mendidik mereka dengan
pendidikan yang baik, memperdengarkan katakata yang baik, mendoakan mereka dengan doa
yang baik pula. Semuanya itu merupakan
implementasi bakti istri kepada suaminya.

Keempat, karakter istri dengan adab baik adalah


tidak mengadukan urusan rumah tangga dan
mengungkit-ungkit
perkara
yang
pernah
membuat diri si istri sakit hati dalam berbagai
forum. Hal yang sering terjadi pada diri seorang
wanita yaitu menceritakan keadaan buruk yang
pernah menimpanya kepada orang lain. Seakan
dengan menceritakan masalah yang melilit
dirinya urusan akan terselesaikan. Namun yang
terjadi sebaliknya, keburukan dan aib keluarga
justru menjadi konsumsi orang banyak, nama
baik suami dan keluarga terpuruk, dan jalan
keluar tak kunjung ditemukan.

Bentuk adab kelima, tidak keluar dari rumahnya


tanpa memperoleh izin terlebih dahulu dari
suami. Mengenai hal ini, Nabi telah mewantiwanti dengan bersabda, Hendaknya seorang
wanita (istri) tidak keluar dari rumah suaminya
kecuali dengan seizin suami. Jika ia tetap
melakukannya (keluar tanpa izin), Allah dan
malaikat-Nya melaknati sampai ia bertaubat
atau kembali pulang ke rumah. (HR. Abu
Dawud, Baihaqi, dan Ibnu `Asakir dari Abdullah
bin Umar).

Demikian halnya dalam masalah ibadah non-wajib


seperti puasa sunnah, hendaknya seorang istri tidak
melakukannya kecuali setelah suami memberi izin.
Betapa indah kehidupan pasangan suami-istri yang
menjadikan rumah tangga Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi Wassalam sebagai titik singgung
dalam menghidupkan hubungan harmonis. Tidak
ada yang sempurna dari pribadi pria sebagai suami
dan wanita sebagai istri. Kelebihan dan kekurangan
pasti adanya. Suami-istri yang sadar antara hak dan
kewajibannya akan melahirkan generasi penerus
kehidupan manusia yang saleh, pribadi bertakwa,
dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Membina
rumah
tangga
bahagia
perlu
keterampilan,
kepandaian,
dan
kebijakan
pengelolalnya. Masing-masing pasangan dituntut
untuk pandai dan bijak mengelola rumah tangga
keduanya, pandai dan bijak mengelola hubungan
dengan buah hati mereka, pandai dan bijak
mengatur
waktu
antara
bekerja
dan
bercengkrama dengan pasangannya, pandai dan
bijak mengelola keuangannya, bahkan pandai
dan bijak mengelola cintanya.

KEWAJIBAN BERSAMA SUAMI ISTRI


Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan
suasana mawaddah- warahmah. (Ar-Rum: 21)
Hendaknya saling mempercayai dan memahami
sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa: 19
Al-Hujuraat: 10)
Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang
harmonis. (An-Nisa: 19)
Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan.
(Muttafaqun Alaih)

ADAB SUAMI KEPADA ISTRI


Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian
dalam menjalankan agama.
(At-aubah: 24)
Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati
Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
Hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah meminta istri yang
sholehah. (AI-Furqan: 74)
Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar
mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal),
Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari
satu. (AI-Ghazali)
Jika istri berbuat Nusyuz, maka dianjurkan melakukan
tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b)
Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak
menyakitkan.
(An-Nisa: 34)

LANJUTAN
Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik
akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya.
(Tirmudzi)
Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan
anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah
tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi
mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan
Bashri)
Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya.
(Abu Yala)
Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh
kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa: 19)
Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya
pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak
berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).

LANJUTAN
Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama
kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun
Alaih)
Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (HR.AIGhazali)
Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (AnNisa: 3)
Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasai)
Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami),
maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada
ketaatan, walaupun secara paksa. (HR.AIGhazali)
Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan
berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

ADAB ISTERI KEPADA SUAMI


Hendaknya istri menyadari dan menerima
dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah
pemimpin kaum wanita. (An-Nisa: 34)
Hendaknya istri menyadari bahwa hak
(kedudukan) suami setingkat lebih tinggi
daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
Istri wajib mentaati suaminya selama bukan
kemaksiatan. (An-Nisa: 39)
Diantara kewajiban istri terhadap suaminya,
ialah:

Menyerahkan dirinya,
Mentaati suami,
Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
Tinggal di tempat kediaman yang disediakan
suami
Menggauli suami dengan baik. (HR.Al-Ghazali)

Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya,


walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa i, Muttafaqun Alaih)
Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk
menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit
akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (HR.Muslim)
Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya.
Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang
mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya.
(HR.Tirmidzi)
Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang
meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga.
(HR.Ibnu Majah, Tirmidzi)
Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi
saw.: Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku
akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (HR.Timidzi)

Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya.


(Thabrani)
Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik
di hadapan suami(Thabrani)
Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya
atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa:
34)
Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak
anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang
berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian
suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun
Alaih)
Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan
mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

WANITA TERBAIK YANG PATUH


PADA SUAMI

HATURNUHUN

Pertanyaan :