Anda di halaman 1dari 40

BAB 8

PEMBUATAN ASAM SULFAT


(H2SO4) DENGAN PROSES
KONTAK

I. PENDAHULUAN
Asam sulfat merupakan bahan kimia yang
banyak digunakan sebagai bahan baku dan
bahan penolong dalam berbagai industri,
sehingga perkembangan pemakaiannya
dapat merupakan indikator bagi
perkembangan industri di suatu negara.
Industri yang menggunakan asam sulfat a.l. :
industri pupuk asam fosfat dan pupuk
alumunium sulfat, bahan kimia, bahan
pewarna, pulp dan kertas, besi dan baja,
serat sintetis dan rayon, minyak bumi,
industri baterai, obat-obatan dan lain-lain.

Asam sulfat diperoleh dari pembakaran sulfur dan


absorpsi gas yang dihasilkan (SO3) dalam air :
S
+
SO2 +
SO3 +

O2
O2
H 2O

SO2
SO3
H2SO4

Dua macam proses dapat digunakan :


Proses Kontak : mengahsilkan asam dengan
konsentrasi 98%.
Proses Timbal : menghasilkan asam sulfat
dengan konsentrasi 80%.

Pembuatan asma sulfat dengan proses


Timbal :
Menggunakan katalisator gas NO2.
Reaksi yang terjadi dijalankan dalam
reaktor yang dindingnya dibaut dari timbal.
Proses ini merupakan cara lama dan
sekarang sudah jarang dipakai.
Sejak tahun 1947, hampir semua pabrik
asam sulfat yang dibangun menggunakan
proses kontak, dengan kapasitas minimum
50 ton/hari.

Keunggulan proses ini :


Adanya perbaikan-perbaikan pada proses
itu sendiri, terutama katalis yang
digunakan.
Dengan asam sulfat pekat yang
dihasilkan, memungkinkan pengurangan
ongkos transportasi dan penyimpanan,
serta meningkatkan kemampuan
menjangkau pasaran yang lebih luas.
Dengan kadar SO yang tinggi, membuka
3
kemungkinan pemakaian dalam proses
baru seperti gulfonasi/sulfatasi.

Asam sulfat dengan proses Kontak


menggunakan katalisator Vanadium
Pentaoksida (V2O5).
Pada umumnya asam sulfat diproduksi
dengan kadar 98 -98,5%
asam sulfat
nampak terang dan mempunyai berat jenis
1,8 1,84 gr/ml.

Mula-mula belerang dipanaskan dengan


steam hingga meleleh.
Belerang cair tersebut dibakar dengan
oksigen (dari udara kering) dalam burner.

Panas yang dihasilkan oleh reaksi ini


dimanfaatkan untuk membangkitkan uap
air.
Gas dari burner dilewatkan ke filter dan
dimasukkan ke Converter untuk
mengoksidasi SO2 menjadi SO3.
Gas hasil oksidasi diserap dengan
menggunakan H2SO4 98 98,5 % di dalam
menara penyerapan.
Hasil asam sulfat dengan kadar 98 98,5%
disimpan dalam tangki penyimpanan.

II. CARA MEMPEROLEH BELERANG


Sebagai bahan baku digunakan sulfur dari:
Sulfur alam (penambangan) 50%.
Senyawa-senyawa sulfur seperti pyrite atau
batuan sulfida/sulfat lainnya 19%.
Gas buangan industri minyak bumi/batu
bara (H2S, SO2) 25%.
70 -85% dari produksi sulfur di atas
digunakan untuk pembuatan asam sulfat.

Proses pengambilan sulfur dilakukan dengan:

Pengambilan Sulfur alamiah dari deposit


dalam tanah (proses Frasch).
Dasar pengambilan :
- pencairan S di bawah tanah/laut dengan air
panas, kemudian memompakan ke atas, dengan
menggunakan 3 pipa konsentris.
- Air panas dipompakan ke dalam batuan S
melaui pipa paling luar, sehingga S akan
meleleh.
- Lelehan S akan membentuk suspensi dengan air
dan masuk ke bagian pipa antara pipa paling
luar dan pipa paling dalam.

- Pada pipa bagian dalam diinjeksikan udara


tekan untuk mendorong suspensi
belerang dan air
suspensi
belerang dan air yang bercampur akan naik
ke atas, untuk kemudian diolah lebih
lanjut untuk dimurnikan.
Pengambilan

Sulfur Alamiah dari


deposit gunung berapi.
Deposit S di gunung berapi dapat berupa
batuan, lumpur sedimen atau lumpur
sublimasi.

Kadarnya tidak terlalu tinggi 30 -60% dan jumlahnya


juga tidak terlalu banyak.
Pengambilan sulfur alamiah dari deposit gunung
berapi, berupa lumpur.
Diperlukan peningkatan kadar S terlebih dulu
dengan cara :
- Flotasi
dilakukan penambahan air sehingga belerang akan
terapung dan dapat dipisahkan.
- Pemanasan
setelah belerang ditambah air dan reagan- reagan,
dipanaskan dengan autoklaf selama - jam pada
tekanan 3 atm, sehingga partikel-partikel kecil
belerang terkumpul, kemudian dilakukan pencucian
dengan air untuk menghilangkan tanah.

Kemudian dipanaskan lagi dalam autoklaf


sehingga belerang terpisah sebagai
lapisan belerang dengan kadar 80 -90%.
Pengambilan

S dari gas buangan


Belerang diperoleh dari flue gas dari
pembakaran batu bara atau pengilangan
minyak bumi, yang tidak boleh dibuang ke
udara karena dapat menimbulkan
pencemaran.

Gas-gas tersebut terlebih dulu diabsorpsi


dengan menggunakan etanolamin atau
penyerap yang lain.
Setelah itu gas dipanaskan kembali untuk
mendapatkan gasnya kembali untuk
diproses lebih lanjut.
Reaksi utama yang dilakukan :
i. 2 H2S + 3 O2
ii. 4 H2S + 2 SO2

2 SO2 + 2H2O
S6 (g) + 4 H2O

Pengambilan

S dari batubara sulfida/sulfat


S dapat pula diambil dari sari batuan sulfida
atau sulfat, sepertu pyrite FeS2, calcopyrite
CuFeS2, covelite CuS, galena PbS, Zn
blende ZnS, gips CaSO4, barite BaSO4,
anglesit PbSO4 dsb.
Reaksi utama untuk pengolahan pyrite :
i.
FeS2
ii. 2FeS + 3 O2

2S2 + FeS
Fe2O3 + 2SO2

III. TEORI PROSES


Secara garis besar proses pembuatan asam
sulfat secara kontak dengan katalisator V 2O5
dan bahan baku belerang, terdiri dari beberapa
tahap yaitu :
a.

b.
c.

Pencairan belerang padat dan pemurnian


belerang cair.
Pengeringan udara proses.
Pembakaran belerang cair dengan oksigen dari
udara kering untuk menghasilkan gas SO 2.

d. Pengunahan SO2 menjadi SO3 dengan


bantuan katalisator.
e. Mereaksikan SO3 dengan H2O menjadi asam
sulfat dengan cara mengabsopsi gas SO 3
dengan menggunakan pengabsorpsi H 2SO4.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai beikut :
S
SO2
SO3

+
O2
+ O2
+ H 2O

SO2 (i)
SO3
(ii)
H2SO4
(iii)

Reaksi (ii) merupakan reaksi bolak-balik


(reversible) dan bersifat eksotermis
(melepas panas).
Konstanta kesetimbangan untuk reaksi
tersebut dapat dihitung berdasarkan
tekanan parsiil masing-masing gas , yang
dapat dinyatakan sebagai berikut :

Kp =

PSO3
PSO2 . PO21/2

Dari harga Kp pada berbagai temperatur


terlihat bahwa konversi menurun dengan
naiknya temperatur, sehingga diinginkan
untuk melakukan reaksi pada temperatur
rendah.
Pada suhu 440oC, kondisi kesetimbangan
sangat baik tetapin kecepatan reaksi pada
kesetimbangan ini rendah.
Kecepatan reaksi pada suhu 500oC, 40 kali lebih
cepat dibandingkan dengan pada suhu 400 oC
dan pada suhu 550oC akan lebih cepat lagi.

Karena reaksi balik (ke arah kiri) harus


dihindari maka temperatur yang dapat
ditoleransi adalah 550oC.
Prosedur yang digunakan pada pembuatan
asam sulfat dengan proses kontak
berusaha untuk dapat mengambil kedua
keuntungan tersebut (konversi reaksi yang
tinggi dan laju reaksi yang cepat).
Hubungan antara konstanta Kp dengan
fraksi mol dan tekanan total untuk
persamaan reaksi adalah sebagai berikut :

2 SO2 +
Adalah
nSO32 =

O2

2 SO3

nSO2 . nO2 . P
ntotal

Dimana :
n
: jumlah mol tiap komponen
ntotal : jumlah mol total
P
: tekanan total

Dari rumus di atas terlihat bahwa kenaikkan


konsentrasi SO2 atau O2 akan meningkatkan
pembentukan SO3 (hukum asas massa).
Kenaikkan tekanan akan menaikkan hasil
SO3, tetapi pengaruhnya sangat kecil dan
tidak ekonomis.
Jumlah mol SO3 yang terbentuk pada
kesetimbangan berbanding terbalik dengan
jumlah mol total (ntotal)
maka jika
campuran gas melalui converter bertambah
gas inertnya seperti gas N2 akan
menurunkan hasil SO3.

IV. LANGKAH PROSES


Pabrik asam sulfat menggunakan bahan baku:
belerang padat dengan kemurnian 99% berat
dan kandungan karbon sekitar 0,2% berat.
Udara atmosfer
Air dan asam sulfat pekat.
Proses yang digunakan adalah proses kontak
dengan sistem single contact single absorber.
Uraian secara lengkap adalah sebagai berikut.

1.

Pencairan Belerang dan Pemurniannya.

Belerang padat dicairkan dalam bak beton


dengan menggunakan steam yang mengalir
dalam koil pemanas. Suhu pencairan sekitar
135 oC.
Tujuan pencairan belerang :
- untuk memudahkan reaksi belerang
dengan udara kering ke dalam sulfur
burner.
- Untuk memurnikan belerang padat.
- agar pemasukkan belerang dalam sulfur
burner lebih teratur.

Belerang

cair dialirkan ke bak pengendapan


awal sehingga terjadi pengendapan awal
dari kotoran-kotoran yang terikut dalam
belerang padat.
Kemudian dimasukkan ke bak pengendapan
yang dilengkapi steam untuk menjaga
belerang tetap dalam keadaan cair.
Aliran belerang dibiarkan tertahan selama
beberapa waktu di bak pengendapan agar
kotoran belerang dapat mengendap
keseluruhan sehingga didapat belerang cair
murni.

Belerang

cair yang telah dimurnikan di bak


pengendapan dipompakan ke burner untuk
proses pembakaran.
Belerang cair tersebut dialirkan melalui pipa
yang berjaket uap dan diisolasi untuk
mempertahankan kondisi belerang agar tetap
cair.

2. Pengeringan Udara Proses


Pengeringan udara proses ini berfungsi untuk
menyerap air dalam udara dengan menggunakan
H2SO4, sehingga dihasilkan udara kering yang
digunakan untuk pembakaran belerang.

Udara

dari atmosfir yang dikompresi dengan


kompresor masuk melalui Air Filter untuk
menyaring kotoran yang terbawa udara.
Udara masuk ke Drying Tower dari bagian
bawah. Dari atas Drying Tower disemprotkan
H2SO4 dengan kadar 98,5% sehingga terjadi
kontak antara udara dengan H2SO4.
Asam sulfat yang digunakan sebagai penyerap,
diperoleh dari hasil pemekatan yang suhunya
sudah diturunkan, sehingga proses penyerapan
dapat berjalan baik.
Drying tower dibuat dari plat baja yang dilapisi
batu tahan asam dan diisi dengan packing pada
bagian atas yang terbuat dari bahan keramik.

Bagian

atas menara dilengkapi dengan


demister yang berfungsi untuk menangkap
butir-butir larutan asam sulfat yang terikut
dalam aliran udara.
Udara yang keluar Drying tower tersebut
sebagian dialirkan ke Sulfur Burner dan
sebagian dialirkan ke Convertor, untuk
direaksikan dengan gas SO2.
Udara kering yang mengalir ke Sulfur burner
sebagian dipanaskan dengan gas yang keluar
dari Convertor .
Kemudian udara kering dan panas tersebut
diatur temperaturnya dengan menambah atau
mengurangi udara kering by pass.

Di

dalam sulfur burner udara kering dan


panas tersebut akan membakar belerang cair.

3. Pembakaran Belerang Cair dengan


Udara Kering.
Reaksi belerang menjadi SO2 oleh O2 adalah
rekasi sangat mudah terjadi dan konversinya
mencapai 100%.
Jumlah oksigen yang dipakai adalah 8 10%
berlebihan

Persamaan reaksinya :
S + O2

SO2 + Q

Karena reaksinya eksotermis, maka diperlukan


adanya pendingin.
Dalam pembakaran ini tidak digunakan O 2
murni, tetapi dengan udara kering karena :
- Mengandung N2 yang diharapkan dapat
berfungsi sebagai penyerap panas gas SO2
tersebut.
- memakai udara kering karena titik leleh
belerang di atas titik didih air.

Gas hasil pembakaran yaitu SO2, O2 dan N2


dari Sulfur burner :
- sebagian dimanfaatkan panasnya untuk
menghasilkan steam
- sebagian lagi di by pass untuk mengatur
temperatur gas sebelum masuk Converter.
Sebelum masuk convertor, campuran gas
masuk gas filter yang berfungsi sebagai
penyaring debu dan kotoran lain yang
terbawa gas SO2 agar katalis dalam
convertor tidak cepat jenuh dengan kotoran.

Gas Filter tersebut juga diisi dengan katalis


V2O5, sehingga pada gas Filter telah terjadi
reaksi pembentukan SO3.
4. Pengubahan SO2 menjadi SO3 dengan
bantuan Katalis di dalam Conventer.
Katalis yang digunakan untuk mengkonversi
SO2 menjadi SO3 adalah Vanadium
Pentaoksida (V2O5).
Komponen lain :

Na2SO4

:
untuk mengurangi titik leleh silica gel atau zeolit
yang digunakan untuk memperluas permukaan
kontak.

Spesifikasi V2O5 :
Berbentuk silinder ring
Dapat beroperasi secara aktif pada temperatur
420 600 oC.
Tekanan operasi di Converter adalah 1820 mmH2O.
Reaktor yang digunakan untuk mengkonversi SO2
menjadi SO3 adalah Converter.

Converter terdiri dari 4 bed dan setiap bed


terdapat katalis dengan berat tertentu.
Karena katalis ini memiliki ketahanan pada suhu
tertentu dan reaksi bersifar eksotermis, maka
setiap keluar dari suatu bed, gas harus
didinginkan dahulu sebelum masuk bed
berikutnya.
Pengaturan suhu dilakukan dengan cara
memperbesar aliran udara masuk ke Cooler dan
memperkecil aliran gas masuk ke Cooler jika
suhu gas keluar cooler terlalu tinggi. Dengan
cara sebaliknya jika suhu gas keluar cooler
terlalu rendah.

Selain itu pendinginan dilakukan dengan cara


menambah udara kering ke dalam aliran gas.
Setelah itu, gas didinginkan menggunakan
pendingin air yang merupakan bahan baku
pembuat steam.
Gas keluar dari pendingin, kemudian dimasukkan
ke menara penyerapan (Absorber).
5. Penyerapan Gas SO3 dengan H2SO4 pekat.
Asam sulfat yang digunakan untuk penyerapan
dipilih asma sulfat pekat berkadar 98 98,5%.

Tidak digunakan H2O sebagai penyerap


karena
panas pelarutan SO3 dalam H2O lebih tinggi,
sehingga sebagian H2O akan teruapkan dan
membawa molekul H2SO4 sehingga
menimbulkan kabut yang sulit dipisahkan
tidak dapat sempurna diabsorpsi.
Reaksi yang terjadi :
H2SO4 +
H2S2O7 +

SO3
H2O

H2S2O7
2 H2SO4

Gas masuk menara penyerap (absorber) dari


dasar dan dikontakkan dengan asam sulfat
yang dialirkan dari atas menara.
Gas SO3 yang terdapat dalam campuran gas
akan diserap oleh asam sulfat pekat dan
gas tidak terserap dialirkan ke eliminator
untuk menangkap gas SO3 yang tersisa
sebelum dibuang ke udara melalui stack
agar jumlah gas SO3 yang terdapat dalam
gas buangan sekecil mungkin.
Efisiensi penyerapan diperbesar dengan
mengoperasikan pada temperatur rendah.

Pada bagian atas menara penyerap diberi


demister yang berfungsi untuk menangkap
butir-butir larutan H2SO4 yang terikut dalam
aliran gas.
Hasil penyerapan gas SO3 oleh asma sulfat di
dalam menara penyerap (absorber) berupa
asam sulfat pekat dengan kadar 98,5
99,5% yang merupakan hasil bawah dari
absorber dan mempunyai konsentrasi yang
tinggi (hampir murni).
Hasil penyerapan ditampung di tangki.

Untuk mempertahankan konsentrasi H2SO4 di


tangki pada konsentrasi 98,5 - 99,5%,
ditambahkan air make-up yang berasal dari
tangki dan dialirkan dengan menggunakan
pompa.
Asam sulfat pekat dalam tangki ini sebagian
dialirkan ke Dryng tower, menara penyerap
(absorber) dan tangki penyimpan produk
dengan pompa
tetapi suhu H2SO4
tersebut perlu diturunkan terlebih dulu
dengan pendingin.

Asam sulfat yang telah digunakan untuk


mengeringkan udara di drying tower akan
mengalami sedikit pengenceran dan
dimasukkan ke tangki.
Kadar asam sulfat dalam tangki dimonitor
dengan conductivity recorder. Sedangkan
jumlah air yang ditambahkan diatur dengan
menggunakan alat kontrol.
Pendinginan asam sulfat ini dibuat terpisah
supaya suhu H2SO4 yang masuk menara Dryng
tower dan menara penyerap (absorber) masingmasing dapat diatur.
Sebagai pendingin digunakan air pendingin dari
utilitas.

Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai