Anda di halaman 1dari 77

PPh BADAN

DeJePe

ANDANG WIRAWAN SETIABUDI SE Msi ME


andangsetiabudi@gmail.com

SUBJEK PAJAK BADAN

Subjek Pajak

Subjek Pajak Badan

Pengertian Badan

Kewajiban Pajak Subjektif

OBJEK PAJAK BADAN

Objek Pajak

Jenis Penghasilan

Objek Pajak Badan

Bukan Objek Pajak Badan

PENGHITUNGAN PPh

Penghitungan PPh Terutang

Pengurang Penghasilan Bruto

Pengurang Penghasilan Bruto

Pengurang Penghasilan Bruto

Kompensasi Kerugian

PENGHITUNGAN KOMPENSASI KERUGIAN


Penjelasan Pasal 6 ayat (2)

CONTOH
PT. A dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar Rp 1.200.000.000,00. Dalam
5 tahun berikutnya rugi-laba fiskal PT. A sbb :
2010 :
laba fiskal
Rp 200.000.000,00
2011 :
rugi fiskal
(Rp 300.000.000,00)
2012 :
laba fiskal
Rp N I H I L
2013 :
laba fiskal
Rp 100.000.000,00
2014 :
laba fiskal
Rp 800.000.000,00
Kompensasi kerugian dilakukan sbb :
Rugi fiskal Thn 2009
(Rp 1.200.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2010
Rp 200.000.000,00(+)
Sisa rugi fiskal Thn 2009 (Rp 1.000.000.000,00)
Rugi fiskal Thn 2011
(Rp 300.000.000,00)
Sisa rugi fiskal Thn 2009 (Rp 1.000.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2012
Rp N I H I L
(+)
Sisa rugi fiskal Thn 2009 (Rp 1.000.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2013
Rp 100.000.000,00(+)
Sisa rugi fiskal Thn 2009 (Rp 900.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2014
Rp 800.000.000,00
Sisa rugi fiskal Thn 2009 (Rp 100.000.000,00)
TIDAK BOLEH DIKOMPENSASIKAN LAGI
DENGAN LABA FISKAL THN 2015
HANYA BOLEH DIKOMPENSASIKAN DGN LABA FISKAL TAHUN 2015 & 2016
(KOMPENSASI DIMULAI SEJAK THN 2012 DAN BERAKHIR PADA TAHUN 2016)
19
DIT. P2HUMAS

Bukan Pengurang Pengh Bruto

Bukan Pengurang Pengh Bruto

Pelunasan PPh Terutang

PENILAIAN HARTA DAN


PENGHITUNGAN HARGA
TRANSAKSI

Pengalihan Harta

Penentuan Harga Transaksi

Penentuan Nilai Harta karena


Transaksi Hibah, Bantuan dan
Sumbangan

Penentuan Nilai dan Alokasi Biaya


Persediaan

PENYUSUTAN DAN
AMORTISASI FISKAL

Penyusutan dan Amortisasi

Metode Penyusutan dan Amortisasi

Metode Penyusutan

Metode Amortisasi

Saat Dimulainya Penyusutan dan


Amortisasi

Amortisasi untuk Biaya Tertentu

Tarif Penyusutan dan Amortisasi

CADANGAN BIAYA

Pembentukan Cadangan Biaya

Cadangan Biaya Bank

Cadangan Biaya Bank

Cadangan Biaya Leasing

Cadangan Biaya Asuransi Umum

Cadangan Biaya Asuransi Jiwa

Cadangan Biaya Reklamasi


Pertambangan

TARIF PPh TERUTANG DAN


PPh PASAL 25 WP BADAN

TARIF PAJAK PENGHASILAN


Pasal 17 ayat 1 (b), (2a), dan (7)
TARIF PAJAK PENGHASILAN BAGI
WAJIB PAJAK BADAN DN

28%

MENJADI 25% UNTUK


TAHUN PAJAK 2010
DENGAN PERATURAN PEMERINTAH
DAPAT DITETAPKAN TARIF PAJAK TERSENDIRI ATAS
PENGHASILAN SBGMN DIMAKSUD DLM PASAL 4 AYAT (2),
SEPANJANG TIDAK MELEBIHI TARIF PAJAK TERTINGGI
DIT. P2HUMAS
45

TARIF PAJAK PENGHASILAN


Pasal 17 ayat (4)
UNTUK KEPERLUAN
PENERAPAN TARIF PAJAK
JUMLAH PKP DIBULATKAN
KE BAWAH DALAM
RIBUAN RUPIAH PENUH

DIT. P2HUMAS
46

FASILITAS PERPAJAKAN
Pasal 31 E
WP BADAN DALAM NEGERI DENGAN
PEREDARAN BRUTO S.D RP 50 MILIAR MENDAPAT FASILITAS
BERUPA
PENGURANGAN TARIF SEBESAR 50% DARI TARIF NORMAL
YANG DIKENAKAN ATAS PENGHASILAN KENA PAJAK
DARI BAGIAN PEREDARAN BRUTO S.D RP 4,8 MILIAR.

DIT. P2HUMAS
47

CONTOH PENGHITUNGAN FASILITAS PERPAJAKAN


Pasal 31 E
Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar
Rp4.500.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp500.000.000,00.
Penghitungan pajak yang terutang:
Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto
tersebut dikenakan tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan
badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi
Rp4.800.000.000,00.
Pajak Penghasilan yang terutang:
50% x 28% x Rp500.000.000,00 = Rp70.000.000,00

DIT. P2HUMAS
48

CONTOH PENGHITUNGAN FASILITAS PERPAJAKAN


Pasal 31 E
Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar
Rp30.000.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp3.000.000.000,00.
Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang:
1.
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas:
(Rp4.800.000.000,00 : Rp30.000.000.000,00) x Rp3.000.000.000,00 =
Rp480.000.000,00
2.

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
memperoleh fasilitas:
Rp3.000.000.000,00 Rp480.000.000,00 = Rp2.520.000.000,00

Pajak Penghasilan yang terutang:


50%x 28% x Rp480.000.000,00 = Rp 67.200.000,00
28% x Rp2.520.000.000,00
= Rp 705.600.000,00
Jumlah Pajak Penghasilan yang terutang Rp 772.800.000,00
DIT. 49
P2HUMAS

49

Angsuran PPh Pasal 25 WP Badan

Dasar Penghitungan PPh Pasal 25

Besarnya Angsuran PPh Pasal 25

Angsuran PPh Pasal 25 Kondisi


Tertentu

PPh Pasal 25 dalam hal terdapat


Kompensasi Rugi

PPh Pasal 25 dalam hal terdapat


Penghasilan Tidak Teratur

PPh Pasal 25 dalam hal SPT Tahunan


Terlambat Disampaikan

PPh Pasal 25 dalam hal SPT Tahunan


Ditunda Penyampaiannya

PPh Pasal 25 dalam hal SPT Tahunan


Dibetulkan

Dinamisasi Angsuran PPh Pasal 25

Penghitungan Angsuran PPh Pasal 25


bagi WP Tertentu

Penghitungan Angsuran PPh Pasal 25


bagi WP Badan Baru

Penghitungan Angsuran PPh Pasal 25


bagi WP Bank dan Leasing

Penghitungan Angsuran PPh Pasal 25


bagi WP BUMN-BUMD

Jatuh Tempo Pembayaran dan


Pelaporan PPh Pasal 25

PENILAIAN KEMBALI
(REVALUASI) AKTIVA TETAP

Penilaian Kembali (Revaluasi) Aktiva


Tetap

Revaluasi Aktiva Tetap Tujuan Fiskal

Penghitungan Revaluasi Aktiva Tetap

Penghitungan PPh Terutang atas


Revaluasi Aktiva Tetap

Konsekuensi Revaluasi Aktiva Tetap

Tambahan PPh Final Revaluasi


Aktiva Tetap

Dikecualikan dari Tambahan PPh


Final Revaluasi Aktiva Tetap

Tata Cara Pembayaran PPh Terutang


atas Revaluasi Aktiva Tetap

Pengangsuran PPh Terutang atas


Revaluasi Aktiva Tetap

Perizinan Revaluasi Aktiva Tetap

Perizinan Revaluasi Aktiva Tetap

SEKIAN