Anda di halaman 1dari 29

PTERIGIUM

Laporan Kasus

Disusun Oleh :
dr. Amelia Muslimah Syahutami
Pembimbing :
dr. Debby L. Mintjelungan

DEFINISI
Menurut Sidharta Ilyas, Pterygium (Pteron
= wing/sayap) merupakan suatu
pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva
yang bersifat invasif dan degeneratif.
Pertumbuhan ini biasanya terletak pada
celah kelopak bagian nasal maupun
temporal konjungtiva yang meluas ke
daerah kornea

EPIDEMIOLOGI
Kasus pterigium banyak terjadi di daerah
iklim panas, kering dan berdebu.
Insiden tertinggi pterygium terjadi pada
pasien dengan rentang umur 20 49
tahun.
Umumnya bilateral tapi data penelitian di
RS. Dr.Soedarso pterigium unilateral
(58,96%) lebih sering terjadi dibandingkan
pterigium bilateral (41,04%).

Faktor Resiko

Patofisiologi
Akibat terpaparnya sinar UV terus menerus
limbal stem cell yang berfungsi sbg regenerasi
epitel kornea mengalami kerusakan.
Sinar ultraviolet jg menjadi mutagen untuk p53
tumor supressor gene pada limbal stem cell
hiperplasia sel meningkat. Sel-sel ini dapat
menginvasi kornea.
Pada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi
pembentukan jaringan konjungtiva pada
permukaan kornea.

Klasifikasi
Pterygium dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
Body, bagian segitiga yang meninggi pada
pterygium dengan dasarnya ke arah kantus
Apex (head), bagian atas pterygium
Cap, bagian belakang pterygium
Apex

Body
Cap

Pterygium juga dibagi dalam 4 derajat yaitu :


Derajat 1 : Jika pterygium hanya terbatas pada
limbus kornea

Derajat 2 : Jika pterygium sudah melewati limbus


kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea

Derajat 3 :
Jika pterygium sudah melebihi derajat 2 tetapi
tidak melebihi pinggiran pupil mata, dalam keadaan cahaya
normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3 4 mm)

Derajat 4 :Jika pertumbuhan


pterygium sudah melewati
pupil sehingga
mengganggu penglihatan.

MANIFESTASI KLINIK
Tahap awal biasanya asimptomatik
mata sering berair dan tampak merah
merasa seperti ada benda asing
timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh
pertumbuhan pterygium
pada pterygium derajat 3 dan 4 dapat terjadi
penurunan tajam penglihatan.
Dapat terjadi diplopia sehingga menyebabkan
terbatasnya pergerakan mata.

PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Penyuluhan u/ atasi iritasi maupun paparan UV
-

Pemakaian kacamata antiUV atau pemberian air


mata buatan

Untuk pterygium derajat 1-2 yang mengalami


inflamasi obat tetes mata kombinasi
antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7
hari

2. Tindakan Operatif
INDIKASI OPERASI
Pterygium yang menjalar ke kornea sampai lebih
3 mm dari limbus
Pterygium mencapai jarak lebih dari separuh
antara limbus dan tepi pupil
Pterygium yang sering memberikan keluhan mata
merah, berair dan silau karena astigmatismus
Kosmetik, terutama untuk penderita wanita

Teknik yang bisa digunakan pada


pembedahan pterygium, yaitu :
Tekhnik bare sclera
Melibatkan eksisi kepala dan tubuh
pterygium. Bertujuan untuk menyatukan
kembali konjungtiva dengan permukaan
sclera. Tingkat kekambuhan tinggi, antara 40
75 %,

- Teknik Autograft Conjungtiva


Tingkat kekambuhan minimal. Melibatkan
pengambilan autograft, biasanya dari
konjungtiva bulbi bagian superior. dieksisi
sesuai dengan ukuran luka kemudian
dipindahkan dan dijahit atau difiksasi
dengan bahan perekat jaringan (misalnya
Tisseel VH, Baxter Healthcare, Dearfield,
Illionis)

- Cangkok membran amnion


- membran amnion berisi faktor penting untuk
menghambat peradangan dan fibrosis dan epitelialisasi
- tingkat kekambuhan sangat beragam antara 2,6 -10,7 %
untuk pterygium primer dan 37,5 % untuk kekambuhan
pterygium
- Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera.
Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan
lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion
menempel jaringan episkleral dibawahnya

KOMPLIKASI
Pre-Operatif

Gangguan penglihatan
Mata kemerahan
Iritasi
Gangguan pergerakan bola
mata.
Timbul jaringan parut pada
konjungtiva dan kornea
Timbul jaringan parut pada
otot rektus medial yang
dapat menyebabkan diplopia

Post-Operatif
Rekurensi
Infeksi
Ulkus kornea
Graft konjungtiva yang
terbuka
Diplopia
Adanya jaringan parut
di kornea

DIAGNOSIS BANDING
Pinguecula
selaput kekuningan yang merupakan
penumpukan lemak pada konjungtiva mata,
bentuknya kecil dan meninggi
Tindakan eksisi tidak diindikasikan pada kelainan
ini
Prevalensi dan insiden meningkat dengan
meningkatnya umur
Pinguekula hanya sebatas limbus dan
konjungtiva. Pinguekula tidak mencapai kornea.

Pseudopterygium

Pterigium

1. didahului riwayat
kerusakan permukaan
kornea.
2. Tidak terlalu menonjol
3. dapat dimasukan sonde
di bawahnya
4. tidak memerlukan
pengobatan, serta
pembedahan.

1. Tidak
2. Pembuluh darah
konjungtiva lebih
menonjol
3. Tidak dapat
4. Perlu pengobatan dan
tindakan operatif

PROGNOSIS
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah
dieksisi adalah baik
Sebagian besar pasien dapat beraktivitas
kembali setelah 48 jam postoperasi.
Pterigium dapat kembali lagi atau muncul
kembali terutama pada pasien dengan
umur dibawah 40 tahun.

STATUS PASIEN

Nama
Umur
Jenis kelamin
Status
Pendidikan
Pekerjaan

:
:
:
:
:
:

Ny. M
42 tahun
Perempuan
Menikah
SLTA
Ibu rumah tangga

Pasien pernah
berkonsultasi dengan
dokter mata dan
dianjurkan untuk
operasi

OBJEKTIF

Kesadaran
GCS

: Composmentis
: 15 (E4.M6.V5)

Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu

:
:
:
:

110/70 mmHg
80 x/ menit
18 x/ menit
36,7 oC

Status Oftalmologi

OD

OS

Tumbuh teratur

Tumbuh teratur

Palpebra superior

t.a.k

t.a.k

Palpebra inferior

t.a.k

t.a.k

tenang

tenang

tenang

tenang

silia

Konjungtiva tarsus
superior

Pemeriksaan
Eksternal

Konjungtiva tarsus
inferior
Konjungtiva bulbi

Terdapat jaringan

Injeksi
konjungtiva (-) ;

fibrovaskular
berbentuk segitiga
melewati limbus

injeksi siliar (-) ;

namun belum

perdarahan (-)

mencapai pupil

DIAGNOSIS BANDING
Pseudopterigium
DIAGNOSIS KERJA
Pterigium grade III OS
TATALAKSANA
Rujuk ke spesialis mata RSAD Robert
Wolter Monginsidi

Rencana edukasi
Anjuran untuk memakai topi dan kacamata saat
beraktivitas diluar ruangan atau sewaktu bekerja.
Anjuran untuk mengurangi aktivitas diluar
ruangan.

Prognosis
Ad vitam
: ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam

Terima Kasih