Anda di halaman 1dari 38

Model Dinamika Sistem

Penularan Demam Berdarah


Dengue dalam Kaitan dengan
Pola Variabilitas Iklim
di Jakarta

MM Sintorini
1

Latar Belakang

Faktor fisik lingkungan yang mempengaruhi penularan


dan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue di
Indonesia adalah:
Pemukiman penduduk yang padat dan tidak teratur,
Sanitasi buruk tanpa air bersih yang mengalir,
Kurangnya kontrol vektor nyamuk di daerah endemis,
Belum terkumpulnya informasi lengkap tentang
kondisi lingkungan tempat kejadian penyakit.

Letak geografis Indonesia yang potensial menyebabkan


kasus tetap ada.
2

Penyebaran Kasus Demam Berdarah Dengue

Sumber : http//www.cdc.gov

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)


dibentuk PBB untuk menanggapi hubungan perubahan
iklim global terhadap kesehatan.
Ramalan IPCC: Insidens DBD di Indonesia akan naik 3
lipat pada 6 dekade yang akan datang jika keadaan
lingkungan tidak ada perubahan.
Dampak kesehatan penting adalah dari
Perubahan ketersediaan air bersih,
Makanan, dan
Penyebaran penyakit infeksi.
Perubahan komponen lingkungan akan mempengaruhi
spesies dalam ekosistem, pola penyebaran vektor dan virus
pada lintang yang lebih tinggi.
4

Focks et al., 1995:


Jangka hidup nyamuk dipengaruhi oleh suhu, kelembaban,
dan nutrisi. Suhu mempengaruhi siklus gonotropik.
Chen, 1995:
Terjadinya ledakan kasus (outbreak) diakibatkan oleh perilaku
menggigit berulang (multiple bites) pada satu siklus gonotropik
dan virus akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang
hidupnya.
Rodriguez et al., 1995:
Jumlah Aedes betina 1,5 per orang menjadi faktor risiko yang
signifikan, sehingga besarnya jumlah nyamuk betina dalam
satu rumah tidak berhubungan bermakna dengan transmisi
epidemik.
5

Hasil penelitian & Prediksi

Pada musim hujan dan suhu 17o30oC, infeksi dengue dapat


mencapai 4 kali lipat.

Penelitian PIE (periode inkubasi ekstrinsik) :


Untuk dengue tipe 2 pada suhu 30oC adalah 12 hari dan pada
suhu 32o35oC hanya 7 hari. Periode inkubasi yang lima hari
lebih pendek, berpotensi mempercepat reproduksi hingga 3 kali
lipat.

Koopman (1991):
Kenaikan suhu lingkungan rata-rata 3o4oC, dapat menaikkan
reproduksi virus dengue 2 kali lipat (McMichael, 1996). Diprediksi
Lonjakan 3 kali lipat kasus DBD di Indonesia tahun 2070 dapat
diprediksi dengan permodelan.
6

Fenomena El Nino (Gagnon, et al., 2001) :

Di Indonesia suhu menghangat selama El Nino mulai bulan


September sampai Mei.

Angin dari arah timur Samudra Pasifik yang melemah,


mengubah pusat konfeksi di Samudra Pasifik dari barat ke
tengah equator, menyebabkan rata-rata hujan di Asia
Tenggara berkurang.

Dari 6 kali wabah dengue di Indonesia sejak tahun 1972, 4


diantaranya berhubungan dengan fase El Nino

Selama El Nino tahun 1986-1987, kekeringan terjadi di Pulau


Jawa dan Kalimantan Selatan. Pada saat itu terjadi dua kali
puncak kenaikan suhu permukaan air laut yang memicu El Nino:
Desember 1986-Januari 1987 dan Juli-Agustus 1987.

Hal ini menyebabkan anomali curah hujan (curah hujan rata-rata


rendah) di beberapa wilayah Indonesia. Pada saat itu terjadi
lonjakan kasus DBD di Jakarta.

Data bulanan epidemiologi dan curah hujan periode 1994-1998


juga menunjukkan anomali iklim dan lonjakan kasus DBD di
Indonesia.

Hubungan Antara Kasus DBD dengan


El Nino (EN) di Indonesia

AGENT

KESEHATAN
KELUARGA
PEJAMU / HOST
(MANUSIA)

KEADAAN
LINGKUNGAN

FAKTOR RESIKO (PENYEBAB PENYAKIT)


BERSUMBER NYAMUK

10

IR per 100,000

No of City/Districts Infected

Number of DHF Cases and Infected Areas in


Indonesia (1968 2003)

Incidence Rate (IR)


No of Infected Areas

11

12

Dengue (DHF)
Outbreak in
Indonesia (2004)

Outbreak areas
Potential Outbreak areas

13

Perkembangan Aktivitas Kehidupan Vektor

Berkembang
Telur - Dewasa

Mencari makan
Kawin

Beristirahat

Bertelur
Kawin
Makan

14

Typical Water Containers in Rural Area

16

Permasalahan
Laporan

badan dunia mengenai peringatan dini


wabah DBD, belum ditanggapi serius oleh
masyarakat di Indonesia sehingga ledakan kasus
selalu berulang.
Lingkungan telah teridentifikasi berpengaruh pada
kasus DBD, tetapi hingga kini belum ada
kesepakatan tentang faktor lingkungan yang dapat
dijadikan indikator untuk memprediksi terjadinya
kasus, sehingga akan mempermudah pengelolaan
kasus di masa mendatang.
17

Skema

18

Kerangka Teori
Climate
Temperature, Humidity,
Rainfall, Rain day,
Precipitation and
Extreme weather events

Transmission Biology
Vector reproduction/
movement

Ecology
Vegetation, Soil
moisture, and Land
use

Social Factors
Vector control,
Travel/migration,
Behavior, Population,
Basic sanitation

Disease Outcome
Rate of transmission,
Incidence Rate

19

Hubungan
Kasus DBD,
AHJ, dan NIR
dengan Faktor
Iklim di DKI
Jakarta
April 2004
Maret 2005

20

21

Hubungan AHJ,
NIRdan Kasus
DBD per
wilayah di DKI
Jakarta
April 2004-Maret
2005

22

Jumlah Kasus DBD, per Wilayah DKI


Tahun 2004 dan 2005

23

Efek Gas
Rumah
Kaca

R1

Gas
CO2

Model Dasar
Demam
Berdarah
Dengue

Curah
Hujan

Suhu
Muka Air
Laut

R2
Fenomena
El Nino

Suhu
Global

Suhu
lingkungan

Tempat
Perindukan
Nyamuk

+
+

Telur
Aedes

B9

Pupa
Aedes

Aedes
Infektif

Aedes
Dewasa

R3

Larva
Aedes

+
+

Aedes
Penular

+
+

Angka
Hinggap
per Jam

Keaktifan
Masyarakat

Keaktifan
Individu

B10

Laju
Transmisi

+
+
+

Lahir R4 Manusia
Rentan

B5

Manusia
Terinkubasi

B6 Manusia
Penular B7

Manusia
Sakit DBD

+
-

B8

Manusia
Imun

Infrastruktur

Morbiditas

24

Hasil Simulasi Model Dasar Kejadian DBD

25

Efek Gas
Rumah
Kaca

Model
Skenario 1

R1
Gas
CO2

Suhu
Global

Curah
Hujan

Telur
Aedes

+
+

Pupa
Aedes

Aedes
Infektif

Aedes
Dew asa

R3

Larva
Aedes

B9

PSN

Suhu
lingkungan

Suhu
Muka
Air
Laut

Fenomena
El Nino

Tempat
Perindukan
Nyamuk

R2

Aedes
Penular

Angka
Hinggap
per Jam

Keaktifan
Masyarakat
+

Keaktifan
Individu

B10

Laju
Transmisi

+
+
+

+
+

Lahir R4 Manusia
Rentan
+

JUMANT IK

B5

Manusia
Terinkubasi

Infrastruktur

Morbiditas

B6

Manusia
Penular

B7

Manusia
Sakit DBD

B8

Manusia
Imun

26

Model Intervensi PSN-Jumantik

27

Efek Gas
Rumah
Kaca

R1

Model
Skenario 2

Gas
CO2

+
+

Suhu
Global

Curah
Hujan

Fenomena
El Nino

Tempat
Perindukan
Nyamuk

Telur
Aedes

Aedes
Infektif
+

Pupa
Aedes

Aedes
Dew asa

R3

Larva
Aedes

B9

Suhu
lingkungan

Suhu
Muka Air
Laut

R2

Aedes
Penular

+
+

Keaktifan
Masyarakat

Angka
Hinggap
per Jam

Laju
Transmisi
+

Manusia
Rentan

B10

R4

Keaktifan
Individu

Lahir

PENGASAPAN

B5

Manusia
Terinkubasi

B6

Manusia
Penular

B7

Manusia
Sakit
DBD

B8

Manusia
Imun

Infrastruktur

Morbiditas

28

Model Intervensi Pengasapan (Fogging)

29

Efek Gas
Rumah
Kaca

Model
Skenario 3

R1

Gas
CO2

Suhu
Global

Curah
Hujan
+

Telur
Aedes

+
+

R3

Larva
Aedes

Pupa
Aedes

B9

Aedes
Infektif

Aedes
Dewasa

Aedes
Penular

+
+

Angka
Hinggap
per Jam
Keaktifan
Masyarakat
+

Keaktifan
Individu

B10

Laju
Transmisi

+
+

LahirR4

Suhu
Muka Air
Laut

Fenomena
El Nino

Tempat
Perindukan
Nyamuk

Suhu
lingkungan

R2

PERILAKU
MASYARAKAT

Manusia
Rentan

PENINGKATAN
PSP
MASYARAKAT
Infrastruktur

B5

Manusia
Terinkubasi

Morbiditas

B6

Manusia
Penular

B7

Manusia B8 Manusia
Sakit DBD
Imun

30

Model Intervensi
Peningkatan Perilaku Masyarakat

31

Model
Skenario 4

R1

Gas
CO2

Efek Gas
Rumah
Kaca

+
+

Suhu
Global

Fenomena
El Nino

Tempat
Perindukan
Nyamuk

Telur
Aedes

R3

Larva
Aedes

B9

Aedes
Penular

+
+

Keaktifan
Individu

B10

Laju
Transmisi

Manusia
Rentan

B5

Manusia
Terinkubasi

Aedes
Infektif

Lahir R4

+
+

Aedes
Dew asa

Pupa
Aedes

PERBAIKAN
INFRAST RUKTUR
Angka
Hinggap
per Jam
Keaktifan
Masyarakat

+
-

Suhu
lingkungan

Suhu
Muka Air
Laut

R2

Curah
Hujan
+

B6 Manusia B7
Penular

Manusia B8 Manusia
Imun
Sakit DBD

Infrastruktur

Morbiditas

32

Model Intervensi Perbaikan Infrastuktur

33

Faktor

Risiko Penularan:

Manusia:
perilaku
budaya

menyimpan air
kepadatan penduduk
mobilitas
Lingkungan:
daerah

tropis
musim hujan
kebersihan lingkungan
Agent:
virus:

4 serotype (D1, D2, D3,D4)

Vektor:
tersebar

dimana-mana
34

Permasalahan Utama: PSN


Kurangnya Perhatian MASYARAKAT
terhadap Kebersihan Lingkungan
khususnya dalam Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN)
(tidak melaksanakan 3 M secara
teratur)

35

Kegiatan yang sudah dilaksanakan

Mengirimkan surat kewaspadaan dini kepada seluruh


gubernur di Indonesia
Meningkatkan sistem surveilans
Menyediakan anggaran bencana dan KLB
Melatih dokter dalam tatalaksana DBD di 10 kota besar
Mengembangkan petugas Jumantik, membuat
pedoman, juklak, juknis
Meningkatkan upaya penyuluhan melalui pameran,
penyediaan sarana penyuluhan (brosur, poster)
Pelatihan petugas dalam peran serta masyarakat dalam
PSN DBD
36

KESIMPULAN
DBD cenderung meningkat
Masyarakat masih lebih suka
Pengasapan/Fogging
Metode penggerakan peran serta masyarakat
tersedia, (PSN-DBD 3M -menguras, menutup
dan mengubur-) plus Larvasida / ikanisasi
Harus melibatkan LSM dan lintas sektor terkait.
Harus serentak dilaksanakan oleh seluruh
komponen masyarakat, secara teratur,
seminggu sekali.

37

38

Anda mungkin juga menyukai