Anda di halaman 1dari 45

E

BOL

Apa itu penyakit Virus EBOLA


Adl salah satu dari banyak penyakit
DEMAM BERDARAH VIRUS
Berakibat fatal pada manusia & primata
(monyet, gorila dan simpanse )
Inkubasi : 1-21 hari
CFR : 50 - 90%
Kasus 1 : Sudan & Rep. Dem. Kongo
(1976)
Kasus EBOLA pertama, 1976

VIRUS EBOLA ( 5 Genus)

BUNDIBUGYO Ebolavirus (BDBV)


ZAIRE Ebolavirus (EBOV)
SUDAN Ebolavirus (SUDV)
RESTON Ebolavirus (RESTV)
THAI FOREST Ebolavirus (TAFV)

Wabah di Afrika : BDBV, EBOV & SUDV

Demam,
Sakit kepala
Nyeri sendi & otot,
Lemah,
Diare,
Muntah
Sakit perut, Kurang nafsu makan
Menurunnya fungsi liver & ginjal
Perdarahan yg tak biasa

GEJALA

SEJARAH
1976 : Pertama ditemukan di Zaire &
Sudan
Px : pekerja toko. Tiba2 sakit (5 hr
meninggal)
Gejala : 15 hr flu, demam tinggi,
nyeri, diare, muntah dan ruam di
seluruh tubuh, perdarahan....
Hari ke 7-10 : kelelahan, dehidrasi &
shock
33 dari 61 perawat tertular dan

SITUASI EBOLA
TH
1976

NEGARA

KASU
S

(1)
MATI

CFR

CONGO ZAIRE

318

280

88%

SUDAN

284

151

53%

1977

CONGO ZAIRE

100%

1979

SUDAN SUDAN

34

22

65%

1994

GABON ZAIRE

52

31

60%

COTE dIVORY TAI


FOREST

0%

1995

CONGO ZAIRE

315

254

81%

1996

GABON ZAIRE

60

45

75%

SOUT AFRIKA (EX GABON


ZAIRE)

100%

2000

UGANDA SUDAN

425

224

53%

2001-

GABON ZAIRE

65

53

82%

SITUASI EBOLA
TH
2003

NEGARA

KASU
S

(2)

MATI

CFR

CONGO ZAIRE

143

128

90%

CONGO ZAIRE

35

29

83%

2004

SUDAN SUDAN

17

41%

2005

CONGO ZAIRE

12

10

83%

2007

CONGO ZAIRE

264

187

71%

UGANDA

149

37

25%

2008

CONGO ZAIRE

32

14

44%

2011

UGANDA SUDAN

100

2012

CONGO

57

29

51%

UGANDA SUDAN

24

17

71%

UGANDA SUDAN

57%

SITUASI EBOLA
TH

NEGARA

(11 AGUSTUS 2014)

KASU MATI
S

CFR

GUERRIA

519

380

73%

LIBERIA

786

190

52%

SIERRA LEONE

810

733

43%

NIGERIA

12

33%

CARA PENULARAN
Melalui kontak langsung dengan darah atau cairan
tubuh yang terkontaminasi virus (terpapar) obyek
(seperti jarum) yang terkontaminasi dengan sekresi
yang terinfeksi
Tak bisa menular lewat : UDARA, AIR atau MAKANAN
Cerrier tak bisa menularkan ke orang lain. Bisa
menularkan jika terjadi kontak langsung dengan
orang yg mempunyai gejala ...

PENCEGAHAN
Mencegah kontak dgn darah / cairan
tubuh hewan yg terinfeksi ( monyet,
kelelawar, babi)
Gunakan APD & cuci tangan ketika
disekitar penderita

KEMENKES RI
Surat Edaran No.IR.02.02/D/II.3/384/2084 tentang Kewaspadaan
Terhadap Suspek Kasus Penyakit Virus Ebola
(Ebola Virus Disease EVD)

Memantau perkembangan melalui


IHR 2005
Komunikasi dengan Outbreak Centre
WHO
Mengamati perkembangan penyakit
di negara terjangkit

LANGKAH ANTISIPASI KITA

Mengikuti perkembangan Ebola melalui


Kemenkes & WHO
Pengamatan ketat pada penumpang yg
datang dari wil. Terjangkit
Pengamatan ketat & respon dini terhadap
kemungkinan suspek Ebola yg ditemukan di
masy., RS & fas. Kes lain termasuk pintu
masuk melalui pelabuhan
Kasus Suspek : ambil spesimen, pertolongan
& rujukan cepat
Penyuluhan : segera berobat bila ada
demam dan ada faktor risiko
Segera lapor bila ada suspek

AMANKAN DATANG KE
NEGARA TERJANGKIT ...?
Travel warning ...?
Upaya :
Hindari kontak dengan orang sakit
Jaga kesehatan dengan PHBS
Konsumsi makanan yg diolah
dengan baik
Segera cari pertolongan yankes
bila ada gejala
KOREA UTARA : TUTUP PARIWISATA

PENGENDALIAN &
PENCEGAHAN

Mencegah & mengendalikan penyebaran penyakit virus Ebola


di Indonesia
Terlaksananya deteksi dini & kesiapsiagaan menghadapi
kemungkinan masuknya penyakit virus Ebola.
Terlaksananya tatalaksana kasus standar.
Terlaksananya pengambilan, pengepakan, pengiriman
specimen serta pemeriksaan laboratorium sesuai standar.
Terlaksananya pencegahan & pengendalian infeksi dalam
setiap penanganan kasus agar tidak terjadi penularan pada
setiap orang yang kontak
Terlaksananya penyebaran informasi kepada masy. untuk
meningkatkan
kewaspadaan.
Dr. CRAIG SPENCER
(PX EBOLA NEW YORK)

SURVEILANS

(1)

KASUS SUSPEK
1) Setiap orang, baik hidup atau meninggal yang mengalami
atau menderita demam tinggi mendadak dan memiliki
riwayat kontak dengan:
- Kasus probabel atau konfirmasi Penyakit Virus Ebola
- Hewan sakit atau mati karena Penyakit Virus Ebola
Atau:
2) Setiap orang yang memiliki gejala demam (>38 C)
DAN
disertai minimal 3 gejala berikut:
sakit kepala
muntah (vomit)
tidak nafsu makan (loss of appetite) diare (berdarah /
tidak berdarah)
lemah (weakness)
nyeri perut
nyeri otot (myalgia)
sesak napas
TERESA
ROMERO(throat
(SPANYOL
PXcegukan
YG SEMBUH)
nyeri
tenggorokan
pain)
(hiccup)

SURVEILANS

(2)

KASUS SUSPEK
DAN
memiliki riwayat perjalanan dari negara terjangkit dalam
waktu 21 hari sebelum timbul gejala.
Atau:
3) Setiap orang dengan perdarahan yang tidak dapat
dijelaskan
DAN
memiliki riwayat perjalanan dari negara terjangkit
dalam waktu 21 hari sebelum timbul gejala.
Atau:
4) Setiap kematian mendadak yang tidak dapat
dijelaskan .
DAN
memiliki riwayat perjalanan dari negara terjangkit

KASUS PROBABLE
1) Setiap kasus suspek yang ditetapkan sebagai
kasus
penyakit virus Ebola setelah dilakukan
pemeriksaan lanjut oleh klinisi di rumah sakit
rujukan & tidak ditemukan sebab lain.

DAN
mempunyai kaitan epidemiologi dengan kasus
konfirmasi atau hewan penular Ebola

Atau:
2) Setiap kasus suspek yang meninggal dan tidak
memungkinkan lagi untuk mengambil
spesimen untuk
konfirmasi laboratorium, serta mempunyai

KASUS KONFIRMASI

Kasus suspek atau probabel dengan


hasil pemeriksaan PCR positif oleh
Laboratorium Balitbangkes.
Bukan Kasus: Setiap kasus suspek
atau probabel dengan hasil
laboratorium NEGATIF.

KLASTER

Adalah bila terdapat dua orang atau


lebih dengan gejala penyakit virus
Ebola, dan mempunyai riwayat kontak
yang sama dalam jangka waktu 21 hari.
Kontak dapat terjadi pada keluarga
atau rumah tangga, dan berbagai
tempat lain seperti rumah sakit, ruang
kelas, tempat kerja, barak militer,
tempat rekreasi, dan lainnya.

HUBUNGAN EPIDEMIOLOGI LANGSUNG

Adalah apabila dalam waktu 21 hari


sebelum mulai gejala:
a. Kontak dengan kasus penyakit virus
Ebola
Kriteria kontak adalah melakukan
salah satu kegiatan berikut:
Kontak dengan darah atau cairan tubuh
pasien penyakit virus Ebola melalui jaringan
kulit & membrane mukosa (mata, hidung
dan mulut) orang sehat.

HUBUNGAN EPIDEMIOLOGI
LANGSUNG
Kontak kulit langsung atau terpapar dengan
darah atau cairan tubuh pasien penyakit virus
Ebola tanpa APD yang tepat.
Menyentuh darah atau cairan tubuh pasien penyakit
virus Ebola tanpa APD.
Kontak langsung dengan jenazah pasien penyakit
virus Ebola.
Tinggal serumah/ berada satu ruangan/ berjarak 1
meter dari pasien dalam waktu yang lama yang tidak
menggunakan APD yang tepat.
Menyentuh pakaian atau linen kasus.
Menyusu pada pasien (bayi)

Kontak
Laboratorium:

Kriteria kontak adalah melakukan


salah satu kegiatan berikut :
Melakukan kontak dengan spesimen
yang diambil dari pasien pasien
suspek penyakit virus Ebola tanpa APD
yang tepat

KEWASPADAAN, DETEKSI DINI DAN RESPON

DI PINTU MASUK NEGARA


a. Kewaspadaan dan Deteksi Dini
Kewaspadaan dilakukan di wilayah
bandar udara, pelabuhan, dan pos
lintas batas darat negara.

Instruksi bila kasus suspek telah diidentifikasi :

Laporkan kasus kepada DinkesKab/Kota atau Provinsi


setempat dengan tembusan kepada Posko KLB Ditjen PP & PL.
Isi form pelaporan kasus.
Buat daftar kontak dari kasus suspek yaitu penumpang lain
yang duduk 1 baris di depan,1 baris di belakang dan 1 baris di
samping kanan kiri kasus, serta awak pesawat yang
menyentuh kasus suspek tanpa APD yang tepat.
Bawa kasus suspek ke ruang isolasi yang sudah disediakan.
Rujuk ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan tatalaksana
lanjut (pengobatan, pengambilan specimen, dll).

ALUR PENEMUAN KASUS DAN RESPON DI PINTU


MASUK NEGARA
Pelaku Perjalanan dari negara terjangkit
HAC
Pulang
TIDAK
Rumah Singgah:
-Pemantauan selama
21 hari
-Menunjukkan minimal
3 gejala PVE
TIDAK

TIDAK
DEMAM
YA
Pemeriksaan KKP

Kasus / kluster kasus :


Demam mendadak, disertai Minimal 3 gejala
berikut:
Sakit kepala muntah
tidak nafsu makan diare
sakit otot atau sendi nyeri perut
hiccup (cegukan) sulit menelan
lemah sesak napas

YA

Pulang
Edukasi
Pemantauan selama
21 hari
Notifikasi ke Dinkes
Prov
Rujuk RS

Tata laksana kasus dan rujukan sesuai SOP


Lakukan tindakan thd barang dan alat angkut
Laporkan dlm 24 jam ke Posko KLB cc Dinkes
Prov
Identifkasi dan Pemantauan kontak kasus

SURVEILANS WILAYAH

(1)

Kewaspadaan dan Deteksi Dini


Peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit virus
Ebola di wilayah baik provinsi maupun kab./ kota
dapat dilakukan dengan pemutakhiran informasi
melalui:
Website WHO
(http://www.who.int/csr/disease.html)
untuk mengetahui antara lain:
Jumlah kasus dan kematian
Distribusi kasus berdasarkan waktu, tempat dan
orang
Identifikasi negara-negara terjangkit

SURVEILANS WILAYAH

(2)

Sumber media cetak atau elektronik nasional


untuk mewaspadai rumor atau berita yang
berkembang terkait dengan penyakit virus
Ebola pada pelaku perjalanan dari negara
terjangkit.
Deteksi dini dilakukan melalui peningkatan
kegiatan surveilans berbasis kejadian (event
based surveillance) yang dilakukan secara
pasif maupun aktif.

Puskesmas

Mendeteksi kasus klaster penyakit/ kematian yang


tidak diketahui penyebabnya.
Melakukan surveilans aktif/ pemantauan terhadap
warga di wilayahnya yang memiliki riwayat
perjalanan dari negara terjangkit dalam waktu 21
hari sejak kepulangannya dari negara terjangkit
berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan
setempat atau KKP.
Melakukan pemantauan terhadap kontak kasus
(termasuk petugas puskesmas, bila ada) selama
21 hari sejak kontak terakhir.
Melapor kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
bila ditemukan kasus

Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota

Melakukan pemantauan berita atau rumor


yang berkembang terkait dengan kasus
penyakit virus Ebola di wilayahnya melalui
media atau sumber informasi lainnya dan
melakukan verifikasi terhadap berita tersebut.
Melakukan surveilans aktif rumah sakit untuk
menemukan kasus klaster penyakit/ kematian
yang tidak diketahui penyebabnya.
Melapor kepada Dinas Kesehatan Provinsi bila
ditemukan kasus dan ditembuskan ke Posko
KLB.

Kesiapsiagaan

(1)

1) Sumber Daya Manusia (SDM)


Mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC) yang sudah
ada baik di tingkat Pusat, Provinsi dan kab/kota.
Tim Gerak Cepat sebagaimana dimaksud sesuai
dengan Pasal 21 Permenkes Nomor
1501/MENKES/PER/X/2010, ditetapkan oleh:
)Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota atas
nama Bupati/ Walikota untuk tingkat Kabupaten/
Kota;
)Kepala Dinas Kesehatan Provinsi atas nama
Gubernur untuk tingkat Provinsi; dan
)Direktur Jenderal atas nama Menteri untuk tingkat

Kesiapsiagaan

(2)

1) Sumber Daya Manusia (SDM)


Tim Gerak Cepat terdiri dari : petugas surveilans,
klinisi, ahli/ analis laboratorium, sanitarian,
petugas pengendali infeksi dan petugas dari unit
terkait lainnya.
)Peningkatan kapasitas SDM dalam kesiapsiagaan
menghadapi penyakit virus Ebola dengan
melakukan sosialisasi pengendalian penyakit
virus Ebola, table top exercises dan simulasi
penanggulangan penyakit virus Ebola.
)Meningkatkan jejaring kerja surveilans dengan
lintas program dan lintas sektor terkait.

Kesiapsiagaan

(3)

2) Sarana dan prasarana


Kesiapan alat transportasi (ambulans khusus
penyakit infeksi) & memastikan dpt berfungsi
dengan baik untuk merujuk kasus.
Kesiapan sarana pelayanan kesehatan antara lain
meliputi tersedianya ruang isolasi di RS rujukan
sesuai standar.
Kesiapan ketersediaan dan fungsi alat komunikasi
untuk koordinasi dengan unit-unit terkait.
Kesiapan logistik penunjang pelayanan kesehatan
yg dibutuhkan antara lain obat obat suportif (life
saving), alat alat kesehatan, APD, serta
melengkapi logistik jika masih ada kekurangan.
Kesiapan bahan KIE : brosur, banner, leaflet, serta

Respon
Puskesmas
Melakukan tatalaksana dan rujukan sesuai dengan SOP
bila menemukan kasus dengan memperhatikan
prinsip-prinsip pengendalian infeksi.
Melaporkan kasus dalam waktu <24 jam ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/ kota.
Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/
kota melakukan penyelidikan epidemiologi untuk
mendapatkan kasus tambahan dan identifikasi kontak.
Melakukan pemantauan terhadap kontak kasus
penyakit virus Ebola dalam waktu 21 hari sejak kontak
terakhir.
Melakukan komunikasi risiko terhadap masyarakat.

Respon

(2)

Rumah Sakit
Melakukan tatalaksana kasus sesuai manifestasi
klinis yang muncul pada kasus.
Melakukan pengambilan spesimen untuk
pemeriksaan konfirmasi laboratorium.
Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat
dalam pengepakan dan pengiriman spesimen.
Melaporkan kasus dalam waktu <24 jam ke
Dinkes Kab./ kota melalui sms atau telepon.
Melakukan komunikasi risiko dengan keluarga
kasus.
Melakukan pemantauan kontak kasus pada

Respon

(3)

Dinas Kesehatan Kab/ Kota


Melaporkan kasus penyakit virus Ebola ke pusat dalam waktu
<24 jam melalui sistem pelaporan cepat (sms gateway).
Laporan cepat dapat dilakukan juga melalui telp/ surel/ fax/ sms
ke Dinas Kesehatan Provinsi yang ditembuskan ke Posko KLB.
Menginformasikan notifikasi KKP tentang pelaku perjalanan dari
negara terjangkit kepada Puskesmas.
Melakukan penyelidikan epidemiologi bila ada laporan kasus
penyakit virus Ebola atau klaster penyakit/ kematian yang tidak
diketahui penyebabnya.
Melakukan penanggulangan awal sesuai hasil penyelidikan.
Melakukan komunikasi risiko pada masyarakat.
Menghubungi petugas Kargo yang ditunjuk (MSA Kargo) 1 - 2
hari (wilayah barat: 1 hari, wilayah timur dan tengah: 2 hari)
sebelum pengambilan sampel untuk pengepakan dan
pengiriman spesimen

ALUR PENEMUAN KASUS &


RESPON

Pelaku perjalanan dari negara terjangkit

Masyarakat

Kasus / kluster kasus :


Demam mendadak, disertai Minimal 3 gejala berikut:
Sakit kepala , muntah, tidak nafsu makan , diare , sakit otot atau
sendi , nyeri perut
hiccup (cegukan) , sulit menelan , lemah , sesak napas
Penyakit / kematian yang tidak diketahui penyebabnya
Riwayat perjalanan
21 hr
ya dari negara terjangkit kurun waktu
tidak
sebelum timbul gejala
Puskesmas
Bukan kasus
Pemeriksaan lebih lanjut (HAC, Pemeriksaan
fisik,
Pemeriksaan penunjang)
Tata laksana kasus dan rujukan sesuai SOP
Laporkan dlm 24 jam ke Dinkes Kab/kota atu Prov
setempat cc Posko KLB Ditjen PP dan PL
Penyelidikan epid
Penanggulangan awal
Pemantauan kontak kasus
Surveilans kontak

Dipulangkan dengan pesan


bila
gejala bertambah berat
segera ke
sarana pelayanan kesehatan
terdekat
Pemantauan selama 21 hari

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DAN


PENANGGULANGAN KLB
Setiap kasus suspek, probable, konfirmasi atau
kasus klaster penyakit virus Ebola harus
dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE).
Penyelidikan epidemiologi bertujuan mengetahui
besar masalah dan gambaran epidemiologi
berdasarkan waktu, tempat dan orang;
mengetahui faktor risiko; mengetahui kasus
tambahan dan melakukan identifikasi kontak.
- Penyelidikan epidemiologi dilakukan
menggunakan form investigasi terlampir. Pastikan
form tersebut diisi dengan lengkap.

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DAN


PENANGGULANGAN KLB
- Berdasarkan hasil PE dapat dinyatakan
kejadian luar biasa (KLB). Kejadian luar biasa
dinyatakan jika ditemukan 1 kasus probable
atau konfirmasi penyakit virus Ebola.
- Ketika PE sedang berlangsung petugas sudah
harus memulai upaya upaya pengendalian
pendahuluan dalam rangka mencegah
terjadinya penyebaran penyakit. Upaya ini
dilakukan berdasarkan pada hasil PE yang
dilakukan saat itu.
- Lakukan prinsip pencegahan dan
pengendalian infeksi selama PE.

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DAN


PENANGGULANGAN KLB
-

Lakukan komunikasi risiko kepada petugas dan


- masyarakat
Lakukan komunikasi
risiko kepada
(lihat BAB komunikasi
risiko).
petugas
danmelakukan
masyarakat
(lihat BAB
- Setiap
selesai
penyelidikan
KLB,
komunikasi
risiko).dan analisis data untuk
dilakukan
pengolahan
kesimpulan
dan rekomendasi
tindak
- mengambil
Setiap selesai
melakukan
penyelidikan
lanjut.
KLB, dilakukan pengolahan dan analisis
- Setelah selesai melakukan penyelidikan
data untuk mengambil kesimpulan dan
epidemiologi maka dibuat laporan tertulis hasil
rekomendasi
tindak lanjut.KLB
Investigasi
dan perkembangan

- Setelah selesai melakukan penyelidikan


epidemiologi maka dibuat laporan tertulis
hasil Investigasi dan perkembangan KLB

SISTEM RUJUKAN

(1)

a. Kasus penyakit virus Ebola (suspek, probable,


konfirmasi) harus dirawat di RS rujukan yang
ditunjuk (RS rujukan flu burung)
b. Rujukan kasus dari fasilitas pelayanan
kesehatan (fasyankes)/ unit pelayanan
kesehatan KKP ke RS rujukan harus
memperhatikan dan mengikuti prosedur
berikut:
Fasyankes/ unit pelayanan kesehatan KKP pengirim
memberikan inform consent alasan dirujuk
(tertulis) kepada pasien dan keluarga

SISTEM RUJUKAN

(2)

Fasyankes / unit pelayanan kesehatan KKP


pengirim berkomunikasi dengan RS rujukan
yang dituju dalam hal:
Kelayakan pasien dalam perjalanan
Penyediaan ambulan yang memenuhi syarat
pencegahan penularan penyakit virus Ebola
(boleh disediakan oleh fasyankes pengirim atau
RS rujukan)
Petugas pengantar pasien harus menggunakan
APD lengkap
Setelah mengantar pasien, bagian permukaan
ambulan yang kontak dengan pasien dan petugas
harus didesinfeksi

TERAPI DAN TATALAKSANA KOMPLIKASI

Pasien dirawat di ruang isolasi dan


diberikan terapi simptomatis. Dilakukan
pemantauan ketat untuk perdarahan dan
komplikasi lainnya.
Terapi definitif sampai saat ini belum ada.
Kriteria pasien diperbolehkan pulang.
Pasien dirawat sampai dinyatakan sembuh oleh
klinisi dan bebas dari virus Ebola berdasarkan
konversi hasil laboratorium menjadi negatif.
Bebas tanda dan gejala 3 hari berturut turut.

PENGAMBILAN, PENGEPAKAN, PENGIRIMAN SPESIMEN


DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM PENYAKIT VIRUS
EBOLA

Harus memperhatikan universal


precaution
1. Cuci tangan dengan menggunakan sabun/desinfektan
SEBELUM dan SESUDAH tindakan.

2.

Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), minimal


yang HARUS digunakan :
Sarung tangan , Baju pelindung , Apron , Kaca mata ,
Sepatu boot karet / penutup sepatu, Masker

3. Alat dan bahan pengambilan spesimen :


Vacutainer EDTA (tutup ungu), Vacutainer clot activator
(tutup kuning) , Syringe, Alkohol swab, Torniquet , Ice pack
dan Cold box , Label nama , Formulir pengambilan spesimen

PENGAMBILAN, PENGEPAKAN, PENGIRIMAN SPESIMEN


DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM PENYAKIT VIRUS
EBOLA (2)

Harus memperhatikan universal


precaution
4. Daftar nama pasien (supaya saat pengambilan tidak terjadi
kesalahan)
Pengambilan spesimen dapat dilakukan oleh dokter, perawat atau
tenaga laboratorium yang terampil dan berpengalaman atau
sudah dilatih sesuai dengan kondisi dan situasi setempat.
Berdasarkan informasi yang terkini (WHO Juni 2014), spesimen
yang baik untuk pemeriksaan virus penyakit virus Ebola adalah
spesimen darah. Virus Ebola juga dapat ditemukan di dalam
cairan tubuh lainnya seperti urin, cairan mani, dan feses tetapi
kegunaan sampel tersebut di dalam mendiagnosis infeksi
penyakit virus Ebola belum dapat dipastikan.

Makasiihhhhh.....
.