Anda di halaman 1dari 33

PORTOFOLIO

HIPERTENSI URGENSI

Nama Peserta
:

dr. Iqbal Muhammad

Nama Pendamping : dr. Ami Noviana P


Nama
Wahana

Topik
:
Tanggal
(kasus)

RS Bhayangkara Balikpapan
Hipetensi Urgensi

20 Desember 2015

Tanggal Presentasi :

26 Januari 2016

Tempat Presentasi :

Ruang Presentasi RS Bhayangkara Balikpapan

Deskripsi
:

Perempuan, 44 tahun, dengan keluhan nyeri


kepala seperti berdenyut disertai rasa melayang.

Tujuan
:

Penegakkan diagnosa dan penatalaksanaan yang


tepat.

Data Utama untuk Bahan


Diskusi

Diagnosis
Hipertesi Urgensi
Gambaran Klinis
Pasien merasakan nyeri kepala sejak 2
jam SMRS. Nyeri kepala dirasakan
seperti
berdenyut
disertai
rasa
melayang. Pasien juga merasakan
mual, namun tidak ada muntah.

Riwayat Pengobatan
Riw. Alergi (-)
Riwayat Penyakit
Riwayat hipertensi tidak terkontrol (+), Riwayat
Diabetes Melitus (-), Riwayat asma (+).
Riwayat Keluarga
Keluarga dengan keluhan serupa (-)
Riwayat Pekerjaan
Pasien seorang ibu rumah tangga.
Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak mengurangi konsumsi makanan yang
mengandung garam dan daging.

HASIL PEMBELAJARAN

Diagnosis dan Tatalaksana Pada Kasus


Hipertensi Urgensi

SUBJEKTIF
Keluhan Utama: Nyeri kepala seperti rasa
berdenyut.

Pasien merasakan nyeri kepala sejak 2 jam SMRS.


Nyeri kepala dirasakan seperti berdenyut disertai
rasa melayang.
Pasien juga merasakan mual, namun tidak ada
muntah.
Riwayat hipertensi tidak terkontrol (+).
Pasien tidak mengurangi konsumsi makanan yang
mengandung garam dan daging.

OBJEKTIF
Status
Generalis
Keadaan umum
Sakit sedang

Kesadaran :
Composmentis, E4V5M6

Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah :
230/140 mmHg
Nadi :
76 x/menit, reguler
Pernafasan :
20 x/menit, regular
Suhu :
36,0 oC (per axiller)

Status Dalam Batas


Generalis Normal

Status
Dalam Batas
Neurolog
Normal
is
Normal Sinus
EKG
Rhytm
Foto
Thorax

Dalam Batas
Normal

LABORATORIUM
(20 Desember 2015)

Hb :
14,1 gr/dl
GDS :
139,8
mg/dl

Leukosit :
8.200
/mm3
Cholesterol
:
262,1
mg/dl

Ureum :
42,5 U/L

Trombosit :
317.000
/mm3

Hematokrit
:
41,0 %

SGOT :
30,8 U/L

SGPT :
44,0 U/L

Creatinin :
0,47 mg/dl

Uric Acid :
7,75 mg/dl

ASSESMENT

PENALARAN KLINIS

DEFINISI

Krisis hipertensi adalah suatu


keadaan klinis yang ditandai oleh
TD yang sangat tinggi (TD sistolik
180 mmHg dan/ atau diastolik
120 mmHg) yang membutuhkan
penanganan segera.

KRISIS HIPERTENSI

Hipertensi
darurat
(Emergency
hypertensio
n)

Hipertensi
mendesak
(Urgency
hypertensio
n)

Krisis
hipertensi
dengan
kerusakan organ target yang
bersifat progresif TD harus
diturunkan
segera
dalam
hitungan menit - jam.
Krisis
hipertensi
tanpa
kerusakan organ target yang
bersifat progresif atau minimal

penurunan
TD
bisa
dilaksanakan lebih lambat dalam
hitung jam - hari.

KLASIFIKASI TEKANAN DARAH


(JNC VII)
Klasifikasi

Sistolik

Diastolik

Normal

(mmHg)
<120

dan

(mmHg)
<80

Prahipertensi

120-139

atau

80-89

Hipertensi

140-159

atau

90-99

160

atau

100

Derajat I
Hipertensi
Derajat II

EPIDEMIOLOGI

Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan pada populasi bukan


kulit putih.
Makin meningkatnya populasi lanjut usia jumlah pasien HT
bertambah (baik sistolik maupun kombinasi sistolik dan
diastolik), sering timbul pada lebih dari separuh orang yang
berusia > 65 tahun.
Hasil penelitian Oktora (2007) penderita HT meningkat
secara nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar
24,07% dan mencapai puncaknya pada kelompok umur 65
tahun yaitu sebesar 31,48%
Wanita lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebesar
58,02% dan pria sebesar 41,98%.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi


Hipertensi
Tekanan darah = Curah jantung x
Tahanan perifer

Faktor resiko, seperti diet, asupan garam, stress,


ras, obesitas, merokok, dan genetik.
Sistem saraf simpatis (tonus simpatis dan
variasi diurnal).
Keseimbangan antara modulator vasodilatasi
dan vasokonstriksi.
Pengaruh
sistem
otokrin
setempat
yang
berperan pada sistem renin, angiotensin, dan
aldosteron.

PATOGENESIS

Krisis hipertensi peningkatan tahanan vaskuler sistemik.

Endotel memiliki peranan penting dalam mengatur homeostasis TD


mensekresikan substansi seperti nitrit oxide (NO) dan prostasiklin.
Peningkatan vasoreaktif dapat dipresipitasi oleh pelepasan substansi
vasokonstriksi seperti angiotensin II, norepinefrin atau keadaan yang
menyebabkan suatu kondisi hipovolemia.

Aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) berperan penting


pada proses hipertensi berat.
Angiotensin II cedera pada pembuluh darah sehingga terjadi
aktivasi gen proinflamatori seperti interleukin 6 dan NF-k.

PATOGENESIS
Selama terjadi peningkatan TD endotel mengkompensasi
melepaskan vasodilator (NO)

Saat endotel tidak lagi mampu mengkompensasi peningkatan TD


dan kerusakan endotel.
Mekanisme kerusakan endotel mungkin berhubungan dengan respon imun
pelepasan sitokin, vasokonstriktor endotelin dan peningkatan ekspresi
endothelial adhesion molecules.
Peningkatan ekspresi cell adhesion molecules seperti P-selectin, atau intracellular adhesion
molecule 1 oleh sel endotel inflamasi bertambahnya kerusakan fungsi sel endotel,
peningkatan permeabilitas endotel, menghambat aktivitas fibrinolitik endotel dan aktivasi
kaskade koagulasi.

Agregasi trombosit dan degranulasi pada endotel yang mengalami


kerusakan inflamasi lebih lanjut, thrombosis dan vasokonstriksi.

Gambar. Perubahan pada vaskular selama krisis hipertensi

Kerusakan Organ
Target

Jantung
Hipertrofi ventrikel kiri
Angina atau infark miokardium
Gagal jantung
Otak (stroke atau transient ischemic attack)
Penyakit ginjal kronis
Penyakit arteri perifer
Retinopati

Beberapa
peneliti
menemukan
bahwa
penyebab
kerusakan organ organ tersebut dapat diakibatkan
langsung dari kenaikan tekanan darah, atau karena efek
tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap
reseptor AT1 angitensin II, stress oksidatif, down
regulation dari ekspresi nitric oxide synthase, dan lain
lain.
Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi
garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar
dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya
kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi
transforming growth factor- (TGF-).2

Adanya kerusakan organ target terutama pada jantung


dan pembuluh darah akan memperburuk prognosis
pasien hipertensi.

GEJALA KLINIS

Kadang kadang hipertensi esensial berjalan tanpa gejala


dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada
organ target seperti pada ginjal, mata, otak dan jantung.
Gejala seperti sakit kepala, epistaksis dan migren dapat
ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi esensial
meskipun tidak jarang yang tanpa gejala.
Pada penelitian A. Gani,dkk. Gejala klinisi seperti pusing,
cepat marah dan telinga berdenging merupakan gejala
yang sering dijumpai, selain gejala lain seperti mimisan,
sukar tidur dan sesak nafas.

DIAGNOSIS
Anamnesis

Lamanya menderita hipertensi dan derajat tekanan darah


Indikasi adanya hipertensi sekunder
Faktor faktor risiko
Gejala kerusakan organ
Pengobatan antihipertensi sebelumnya
Faktor faktor pribadi, keluarga dan lingkungan

Pemeriksaan Fisik
Pengukuran tekanan darah dikedua lengan
Mencari kerusakan organ sasaran (retinopati, gg.neurologi, payah
jantung kongestif, diseksi aorta).
Palpasi denyut nadi di keempat ekstremitas.
Auskultasi bruit PD besar, bising jantung dan ronki paru.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium awal : Urinalisis, darah lengkap dan
elektrolit
Elektrokardiografi dan foto thoraks
CT Scan Kepala, Echocardiogram.

PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan krisis hipertensi adalah


menurunkan tekanan darah sesegera mungkin.

Non
Farmakologi

Farmakologi

Non farmakologi

Menurunkan berat badan (5-20 mmHg/10 kg)


Menghentikan rokok
Menurunkan berat badan berlebih
Menurunkan konsumsi alkohol yang berlebihan (24 mmHg)
Latihan fisik; 30 menit/hari (4-9 mmHg)
Menurunan asupan garam ; 2,4 gram-6 gram (2-8
mmHg)
Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta
menurunkan asupan lemak.

Farmakologi
(hipertensi emergensi)

Harus dilakukan di RS dengan fasilitas pemantauan


yang memadai.
Pengobatan parenteral diberikan secara bolus atau
infus sesegera mungkin.
Tekanan darah harus diturunkan dalam hitungan
menit sampai jam dengan langkah sebagai berikut:
5 - 120 menit pertama tekanan darah rata rata (mean
arterial blood) diturunkan 20-25%.
2- 6 jam kemudian diturunkan sampai 160/100 mmHg.
6-24 jam berikutnya diturunkan sampai <140/90
mmHg bila tidak ada gejala iskemia organ.

Obat-obatan yang
Digunakan

Clonidin (catapres) IV 150 mcg/ampul


Clonidin 900 mcg dimasukkan dalam cairan glukosa 5%
500cc dan diberikan dalam mikrodrip 12 tetes per menit,
setiap 15 menit dapat dinaikkan 4 tetes sampai tekanan
darah yang diharapkan tercapai.
Bila tekanan darah target tercapai pasien diobservasi
selama 4 jam kemudian diganti dengan tablet clonidin oral
sesuai kebutuhan.
Clonidin tidak boleh dihentikan mendadak tetapi
diturunkan
perlahanIVlahan
oleh
bahay rebound
Diltiazem
(Herbesser)
10 mg
dankarena
50 mg/
phenomen, dimana tekanan darah naik secara cepat bila
ampul
obat dihentikan.
Diltiazem 10 mg IV diberikan selama 1-3 menit kemudian
diteruskan dengan infus 50 mg/jam selama 20 menit.
Bila tekanan darah telah turun >20% dari awal, dosis
diberikan 30 mg/jam sampai target tercapai.
Diteruskan dengan dosis maintanance 5-10 mg/jam
dengan observasi 4 jam kemudiandiganti dengan tablet
oral.

Obat obatan yang digunakan


Nicardipin (Perdipin)
mg/ampul

IV

12

mg

dan

10

Nicardipin diberikan 10-30 mcg/kgBB bolus


Bila tekanan darah stabil diteruskan dengan
mcg/kgBB/menit sampai target tercapai.

0,5-6

Labetalol (Normodyne) IV
Diberikan 20-80 mg IV bolus setiap 10 meit atau dapat
diberikan dalam cairan infus dengan dosis 2 mg/menit.
Nitropruside (Nitropress, Nipride) IV
Diberikan dalam cairan infus dengan dosis 0,25-10
mcg/kg/menit.

Farmakologi
(hipertensi urgensi)

Obat

Dosis

Efek

Lama

Perhatian khusus
Stenosis a.renalis

Captopril 12,5 -

ulangi per

15-30 min

Kerja
6-8 jam

25 mg
Clonidine 75 -

30 min
ulangi per

30-60 min

8-16 jam

mengantuk, mulut

150 ug
Propanolol 10 -

jam
ulangi

3-6 jam

kering
Bronkokonstriksi,

40 mg PO

setiap 30

Nifedipine 5 -

min
ulangi

10mg

setiap 15
menit

15-30 min

blok jantung,
5 -15 min

4-6 jam

Gangguan koroner

PLAN

Diagnosis
Hipertensi Urgensi

Penatalaksanaan

IVFD RL 5 tpm
Inj. Lasix 1 x 1 amp
Valsartan 1 x 80mg
Amlodipin 1 x 10mg
Analsik 2 x 1 tab

PLAN

Pendidikan
Pendidikan
dilakukan kepada
pasien dan
keluarganya
serta diberikan
penjelasan
mengenai
hipertensi
urgensi.

Konsultas
i
Pasien diminta
agar kontrol rutin
untuk melihat
kemajuan terapi.

TERIMA KASIH