Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

SINDROMA GUILLAIN BARRE


Pembimbing:
dr Dhian E., Sp. A

Disusun Oleh:
Provita Rahmawati
G4A014094

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD PROF. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

PENDAHULUAN
Sindroma Guillain Barre merupakan penyebab
umum paralisis neuromuscular (Clellan, 2007).
Kejadian penyakit ini 1,2 hingga 2,3 per 100.000
jiwa (Clellan, 2007).
Kejadian meningkat sesuai umur dan jenis kelamin
laki-laki 1,5 kali lebih banyak terserang penyakit ini
daripada jenis kelamin perempuan (Clellan, 2007)
Penelitian
di China menyatakan peningkatan
kejadian penyakit Sindroma Guillain Barre
berkaitan dengan axon dan variasi serabut motorik
(Zhong, 2007)

DEFINISI

ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Infeksi
Vaksinasi
Pembedahan
Penyakit sistematik seperti keganasan, systemic
lupus erythematosus, tiroiditis, penyakit Addison
Kehamilan atau dalam masa nifas

KLASIFIKASI
Acute inflammatory demyelinating
polyradiculoneuropathy
Chronic inflammatory demyelinating
polyradiculoneuropathy
Acute motor axonal neuropathy
Acute motor sensory axonal neuropathy
Miller Fisher syndrome
Acute pandysautonomia

PATOGENESIS

PENEGAKAN DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan cairan
serebrospinal
Pemeriksaan EMG
Pemeriksaan MRI

TATA LAKSANA PENYAKIT


Sistem pernapasan
Bila perlu dilakukan tindakan trakeostomi,
penggunaan alat Bantu pernapasan (ventilator)
bila kapasitas vital turun hingga di bawah 50%.
Fisioterapi
untuk mencegah retensi sputum dan paru yang
kolaps. gerakan pasif pada kaki yang lumpuh
akan mampu mencegah kekakuan sendi. Setelah
fase rekonvalesen atau fase penyembuhan, aktif
dapat dimulai untuk melatih dan meningkatkan
kekuatan otot.

Imunoterapi
untuk mengurangi beratnya penyakit dan
mempercepat kesembuhan melalui sistem imun.
Plasma exchange therapy (PE)
Plasmaparesis atau plasma exchange bertujuan
untuk mengeluarkan faktor autoantibodi yang
beredar di dalam darah. Jumlah plasma yang
dikeluarkan per exchange adalah 40-50 ml/kg
dalam waktu 7-10 hari dimana dilakukan empat
hingga lima kali pergantian (Doom, 2008).

Imunoglobulin IV
Intravenous inffusion of human Immunoglobulin
(IVIg) dapat menetralisasi autoantibodi
patologis yang ada serta menekan produksi.
Pemberian IVIg dilakukan dalam 2 minggu
setelah gejala muncul dengan dosis 0,4
gram/kgBB/hari selama 5 hari (Doom, 2008).
Kortikosteroid
Penggunaan steroid peroral maupun intravena
tidak bermanfaat untuk terapi sindroma
guillain barre (Doom, 2008).

KOMPLIKASI
gagal napas
aspirasi makanan atau cairan ke dalam paru
pneumonia
trombosis vena dalam
paralisis permanen
kontraktur pada sendi Sepsis
Kematian (Richard, 2007; Walling, 2013).

PROGNOSIS

Pada umumnya penderita mempunyai prognosis yang


baik, tetapi pada sebagian kecil penderita dapat
meninggal atau mempunyai gejala sisa. Penderita
sindroma guillain barre dapat sembuh sempurna (7590%) atau sembuh dengan gejala sisa berupa dropfoot
atau tremor postural (25-36%) (Doom, 2008).

KESIMPULAN
Sindroma guillain barre merupakan suatu sindroma
klinis yang ditandai adanya paralisis flasid yang
terjadi secara akut yang berhubungan dengan proses
autoimun dimana targetnya adalah saraf perifer,
radiks, dan nervus kranialis.
Etiologi SGB belum diketahui secara pasti namun
keadaan seperti infeksi, vaksinasi, tindakan
pembedahan, penyakit sistemik, hamil maupun nifas
dapat menjadi faktor risiko.
Penegakan diagnosis sindroma guillain barre
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang
Pengobatan spesifik untuk SGB hingga saat ini
belum ada, pengobatan terutama secara
simptomatis.

DAFTAR PUSTAKA

TERIMAKASIH