Anda di halaman 1dari 25

Kritik Normatif

berdasarkan pada pedoman baku


normatif

Hakikat
Normatif

kritik

Adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan


dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan
selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard
atau prinsip.

Melalui suatu prinsip, keberhasilan kualitas lingkungan


buatan dapat dinilai

Suatu norma tidak saja berupa standard fisik yang


dapat dikuantifikasi tetapi juga non fisik yang
kualitatif.

Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan


bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya
dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi.

Jenis-Jenis Metoda
Normatif

Metoda Doktrin
Suatu norma yang bersifat general, pernyataan
prinsip yang tak terukur
Metoda Sistemik
Suatu norma penyusunan elemen-elemen yang
saling berkaitan untuk satu tujuan
Metoda Tipikal
Suatu norma yang didasarkan pada model yang
digeneralisasikan untuk satu kategori bangunan
spesifik
Metoda Terukur
Sekumpulan dugaan yang mampu

Metoda Kritik Doktrin (doctrinal


criticism)
Doktrin sebagai dasar dalam pengambilan keputusan desain arsitektur
yang berangkat dari keterpesonaan dalam sejarah arsitektur.
Melalui sejarah, kita mengenal :

Form Follow Function - Function Follow Form

Form Follow Culture - Form Follow World View

Less is More - Less is Bore

Big is beauty Small is beauty

Buildings should be what they wants to be

Building should express : Structure, Function, Aspiration, Construction

Methods, Regional Climate and Material

Ornament is Crime - Ornament makes a sense of place, genius loci or

extence of architecture.
Doktrin bersifat tunggal dalam titik pandangnya dan biasanya mengacu
pada satu ISME yang dianggap paling baik.

Keuntungan Metoda Doktrin

Dapat menjadi guideline tunggal sehingga terlepas


dari pemahaman yang samar dalam arsitektur
Dapat memberi arah yang lebih jelas dalam
pengambilan keputusan
Dapat memberikan daya yang kuat dalam
menginterpretasi ruang
Dengan doktrin perancang merasa bergerak dalam
nilai moralitas yang benar
Memberikan kepastian dalam arsitektur yang
ambigu
Memperkaya penafsiran

Kerugian Metoda Doktrin :

Mendorong segala sesuatunya tampak mudah


Mengarahkan penilaian menjadi lebih sederhana
Menganggap kebenaran dalam lingkup yang
tunggalepaham dan meletakkan kesalahan pada
prinsip lain
Meletakkan kebenaran lebih kepada pertimbangan
secara individual
Memandang arsitektur secara partial
Memungkinkan tumbuhnya pemikiran dengan
kebenaran yang absolut
Memperlebar tingkat konflik dalam wacana teoritik
arsitektur

KRITIK SISTEMIK

Munculnya kritik sistemik berawal dari pemikiran bahwa


bergantung pada suatu prinsip atau doktrin sangat berisiko untuk
mendukung satu keputusan desain

Menurut (Huxtable, 1976, Kicked a Building Lately, Quadrangle,


New York)
Kritik arsitektur sedang dihadapkan hanya dengan sekadar
produksi bangunan yang indah. Tetapi kewalahan menghitung
beragam cara memenuhi kondisi kebutuhan lingkungan yang
kompleks dan sophisticated (canggih).

Apa sajakah bagian-bagiannya?

Bagaimana ia bekerja?

Bagaimana ia dikaitkan dengan apa yang ada di sekitarnya?

Bagaimana bangunan dapat memuaskan manusia dan


masyarakat sebagaimana yang dibutuhkan klien?

Bagaimana kelayakannya terhadap organism secara lebih luas,


komunitas?

Beberapa Variasi

Sistem

Albert Bush-Brown, 1959 :

Beberapa sistem untuk mengevaluasi lingkungan fisik adalah commodity (komoditas),


firmness (kekokohan) dan delight (kesenangan)

Sistem harus didasarkan pada tiga elemen

Asumsinya bahwa arsitektur yang baik tidak sekadar kokoh. Kekokohan (firmness) akan
bermakna jika dihubungkan dengan kelayakan fungsinya (commodiousness) dan
kapasitasnya untuk meningkatkan kualitas aktifitas dan penglaaman manusia (delight)

Viruvius, The Ten Books of Architecture, 1900


Sistem Bangunan :

Firmitas

( Kekokohan)

Utilitas

( Kegunaan )

Venustas ( Keindahan )

John Ruskin,1851 :
Beberapa sistem yang dibutuhkan bangunan (masih dapat diidentifikasi dari konsepnya
Vitruvius):

Bahwa bangunan harus bertindak baik, dan memperlakukan segala sesuatunya untuk
meningkatkan cara yang paling baik

Bahwa bangunan harus berbicara yang baik. Dan mengatakan pada bagian-bagiannya
untuk berbicara dengan kata-kata yang baik

Bahwa bangunan harus tampak baik, dan mempersilahkan kita melalui keberadaannya

Beberapa Variasi

Sistem

Hillier, Musgrove, OSullivan (1972)


Berbeda dengan Vitruvius, bahwa bangunan harus bertindak :

Climate Modifier (Pengatur Iklim)

Container of Activities (Pewadah aktifitas)

Symbolic and Cultural Object (Objek Simbol dan Budaya)

Addition of Value to Raw Materials (Memberi nilai terhadap material yang


kasar)

Geofrey Broadbent
Menambahkan :

Having Environment Impact ( Memiliki dampak lingkungan)

Christian Norberg Schulz (1965)


Mengembangkan Tripartiete system :

Building Task ( Tugas Bangunan)

Form (Bentuk )

Technics (Teknik Membangun)

Kritik sistematik dikembangkan


dari satu analisis :

Bahwa Problem arsitek adalah membangun sistem dalam


kategori-kategori formal yang tidak memungkinkan kita untuk
melukiskannya dan membandingkannya dalam struktur yang
formal (elements and relations)

Relations , bahwa kita menterjemahkan saling keterhubungan ini


diantara dimensi-dimensi

Capacity of the structure, kelayakan untuk mendukung tugas


bangunan

Valuable, nilai yang dikandung yang mengantarkan kepada rasa


manusia untuk mengalami ruang.

Elements (bagian bentuk arsitektur), bermakna memperlakukan


objek sebagai dimensi kesebandingan. Melahirkan konsep :
Mass (massa), Bentuk wujud tiga dimensi yang terpisah dari
lingkungan
Space (ruang), Volume batas-batas permukaan di sekeliling massa
Surface (permukaan), batas massa dan ruang

Sebuah desain sekolah seharusnya mampu mencirikan


keberadaannya sebagai bangunan pendidikan yang mampu
memberikan citra positif (akademis) untuk kawasan
sekitaernya. Foto tersebut menampilkan citra yang bertolak
belakang kendati fungsi bangunannya sama yakni bangunan
akademis

Metoda Kritik Tipe


(typical criticism)
Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian teoritikus
dan sejarawan arsitektur karena desain menjadi lebih mudah dengan
mendasarkannya pada type yang telah standard
Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, fungsi (utility)
dan ekonomi lingkungan arsitektur yang telah terstandarisasi dan
terangkum dalam satu typologi
Menurut Alan Colquhoun (1969), Typology & Design Method, in
Jencks, Charles, Meaning in Architecture, New York: G. Braziller :
Type pemecahan standard justru disebut sebagai desain inovatif.
Karena dengan ini problem dapat diselesaikan dengan
mengembalikannya pada satu convensi (type standard) untuk
mengurangi kompleksitas.

Typical Criticsm diasumsikan bahwa ada konsistensi dalam pola kebutuhan dan
kegiatan manusia yang secara tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan
lingkungan fisik

Elemen Kritik Tipikal


Struktural (Struktur)
Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan
material dan pola yang sama.

Jenis bahan

Sistem struktur

Sistem Utilitas dan sebagainya.

Function (Fungsi)
Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang
sama.
Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama.

Kebutuhan pada ruang kelas

Kebutuhan auditorium

Kebutuhan ruang terbuka dsb.

Form (Bentuk)

Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan


untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain.

Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi
dan dikembangkan variasinya.

Elemen Kritik Tipikal

Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi


bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya.

Height: 43 m
Architectural style: Ancient Roman architecture
HAddress: Piazza della Rotonda, Rome, Italy
Architect: Apollodorus of Damascus
Function: Roman temple, Museum

Pantheon,
Roma
Menurut Mc. Donald (1976), The Pantheon, Cambridge: Harvard :
Secara simbolis dan ideologis Pantheon dapat bertahan karena ia mampu
menjelaskan secara memuaskan dalam bentuk arsitektur, segala
sesuatunya secara meyakinkan memenuhi kebutuhan dan inspirasi utama
manusia. Melalui astraksi bentuk bumi dan imaginasi kosmos dalam bentuk
yang agung. Arsitek Pantheon telah memberi seperangkat simbol
transedensi agama, derajad dan kekuatan politik.


Keuntungan Metoda Kritik Tipikal

Desain dapat lebih efisien dan dapat


menggantungkan pada tipe tertentu
Tidak perlu mencari lagi panduan setiap
mendesain
Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi
baru lagi
Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap
kasus yang sama
Tidak memerlukan upaya yang
membutuhkan konteks lain


Kerugian Metoda Kritik Tipikal

Desain hanya didasarkan pada solusi


yang minimal
Sangat bergantung pada tipe yang
sangat standard
Memiliki ketergantungan yang kuat pada
satu type
Tidak memeiliki pemikiran yang segar
Sekadar memproduksi ulang satu
pemecahan

Akibat yang Ditimbulkan Kritik Tipikal

Munculnya Semiotica dalam arsitektur, satu bentuk ilmu sistem


tanda (Science of sign systems) yang mengadopsi dari tipe ilmu
bahasa. Walaupun kemudian banyak pakar menyangsikan
kesahihan tipe ini. Dan menyebut Semiotica dalam arsitektur
sebagai bentuk PSEUDO THEORITIC
Munculnya Pattern Language sebagaimana telah disusun oleh
Christoper Alexander
Banyak penelitian yang mengarah pada hanya sekadar penampilan
bentuk bangunan
Lahirnya arsitektur yang tidak memiliki keunikan dan bangunan
yang bersifat individual.
Munculnya satu bentuk tipikal arsitektur yang eternal dan
menguasai daya kreasi perancang
Lahirnya periode historis suatu konsep menjadi sebuah paham
yang bersifat kolektif

Metoda Kritik Terukur

Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif.


Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam yang
diformulasikan untuk tujuan kendali rancangan arsitektural.

Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka


hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan
melalui hukum-hukum matematika tertentu.

Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma


bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.

Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa : Ukuran


batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage),
Kondisi-kondisi yang dikehendaki.

Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan


menjelaskan beberapa standard normatif : Batas maksimal ketinggian
bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang
diijinkan

Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit


sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik
sebagai sebuah norma. Contoh : Bagaimana Huxtable menjelaskan

Tujuan Teknis Metoda Kritik


Terukur
Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya
secara teknis.
Contoh : Sekolah, dievaluasi dari segi pemilihan dinding interiornya.
Pertimbangan yang perlu dilakukan adalah :
1. Stabilitas Struktur

Daya tahan terhadap beban struktur

Daya tahan terhadap benturan

Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan

Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem

2. Ketahanan Permukaan Secara Fisik

Ketahanan permukaan

Daya tahan terhadap gores dan coretan

Daya serap dan penyempurnaan air

3. Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan

Kebersihan dan ketahanan terhadap noda


Tujuan Fungsi Metoda Kritik Terukur

Berkait pada penampilan bangunan sebagai


lingkungan aktifitas yang khusus maka ruang
harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area
yang dapat digunakan untuk aktifitas
Pertimbangan yang diperlukan :
Keberlangsungan fungsi dengan baik
Aktifitas khusus yang perlu dipenuhi
Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan
Kemudahan-kemudahan penggunaan,
Pencapaian dsb.

Tujuan Perilaku Metoda Kritik Terukur

Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi
dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi
mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan.
Behaviour Follow Form

Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson,


Daniel,(ed) Man-Environment Interaction-5 Environmental Design Research Association,
menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan
untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

Persepsi Visual Lingkungan Fisik

Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk


visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik

Mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam
objek atau situasi

Dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan


lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku
manusia.

Terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompokkelompok sosial dsb.

Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture,

Beberapa villa didaerah gempa, desain


bangunan kantilever lebih dari 1,5
meter memiliki faktor kekuatan yang
tidak memenuhi standard bangunan
dearah gempa. Beberapa desain villa
dibeberapa tempat rawan gempa yang
berkantilever lebih dari 1,5 meter akan
memberikan konsekuensi struktur yang
memberatkan untuk memeuhi kekuatan
bangunan tersebut.

Port House in Antwerp by zaha hadid

Tim desain dari Arsitek


Zaha Hadid mengusulkan
arsitektur yang sangat
dinamis, sebuah dialog
dengan ruas jalan
Oosterweel, dengan
jembatan Wapper Lange
membentuk latar belakang
ke New Port House.Desain
yang unik, fasad ketinggian
dari 46 meter. Otoritas
Pelabuhan baru akan
menjadi gedung ikon,
terlihat dari berbagai arah.
Dinding luar terbuat dari
kaca segitiga, beberapa
transparan dan beberapa
refleksi.Tidak semua
terletak pada bidang
yang sama sedikit diputar
terhadap satu sama lain,
menciptakan permainan
yang menarik
memantulkan cahaya
yang masuk

Port House in Antwerp by zaha hadid

Konsep ini adalah


interpretasi bebas dari
volume berbentuk balok
menonjol.Kepala bangunan
di sisi Selatan adalah
bingkai yang terlihat ke
arah kota dan jelas
menandai awal area
pelabuhan.

Akses ke tempat parkir bawah tanah merupakan aspek penting dari


konsep keseluruhan, dengan bongkar muat teluk dan fasilitas
penanganan sampah juga terletak di sini. Desain alun-alun diatur
sehingga sinar matahari dapat masuk.Tata letak merupakan bagian
dari proyek desain yang dilaksanakan & dikonsultasi dengan
departemen kota, dengan keharusan utamanya adalah untuk
menjaga kualitas visual ruang luar di daerah Eilandje Het.