Anda di halaman 1dari 26

Demand and Supply of

Batubara

Pendahuluan
Batubara

merupakan salah satu sumber energi yang


banyak dipergunakan untuk pembangkit listrik, dimana
konsumsi batubara dunia mengalami kenaikan yang
sangat pesat.
Pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru
3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522
ton atau meningkat sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun.
Meningkatnya konsumsi batubara dunia tidak lepas dari
meningkat pesannya permintaan energi dunia dimana
batubara merupakan pemasok energi terbesar setelah
minyak dengan kontribusi 26%.
Indonesia merupakan salah satu penghasil batubara
terbesar di dunia.

Demand
Teori permintaan/demand adalah kemauan
dan kemampuan dari konsumen untuk
membeli sejumlah barang tertentu pada
harga tertentu dalam waktu tertentu.
Pada hakikatnya makin rendah harga suatu
barang maka makin banyak permintaan
terhadap barang tersebut. Sebaliknya,
makin tinggi harga suatu barang maka
makin sedikit permintaan terhadap barang
tersebut.

Faktor-faktor yang
mempengaruhi demand
Harga
Harga

batubara:
subtitusi batubara (minyak bumi, gas alam): Lebih mahal dari
batubara
Pendapatan: meningkatnya konsumsi batubara dunia tidak lepas dari
meningkat pesannya permintaan energi dunia dimana batubara merupakan
pemasok energi terbesar setelah minyak
Cita rasa: Secara umum batubara dianggap sebagai bahan bakar fosil yang
relatif lebih murah berdasarkan panas yang dikandungnya dan banyak
digunakan sebagai sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik.
Keuntungan lainnya, batubara mencakup pasokan yang relatif stabil dari
beragam lokasi geografis, penyimpanan yang mudah dan aman, serta
transportasi yang mudah. Selain itu juga, industri pembangkit listrik
bergantung pada batubara.
Prediksi dimasa datang: Kebutuhan akan tenaga listrik di negara-negara
berkembang pasti terus diperlukan sehingga demand atas batubara masih
terus bertahan, apalagi bagi negara yang sangat bergantung pada
batubara. Dan Indonesia termasuk 10 besar pengekspor batubara di dunia.

Sebagai

pembangkit listrik, batubara penyumbang terbesar


untuk energi primer yaitu sebesar (41%), dibandingkan
dengan energi lainnya seperti gas (20,1%), hydro (16%),
nuklir (14,8%) dan minyak (5,8%).
Disejumlah negara peran batubara sebagai pembangkit listrik
sangat dominan seperti di polandia (93%), Afirka Selatan
(93%), Australia (80%), Cina (78%), dan Indonesia (71%).
Pasar batubara terbesar adalah Asia yang mengkonsumsi
sekitar 54% dari konsumsi batubara dunia dan impor
batubara terbesar adalah dari negara-negara Asia seperti
Jepang, Korea, Cina Taipe, India, dan Cina.
Jepang adalah negara pengimpor batubara terbesar di dunia
dengan volume impor 182 juta ton tahun 2007, diikuti oleh
Korea, Cina Taipe masing 88 juta ton dan 69 juta ton.

Supply
Penawaran/supply

adalah kemauan
atau kemampuan dari produsen
untuk memproduksi dan
menawarkan barang tertentu pada
harga tertentu dalam suatu periode
tertentu

Supply
Keinginan

para penjual dalam


menawarkan barang ada berbagai
tingkat harga ditentukan oleh
beberapa faktor penting, yaitu :
Harga barang itu sendiri
Harga-harga barang lain
Biaya produksi
Tujuan perusahaan
Tingkat produksi yang digunakan

Hukum Penawaran
Hukum

penawaran adalah suatu pernyataan


yang menjelaskan tentang sifat hubungan
antara harga suatu barang dan jumlah barang
tersebut ditawarkan pada penjual.
Hukum penawaran pada dasarnya
menyatakan bahwa semakin tinggi harga
suatu barang, semakin banyak jumlah barang
tersebut akan ditawarkan oleh para penjual.
Sebaliknya semakin rendah harga suatu
barang semakin sedikit jumlah barang
tersebut yang ditawarkan.

Elastisitas
Elastistitas

adalah ukuran kuantitatif


yang menunjukkan seberapa besar
pengaruh perubahan harga atau
faktor-faktor lainnnya terhadap
perubahan permintaan dan
penawaran dari suatu komoditas.
Elastisitas dapat dibedakan menjadi
elastisitas permintaan dan elastisitas
penawaran.

Manfaat dari penaksiran


elastisitas permintaan
Bagi perusahaan (produsen), elastisitas permintaan dapat
menjadi landasan dalam menyusun kebijakan
penjualannya. Bila diketahui sifat responsif permintaan
atas komoditas yang dihasilkan perusahaan, pihak
perusahaan dapat menentukan perlu tidaknya untuk
menaikkan harga jual komoditas yang dihasilkannya.
2. Bagi pemerintah dapat digunakan untuk meramalkan
kesuksesan dari kebijakan tertentu yang akan
dilaksanakannya.
Secara umum elastisitas permintaan dapat dibedakan
menjadi elastisitas permintaan terhadap harga (price
elasticity of demand), Elastisitas permintaan terhadap
pendapatan (income elasticity of demand) dan Elastisitas
permintaansilang (cross price elasticity of demand).
1.

Teori Pembentukan
Harga
Dalam

kondisi pasar persaingan sempurna, harga suatu


barang/komoditi merupakan perpotongan antara kurva demand
(permintaan) dan kurva supply (penawaran).
Demand adalah kemauan dan kemampuan konsumen untuk
membeli kuantitas barang yang berbeda pada harga yang berbeda
selama waktu tertentu (Arnold, 2008). Hukum yang berlaku pada
demand adalah ketika harga barang naik, maka jumlah permintaan
akan barang akan turun, demikian sebaliknya ceteris paribus.
Supply adalah kemauan dan kemampuan produsen untuk
memproduksi dan menawarkan kuantitas barang yang berbeda
pada harga berbeda selama waktu tertentu. Hukum yang berlaku
pada supply adalah ketika harga barang naik, maka jumlah
produksi barang akan naik, jika harga turun maka jumlah produksi
akan barang akan turun ceteris paribus.
Teori ini berlaku untuk semua jenis komoditas, termasuk di
dalamnya adalah komoditas batubara.

Teori Produksi
Produksi

adalah suatu kegiatan yang mengubah input


menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi
dinyatakan dalam fungsi produksi.
Fungsi produksi menunjukkan jumlah maksimum
output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah
input dengan menggunakan teknologi tertentu.
Fungsi produksi dapat di formulakan sbb:
Q = f (K, L, X, E),
Dimana,
K = Kapital
L = Tenaga kerja
L = Tanah dan Sumber Daya Alam
E = Keahlian

Kebijakan Industri
Pertambangan
Kaitannya

dengan sektor pertambangan batubara, pemerintah


bersama dengan DPR telah mengeluarkan kebijakan mengenai
Energi Nasional, Pertambangan Mineral dan Batubara, perpajakan
dan lain-lain.
Dalam penerimaan pendapatan negara, khusus penerimaan
pendapatan dari sektor batubara bagi perusahaan pertambangan
batubara yang telah mendapat izin untuk beroperasi dan telah
melakukan kegiatan produksi, maka terhadap perusahaanperusahaan tersebut diwajibkan untuk membayar kewajibankewajiban keuangan kepada pemerintah pusat maupun daerah.
Jenis-jenis kewajiban keuangan yang harus dibayarkan
perusahaan pertambangan kepada negara dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu pajak dan non pajak. Kewajiban pajak
dikelompokkan lagi menjadi pajak langsung dan pajak tidak
langsung.

Jenis-jenis kewajiban keuangan


bagi Perusahaan untuk Negara
1. Pajak Langsung terdiri dari :
Pajak Penghasilan Badan (PPh Pasal 22, 23, 25, dan 29)
Pajak Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21/26)
Pajak Penghasilan atas Bunga, Dividen dan Royalti (PPh Pasal 23, 26)
Pajak Bumi dan Bangunan

2. Pajak Tidak Langsung terdiri dari :


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

(PPnBM)
Bea Materai
3. Jenis-jenis kewajiban Non Pajak :
Bea Masuk atas Barang-Barang yang diimpor
Iuaran Tetap/Landrent/Deadrent
Iuran Produksi/Royalti
Dana Hasil Produksi Batubara/DHPB (khusus bagi PKP2B)
Bea Balik Nama
Pungutan-pungutan/retribusi Pemerintah Daerah.

Permintaan Batubara Termal


Dunia

10 Negara Terbesar Produsen


Batubara di Dunia Tahun 2014

Indonesian Government's
Benchmark Thermal Coal Price
(HBA):
in USD/ton

Melihat

trend dari tahun 2005 hingga 2013,


produksi batubara Indonesia meningkat secara
keseluruhan dari tahun ke tahun, namun pada
pertengahan 2013 produksi tersebut mulai
menurun hingga tahun 2015, seiring juga dengan
penurunan ekspor batubara.
Untuk konsumsi dalam negeri memang terus
meningkat, akan tetapi produksi batubara 80%
memang ditujukan untuk ekspor, sisanya baru
untuk domestik.
Penurunan produksi dan ekspor juga
mempengaruhi turunnya harga batubara di pasar.

Analisis Persaingan (Five


Forces Model)
1.

2.
3.
4.
5.

Jumlah perusahaan yang menguasai batubara di


Indonesia (Persaingan diantara produsen batubara):
Indonesia memiliki produsen salah satu terbesar di
dunia sehingga para perusahaan impor tetap akan
menjadikan Indonesia sebagai pemasok batubara
Bariers to entry (Potensi Pemain baru): Potensinya
kecil (Perizinan, working capital, batubara terbatas)
Produk Pengganti: Minyak dan Gas harganya lebih
mahal
Supplier: Kontraktor Pertambangan lumayan memadai
Buyers: Pertumbuhan yang besar terutama di India
dan Cina, Namun ada penawaran lain yang juga kuat
melakukan ekspor batubara seperti Australia

Indonesia

merupakan sektor Industri yang tidak mudah untuk


dimasuki. Besarnya working capital yang harus diinvestasikan,
sulitnya perijinan serta masalah dalam pembebasan lahan
menjadi constraint bagi setiap investor yang ingin terjun di
industri ini.
Hal ini menyebabkan kompetisi di industri ini tidak terlalu ketat,
mengingat tidak terlalu banyak kemungkina akan dilakukannya
merger dan akuisisi dengan pertimbangan jangka panjang
perusahaan.
Dengan persaingan yang tidak ketat, perusahaan-perusahaan di
Indonesia memiliki barganing power yang kuat terhadap
pembelinya.
Akan tetapi, mengingat sumber daya batubara yang terbatas,
perusahaan-perusahaan di sektor ini harus melakukan
diversifikasi untuk memitigasi keterbatasan sumber daya dengan
terus melakukan eksplorasi lahan baru

External Factor Evaluation


(EFE) Matrix
1.

Opportunities

Permintaan yang besar dari negara China dan India


untuk kebutuhan listrik. Tingginya tingkat
pertumbuhan ekonomi (GDP) dan populasi penduduk
merefleksikan permintaan akan tenaga listrik
Ketergantungan terhadap ekspor batubara Thermal
Indonesia semakin meningkat karena cadangan
batubara bituminous yang dapat diambil secara
global mulai menipis.
Kerja sama perusahaan Indonesia dengan
perusahaan luar akan menciptakan pasar yang stabil
dalam jangka panjang

2. Threats
Peraturan pemerintah. Aktifitas pertambangan diatur oleh
peraturan dan regulasi pemerintah, sehingga perupabah regulasi
dan peraturan tersebut dapat berimbas pada kinerja perusahaan.
Penerapan regulasi emisi carbon dioxide (CO2) dan manajemen
CO2 dapat memberikan dampak terhadap penggunaan batubara.
Cadangan yang terbatas. Aktifitas produksi akan terus
mengurangi cadangan tambang yang ada. Bila perusahaan gagal
menemukan cadangan baru atau estimasi yang kurang tepat
mengenai potensi cadangan yang ada akan menambah resiko
pada operasional jangka panjang atau perusahaan akan berhenti
melakukan produksi.
Kenaikan harga minyak juga sangat mempengaruhi biaya
produksi mengingat area pertambangan yang dimiliki
perusahaan merupakan open pit mining.

Internal Factor Evaluation


(IFE) Matrix
Mendapatkan

keuntungan secara langsung dari


penguatan harga komoditas batubara
Biaya penambangan di Indonesia masih lebih murah
dibanding pesaing utama Australia
Indonesia memiliki jenis batubara termal yang
menjadi salah satu pengekspor terbesar
kedua di dunia
Kondisi geografis Indonesia yang mudah menyalurkan
ke konsumen Asia, Eropa dan Afrika Selatan
Indonesia telah berpengalaman dalam menambang
batubara (dipegang oleh orang-orang yang ahli di
bidangnya)

Weakness
Cadangan tambang di Indonesia masih

banyak bermasalah dengan perizinan


Resiko gagal produksi karena bencana
mengingat Indonesia memiliki banyak
gunung berapi, dan terdiri dari pulaupulau yang terpisah-pisah