Anda di halaman 1dari 53

ANAMNESIS DAN

PEMERIKSAAN RANGSANG
SELAPUT OTAK, SARAF
CRANIAL
Pembimbing : dr. Djati Sulastono,
Sp.S

Nur Andriana
2009730037

KEPANITERAAN KLINIK ILMU NEUROLOGI


RSUD CIANJUR
2013

Anamnesis & Pemeriksaan


Fisik Neurologi

ANAMNESIS
-Identitas
- Keluhan utama (Sejak kapan
mulai,Sifat serta beratnya, hubungannya
dengan waktu, Lokasi serta
penjalarannya, Keluhan lain yang ada
-Keluhan
hubungannya
dengan
keluhan tersebut,
lain
Nyeri kepala
Pengobatan
sebelumnya dan bagaimana
Muntah
hasilnya)
Vertigo
Gangguan penglihatan
Gangguan pendengaran
Gangguan motorik
Fungsi luhur
Kesadaran
Motorik
Sensibilitas
Saraf otonom

RANGSANG SELAPUT OTAK ( IRITASI MENINGEAL )

Kaku kuduk
Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala
pasien yang sedang berbaring, kemudian kepala
ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu
mencapai dada. Selama penekukan diperhatikan
adanya tahanan dan nyeri.

TANDA LASEGUE / TES


LASEGUE
pada pasien yang berbaring lalu kedua tungkai
diluruskan ( diekstensikan ) , kemudian satu
tungkai diangkat lurus, dibengkokkan ( fleksi )
persendian panggulnya. Tungkai yang satu lagi
harus selalu berada dalam keadaan ekstensi
( lurus ) . Pada keadaan normal dapat dicapai
sudut 70 derajat sebelum timbul rasa sakit dan
tahanan. Bila sudah timbul rasa sakit dan
tahanan sebelum mencapai 70 derajat maka
disebut tanda Lasegue positif. Namun pada
pasien yang sudah lanjut usianya diambil
patokan 60 derajat.

Kernig sign

Brudzinski (I, II, III, IV)

NERVUS CRANIAL

NERVUS I OLFACTORIUS
Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya
gangguan menghidu, selain itu untuk mengetahui
apakah gangguan tersebut disebabkan oleh
gangguan saraf atau penyakit hidung lokal.
Sindrom foster kennedy :
Anosmia ipsilateral karena tekanan langsung pada
bulbus atau tractus olfactorius
Atrofi optik ipsilateral karena jejas pada saraf optik
ipsilateral
Sembab papil kontralateral karena peningkatan
TIK akibat tumor.

SYARAT PEMERIKSAAN
Bahan yang digunakan bersifat aromatik, tidak
merangsang mukosa hidung, dan mudah dikenal.
Misalnya: teh, kopi, tembakau, sabun, vanili, dll.
2. Bahan yang mudah menguap dan merangsang mukosa
hidung tidak dapat dipakai karena akan merangsang
juga N.V. misalnya: alkohol, amonia.
3. Sebelum pemeriksaan terlebih dulu jalan lintas
pernapasan melalui hidung harus baik, bersih, dan
lancar. Jadi tidak ada corpus alineum, rhinitis, atau
polip.
4. Mata penderita sebaiknya ditutup
1.

Kelainan penciuman:
Anosmia

hilangnya
daya penciuman
Hiposmia daya
penciuman berkurang
Hiperosmia daya
penciuman lebih
tajam dari normal
Parosmia
rangsangan bau ada
tetapi identifikasinya
salah
Halusinasi olfactorik
mencium bau sesuatu
tanpa adanya
rangsangan

NERVUS II OPTIKUS

Tujuan pemeriksaan
a. Mengukur ketajaman penglihatan ( visus ) dan
menetukan apakah kelainan pada visus
disebabkan oleh kelainan okuler lokal atau
kelainan saraf
b. Mempelajari lapang pandang
c. Memeriksa keadaan papil optik
Cara pemeriksaan
a. Ketajaman Penglihatan
b. Lapangan pandang
c. Oftalmoskopi

anopsia
hemianopsia binasal
hemianopsia bitemporal
hemianopsia homonim kontralateral

hemianopsia homonim
quadroanopsia superior homonim
kontralateral

quadroanopsia inferior
homonim kontralateral

sejajar mata responden dengan jarak 6


meter
Pemeriksaan dimulai dengan mata
kanan. Mata kiri responden ditutup
dengan telapak tangannya tanpa
menekan bolamata.
Responden disuruh baca huruf dari
kiri-ke kanan setiap baris kartu
Snellen atau memperagakan posisi
huruf E pada kartu E dimulai baris
teratas atau huruf yang paling besar
sampai huruf terkecil (baris yang
tertera angka 20/20).
Penglihatan normal bila responden
dapat membaca sampai huruf terkecil
(20/20).

PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN DENGAN


HITUNG JARI:

Bila responden belum dapat melihat huruf teratas


atau terbesar dari kartu Snellen atau kartu E maka
mulai HITUNG JARI pada jarak 3 meter (tulis 3/60).
Hitung jari 3 meter belum bisa terlihat maka maju 2
meter (tulis 2/60), bila belum terlihat maju 1 meter
(tulis 1/60).
Bila belum juga terlihat maka lakukan GOYANGAN
TANGAN pada jarak 1 meter(tulis 1/300).
Goyangan tangan belum terlihat maka senter mata
responden dan tanyakan apakah
responden dapat melihat SINAR SENTER (tulis 1/~).
Bila tidak dapat melihat sinar disebut BUTA TOTAL
(tulis 00/000).

PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG


Lapangan pandang yang normal mempunyai
bentuk tertentu, dan tidak sama ke semua arah.
Seseorang dapat melihat ke 90 derajat temporal,
60 derajat atas dan 75 derajat bawah. Ada tiga
metode standar dalam pemeriksaan lapang
pandang yaitu dengan metode konfrontasi,
perimeter, dan kampimeter atau tangent screen.

Snellen chart

funduskopi

konfrontasi

Fundus oculi (funduscopy)


Pemeriksaan dgn oftalmoskop.
Yang diperiksa adalah keadaan
retina dan diskus optikus atau
papila nervi optici.
Penilaian:
Gambaran fundus oculi normal:
Retina berwarna merah-oranye
Pembuluh darah: vena lebih tebal
dari arteri dan berpangkal pada
pusat papil dan memancarkan
cabang-cabangnya keseluruh
retina dengan perbandingan a:v =
2:3
Papil N.II: berwarna kuning
kemerahan, bentuk bulat, batas
tegas dengan sekelilingnya,
mempunyai cekungan fisiologis
(cupping).

Kelainan Papil :

Papil Edema
Papil Atrofi

Tes Warna (color vision testing)

Tes ini untuk mengetahui adanya buta


warna dengan menggunakan Ishihara.
Gangguan pengenalan warna ini sering
ditemukan pada kasus neuritis optika,
lesi N.II atau lesi khiasma opticum.

PENYEBAB GANGGUAN NERVUS OPTIKUS


YANG PERLU DIKETAHUI

Neuritis optika

Neuritis retrobilbaris

Papilitis

Neuropati optik iskemik misalnya pada


a. hipertensi
b. arteritis

neuropati karena tekanan, misalnya pada


a. tumor
b.anerisma
c.gangguan hormon tiroid

neuropati optik oleh infiltrasi


a. karsinoma
b.limfoma

defisiensi / intoksikasi misalnya


a.defisiensi vit.B1.B12
b.intoksikasi etambutol, kloramfenikol

N. III, IV DAN VI NERVUS


(OKULOMOTORIUS,TROKLEARIS,ABDUSENS )
Fungsi N III,IV,VI saling berkaitan dan diperiksa
bersaman sama. Fungsinya ialah menggerakkan otot
mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata.
Pemeriksaan N.III, N.IV, dan N.VI meliputi:
Kelopak mata
Kedudukan bola mata
Gerakan bola mata
Pupil : Bentuk pupil,
Normal bentuknya bulat, batas rata, dan licin,
Ukuran pupil (miosis/midriasis atau isokor/
anisokor), Refleks pupil

Gerak bola mata


M. Oblique inf (N.III) melihat
ke atas dalam

M. Rectus superior (N III)


melihat ke atas luar

M. Rectus lat
(N VI ) gerak
ke lateral
abduksi
M. Rectus
med
( N III )

M. Oblique sup (N IV)


melirik ke bawah dalam

M. Rectus inf
( N III ) melihat ke
bawah luar

Pemeriksaan n.III
pupil
Bentuk,

diameter
kanan dan kiri,
reflekx cahaya, dan
reflex akomodasi

Pemeriksaan n.III, IV dan VI (pergerakan


bola mata)

KELAINAN PADA N. III, IV DAN VI

Ptosis, disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan


tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli
yang dipersarafi oleh saraf fasialis.
Pupil yang melebar, tak bereaksi terhadap cahaya dan
akomodasi.
Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut,
kerusakan biasanya terjadi di perifer, paralisis otot tunggal
menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus
okulomotorius.
Penyebab kerusakan diperifer meliputi; a). Lesi kompresif
seperti tumor serebri, meningitis basalis, karsinoma
nasofaring dan lesi orbital. b). Infark seperti pada arteritis
dan diabetes

Nervus V Trigeminus

N. Trigeminus terdiri dari:


motorik, yang
mempersarafi otot pengunyah
yaitu M. Masseter, M.
Temporalis, M. Pterigoideus.
Saraf sensorik, yang
mempersarafi wajah dalam 3
cabang yaitu N. ophtalmicus,
N. Maxillaris,
N.Mandibularis.

Pemeriksaan meliputi :

Motorik

Saraf

M. Masseter dan M. Temporalis

M. Pterigoideus

Sensorik

N.

Ada 3 cabang sensorik untuk wajah:

Ophtalmicus
N. Maxillaris
N. Mandibularis
Reflex
- reflex kornea
- reflex masseter

Motorik

Pasien diminta merapatkan gigi


sekuatnya, kemudian meraba m .
masseter
dan
m.
Temporalis.
Normalnya kiri dan kanan kekuatan,
besar dan tonus nya sama.
Pasien diminta membuka mulut dan
memperhatikan apakah ada deviasi
rahang bawah, jika ada kelumpuhan
maka dagu akan terdorong kesisi lesi.
Sebagai pegangan diambil gigi seri
atas
dan
bawah
yang
harus
simetris.Bila
terdapat
parese
disebelah kanan, rahang bawah tidak
dapat digerakkan kesamping kiri.
Cara
lain
pasien
diminta
mempertahankan rahang bawahnya
kesamping dan kita beri tekanan
untuk mengembalikan rahang bawah
keposisi tengah.

Reflex

Langsung
Pasien diminta melirik ke arah
laterosuperior,
kemudian
dari
arah lain kapas disentuhkan pada
kornea mata, misal pasien diminta
melirik kearah kanan atas maka
kapas disentuhkan pada kornea
mata kiri dan lakukan sebaliknya
pada mata yang lain. Kemudian
bandingkan
kekuatan
dan
kecepatan refleks tersebut kanan
dan kiri saraf aferen berasal dari
N. V tetapi eferannya (berkedip)
berasal dari N.VII.

Tak langsung (konsensual)

Refleks masseter

Sentuhan kapas pada kornea atas akan


menimbulkan refleks menutup mata pada mata
kiri dan sebaliknya
kegunaan pemeriksaan refleks kornea
konsensual ini sama dengan refleks cahaya
konsensual, yaitu untuk melihat lintasan mana
yang rusak (aferen atau eferen).

Untuk melihat adanya lesi UMN


penderita membuka mulut
secukupnya (jangan terlalu lebar)
kemudian dagu diberi alas jari
tangan pemeriksa diketuk
mendadak dengan palu refleks.
Respon normal akan negatif yaitu
tidak ada penutupan mulut atau
positif lemah yaitu penutupan
mulut ringan. Sebaliknya pada lesi
UMN akan terlihat penutupan
mulut yang kuat dan cepat

Pemeriksaan reflex
cornea

Beberapa penyebab gangguan nervus V :

Neralgia trigeminus idiopatis

Trauma kapitis

Infeksi oleh herpes zoster

Penyakit sjogren

SLE

nerinoma akustikusitis

Meningitis karsinomatosa

NERVUS VII FACIALIS


Pemeriksaan N. Facialis ini
meliputi fungsi:
1. Motorik, yang mempersarafi
semua otot wajah kecuali M.
Levator palpebra superior
2. Sensorik khas, pengecap 2/3
anterior lidah
3. Visceromotorik, mengatur
sekresi kelenjar lakrimalis,
lingualis, dan submaxillaris
4. Somatosensorik, Rasa nyeri
pada lidah, palatum, MAE,
Gendang telinga luar

Pemeriksaan fungsi motorik.

Pasien diperiksa dalam keadaan istirahat.


Perhatikan wajah pasien kiri dan kanan
apakah simetris atau tidak. Perhatikan juga
lipatan dahi, tinggi alis, lebarnya celah
mata, lipatan kulit nasolabial dan sudut
mulut. Kemudian pasien diminta untuk
menggerakan wajahnya antara
lain:

Mengerutkan

dahi,
dibagian yang lumpuh
lipatannya tidak dalam.
Mengangkat alis
Menutup mata dengan
rapat dan coba buka
dengan tangan pemeriksa.
Moncongkan bibir atau
menyengir.
Suruh pasien bersiul,
dalam keadaan pipi
mengembung tekan kiri
dan kanan apakah sama
kuat . Bila ada
kelumpuhan maka angin
akan keluar kebagian sisi
yang lumpuh.

Tes sensorik khusus


(pengecapan) 2/3
depan lidah)
Pemeriksaan

dengan
rasa manis, pahit,
asam, asin yang
disentuhkan pada
salah satu sisi lidah.
Bahannya
adalah:Glukosa 5 %,
Nacl 2,5 %, Asam sitrat
1 %, Kinine 0,075 %.

KELAINAN N.VII
Lesi UMN (supranuklear) :
tumor dan lesi vaskuler.
Lesi LMN :

Penyebab

pada pons,
meliputi tumor, lesi
vaskuler dan siringobulbia.
Pada fosa posterior,
meliputi neuroma akustik,
meningioma, dan
meningitis kronik.
Pada pars petrosa os
temporalis dapat terjadi
Bells palsy, fraktur,
sindroma Rumsay Hunt,
dan otitis media

Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral


antara lain Sindrom Guillain Barre,
mononeuritis multipleks, dan keganasan
parotis bilateral.

Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral


tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi
telinga tengah yang meliputi Korda timpani
atau nervus lingualis

NERVUS VIII (PENDENGARAN DAN


KESEIMBANGAN)
Fungsi N. Kokhlearis adalah
untuk pendengaran
Test bisik dan detak arloji
Pemeriksaan Weber.
Pemeriksaan Rinne.
Pemesiksaan Schwabach.

Pemeriksaan N. Vestibularis
Test Romberg.
Test melangkah ditempat
( Stepping test ).

Weber

Membandingkan

hantaraan tulang
ditelinga kanan dan
kiri pasien.
Garpu tala
ditempatkan didahi
pasien, pada keadaan
normal kiri dan kanan
sama keras

Bila pendengar mendengar


lebih keras pada sisi di
sebelah kanan disebut
lateralisai ke kanan.

Rinne

Maksudnya membandingakn hantaran tulang dan


udara dari pasien.
Pada telinga yang sehat,hantaran udara > hantaran
tulang.

Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai


pasien tidak dapat mendengarnya lagi. Kemudian
garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus.
Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar
dikatakan test positif. Pada orang normal test Rinne ini
positif. Pada Conduction deafness test Rinne negatif.

Swabach
Garpu

tala dibunyikan dan


kemudian ditempatkan
didekat telinga pasien.
Setelah pasien tidak
mendengarkan bunyi lagi,
garpu tala ditempatkan
didekat telinga pemeriksa.
Bila masih terdengar bunyi
oleh pemeriksa, maka
dikatakan bahwa
Schwabach lebih pendek
(untuk konduksi udara ).

Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan


pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid
pasien

Bila sudah tidak mendengar lagi maka garpu


tala diletakkan ditulang mastoid pemeriksa.
Bila pemeriksa masih mendengarkan
bunyinya maka dikatakan Schwabach ( untuk
konduksi tulang ) lebih pendek

Pada lateralisai ke kanan terdapat


kemungkinannya:
1) Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya
ototis media disebelah kanan.
2) Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi
gangguannya pada telinga kanan lebih hebat.
3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke
sebelah kiri terganggu, maka di dengar sebelah
kanan.
4) Tuli persepsi pada kedua telinga, tetapi
sebelah kiri lebih hebat dari pada sebelah
kanan.

PEMERIKSAAN KESEIMBANGAN
Romberg test
Pasien berdiri dengan kaki yang
satu didepan kaki yang lainnya.
Tumit kaki yang satu berada
didepan jari kaki yang lainnya,
lengan dilipat pada dada dan
mata kemudian ditutup.
Orang yang normal mampu
berdiri dalam sikap Romberg yang
dipertajam selama 30 detik atau
lebih.

TEST MELANGKAH DITEMPAT ( STEPPING TEST


).

Pasien disuruh berjalan ditempat, dengan mata


tertutup, sebanyak 50 langkah dengan kecepatan
seperti jalan biasa. Selama test ini pasien
diminta untuk berusaha agar tetap ditempat dan
tidak beranjak dari tempatnya selama test
berlangsung.
Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir
pasien beranjak lebih dari 1meter dari
tempatnya semula, atau badan terputar lebih
dari 30 derajat.

PEMERIKSAAN
KESEIMBANGAN
Test telunjuk hidung
Test tumit lutut.
Test diadokinesia
berupa: pronasi
supinasi, tapping jari
tangan.
Test
mempertahankan
sikap.

Test Telunjuk-Hidung
Pasien menunjuk hidungnya sendiri
Kemudian menunjuk jari pemeriksa
secara bergantian, jari telunjuk pemeriksa
berpindah-pindah posisi selama test
berlangsung , pasien diminta untuk
melakukan gerakan ini secara berlahan
kemudian makin cepat dan sebaliknya
Test dilakuakn untuk tangan kanan dan
kiri
Test hidung jari sambil tutup mata
Menerangkan tujuan pemeriksaan
Pasien disuruh menunjuk hidungnya
sendiri sambil matanya ditutup
Kemudian menunjuk jari sendiri secara
bergantian, jari telunjuk klien berpindahpindah posisi selama test berlangsung
Klien diminta untuk melakukan gerakan
ini secara berlahan kemudian makin cepat
dan sebaliknya
Test dilakuakn untuk tangan kanan dan
kiri

Test tumit lutut.

Dalam sikap berbaring klien disuruh meletakkan


kiri di atas lutut kanannyatumit ,
Kemudian menggerakkan tumit tersebut meyusuri
tulang tibia kea rah distal sampai dorsum kaki
dan ibu jari kaki,

pasien diminta untuk melakukan gerakan ini


secara berlahan kemudian makin cepat dan
sebaliknya,
Dapat pula gerakan ini dilakukan berlawanan
arah dari bawah ke atas,

Test dilakuakn untuk kaki kanan dan kiri

Test Pronasi-Supinasi
Dalam sikap duduk pasien
disuruh meletakkan tangan
di bagian atas bagian distal
paha
Mula-mula secara pronasi
(telapak tangan ke bawah),
lalu supinasi (telapak tangan
ke atas),
pasien diminta untuk
melakukan gerakan ini
secara berlahan kemudian
makin cepat dan sebaliknya,
Test dilakuakn untuk tangan
kanan dan kiri

Test tapping jari-jari tangan


dilakukan dengan menepuk pinggiran
meja/paha dengan telapak tangan secara
berselingan bagian volar dan dorsal tangan
dengan cepat atau dengan tepukan cepat
jari-jari tangan ke jempol

GANGG. PENDENGARAN DAN


KESEIMBANGAN
Tuli saraf dapat disebabkan
oleh tumor, misal neuroma
akustik. Degenerasi misal
presbiaskusis. Trauma,
misal fraktur pars petrosa
os temporalis, toksisitas
misal aspirin, streptomisin
atau alkohol, infeksi misal,
sind.rubella kongenital dan
sifilis kongenital.
Tuli konduktif dapat
disebabkan oleh serumen,
otitis media, otoskleroris
dan penyakit Paget.

Pada labirin meliputi penyakit meniere,


labirinitis akut, mabuk kendaraan,
intoksikasi streptomisin.

Pada vestibuler meliputi semua penyebab


tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis.

Pada batang otak meliputi lesi vaskuler,


tumor serebelum atau tumor ventrikel IV
demielinisasi.

Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan


iskemia

NERVUS IX DAN X N. ( GLOSSOPHARYNGEUS


DAN N. VAGUS )
Cara pemeriksaan:
Pasien diminta untuk membuka mulut dan
mengatakan huruf a . Jika ada gangguan maka
otot stylopharyngeus tak dapat terangkat dan
menyempit dan akibatnya rongga hidung dan
rongga mulut masih berhubungan sehingga bocor.
Jadi pada saat mengucapkan huruf aaaaah
dinding pharynx terangkat sedang yang lumpuh
tertinggal, dan tampak uvula tidak simetris tetapi
tampak miring tertarik kesisi yang sehat.

Pemeriksaan n.IX dan X

CARA PEMERIKSAAN
Lakukan tes refleks
muntah dengan lembut
(nervus IX adalah
komponen sensorik dan
nervus X adalah
komponen motorik).
Sentuh bagian belakang
faring pada setiap sisi
dengan spatula, jangan
lupa menanyakan kepada
pasien apakah ia
merasakan sentuhan
spatula tersebut (N. IX)
setiap kali dilakukan

Dalam keadaaan normal, terjadi kontraksi


palatum molle secara refleks. Jika
kontraksinya tidak ada dan sensasinya utuh
maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus
X,
Pasien disuruh berbicara agar dapat
menilai adanya suara serak (lesi nervus
laringeus rekuren unilateral),

Tes juga rasa kecap secara rutin pada


sepertiga posterior lidah (N. IX).

BEBERAPA PENYEBAB GANGGUAN


PADA N.IX DAN X
Keadaan patologis
disekitar foramen
jugulare
Anerisma a vertebralis
stroke bilateral
ALS
Hal-hal yang
mengaggu n.laringeus
rekurens : ( anerisma
aorta, tumor
mediastinum atau
bronkus )

NERVUS XI ( ACCESORIUS )

N.XI = N. Accesorius
Hanya mempunyai komponen
motorik yang mempersarafi
a. M. Trapezius
b. M. Sternocleidomastoideus

CARA PEMERIKSAAN :

Memeriksa tonus dari m. Trapezius. Dengan


menekan pundak pasien dan pasien diminta
untuk mengangkat pundaknya.Memeriksa m.
Sternocleidomastoideus. Pasien diminta untuk
menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh
pemeriksa , kemudian dilihat dan diraba tonus
dari m. Sternocleidomastoideus.

KELAINAN N.XI

Kelainan pada nervus


asesorius dapat
berupa robekan
serabut saraf, tumor
dan iskemia
akibatnya persarafan
ke otot trapezius dan
otot
stemokleidomastoideu
s terganggu

Pasien akan menderita bahu yang turun


sebelah serta kelemahan saat leher berputar
ke sisi kontralateral

NERVUS XII ( HYPOGLOSUS )

N.XII = N. Hypoglossus
Bersifat motorik yang mempersarafi
otot-otot penggerak lidah
Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. IX. X,
XII disebut kelumpuhan pseudobulbar

Cara pemeriksaan:
Penderita

diminta membuka mulut dan


menjulurkan lidahnya lurus ke depan. Perhatikan:
Deviasi, Fasikulasi. Papil lidah: ada atrofi atau
tidak (pada atrofi lidah tampak licin).

KELAINAN N.XII

dapat disebabkan oleh


kelainan di batang
otak, kelainan
pembuluh darah,
tumor dan
syringobulbia berupa :

gangguan proses pengolahan makanan dalam


mulut, gangguan menelan dan gangguan bicara
(disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila
lidah tertarik ke belakang

Pada lesi unilateral, lidah akan membelok kearah


sisi yang sakit saat dijulurkan. Saat istirahat
lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut