Anda di halaman 1dari 42

CASE REPORT

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI RINGAN SEDANG & KEJANG


DEMAM KOMPLEKS

Titin Rika Purwanti


Pembimbing :
dr. H. Wilson, Sp.A , M.Biomed
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABDURRAB
RSUD SIAK
2016

IDENTITAS
I. Identitas Pasien
No. MR: 146506
Tanggal masuk : 25/05/2016
Nama : An. FS
Umur : 1 Tahun 11 bulan
Jenis kelamin : Perempuan
Anak Ke : 3
Agama : Islam
Alamat : Bunga Raya

KELUHAN UTAMA
Alloanamnesis (Ibu)
BABcair10kalisejak2hariSMRS

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


2 hari SMRS pasien mengeluhkan BAB cair 10 kali, BAB
berwarna kuning kecoklatan, ampas (+), lendir (-), darah (-),
sekali BAB 1/2 gelas aqua.
8 jam SMRS pasien BAB sebanyak 1 kali, tetapi keluar terus
menerus hingga ganti popok sampai 2 kali, disertai muntah berisi
cairan 1 gelas aqua. Pasien tidak mau makan dan minum.
Pasien juga mengalami demam (+), menggigil (-), kemudian
kejang (+) 1x dirumah & 2x di Puskesmas, 5 menit setiap kali
kejang, disertai gerakan menyentak seluruh tubuh, diantara
kejang pasien tidak sadar, mata melotot ke atas dan mulut
mengeluarkan busa.
Di Puskesmas pasien sudah diberi obat dari anus, lalu dirujuk ke
IGD RSUD Tengku Rafian Siak.
Batuk (-), pilek (-), BAK tidak ada keluhan.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat kejang sebelumnya


disangkal
Pasien pernah mengalami
diare 1 bulan yang lalu

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak ada anggota keluarga yang
mengeluhkan keluhan yang sama.
Riwayat kejang pada keluarga
disangkal

RIWAYAT LINGKUNGAN
Tinggal di lingkungan padat penduduk.
Sumber air minum air galon isi ulang
Buang air besar wc dalam rumah
Sampah dibakar
Kesan : lingkungan baik

RIWAYAT KEHAMILAN
Riwayat ANC rutin ke bidan
Riwayat penyakit selama kehamilan disangkal
Riwayat konsumsi obat saat hamil : vitamin
Ditolong oleh

Bidan

Panjang badan

50 cm

cara lahir

normal

Lingkar kepala

Tidak tau

Berat lahir

2.900 gr

Lingkar dada

tidak tau

Indikasi

Langsung
saat lahir

menangis ya

Kelainan bawaan :
(-)
Riwayat imunisasi :
Menurut pengakuan ibu pasien, pasien
mendapat imunisasi lengkap, tetapi Ibu pasien
lupa kapan melakukan imunisasi.
Scar BCG (+)
Campak (9 bulan)

Riwayat tumbuh kembang :


Menurut Ibu pasien tumbuh kembang pasien sesuai
dengan tumbuh kembang anak lain seusianya.
Riwayat tumbuh kembang Umur

Riwayat tumbuh kembang

Umur

Tertawa

Lupa

Lari

Lupa

Miring

Lupa

Gigi pertama tumbuh

Lupa

Tengkurap

Lupa

Bicara

Lupa

Duduk

6 bulan

Membaca

Merangkak

8 bulan

Sekolah

Berdiri

11 bulan

Riwayat pemberian ASI :


ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, dilanjutkan
MPASI

Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Frekuensi Nadi : 110x/menit
Frekuensi Pernafasan : 30x/menit
Suhu tubuh : 38,2 OC
Antropometri

Berat Badan : 10 kg
Tinggi Badan : 85 cm
Status gizi : Kurang

Pemeriksaan Fisik
Kulit: Teraba hangat, turgor kembali cepat,
sianosis (-), ikterik (-), pucat (-)
Kepala : Normocephal, ubun-ubun
belum menutup
Rambut : Hitam, tidak mudah rontok
Mata : Cekung (-), sklera ikterik (-),
conjungtiva anemis (-), pupil isokor,
refleks cahaya (+/+), air mata saat
menangis (+)
Telinga : Bentuk normal, sekret (-), darah (-)

Pemeriksaan Fisik
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-),
napas cuping hidung (-)
Mulut : Mukosa bibir kering, pucat (-),
sianosis (-), Lidah kotor (-)
Tenggorok : Tonsil T1-T1, hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), kaku
kuduk (-)

Pemeriksaan Fisik
Toraks (pulmo)
Inspeksi : simetris kanan & kiri, retraksi (-)
Palpasi
: vokal fremitus sulit dinilai
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi
: suara nafas vesikuler, rh -/- , wh -/Toraks (cor)
Inspeksi : ictus cordis terlihat di SIC 4 linea midclavicula sin
Palpasi
: ictus cordis teraba SIC 4 linea midclavicula sinistra
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi
: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Tampak cembung, distensi (-)
Auskultasi: BU (+) Normal, 12x/mnt
Palpasi : turgor kembali cepat, hepar & lien tidak
teraba
Perkusi : timpani pada keempat kuadran abdomen
Ekstremitas
Superior : akral hangat, CRT <2, sianosis (-),
edema (-)
Inferior : akral hangat, CRT <2 , sianosis (-),
edema (-)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah
Hemoglobin : 10,8 gr/dl
Leukosit : 11.300 / mm3
Eritrosit : 4, 44 juta / mm3
Trombosit : 369.000 / mm3
Hematokrit : 31,3 %
GDS : 101 mg/dl
Elektrolit
Na : 133 mEq/l
K : 2,2 mEq/l
Cl : 102 mEq/l

RESUME
An. FS 1 tahun 11 bulan datang ke IGD RSUD
Tengku Rafian Siakdengan :
BAB cair 10x
1/2 gelas
aqua/BAB

2 hari SMRS

Muntah 1x
Demam (+)
Kejang 3x
IGD RSUD tengku
rafian
8 Jam SMRS

DIAGNOSIS KERJA
Diare Akut Dengan Dehidrasi RinganSedang
Kejang Demam Kompleks
DIAGNOSIS BANDING
Kejang ec Hipokalemia
PEMERIKSAAN ANJURAN
- Pemeriksaan Feses dan kultur feses

PENATALAKSANAAN
IVFD 2A 175 cc/kgBB/ hari (24 tpm makro)
Luminal 75 mg IM
Zirkum kid syr 3x1 cth
Lacto B 1x1 sachet
Oralit 100 cc tiap kali mencret/ muntah
KCl 3x250 mg
Inj. Ondensetron 1 mg (k/p)
Diazepam IV 3,5 mg (Bila kejang)
Paracetamol syr 4x1 cth (k/p)

PROGNOSIS
Ad vitam
: dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

Hari/
Follow up
Tanggal
Kamis, 26 S: Mencret 2x, 1/2 gelas aqua, warna
Mei 2016
kehijauan, ampas (+), darah (-), lendir
(-), kejang (-), muntah (-), nafsu makan
menurun, minum (+), BAK (+), BAB (-)
R.II
BB: 10 kg

Terapi

IVFD 2A 175 cc/kgBB, 24


tpm makro
Sore : 12 tpm makro
ML 1100 kkal
O : KU : tampak sakit sedang,
Luminal 2x50 mg (1)
Kes : composmentis
Zirkum kid syr 3x1 cth
TTV :
Lacto B 1x1 sachet
TD : 90/60 mmHg
Oralit 100 cc tiap kali
RR : 26x/menit
mencret/ muntah
HR : 110 kali / menit
KCl 3x250 mg
T : 38,3oC
Inj. Ondensetron 1 mg (k/p)
Ubun-ubun cekung (-)
Diazepam IV 3,5 mg (Bila
Mata cekung (-), air mata (+)
kejang)
Mukosa bibir kering, perut tegang (+)
Paracetamol 4xcth 1 (k/p)
A : -Diare akut dengan dehidrasi ringan- Inj.ceftriaxon 1x500 mg (2)
sedang
- Kejang demam kompleks

Jumat, 27 S: Mencret 5 kali, warna kehijauan,


Mei 2016
air > ampas, darah (-), lendir (-), IVFD 2A 12 tpm makro
kejang (-), muntah (-), minum ML 1100 kkal
08.00
banyak (+), nafsu makan menurun,
Luminal 2x50 mg (2)
WIB
BAK (+) lancar dan sering
Zirkum kid syr 3x1 cth
Lacto B 1x1 sachet
R.III
O : KU : tampak sakit sedang,
Oralit 100 cc tiap kali
Kes : composmentis
BB: 10 Kg TTV :
mencret/ muntah
TD : 90/60 mmHg
KCl 3x250 mg
RR : 24 x/menit
Inj. Ondensetron 1 mg
HR : 102 x/menit
(k/p)
T : 37,4oC
Diazepam IV 3,5 mg
Abd : tampak cembung, BU (+)
(Bila kejang)
menurun
4x1cth
Paracetamol
(k/p)
A : Hemodinamik stabil
1x500
Inj.ceftriaxon
mg (3)

Jumat, 27 S/ rewel (+), nyeri perut (+),


Mei 2016
kembung (+), BAB (-), kentut (-) IVFD KAEN IB 12
tpm makro
17.45
O/ KU : tampak sakit sedang
Inj. Ranitidin 2x25 mg
WIB
TD : 90/60 mmHg
Pasang NGT : alirkan
RR : 30 x/menit
Ro abdomen 3 posisi
HR : 110 x/menit
T : 36,7 oC
Ketika pemasangan NGT,
Abd : Ins : tampak cembung (+)
Aus : BU (+) menurun, 5x/mnt
Pal : tegang (+), organomegali
sulit dinilai
Per : Hipertimpani
A/ Abdomen Pain

pasien muntah 2 gelas


aqua dan pasien merasa
lebih tenang

Sabtu, 28 S: Mencret 2x, ampas > air, darah (-), IVFD KAEN IB 12 tpm
Mei 2016
lendir (-), muntah (-), demam (+),
makro
kejang (-), minum (+), BAK (+) ML 1100 kkal
normal, BAB (+)
R.IV
Inj. Ranitidin 2x25 mg
Luminal 2x25 mg (3)
BB: 10 kg O : KU : tampak sakit sedang,
Zirkum kid syr 3x1 cth
Kes : composmentis
Lacto B 1x1 sachet
TTV :
Oralit 100 cc tiap kali
TD : 90/60 mmHg
mencret/ muntah
RR : 24 x/menit
KCl 3x250 mg
HR : 108 x/menit
Inj. Ondensetron 1 mg
T : 37,9oC
(k/p)
Abd : tampak cembung, BU (+) normal
Diazepam IV 3,5 mg
8x/menit
(Bila kejang)
Paracetamol 4x1 cth
A : Hemodinamik stabil
(k/p)
Inj.ceftriaxon 1x500 mg
(4)

Minggu,
S: BAB cair (-), muntah (-), kejang (-), IVFD KAEN IB 6 tpm
29
Mei minum banyak (+), nafsu makan
makro
2016
baik. BAK (+), BAB (+)
ML 1100 kkal
Inj. Ranitidin 2x25 mg
O
:
KU
:
tampak
sakit
ringan
R.V
Luminal 2x25 mg (4)
Kes : composmentis
Zirkum kid syr 3x1 cth
BB: 10 kg TTV :
Lacto B 1x1 sachet
TD : 90/60 mmHg
Oralit 100 cc tiap kali
RR : 26 x/menit
mencret/ muntah
HR : 104 x/menit
KCl 3x250 mg
T : 36,4 oC
Abd : Distensi (-), BU (+) normal Inj. Ondensetron 1 mg
12x/mnt
(k/p)
Diazepam IV 3,5 mg
A : Hemodinamik Stabil
(Bila kejang)
Paracetamol (k/p)
Inj.ceftriaxon 1x500 mg
(5)

Senin, 30 S: Mencret (-), muntah (-), kejang Infus aff


Mei 2016
(-), minum (+), makan (+), ML 1100 kkal
kembung (-), demam (-), BAK (+), Inj. Ranitidin 2x25 mg
BAB (+) normal
R.VI
Luminal 2x25 mg (5)
Zirkum kid syr 3x1 cth
BB: 10 kg O : KU : tampak sakit ringan
Lacto B 1x1 sachet
Kes : composmentis
Oralit 100 cc tiap kali
TTV :
mencret/ muntah
TD : 90/60 mmHg
KCl 3x250 mg
RR : 24 x/menit
Inj. Ondensetron 1 mg
HR : 102 x/menit
(k/p)
T : 37oC
Abd : tampak cembung, BU (+) Diazepam IV 3,5 mg
normal 10x/menit
(Bila kejang)
Paracetamol 4x1 cth
A: Hemodinamik stabil
(k/p)
Cefixime 2x1/2 cth

Selasa, 31 S: Mencret (-), muntah (-), kejang ML 1100 kkal


Mei 2016
(-), minum (+), makan (+), Inj. Ranitidin 2x25 mg
kembung (-), demam (-), BAK Luminal 2x25 mg (6)
(+), BAB (+) normal
R.VII
Zirkum kid syr 3x1
cth
BB : 10 O : KU : tampak sakit ringan
Lacto B 1x1 sachet
Kes : composmentis
kg
Oralit 100 cc tiap kali
TTV :
mencret/ muntah
TD : 90/60 mmHg
KCl 3x250 mg
RR : 22 x/menit
Inj. Ondensetron 1 mg
HR : 106 x/menit
(k/p)
T : 36,9 oC
Diazepam IV 3,5 mg
A: Hemodinamik stabil
(Bila kejang)
Paracetamol 4x1 cth
(k/p)
Cefixime 2x1/2 cth

DIARE AKUT

DIARE AKUT

Lanjutan
Selama terjadi proses hemolisis,
umur eritrosit lebih pendek dan
diikuti
oleh
aktivitas
yang
meningkat dari sumsum tulang
ditandai dengan meningkatnya
jumlah sel retikulosit tanpa disertai
adanya perdarahan yang nyata.

KLASIFIKASI
Berdasarkan faktor penyebabnya :
Anemia hemolitik defek imun
- anemia hemolitik warm antibody
- anemia hemolitik cold antibody
Anemia hemolitik defek membran :
- sferositosis herediter
- eliptositosis herediter
- paroksismal nokturnal hemoglobinuria

Anemia Hemolitik Defek Imun

Kerusakan sel eritrosit sering


disebabkan oleh adanya mediator imun
baik akibat adanya autoimun maupun
aloimun antibodi.

Anemia Hemolitik Autoimun

Gambaran klinik :
Mudah lelah, malaise, demam, ikterus
dan perubahan warna urin. Sering disertai
nyeri abdomen dan gangguan pernapasan.
Tanda - tanda yang ditemukan seperti
hepatomegali dan splenomegali.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Tepi :
Adanya proses hemolitik berupa
sferositosis, polikromasi maupun
poikilositosis, sel eritrosit berinti,
retikulositopeni pd awal anemia.
Coombs Test

PENGOBATAN
Anemia hemolitik autoimun IgG atau
IgM ringan tidak memerlukan
pengobatan spesifik.
Tujuan : untuk mengembalikan nilainilai hematologis normal, mengurangi
proses hemolitik dan menghilangkan
gejala dg efek samping minimal

Lanjutan
1. Kortikosteroid
Pasien dg anemia hemolitik autoimun
oleh karena IgG mempunyai respon yg
baik terhadap pemberian kortikosteroid
2. Gamaglobulin IV
Dosis : 2 g/kgBB
Dapat diberikan bersama dg kortikostreroid

Lanjutan
3. Transfusi Darah
Dosis : 5 ml/kgBB selama 3-4 jam
4. Plasmafaresis/Transfusi Tukar
Untuk pengobatan yg disebabkan
oleh IgM kurang efektif dibandingkan
dg yg disebabkan oleh IgG meskipun
sifatnya hanya sementara.

Lanjutan

5. Splenektomi
Pd pasien yg tdk responsif
terhadap pemberian kortikosteroid

Anemia Hemolitik Defek Membran


1. Sferositosis Herediter
Gambaran Klinik
- pd bayi baru lahir : gejala anemia dan
hiperbilirubinemia
- Pd anak : pucat, ikterik, mudah lelah
- Pd anak yg lebih besar : splenomegali,
hiperpigmentasi kulit, batu empedu.

2. Eliptositosis herediter
Gambaran Klinik
- pd bayi baru lahir : ikterik dg
gambaran darah tepi poikilositosis &
piknositosis, kadang anemia ringan &
splenomegali
- Pd anak yg lebih besar : kolelitiasis

3. Paroksismal Nokturnal
Hemoglobinuria
Gambaran Klinik
Gangguan pd sumsum tulang disertai
anemia kronis & hemolisis intravaskuler.
- Pd anak yg lebih besar : nyeri pd
pinggang, abdomen dan kepala

TERIMA KASIH