Anda di halaman 1dari 9

Nama kelompok:

KURNIA ASTRIYATI K
AFRA ADHAYANI
FENNY WULANDARI
DESI RATNASARI
RUSFARIA CIKA
ASTRI WAHDINI

Neuroplasticity
Plastisitas otak (neuroplasticity) adalah
kemampuan otak melakukan reorganisasi dalam
bentuk adanya interkoneksi baru pada saraf.
Plastisitas merupakan sifat yang menunjukkan
kapasitas otak untuk berubah dan beradabtasi
terhadap kebutuhan fungsional. Mekanisme ini
termasuk perubahan kimia saraf
(neurochemical), penerimaan saraf
(neuroreceptive) , perubahan struktur neuron
saraf dan organisasi otak. Plastisitas juga terjadi
pada proses perkembangan dan kematangan
sistem saraf.

Perkembangan Neuroplasticity
Neuroplasitas Sampai awal 1990-an, kebanyakan pakar neurosains
memikirkan otak sebagai sebuah susunan tiga dimensi dari
elemen-elemen neural yang (terikat) dalam sebuah jaringan
sirkuit yang massif.("wired") Kompleksitas pandangan wiringdiagram otak ini pernah menggemparkan, tetapi gagal menangkap
salah satu fitur terpenting otak. Selama dua decade terakhir ini
penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa otak manusia
bukanlah sebuah jaringan neuron yang statis tidak dapat
berubah, mandeg, tetapi sebuah organ yang plastis (dapat
berubah) yang terus tumbuh dan berubah selama merespons
berbagai program genetic dan pengalaman. Penemuan
neuroplastisitas ini, disebut-sebut sebagai salah satu penemuan
paling berpengaruh di bidang neurosains modern, dan saat ini
mempengaruhi banyak bidang penelitian biopsikologis.

Konsep Penjelasan
Neuroplasticity

Elastisitas

Plastisitas

Suatu benda dengan bentuk awal segi empat jika diberi intervensi atau
dimanipulasi untuk membentuk segi tiga, maka pada saat proses
dilakukan benda berbentuk segi tiga akan tetapi pada akhirnya benda
tersebut akan kembali pada bentuk awalnya, hal ini disebut sebagai
kemampuan elestisitas.
Jika bentuk awal suatu benda berbentuk segi empat kemudian diberikan
intervensi untuk membentuk segi tiga, maka pada saat proses dilakukan
benda akan membentuk segi tiga dan juga menjadi bentuk akhir dari
benda tersebut, hal ini disebut sebagai kemampuan plastisitas.
Dengan demikian jelas bahwa sifat elastisitas berbeda dengan sifat
plastisitas. Sifat elastik artinya kemampuan suatu benda untuk dapat
kembali pada bentuk asalnya, sedangkan sifat plastisitas menunjukkan
kemampuan benda untuk berubah kedalam bentuk yang lain.
Nilai positif dari adanya sifat plastisitas adalah pada pasien stroke
menjadi potensi untuk dapat dikembangkan dan dibentuk sehingga dapat
menghasilkan gerak yang fungsional dan normal.
Nilai negatif dari adanya sufat plastisitas adalah jika metode yang
diberikan tidak tepat, maka akan terbentuk pola yang tidak tepat pula.

Mekanisme plastisitas
Plastisitas
otak
melingkupi
perubahan pola fungsional dan
struktural sebagai respons terhadap
lingkungan, secara fisiolofis atau
patologis,
melalui
beberapa
mekanisme yang berbeda. Perubahan
terjadi pada tingkat kortikal berupa
pola sinaptik dan representasi.
Hipotesis lain menyebutkan dapat
pula terjadi perubahan pada tingkat
neuronal baik berupa perubahan
morfologi ataupun fungsional.

Gelombang pada otak


yang mempengaruhi
kehidupan sehari-hari:
a. gelombang alpha
b. gelombang betha
c. gelombang deltha
d. gelombang tetha
e. gelombang gamma

Kesimpulan
Plastisitas merupakan salah satu kemampuan
otak yang sangat penting, yang melingkupi
berbagai kapabilitas otak, termasuk
kemampuan untuk beradapatasi terhadap
perubahan lingkungan dan penyimpanan
memori dalam proses belajar. Karena itu
anak-anak bisa belajar lebih cepat daripada
dewasa, termasuk diantaranya menguasai
bahasa asing di usia muda, penguasaan alat
musik, bermain bola, bahkan pemulihan dari
cedera otak yang lebih cepat.