Anda di halaman 1dari 58

Rhinos Story

Perjalanan KMPA G ITB Subdivisi Gunung Hutan 2016

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara dengan keragaman hayati terbesar, atau


sering disebut Megabiodiversity

Beberapa diantara satwa endemic Indonesia berstatus Critically


endangered, salah satunya Badak Jawa (Rhinoceros sundaicus) menurut
red list IUCN

Keberadaan Badak Jawa terancam oleh factor alami dan ulah manusia

Akan tetapi pada tahun 1990an, perburuan Badak Jawa sudah mulai
berhenti. Ancaman yang tersisa hanyalah factor geografis dan habitat

Pencapaian tersebut diraih oleh sebuah Unit konservasi yang bernama


Rhino Protection Unit (RPU) dan Rhino Monitoring Unit (RMU)

Kesadaran masyarakat dan mahasiswa akan kondisi Badak Jawa di Taman


Nasional Ujung Kulon serta usaha konservasi yang sudah dilakukan oleh
pihak-pihak terkait merupakan suatu hal yang sangat penting.

Atas dasar alasan tersebut, KMPA Ganesha ITB sebagai salah sebagai
salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang
kepecintaalaman dan lingkungan hidup tergerak untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat mengenai hal-hal diatas. Salah satu sarananya
adalah diadakannya sebuah acara pameran yang berisi tentang informasi
mengenai Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon beserta informasi
mengenai kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan oleh RPU dan RMU
dalam upaya penyelamatan populasi Badak Jawa disana. Untuk
mendapatkan infromasi mengenai hal tersebut, perlu dilaksanakan
sebuah perjalanan yang berfokus pada pencarian informasi mengenai
Badak Jawa, RPU dan RMU di Taman Nasional Ujung Kulon.

TUJUAN KEGIATAN

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah:


1. Mendapatkan informasi mengenai:

Kondisi Badak Jawa di TNUK

Kegiatan Konservasi yang rutin dilakukan oleh mitra TNUK dalam konservasi Badak Jawa
seperti RPU, RMU, dll

Manajemen pihak Taman Nasional dalam mengelola kawasan TNUK

2. Mendokumentasikan kegiatan RPU/RMU selama berpatroli dengan cara ikut serta dalam
kegiatan patroli RPU/RMU
3. Membuat plaster cast jejak Badak Jawa langsung di habitat aslinya
4. Mempublikasikan informasi yang diperoleh melalui website resmi KMPA G ITB dan booklet

MANFAAT KEGIATAN

MANFAAT KEGIATAN
Manfaat yang diharapkan dari berlangsungnya perjalanan ini adalah:

Bagi Tim sendiri, dapat menjadi sarana untuk pengembangan softskill dan
hardskill yang sudah ada maupun yang baru didapat

Bagi KMPA G ITB, dapat menjadi sarana untuk melaksanakan tujuannya yaitu
sebagai organisasi yang bergerak dalam usaha konservasi lingkungan hidup.

Bagi pihak Taman Nasional Ujung Kulon, RPU dan RMU, dapat menjadi sarana
publikasi agar mendapat perhatian dan pengakuan lebih dari masyarakat luas

Bagi masyarakat umum, dapat menjadi sumber informasi mengenai keadaan


Badak Jawa dan Taman Nasional Ujung Kulon beserta unit-unit yang bekerja
berkatan dengan konservasi Badak Jawa

Bagi Mahasiswa, dapat menjadi referensi untuk melakukan penelitian ilmiah


yang berkaitan dengan Taman Nasional Ujung Kulon ataupun Badak Jawa

TEMPAT DAN WAKTU KEGIATAN

1.

Tempat Kegiatan

Taman Nasional Ujung Kulon, Kecamatan Sumur dan


Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten

2.

Waktu Kegiatan

31 Juli-6 Agustus 2016

PELAKSANA KEGIATAN

PELAKSANA KEGIATAN
Pelaksana kegiatan ini adalah anggota aktif KMPA G ITB
yang mendaftar untuk mengikuti perjalanan dan GL XXV yang
memilih subdiv GH

DESKRIPSI KEGIATAN

1. PRA PERJALANAN

Kegiatan yang dilakukan pada saat pra-ekspedisi adalah


mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan pada saat
pelaksanaan perjalanan. Adapun kegiatan pertama yang
kami lakukan adalah mencari survey sekunder dari
berbagai sumber baik dari narasumber, buku-buku maupun
internet. Survey sekunder tersebut dilakukan untuk
mendapatkan informasi mengenai metode pembuatan
plaster cast, fotografi dan wawancara. Latihan-latihan
dan pemantapan materi juga dilakukan untuk menunjang
keberhasilan perjalanan. Pemantapan materi nantinya
akan berupa sebuah simulasi perjalanan.

2. PELAKSANAAN PERJALANAN

Kegiatan ini dimulai dengan berangkat dari Bandung


menuju Lokasi melalui transportasi darat. Ketika sampai di
Lokasi, tim akan menuju kantor Taman Nasional Ujung
Kulon untuk beramah-tamah dan mengurus persyaratan
pembuatan simaksi. Setelah itu 1-2 hari pertama diisi
dengan kegiatan wawancara dengan pihak pengurus Taman
Nasional Ujung Kulon, RPU dan RMU. Perihal yang akan
ditanyakan adalah seputar kegiatan konservasi,
pengelolaan tamnas, kondisi tamnas, serta informasi
mengenai kondisi Badak Jawa saat ini. Sisanya diisi dengan
kegiatan mencari jejak kaki Badak Jawa yang nantinya
akan dibuat plaster cast.

3. PASCA PERJALANAN

Setelah kegiatan perjalanan usai, Tim akan


mempersiapkan segala perihal berkaitan dengan pameran
dan mengolah informasi yang telah didapatkan hingga
layak di tampilkan saat pameran berlangsung

4. PAMERAN

Semua informasi, hasil dokumentasi, dan plaster cast


ditampilkan pada sebuah pameran yang dibuka untuk
masyarakat umum dan mahasiswa.

Metode

Metode
Metode yang digunakan dalam pencarian informasi mengenai
Taman Nasional Ujung Kulon, RPU dan RMU adalah dengan
metode wawancara langsung dengan narasumber yang
berkaitan. Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan,
nantinya akan disusun secara sistematis agar menghasilkan
informasi yang baik dan dapat dimengerti oleh masyarakat
awam dan mahasiswa. Sedangkan untuk pengambilan sampel
jejak kaki Badak Jawa, yang akan dilakukan adalah dengan
metode pembuatan plaster cast pada cekungan hasil jejak
kaki Badak Jawa.

BATASAN KEGIATAN

Batasa Kegiatan
Batasan kegiatan dalam perjalanan ini adalah :

Wawancara pihak pengurus Taman Nasional Ujung Kulon,


RPU dan RMU

Mencari jejak kaki Badak Jawa dengan pendampingan dari


RPU/RMU

Mendokumentasikan kegiatan

Pameran informasi hasil dari perjalanan berupa hasil


wawancara, dokumentasi dan plaster cast jejak kaki
Badak Jawa

PARAMETER KEBERHASILAN

PARAMETER KEBERHASILAN

Mendapatkan minimal 1 plaster cast jejak kaki Badak Jawa

Mendapatkan informasi umum mengenai RPU, RMU dan pihak pengelola Taman
Nasional Ujung Kulon dengan rincian sbb.

Sejarah pendirian

Informasi structural (organigram)

Kegiatan rutin

Pencapaian yang sudah diraih

Perkembangan teknologi yang digunakan

Hubungan dengan NGO internasional yang berkaitan

Kendala yang sering dihadapi

Pengalaman unik yang pernah dialami (subjektif)

Suka duka selama bekerja di RPU/RMU (subjektif)

Evaluasi bagi pemerintah

Harapan dan pesan kepada masyarakat umum dan mahasiswa

PARAMETER KEBERHASILAN

Terlaksananya pameran yang mempublikasikan informasi dan dokumentasi


yang sudah didapat selama perjalanan

Gambaran Lokasi

Letak Geografis

Taman Nasional Ujung


Kulon secara geografis
terletak pada 1020232
- 1053737 BT dan
063043 - 065217 LS

Luas kawasan Taman


Nasional Ujung Kulon
adalah 122.956 Ha

1.
2.
3.

Terbagi menjadi 3 wilayah


P. Panaitan
Sumur
P. Handeuleum

Topografi

Taman Nasional Ujung Kulon di bagian Timur didominasi oleh daratan


pegunungan Honje dengan puncak tertinggi 620m dpl.

Di sebelah barat dipisahkan oleh dataran rendah tanah genting yang


merupakan Semenanjung Ujung Kulon.

Semenanjung ini mempunyai topografi datar sepanjang Pantai Utara dan


Timur, bergunung dan berbukit-bukit di sekitar Gunung Payung dan
pantai bagian barat daya dan selatan dengan puncak tertinggi 480 m
dpl. Di semenanjung ini juga terdapat dataran rendah berawa-rawa yang
ditumbuhi bakau di daerah Jamang.

Geologi

Taman Nasional Ujung Kulon yang meliputi Pegunungan Honje,


Semenanjung Ujung Kulon, dan Pulau Panaitan termasuk pegunungan
tersier muda yang menutupi strata pra tersier dan Dangkalan Sunda pada
jaman tersier.

Semenanjung Ujung Kulon terdiri dari formasi batu kapur miosen yang
tertutupi oleh endapan alluvial di bagian utara dan endapan pasir di
bagian selatan.

Pegunungan Honje betuannya lebih tua tertutup endapan vulkanis dan tufa
laut di bagian tengah dan tertutup oleh batuan kapur dan liat di bagian
timur.

Tanah

Bahan induk tanah di Taman Nasional Ujung Kulon berasal dari batuan
vulkanik seperti batuan lava merah, marl, tuff, batuan pasir, dan
konglomerat.

Jenis tanah yang paling luas penyebarannya di sebagian Gunung Honje,


Semenanjung Ujung Kulon dan sebagian Pulau Peucang adalah jenis
tanah kompleks grumusol, regosol, dan mediteran dengan fisiografi bukit
lipatan.

Pulau Panaitan umumnya mempunyai tipe tanah alluvial hidromorph,


regosol coklat abu-abu dengan campuran latosol merah-coklat serta
miskin unsur hara

Iklim

Pola curah hujan wilayah Ujung Kulon dipengaruhi oleh posisi geografis, topografi,
dan pengaruh lokal. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober April.

Periode curah hujan tinggi setiap bulan dengan puncak tertinggi pada bulan
Desember.

Bulan Mei September curah hujan rendah karena dipengaruhi oleh angin pasat
tenggara yang bersifat kering.

Curah hujan rata-rata pertahun 3.249 mm.

Suhu udara rata-rata harian berkisar 26,2 28,7 oC

Kelembaban udara berkisar 75% - 91%

Intensitas radiasi surya 0,621 0,669 cl/cm 2/ml.

Ekosistem

TNUK memiliki tiga tipe ekosistem yaitu ekosistem perairan laut,


ekosisem pesisir pantai, dan ekosistem dataran atau terrestrial.

Ekosistem perairan laut terdiri atas habitat terumbu karang dan


padang lamun

Ekosistem pesisir pantai terdiri dari hutan pantai dan hutan mangrove

Ekosistem daratan umumnya berupa hutan hujan tropika yang masih


murni

Flora

Flora yg hanya terdapat di TNUK Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum,


Hentiera percoriacea dan Knema globularia.

Tumbuhan yang telah dimanfaatkan masyarakat antara lain bayur


(Pterospermum javanicum), berbagai jenis rotan (Calamus sp.) sebagai bahan
pertukangan, kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), cempaka (Michelia
campaca), jambe (Areca catechu) sebagai bahan obat-obatan, anggrek
(Dendrobium sp.) sebagai tanaman hias, melinjo (Gnetum gnemon) dan salak
(Zalacca edulis) sebagai bahan pangan.

Fauna

Satwa endemic beberapa diantaranya adalah badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), owa Jawa (Hylobates
moloch), surili (Presbytis aygula), dan anjing hutan (Cuon alpines javanicus).

Predator seperti macan tutul, anjung hutan, macan dahan, luwak, dan kucing hutan.

Satwa liar reptil dan amphibi darat antara lain ular sanca kembang (Phyton reticulatus), ular phyton India,
dan dua jenis buaya muara (Crocodylus porosus).

Kurang lebih 30 jenis mamalia yang terdiri dari ungulata seperti badak, banteng, rusa, kijang, kancil, dan
babi hutan.

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifkasi dan Morfologi Badak Jawa

Kingdom

Phylum : Chordata

Sub Phylum : Vertebrata

Super Kelas : Gnatostomata

Kelas

: Animalia

: Mammalia

Super Ordo : Mesaxonia

Ordo

: Perissodactyla

Super Famili : Rhinocerotidea

Famili

: Rhinocerotidae

Genus

: Rhinoceros Linnaeus, 1758

Spesies : Rhinoceros sondaicus, Desmarest 1822

Deskripsi ukuran tubuh Badak Jawa


Komponen yang diukur
Tinggi badan

Ukuran

Satuan

Sumber

168-175

cm

Hoogerwerf (1970)

128-160

cm

Ramono (1973)

Panjang badan dari ujung 392

cm

Hoogerwerf (1970)

moncong hingga ujung ekor

251-315

cm

Ramono (1973)

Berat Tubuh

2280

kg

Hoogerwerf (1970)

1600-2070

kg

Ramono (1973)

Panjang kepala

70

cm

Hoogerwerf (1970)

Rata-rata lebar kaki

27-28

cm

Hoogerwerf (1970)

cm

Ramono (1973)

Tapak kaki (dari kuku-kuku 23/25-29/30


paling luar)

Hubungan antara ukuran telapak kaki dan umur


badak jawa

Kelas

Ukuran
Jejak (cm)

Usia

<20

<1 tahun

II

20-23

III

24-25

1-2 tahun

IV

26-28

Dewasa remaja

29-30

Dewasa tua

Populasi Badak Jawa


Konsentrasi penyebaran badak jawa pada umumnya di daerah bagian selatan Semenanjung Ujung
Kulon, yakni di daerah Cibandawoh, Cikeusik, Citadahan dan Cibunar sedangkan di sebelah utara
terdapat di daerah Cigenter, Cikarang, Tanjung Balagadigi, Nyiur, Citelanca dan Citerjun.
Berikut bagan populasi badak jawa dari tahun 1967 sampai tahun 2007.
70

60

50

40

30

20

10

0
1967 1968 1969 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1990 1993 1995 1996 1997 1999 2001 2001 2003 2004 2005 2006 2007

Perilaku Makan Badak Jawa

Badak jawa tergolong satwa yang memamah biak.

Makanannya adalah pucuk-pucuk daun, tunas-tunas pohon, herba, ranting,


liana dan kulit kayu. Diameter cabang yang dimakan bervariasi antara 10
sampai 17 mm.

Cara untuk mendapatkan makanannya adalah dengan cara memangkas,


menarik, melengkungkan, mematahkan

Perilaku Sosial

Sebagian besar badak jawa hidup secara soliter kecuali


saat musim kawin, bunting, dan mengasuh anak.

Lama masa berkumpul badak jawa diduga sekitar lima


bulan.

Rata-rata panjang pergerakan badak jawa berkisar antara


15-20 km.

Perilaku berkubang atau mandi

METODOLOGI

Metodologi yang akan kami gunakan diantaranya :

Kondisi Badak Jawa yang berada di TNUK


Melakukan

Kegiatan Konservasi yang dilakukan RPU/RMU


melakukan
ikut

wawancara dengan pihak TNUK


wawancara dengan pihak RPU/RMU

mendokumentasikan kegiatan patroli bulanan RPU/RMU di area TNUK

Dokumentasi keberadaan Badak Jawa dan lanskap di TNUK


Membuat

plaster cast jejak Badak Jawa

Mendokumentasikan

lanskap di area TNUK

ALUR KOMUNIKASI
TIM KORBAN

INSTANSI
KESEHATAN

MASA KMPA

KORLAP

BASECAMP
BANDUNG

TIM KORBAN

KELUARGA

POLRES

KORBAN

SETEMPAT

KONTAK PENTING

Rumah sakit terdekat


Daerah Lokasi

Rumah sakit

Alamat Rumah sakit

ITB - Leuwi panjang

RS Boromeus

Jalan Ir. Haji Juanda No.


100, Bandung, Jawa Barat

RS Immanuel

Jl. Kopo no. 161, Bandung, Pintu barat: Jl.Kopo


Jawa Barat
Pintu selatan: Jl.Lingkar
selatan

T. Leuwi
Kalideres

panjang

T. RS Hermina

Keterangan

Jl. Kintamani Raya No. 2,


RT.1/RW.12,
Kalideres,
Jakarta
Barat,
Daerah
Khusus Ibukota Jakarta
Kecamatan Jl. Satu Maret, Kelurahan
Pegadungan,
Kalideres,
Jakarta Barat

Puskesmas
Kalideres

Klinik Ciputra

Jl. Citra 2 Blok J2, Kompleks


Citra 2 Citra Garden City,
Kalideres, Jakarta Barat

T. Kalideres T. Labuan

RSU Pandeglang

RS Citra Medika Ciruas

Jl.
Raya
Labuan
KM5. Kontak: 0253 200787
Cikoneng
Jl. Raya Serang Jakarta Kontak: 0254 281829

Taman Nasional Ujung Puskesmas Cipeucang


Kulon

Klinik Difa

Jl. Raya Labuang


km.15
Jl. Raya Labuan km.12
Ciputri
Menes
Pandeglang

ALUR TRANSPORTASI

ITB TERMINAL LEUWIPANJANG

TERMINAL LEUWI PANJANG TERMINAL KALIDERES

TERMINAL KALIDERES TERMINAL LABUAN

TERMINAL LABUAN BALAI TNUK

BALAI TNUK TNUK