Anda di halaman 1dari 9

KETAHANAN PANGAN

RUMAH TANGGA

Review dan kritik


tulisan
Umi Listiyaningsih

Oleh: Shinta Mudrikah


12/339919/SA16806

PANGAN RUMAH TANGGA


Ketersediaan pangan
Akses terhadap pangan
Kualitas pangan
Kondisi ekonomi
Perilaku Penduduk
Kebijakan Pangan

[analisa perbandingan]
Jawa Tengah

Kalimantan
Selatan

Nusa Tenggara
Timur

Surplus Pangan

Menengah

Rawan Pangan

Ketersediaan
Diukur dengan ketersediaan beras dalam RT.
Tingkat pendapatan RT: Status ekonomi RT berkaitan dengan
pekerjaan kepala RT.
Krisis ekonomi mengakibatkan ketahanan pangan tidak stabil,
menurun.
Petani: cadangan beras rendah karena produksi pertanian
rendah.
Usaha pemenuhan kebutuhan: hutang, kerja tambahan,
pegadaian, ganti pekerjaan. (lumbung desa, jimpitan).
Penurunan daya beli: ganti daging dengan tempe, titip anak ke
saudara mengurangi tanggungan, dsb.

Tabel ketersediaan beras dalam Rumah Tangga

Kalimantan
Selatan

Nusa
Tenggara
Timur

Surplus
Pangan

Menengah

Rawan
Pangan

95,6%

100%

94,8%

Jawa
Tengah

Diversifikasi Pangan Rumah Tangga


Usaha mengurangi ketergantungan pada satu
jenis bahan makanan pokok tertentu.
Preferensi RT terhadap beras sebagai makanan
pokok masih sangat sulit diubah.
Pola konsumsi nasi
di Jawa dan di NTTKalsel.
Pola sarapan di
Jawa dan di NTTKalsel.

Masalah-masalah
Pemahaman tentang diversifikasi pangan
kurang.
Kualitas pangan: keanekaragaman dan
kebiasaan makan.
Ketersediaan dan kualitas pangan RT
bergantung pada peran ibu. Pemahaman
ibu-ibu tentang pengelolaan pangan.

Kritik dan saran


Program Bulog yang telah dilakukan pemerintah untuk mencukupi
ketersediaan pangan rumah tangga kurang lebih membantu beberapa
keluarga miskin menyambung hidup, namun hal ini bisa jadi malapetaka
ketika kenyataan di lapangan menunjukan beras bulog justru banyak dijual
dari keluarga penerima. latar belakang keluarga terbantu tidak sepenuhnya
bisa terbaca oleh pemerintah. oleh karena itu solusi permasalahan ketahanan
pangan di level rumah tangga sebenarnya adalah bagaimana caa untuk
memberikan pengetahuan tentang pemenuhan kebutuhan pangan pokok
dalam keluarga itu sendiri, bukan memberikan suplai tanpa mengubah cara
hidup dan bersikap.
tulisan Listiyaningsih ini kurang memberikan jawabn yang memuaskan atas
peran ibu rumah tangga dalam ketersediaan pangan, pasalnya acuan pikir
patriarkis yang ditunjukan dalam tulisan ini terkesan setengah hati, mau
menyalahkan tapi sudah begitu adanya, alhasil tulisan ini tidak memberikan
gambaran detail bagaimana peran hubungan ayah-ibu dalam masalah
ketersediaan pangan.
perlu adanya usaha dari ahli sosial seperti antropologi dan sejarah tentang
penggalian data yang detail dan mendalam terhadap permasalahan
ketersediaan pangan hubungannya dengan masalah ekonomi dan kebijakan
pemerintah soal pangan.

Sekian,
Terima kasih :)