Anda di halaman 1dari 13

Neurogenik bladder

Amri muzzammil
123

Definisi
Kandung Kemih Neurogenik
(Neurogenic Bladder) adalah
hilangnya fungsi kandung kemih
yang normal akibat kerusakan pada
sebagian sistem sarafnya.

Fungsi normal : Menyimpan dan


mengeluarkan
urine secara
teratur yang di kontrol oleh sistem
saraf sentral dan perifer
Pengosongan urine secara essential
adalah reflek spinal yang dimodulasi
oleh sistem saraf pusat (otak dan
MS), untuk mengkoordinasikan fungsi
bladder dan uretra

Fungsi ini dikoordinasi oleh SS Pusatdan


SS Perifer :
Lobus Frontal : Pusat kontrol miksi
Aktivitas : mengirim sinyal ke PMC apakah dia
mau kontraksi atau relaksasi
Pons : pontine micturition center (PMC) ,
mengkoordinasikan agar relaksasi sphincter uretra
terjadi bersamaan dengan kontraksi M Detrusor,
sehingga terjadi pengosongan bladder.
Medula spinalis : menyalurkan impuls dari pusat
miksi di sakral ke batang otak dan selanjutnya ke
lob frontal.
Nervus Perifer terdiri dari saraf otonom ; (simpatis
dan parasimpatis) serta saraf somatis.

I
G
O
L
O
I
FIS an
I
G
d
O
L
O
I
IS
F
O
PAT

ETIOLOGI

1. Lesi otak
Lesi otak diatas pons merusak pusat kontrol, menyebabkan
hilangnya kontrol ekskresi secara keseluruhan.
Beberapa individu mengeluhkan ketidakmampuan
mengendalikan eksresi yang parah, atau spastic (terlalu
aktif) kandung kemih. Pengosongan kandung kemih yang
terlalu cepat atu terlalu sering, dengan kuantitas yang
rendah, dan pengisian urin di kandung kemih menjadi sulit.
Biasanya, orang dengan masalah ini berlari cepat ke
kamar mandi namun urin keluar sebelum mereka
mencapai tujuan. Mereka mungkin sering terbangun di
malam hari untuk berkemih.
Contoh lesi otaknya strok, tumor otak, parkinson.
Hidrosepalus, cerebral palsy, dan Shy-Drager syndrome
juga dapat menyebabkan hal tersebut.

2. Lesi medula spinalis


Penyakit atau cidera medula spinalis diantara
pons dan sakral menghasilkan spastic bladder
atau overactive bladder.
Orang dengan paraplegic(lumpuh tungkai) atau
quadriplegic (lumpuh lengan dan tungkai)
memiliki lower extremity spasticity. Awalnya,
setelah trauma medula spinalis, individu masuk
kedalam fase shock spinal dimana sistem saraf
berhenti.
Setelah 6-12 minggu, sistem saraf aktif
kembali. Ketika sistem saraf aktif kembali,
menyebabkan hiperstimulasi organ yang
terlibat.

3. Cedera sakral
Cedera pada medula sakrum dan akar saraf yang keluar dari
sakrum mungkin mencegah terjadinya pengosongan kandung
kemih.
Jika terjadi sensory neurogenik bladder, pasien tidak akan tau
kapan kandung kemihnya penuh. Pada kasus motor
neuriogenik bladder , inidividu mngkin merasakan kandung
kemih penuh, namun otot detrusor tidak bereaksi, hal ini
disebut detrusor arefleksia.
4. Cedera saraf perifer
Diabetes mellitus dan AIDS adalah 2 kondisi penyebab
periferal neuropaty yang menyebabkan rentensio urin.
Penyakit ini merusak saraf kandung kemih, distensi tidak nyeri
dari kandung kemih.
Pasien dengan diabetes kronis kehilangan sensasi dari
kandung kemih, sebelum kandung kemih melakukan
dekompensata. Serupa dengan cedera pada sakrum, pasien
akan sulit untuk berkemih, mereka mungkin mempunyai
hypocontractile bladder.

Gejala

Gejalanya bervariasi berdasarkan apakah kandung kemih menjadi


kurang aktif atau overaktif.
Sering terjadi infeksi kandung kemih karena sisa air kemih di
dalam kandung kemih memungkinkan pertumbuhan bakteri. Bisa
terbentuk batu kandung kemih, terutama pada penderita yang
mengalami infeksi kandung kemih menahun yang memerlukan
bantuan kateter terus-menerus.
Gejala dari infeksi kandung kemih bervariasi, tergantung kepada
jumlah saraf yang masih berfungsi.
Suatu kandung kemih yang overaktif bisa melakukan pengisian
dan pengosongan tanpa kendali karena berkontraksi dan
mengendur tanpa disadari.
Pada kandung kemih yang kurang aktif dan yang overaktif,
tekanan dan arus balik air kemih dari kandung kemih ke ureter
bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Pada penderita yang
mengalami cedera medula spinalis, kontraksi dan pengenduran
kandung kemih tidak terkoordinasi, sehingga tekanan di dalam
kandung kemih tetap tinggi dan ginjal tidak dapat mengalirkan air
kemih.

Diagnosa
Kandung kemih yang membesar bisa diketahui pada
pemeriksaan perut bagian bawah.
Urografi intravena, sistografi maupun uretrografi
dilakukan untuk memperkuat diagnosis.
Pemeriksaan tersebut bisa menunjukkan ukuran ureter
dan kandung kemih, batu ginjal, kerusakan ginjal dan
fungsi ginjal.
Bisa juga dilakukan pemeriksaan USG atau sistoskopi.
Dengan memasukkan kateter melalui uretra bisa
diketahui jumlah air kemih yang tersisa. Untuk
mengukur tekanan di dalam kandung kemih dan uretra
bisa dilakukan dengan cara menghubungkan katetera
dengan suatu alat pengukur (sistometografi).

TALAK
1. Kandung Kemih yang Kurang Aktif
Jika penyebabnya adalah cedera saraf, maka dipasang
kateter melalui uretra untuk mengosongkan kandung kemih,
Kateter dipasang sesegera mungkin agar otot kandung
kemih tidak mengalami kerusakan karena peregangan yang
berlebihan dan untuk mencegah infeksi kandung kemih.
2. Kandung Kemih Overaktif
Jika kejang pada saluran keluar kandung kemih
menyebabkan pengosongan yang tidak sempurna, maka bisa
dipasang kateter.
Pada pria lumpuh yang tidak dapat memasang kateternya
sendiri, dilakukan pemotongan sfingter (otot seperti cincin
yang melingkari lubang) di saluran keluar kandung kemih
sehingga proses pengosongan bisa terus berlangsung dan
dipasang penampung air kemih.

Lanjutan talak.
Bisa diberikan rangsangan listrik pada kandung kemih, saraf
yang mengendalikan kandung kemih atau medula spinalis;
supaya kandung kemih berkontraksi. Tetapi hal ini masih dalam
taraf percobaan. Pemberian obat-obatan bisa memperbaiki
fungsi penampungan air kemih oleh kandung kemih.
Pengendalian kandung kemih overaktif biasanya bisa diperbaiki
dengan obat yang mengendurkan kandung kemih, seperti obat
anticholinergik. Tetapi obat ini bisa menimbulkan efek samping
berupa mulut kering dan sembelit.
Kadang dilakukan pembedahan untuk mengalirkan air kemih ke
suatu lubang eksternal (ostomi) yang dibuat di dinding perut
atau untuk menambah ukuran kandung kemih. Air kemih dari
ginjal dialirkan ke permukaan tubuh dengan mengambil
sebagian kecil usus halus, yang dihubungkan dengan ureter
dan disambungkan ke ostomi; air kemih dikumpulkan dalam
suatu kantung. Prosedur ini disebut ileal loop.

Lanjutan talak.
Penambahan ukuran kandung kemih dilakukan dengan
menggunakan sebagian usus dalam suatu prosedur
yang disebut sistoplasti augmentasi disertai
pemasangan kateter oleh penderita sendiri. Sebagai
contoh, sautau hubungan dibuat diantara kandung
kemih dan lubang di kulit (verikostomi) sebagai
tindakan sementara sampai anak cukup dewasa untuk
menjalani pembedahan definitif.
Tindakan-tindakan tersebut dilakukan untuk
mengurangi resiko terjadinya batu ginjal. Dilakukan
pengawasan ketat terhadap fungsi ginjal. Jika terjadi
infeksi, segera diberikan antibiotik. Dianjurkan untuk
minum air putih sebanyak 6-8 gelas/hari