Anda di halaman 1dari 44

REFERAT

Gagal Napas Pada Penyakit


Paru Obstruktif Kronik
Pembimbing :
dr. Joko Susilo, Sp.P

Disusun Oleh :
Hani Hosana Kristi, S.Ked
1210221080

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
JAKARTA
RUMAH SAKIT WIJAYA KUSUMA
PURWOKERTO
11 Februari 2013 20 April 2013

n
Penyakit Paru
Obstruktif Kronis
(PPOK) penyakit
yang dapat dicegah
dan dirawat dengan
beberapa gejala
ekstrapulmonal yang
signifikan, yang dapat
mengakibatkan tingkat
keparahan yang
berbeda pada tiap
individu.

Asap rokok merupakan


satu-satunya
penyebab terpenting
dari faktor penyebab
lainnya.

Definisi
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) :
penyakit paru kronik yang ditandai oleh
hambatan aliran udara di saluran nafas
yang tidak sepenuhnya reversibel atau
ireversibel.

Hambatan udara bersifat progresif


dan berhubungan dengan respon
inflamasi paru terhadap partikel atau
gas yang beracun atau berbahaya.

Epidemiologi
Penderita pria : wanita
3-10 : 1
Pekerjaan berhubungan erat
dengan faktor alergi dan
hiperaktifitas bronkus
Insiden PPOK 1 kali lebih banyak
di perkotaan dibandingkan di
pedesaan

Faktor Resiko
Kebiasaan
merokok

- Riwayat
merokok
- Perokok aktif
- Perokok pasif
- Bekas perokok

Derajat Berat
Merokok
(Indeks
Brinkman)

Polusi Udara

- Polusi dalam
- Ringan : 0 -200

ruangan

- Sedang : 200 -

- Polusi diluar

600

ruangan

- Berat : > 600

- Polusi tempat
kerja

Faktor Resiko

Riwayat Infeksi
saluran nafas
bawah
berulang

Hiperaktivitas
bronkus

Defisiensi
antitripsin
alfa-1

Patogenesis

Klasifikasi
Dengan atau tanpa gejala klinis
Derajat I
PPOK
Ringan
Derajat II
PPOK
Sedang
Derajat III
PPOK Berat
Derajat IV
PPOK
Sangat
Berat

Keterbatasan aliran udara ringan


(VEP1, KVP > 70%; VEP1 > 80%
prediksi)
Memburuknya hambatan aliran udara
(VEP1/KVP < 70%; 50% < VEP1 < 80%)
Pemendekan dalam bernafas.
Hambatan aliran udara semakin
memburuk (VEP1/KVP < 70% ; 30%
VEP1 < 50% prediksi)
Sesak nafas yang semakin memberat,
kapasitas latihan dan eksaserbasi
Hambatan aliran udara yang berat (VEP1 /
berulang
KVP < 70%; VEP1 < 30% prediksi) atau VEP
1 < 50% prediksi
Gagal nafas kronik dan gagal jantung
kanan
Gejala sesak napas mungkin tidak bisa
diprediksi dengan VEP1

Diagnosis

Gejala Klinis
Sesak Nafas

Timbul progresif dlm bbrp tahun


Sesak napas bertambah berat
mendadak eksaserbasi

Batuk
Kronis

Biasanya berdahak, kadang episodik


dan memberat waktu pagi hari
Sputum mukoid purulen bila
eksaserbasi

Batuk
Darah

Saat eksaserbasi
Asal darah dari saluran napas yang
radang blood streaked purulent
sputum

Anoreksia
BB

Menunjukan tanda progresif yang


memburuk

Anamnesis
Riwayat merokok atau mantan perokok dengan
atau tanpa gejala napas
Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di
tempat kerja
Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi
atau anak, misal Berat Badan Lahir Rendah,
infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap
rokok dan polusi udara.
Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi

Px. Fisik
Pursed-lips
breathing
Barrel chest

Emfisema
fremitus melemah,
sela iga melebar

Otot bantu napas


(+)
Gagal jantung
kanan denyut
vena jugularis &
edematungkai
Pink puffer
Blue bloater
Inspeksi

Suara
napas
vesikuler
normal /

Palpasi
Emfisema

melemah

hipersonor dan

Ronki dan

batas jantung

atau mengi

mengecil, letak

nafas biasa

diafragma

/ ekspirasi

rendah, hepar

paksa

terdorong ke
bawah
Perkusi

Auskultasi

Px. Penunjang
Spirometri
Rutin

Uji
Bronkodilator
Lab, R

Rutin

Uji Provokasi
Bronkus
Uji
Kortikosteroi
d
AGD, EKG
Bakteriologi,
Antitripsin
alfa-1

Tatalaksana

Edukasi
Mengenal perjalanan
penyakit dan pengobatan
Melaksanakan pengobatan
yang maksimal

Pengetahuan dasar ttg

Mencapai aktifitas optimal

PPOK

Meningkatkan kualitas

Obat - obatan, manfaat

hidup

dan efek sampingnya


Cara pencegahan

Tujuan

perburukan
Menghindari pencetus
Penyesuaian aktifitas

Bahan Edukasi

Obat-obatan
Antikolinergi
k
Bronkodilator

Agonis -2
Xantin

Antiinflamasi

Antibiotik

Antioksidan

Mukolitik

Terapi O

Ventilasi
Mekanik

PPOK
hipoksemia

PPOK

progresif

eksaserbasi

Kerusakan sel &


jaringan

dengan gagal
napas akut atau
pada pasien

O oksigenasi

PPOK derajat

seluler &

berat dengan

mencegah

napas kronik.

kerusakan sel

Nutrisi

Hipoksemia &
hiperkapnia
kerja muskulus
respirasi
kebutuhan energi

hipermetabolisme
malnutrisi
mortalitas PPOK
( F/ Paru)

Rehabilitasi
Lat Fisik

toleransi

Lat Psikososial

latihan &

Lat

memperbaiki

Pernafasan

kualitas hidup

Program

Tujuan
Simptom pernapasan
berat
Bbrp kali masuk UGD
kualitas hidup

Sasaran

Prognosis

Prognosis PPOK tergantung dari


penyakit komorbid lain.
Bila sudah terdapat hipoksemia,
prognosis biasanya kurang
memuaskan dan mortalitas pada 2,5
tahun kurang lebih 50%.

Gagal napas pada PPOK pada


dasarnya dapat dibedakan :
1.

Gagal napas akut pada PPOK

2.

Gagal napas pada fase lanjut


PPOK terjadi setelah penyakit
berjalan lama

Patofisiologi
1. Gagal Napas Akut Pada
PPOK
Mekanisme penting yang mendasari pada
PPOK :
Maldistribution of inspired air relative to
perfusion oleh karena sebagian dari udara
ventilasi tidak dimanfaatkan dan terbuang
sebagai ventilasi ruang rugi sehingga terjadi
hipoksemia arteri.
Obstruksi berat, yang memungkinkan
ventilasi alveolar yang adekuat dengan
akibat terjadi hipoventilasi dan hipoksemia.

Gejala

Batasan gagal napas akut yang umum


digunakan adalah memakai kriteria
analisa gas darah, yaitu keadaan PaO2
50mmHg dan PaCo2 50 mmHg

Gejala akibat hipoksemia :


Impaired

judgment,
loss of fine motor coordination,
rasa cemas,
disorientasi,
dizziness,
vasokonstriksi,
takikardi,
bradikardi,
hipertensi atau hipotensi.

Gejala akibat hiperkapnia :


Sakit

kepala,
mengantuk sampai koma,
edema papil,
takikardi,
hipertensi,
vasodilatasi kulit,
conjuctival injection,
sembab,
diaphoresis.

Faktor Predisposisi
Infeksi

saluran napas : paling utama.


Gagal jantung, infark miokard.
Pemakaian sedativa, narkotik.
Emboli paru .
Pneumotoraks.
Rokok, polusi udara.
Pemberian oksigen yang tidak terkontrol.
Anemia.
Pembedahan, terutama toraks dan abdomen
bagian atas.

Diagnosis Gagal Napas


Akut Pada PPOK
Anamnesa : keluhan saluran napas, sputum yang purulen,
sesak yang progresif dalam waktu yang relatif singkat,
adanya sembab, dapat pula disertai gejala dan keluhan yang
sesuai dengan hipoksemia dan hiperkapnia.
Ditunjang pemeriksaan fisik, foto toraks serta laboratorium
rutin.
Analisa gas darah : merupakan satu-satunya cara untuk
menentukan adanya serta derajat hipoksemia dan
hiperkapnia.
Pemeriksaan faal paru
Pemeriksaan lain menurut kebutuhan : bronkoskopi serat
optik (FOB), angiografi pulmonal, nuclear medicine scanning.

Pengobatan Gagal Napas


Akut Pada PPOK
1.

Pemberian Oksigen Terkontrol


tujuan pemberian O2 adalah untuk
mencapai PaO2 sekitar 60 mmHg,
yaitu suatu keadaan dimana sejumlah
besar O2 akan dapat diberikan pada
jaringan.

2. Penanganan
a. Terhadap Bronkospasme
Bronkodilator dapat dikelompokan dalam tiga
golongan yaitu :
1. Golongan xanthine : Merupakan bronkodilator
pilihan utama gagal napas akut pada PPOK
2. Golongan simpatomimetika
3. Golongan antikolinergik : ipratropium bromida

b. Penanganan adanya infeksi saluran


napas
Pada umumnya infeksi saluran napas,
melibatkan Streptokokus pneumonia
dan Haemofilus influenza yang dapat
diatasi dengan ampisilin atau
amoksisilin, tetrasiklin, trimetoprimsulfametoksazol.

c. Terhadap gangguan elektrolit dan

keseimbangan asam-basa
Asidemia dapat dikoreksi dengan
pemberian bikarbonat parenteral,
dengan patokan meningkatkan pH
diatas 7,20 namun tidak melampaui
7,35.

d. Adanya sekret lendir pada jalan napas


Usaha pengenceran sekret melalui
pemberian mukolitik/proteolitik
e. Penyulit kardiologi
Penyulit kardiologik utama PPOK adalah
gagal jantung dan aritmia
Gagal jantung : penanganan terpenting
adalah mengatasi hipoksia alveolar.
Pemberian digitalis dapat dilakukan
apabila stres otonomik akibat hipoksia
telah stabil dan terkoreksi.

f. Pemberian steroid

Dosis steroid yang dianjurkan yaitu


methyl prednisolone 0,5 mg/kgBB/6jam
selama 72 jam.

3. Tindakan Penunjang
Pada emboli paru : Sebagai profilaksis dapat
diberikan heparin dosis rendah (5000/8jam).
Pada stress ulcer : Perdarahan lambung sebagai
manifestasi stress ulcer terjadi pada 18-25%
kasus, maka pemberian antasida sebagai
profilaksis amat dianjurkan.
Nutrisi : Pemberian nutrisi melalui sonde lambung
yang berdiameter kecil lebih menguntungkan
daripada mengandalkan pemberian infus.

Prognosis Gagal Napas


Akut Pada PPOK
Tergantung dari penanganannya,
prognosis jangka pendek gagal napas
akut pada PPOK mempunyai mortalitas
5-30%, namun dalam jangka panjang,
kurang dari 50% kasus akan hidup 3
tahun sesudah serangan gagal napas
akut pada PPOK.

Gagal Napas Pada Fase Lanjut


PPOK
Gagal

napas pada fase lanjut PPOK terjadi


setelah penyakit berjalan lama.
PPOK mempunyai kecenderungan progresif
dan memburuk walaupun diberi obat.
Oleh karena itu sebagian besar
penanganannya bersifat suportifsimptomatis.
Reversibilitas obstruksi jalan napas biasanya
hanya terbatas 10-20% dari FEV1-nya.

Penatalaksana
an

Program Respiratory Care


Komprehensif
A. Usaha-usaha umum pencegahan/pengurangan
progresifitas penyakit :
1. mengurangi paparan iritan lingkungan.
Asap rokok
Polutan di Tempat Pekerjaan
Udara Dingin
2. Berat Badan yang Berlebihan
3. Predisposisi Genetik
4. Nutrisi

B. Farmakologi
Bronkodilator dan Steroid
Penggunaan bronkodilator pada PPOK dapat dibagi dua
tahap :
Tahap I : Theophylline oral dan beta-2 agonist perinhalasi
Tahap II : bila respons tahap I kurang memuaskan :
dilakukan trial kortikosteroid dan mungkin pula derivat
atropin perinhalasi.
Pemberian trial kortikosteroid :
Klinis PPOK (+) dengan FEV1/VC < 60%
Respons klinis pengobatan tahap I tidak memuaskan
Spirometer sebelum trial, dilakukan sebelum dan
sesudah inhalasi beta-2 agonis
Prednisone 40 mg tiap pagi, selama 2-4 minggu,
sementara terapi tahap I tetap dipertahankan
Ulangi pemeriksaan spirometri

Profilaksis Antibiotik
ampisilin/amoksisilin, tetrasiklin,
trimetoprim-sulfametoksazol.

3. Sekret Jalan Napas, Fisioterapi dan Latihan


Mengurangi produksi sekret
Meningkatkan eliminasi sekret
Latihan yang paling praktis adalah jalan kaki
(12 menit), bila mempergunakan treadmill.

4. Oksigen
Pemberian oksigen jangka panjang juga
akan menurunkan frekuensi masuk
rumah sakit oleh karena GNA pada
PPOK, melalui mekanisme bahwa
oksigen dapat meningkatkan daya
tahan, serta memperbaiki fagositosis
serta mucociliary clearance.

5. Terhadap komplikasi kardiologi


Kor Pulmonal : Kor pulmonal adalah
dilatasi ventrikel kanan jantung sebagai
akibat kelainan vaskular bed paru.
Pengobatan bertujuan mengurangi beban
ventrikel serta memperbaiki kerjanya.

Prognosis

Bila sudah terdapat hipoksemia,


prognosisnya biasanya kurang
memuaskan dan mortalitas pada 2
tahun kurang lebih 50%.

DAFTAR PUSTAKA
1. Referat PPOK. Available from :
http://id.scribd.com/doc/68677337/referat-PPOK
2. Laporan Kasus Besar. Laki-laki 67 Tahun dengan PPOK
Eksaserbasi Akut, Infiltrat Paru, Hipertensi Stage II dan
Hiperglikemia. Available from :
http://id.scribd.com/doc/102212703/39/PPOK-EKSASERBASI-AKUT
3. PPOK Eksaserbasi. Available from :
http://id.scribd.com/doc/68677337/1/PPOK-PPOK-eksaserbasi-didefi
nisikan-sebagai-peningkatan-keluhan-gejala-pada
4. PDPI. PPOK Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Jakarta. 2003
5. GOLD. Global Strategy for The Diagnosis, Management,
Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. USA. 2010.
Available from : http://www.goldcopd.com/guidelineitem
6. Alsagaff, Hodd. Mukty, H. Abdul (ed). Dasar-dasar Ilmu Penyakit
Paru. Surabaya : Airlangga University Press. 2005
7. Chapman KR. Therapeutic algorithm for COPD. Am. J. Med. 1991;
(suppl) 17s-23s
8. Moyle A. Chronis bronchitis; its cause and cure. Thorsons Publ.
1969

Terima kasih

Diagnosis
Banding

Beri Nilai