Anda di halaman 1dari 29

KESADARAN TAAT

HUKUM TUHAN DAN


FUNGSI PROFETIK
DALAM HUKUM

Hukum
Hukum

adalah suatu sistem yang


dibuat manusia untuk
membatasi tingkah laku manusia
agar tingkah laku manusia dapat
terkontrol , hukum adalah aspek
terpentingdalam pelaksanaan
atas rangkaian kekuasaan
kelembagaan,

Pengertian Hukum Menurut Para


Ahli Hukum :

Plato

Hukum adalah
sistem peraturanperaturan yang
teratur dan
tersusun baik yang
mengikat
masyarakat.

Aristoteles

Hukum hanya sebagai kumpulan


peraturan yang tidak hanya mengikat
masyarakat tetapi juga hakim. Undangundang adalah sesuatu yang berbeda
dari bentuk dan isi konstitusi; karena
kedudukan itulah undang-undang
mengawasi hakim dalam melaksanakan
jabatannya dalam menghukum orangorang yang bersalah.

Van Kant,

Hukum adalah serumpun


peraturan-peraturan yang
bersifat memaksa yang
diadakan untuk mengatur
melindungi kepentingan
orang dalam masyarakat.

Soerojo Wignjodipoero, S.H.

Hukum adalah himpunan peraturanperaturan hidup yang bersifat memaksa,


berisikan suatu perintah larangan atau
izin untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu atau dengan maksud untuk
mengatur tata tertib dalam kehidupan
masyarakat.

Kesadaran Taat Hukum Tuhan


Pengertian Taat Hukum
Secara Umum

1. Patuh terhadap aturan perundangundangan, ketetapan dari pemerintah,


pemimpin yang dianggap berlaku oleh untuk
orang banyak.

2. Mematuhi aturan perundangundangan untuk menciptakan


kehidupan berbangsa bernegara dan
bermasyarakat yang berkeadilan.

Asas Hukum Islam


Asas kepastian
hukum

Tidak ada satu perbuatan dapat dihukum kecuali atas kekuatan hukum dan
perundang-undangan yang berlaku untuk perbuatan itu.

Al-Maidah : 95







Qs.

Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang
buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya
dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak
seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang
adil di antara kamu sebagai had-ya yang dibawa sampai ke Kabah, atau
(dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin,
atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia
merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa
yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah
akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk)
menyiksa. QS. al-Mai'dah (5) : 95

Asas keadilan
Berlaku adil terhadap semua orang tanpa memandang status sosial, status
ekonomi, ras, keyakinan, agama dan sebagainya.
Qs. Shad : 26





Artinya:
Allah memerintahkan para penguasa, penegak hukum sebagai khalifah di bumi
ini menegakan dan menjalankan hukum sabaik-baiknya tanpa memandang
status sosial, status ekonomi dan atribut lainnya.

Asas kemanfaatan
Mempertimbangkan asas kemanfaatan bagi pelaku dan bagi
kepentingan negara dan kelangsungan umat manusia.
Qs. Al-Baqarah : 178

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan
dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka,
hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang
mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan)
mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) mambayar
(diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian
itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa
yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih. (QS.
2:178)

Asa kejujuran dan kesukarelaan


QS. Al-Mudatsir : 38

Artinya:
Setip individu terikat dengan apa yang ia kerjakan dan setiap
individu tidak akan memikul dosa orang (individu) lain.

Islam
Melaksanakan perintah
dan meninggalkan
larangan yang telah
ditetapkan oleh Al-Quran
dan hadits serta Ulama
dengan sabar dan ikhlas.

Surat an-Nahl ayat 36:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap


umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
thaghutitu". Maka di antara umat itu ada orang-orang yang
diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang
yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu
dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orangorang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. an-Nahl: 36)

Syariat Islam mempunyai 2 sumber hukum dalam menetapkan


undang-undangnya, yaitu: Al-Quran dan Hadits, walaupun
sebagain ulama memasukkan ijma dan qiyas sebagai sumber
hukum syariat Islam. Segala ketetapan di dalam agama Islam
yang bersifat perintah, anjuran, larangan, pemberian pilihan atau
yang sejenisnya dinamakan sebagai hukum-hukum syara atau
hukum-hukum syariat atau hukum-hukum agama

Hindu - Buddha
1.Tuhan Yang Maha Ada menciptakan hukum untuk mengatur hubungan
antar partikel-partikel yang diciptakan-Nya. Hukum itu disebut Rta, yaitu
hukum alam yang bersifat absolut tidak ada yang dapat menentangnya dan
berlaku seperti itu untuk selama-lamanya

2.Dari Rta, kemudian lahir Dharma yang bersifat hukum untuk mengatur kehidupan
makhluk di dunia ini. Dharma juga dapat berupa undang-undang yang diciptakan
penguasa sifatnya sangat tergantung pada keadaan tempat setempat, jadi amat
relatif

Peran Hindu-BuddhaMenegakkan
Hukum yang Adil

Peran agama Hindu dalam perumusan dan penegakan hukum yang adil adalah
perlu penyiapan payung hukum, agar setiap masalah tertangani tuntas,
penyiapan lembaga peradilan agar dapat menangani semua perkara, dengan
hakim-hakim dan perangkatnya orang-orang yang tepat sesuai persyaratan
menurut sastra-sastra agama.

Kristen

Kitab Suci mewartakan bahwa Allah terlibat dalam hidup manusia.Kitab Suci
tetap merupakan inspirasi, peneguhan dan dorongan bagi orang Kristen guna
mengembangkan keterlibatan sosial

Dalam Gereja Katolik dikenal sepuluh (dasa) firman Allah, yang


dibagi atas dua bagian besar, yakni firman yang mengatur
hubungan manusia dengan Allah (firman pertama sampai
ketiga); firman yang mengatur hubungan manusia dengan
manusia (firman keempat sampai kesepuluh).

Firman ke-7 dan ke-10 tetap mengandung pesan penting bagi


zaman sekarang karena firman-firman itu mengingatkan kita akan
kewajiban sosial. Kewajiban sosial itu antara lain kita diminta untuk
menaati hukum yang berlaku di mana kita tinggal. Hukum dalam
Perjanjian Lama menggariskan kepada kita perlunya menghargai
milik orang lain, dan menghargai martabat manusia

Fungsi Profetik Agama


Fungsi Profetik Agama
adalah bahwa agama sebagai sarana menuju kebahagiaan juga memuat
peraturan-peraturan yang mengondisikan terbentuknya batin manusia yang
baik, yang berkualitas, yaitu manusia yang bermoral (agama sebagai sumber
moral)

Tujuan Profetik Agama Dalam Taat


Hukum

1. Mendorong seseorang (manusia) berperilaku dan berbuat


sesuai dengan aturan hukum dan perundang-undangan yang sah
serta sesuai QS, sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat yang
sadar dan taat hukum.

2. Mendorong seseorang berperilaku yang baik dengan


mentauladani pribadi Rasulullah, agar manusia selamat dan
bahagia dunia dan akhirat (antara manusia dengan manusia,
antara manusia dengan Allah serta dengan alam lingkungan).

3. Mengeluarkan manusia dari miopik (cara pandang yang


sempit) dan Primordial dan Formalisme sempit yang akan
melahirkan berbagai konflik sosial, politik bahkan menjurus
kepada perpecahan dan perperangan

Islam
1Dalam Mengatasi Krisis Kebudayaan dan Kemanusiaan
a. Menjelaskan dan mengubah fenomena-fenomena sosial
masyarakat yang salah atau kurang baik.
2. Dalam Mengatasi / Merevitalisasi Keberagaman Dalam
Menjalankan Agama Dengan Back to Quran and Sunnah

Hindu-Budha

Penegakan hukum oleh pemerintah adalah sangat penting


karena kebenaran dan keadilan hanya mungkin terwujud apabila
ada tertib hukum, lagi pula hukum dianggap benteng kebenaran
dan keadilan.

memberikan kearifan yang menjiwai tiap-tiap langkah hukum


maka mulai dari ancaman hukuman hendaknya bertahap agar
hukum memberi kesempatan orang untuk memperbaiki diri

bijaksana setelah mendapat berbagai pertimbangan karena kalau


tanpa pertimbangan dapat mengurangi popularitas pemerintah,
keadilan Tuhan tidak mengenal perbedaan siapa pun akan
dikenainya.

Kristen

Dalam Gereja Katolik Dalam firman ke-8 dalam dasa (10) firman
Allah dikatakan, Jangan bersaksi dusta, Kitab Suci tidak berkata
saksi dusta terhadap sesamamu, melainkan saksi dusta
tentang sesamamu, sebab semula perintah ini menyangkut
kesaksian di pengadilan. Dengan kesaksian palsu orang
dicelakakan karena ia dihukum tidak adil (mungkin malah
dihukum mati) dan tata keadilan dijungkirbalikkan

Dalam Gereja Katolik dikenal tiga sumber/pedoman hukum dan


kehidupan, yakni

Kitab Suci, tradisi dan ajaran magisterium Gereja.

Dalam Ul 16:19, Jangan memutarbalikkan hukum, jangan


memandang bulu,dan jangan menerima suap. Di dalam
pengadilan orang menyatakan kesetiaannya baik terhadap si
terdakwa, sesama manusia, maupun terhadap masyarakat, umat
Allah. Pengadilan merupakan tempat di mana orang menuntut
keadilan yang tidak bisa lagi diselesaikan secara damai. Firman
Tuhan kiranya masih relevan untuk kita di jaman ini, bukan hanya
di depan pengadilan, tetapi juga di hadapan masyarakat,
kebenaran harus tetap dipertahankan dan ditegakkan demi
kesejahteraan warga dan masyarakat

Anda mungkin juga menyukai