Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS

KASUS PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

Oleh
dr. Primita Ayu D
Pembimbing
dr. Hendryk Kwandang, M.Kes
dr. Benediktus Setyo Untoro

PENDAHULUAN
Varisela sering juga dikenal sebagai chickenpox, merupakan
infeksi primer yang sangat menular disebabkan oleh virus
Varicella-Zoster (VVZ) yang termasuk dalam keluarga virus
herpes. VVZ dapat menetap di dalam tubuh selama beberapa
dekade dan menjadi aktif kembali menyebabkan herpes zoster
(shingles).(

Terutama menyerang anak-anak < 10 th, terbanyak


5-9 th
Sangat menular: 75 % anak terjangkit setelah
penularan.

IDENTITAS
Nama

: An. N

Usia

: 1 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama/Suku

: Islam/Jawa

Alamat

: Gondanglegi

Tanggal pemeriksaan : 4 mei 2016


No. RM

: 39167x

ANAMNESA
Heteroanamnesa dengan ibu pasien (4 mei 2016) pkl 09.45 di poli kulit dan kelamin
RSUD kepanjen .
Keluhan Utama
Muncul Lenting-lenting berisi cairan yang tersebar ke seluruh tubuh.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD kepanjen dengan keluhan terdapat
lenting-lenting diseluruh badan sejak 2 hari terakhir. Awalnya demam dan rewel 1
hari setelahnya timbul lenting-lenting,(awalnya di badan dahulu, kemudian menyebar di
wajah , tangan, sampi ke kaki).
Selain itu ibu pasien, juga mengeluhkan nafsu makan anaknya menurun sejak sakit .
Pasien mengatakan hal ini baru dialami pertama kali olehnya. Selama sakit ini pasien
belum melakukan pengobatan atau pemberian obat salep maupun minum.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami sakit ini
sebelumnya.
Riwayat alergi sebelumnya disangkal

Riwayat Keluarga
Dalam satu keluarga tidak ada yang
menderita sakit seperti pasien

Riwayat Pengobatan
Pasien tidak berobat kemana-mana.

Riwayat Sosial
Ilingkungan sekitar rumahnya
beberapa tetangganya ada yang
menderita cacar air

Pemeriksaan Fisik.
04-05-2016 di Poli kulit dan kelamin.
Keadaan Umum
Pasien tampak sakit sedang, compos mentis, GCS 456 , BB 11 kg
Tanda Vital
Tekanan darah

: tidak dilakukan pengukuran

Nadi

: 110 x/menit reguler

Laju pernapasan

: 24 x/menit

Suhu aksiler : 37,9OC

Kepala

Bentuk

: normosefal, benjolan massa (-)

Ukuran

: mesosefal

Rambut

: tebal,hitam.

Wajah

: simetris, bundar, rash (-), sianosis (-), edema (-).

Mata

konjungtiva

: anemis (-).

sklera : ikterik (-).


palpebra

: edema (-).

reflek cahaya

: (+/+).

pupil

: isokor, (+/+), 2mm/2mm..

telinga : bentuk normal, posisi normal, sekret (-).

Hidung : sekret (-) jernih, pernafasan cuping hidung(-), perdarahan (-), hiperemi (-).

Mulut : dbN

Leher
Inspeksi

: massa (-/-).

Palpasi : pembesaran kelenjar limfa regional (-/-).

Thoraks
Inspeksi.

: bentuk dada kesan normal dan simetris; retraksi


dinding dada (-), tidak didapatkan deformitas.

cor:
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi: ictus cordis teraba di MCL (S) ICS V(S).


Perkusi

: batas jantung normal.

Auskultasi

: S1S2 tunggal, reguler, ekstrasistol (-), gallop (-),

murmur (-).
-

PULMO : aukultasi : vesikular seluruh lapang paru


Rho -/- whe -/-

Abdomen
Inspeksi : datar simetris.
Auskultasi

: bising usus (+), normal.

Perkusi : timpani, shifting dullnes (-).


Palpasi : H/L tidak teraba.
Ektremitas : AH +/+ oedeme -/-

STATUS DERMATOLOGI
Regio
: facial, abdomen, extremitas superior et
inferior
Efloresensi
: Tampak vesikel-vesikel dengan dasar
eritematosa, terdapat pustul terutama di regio abdomen.,
didapatkan pula erosi, dan krusta warna putih dan kuning terutama
pada wajah.

Vesikel dengan dasar


eritematous

Diagnosa : varisela

Terapi Medikamentosa.
Oral :
Imbost syrup : 2x 1 cth
Amoxillin syrup 3x 1cth
Paracetamo syrup 3x1 cth
Topikal : Bedak salisil 2%, taburkan
2x/hari pada lenting yang belum pecah.

Terapi

Terapi Non-medikamentosa:
- Menjelaskan kepada orang tua pasien
agar jangan membiarkan anak mengaruk
dan karena dapat menimbulkan bekas luka
garukan di kulit. Menaburkan bedak pada
lenting yang belum pecah.
- Jaga kebersihan badan dengan tetap
mandi walaupun masih banyak terlihat
lenting-lenting. Jangan menggosokkan
handuk terlalu kencang.
- Menjelaskan pada orang tua pasien akan
pentingnya sistem imun yang baik untuk
mempercepat kesembuhan dan mencegah
komplikasi yang terjadi.

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Varisela
merupakan infeksi akut primer yang
disebabkan oleh virus varisella
zooster, yang menyerang kulit dan
mukosa, secara klinis terdapat
gejala konstitusi, kelainan kulit yang
polimorfik, terutama berlokasi di
bagian central tubuh

REAKTIVASI

HERPES
ZOOSTER

EPIDEMIOLOGI

Negara barat: insidens varisela winter dan awal musim semi

Indonesia: musim peralihan panas hujan atau sebaliknya

Menjadi penyakit musiman: penularan seorang penderita di populasi padat,


penyebaran di satu sekolah

Terutama menyerang anak-anak < 10 th, terbanyak 5-9 th

Sangat menular: 75 % anak terjangkit setelah penularan.

Cara penularan: sekret saluran pernapasan, percikan ludah, kontak dengan lesi
cairan vesikel, pustula, dan secara transplasental.

Individu herpes zoster juga dapat menyebarkan varisela.

Masa inkubasi 14-21 hari.

Pasien menjadi sangat infektif sekitar 24 48 jam sebelum lesi kulit timbul sampai
lesi menjadi krusta biasanya sekitar 5 hari

ETIOLOGI
Varicella disebabkan oleh Varicella
Zooster Virus (VZV) yang termasuk
kelompok Herpes Virus dengan
diameter kira-kira 150 200 nm.
Inti virus disebut capsid yang
berbentuk icosahedral, terdiri dari
protein dan DNA yang mempunyai
rantai ganda
VZV melekat pada heparin sulfate
proteoglycan pada permukaan sel dan
berikatan dengan reseptor sebelum
memasuki sel.
Replikasi (4-10 jam) ekspresi protein
virus dan membentuk formasi
multinucleated giant cells

GEJALA KLINIS

Masa inkubasi penyakit ini berlangsung 14-21 hari

Gejala prodormal :
Demam yang tidak terlalu
tinggi, nyeri kepala,
mengigil, anoreksia dan
malaise

Timbul lesi/ erupsi kulit berupa papul eritemtous->


vesikel (tear drop)-> pustul-> krusta , gambaran lesi
polimorfik, dengan penyebaran secara sentrifugal

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan darah tidak memberikan gambaran yang spesifik.

Tzank tes :

Untuk pemeriksaan varicella bahan diambil dari dasar vesikel dengan cara kerokan an dicat
dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin, maka akan terlihat sel-sel raksasa (giant cell)
yang mempunyai inti banyak dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion Bodies atau dapat
juga dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluoresen, sehingga terlihat antigen
virus intrasel.

Gambar Tzank smear

DIAGNOSA

Dapat ditegakkan secara klinis dengan


gambaran lesi kulit yg khas :
Muncul setelah masa prodromal singkat &
ringan
Lesi berkelompok dibagian sentral
Perubahan lesi yg cepat dr makula,
vesikula, pustula hingga krusta
Terdapatnya semua tingkatan lesi kulit
dalam waktu bersamaan pd daerah yang
sama
Terdapat lesi mukosa mulut
Umumnya px. Lab tak diperlukan lagi

VARISELA

LESI POLIMORFIK
MAKULA

PAPUL

VESIKEL

EROSI

DIAGNOSA BANDING
Hand-foot-mouth disease (intradermal balloning dan
degenerasi retikular keratinosit)
Herpes simplex ( lesi berkelompok, nyeri hebat)
Dermatitis kontak (riwayat kontak dengan bahan iritan)
Impetigo (tak ada vesikel klasik, lebih sedikit ruam, lesi
perioral/perifer

Lesi pada HFMD

KOMPLIKASI

Infeksi sekunder dengan bakteri


Akibat Stafilokokus : impetigo, selulitis, fasiitis,
erisipelas, furunkel, abses, scarlet fever, atau
sepsis
Varisela
Pneumonia:
penderita
immunokompromis, dan kehamilan panas
tinggi, batuk, sesak napas, takipneu, ronki
basah, sianosis, dan hemoptoe bbrp hr setelah
ruam. Ro: gambaran noduler radio-opak pada
kedua paru
Reye sindrom: letargi, mual, muntah menetap,
bingung dan perubahan sensoris. >> pasien
yang menggunakan salisilat. SGOT, SGPT dan
amonia
Ensefalitis
Pada gangguan imunitas. 1 pada 1000 kasus
varisela, gejala ataksia serebelar hari 3-8 setelah
ruam
Hepatitis

TATALAKSANA
Penatalaksanaan Non Medikamentosa:
Isolasi untuk mencegah penularan
Upayakan agar vesikel tidak pecah : gunakan bedak
Jangan menggaruk vesikel
Kuku jangan dibiarkan panjang
Bila hendak mengeringkan badan, cukup tempelkan handuk pada
kulit. Jangan digosok

MEDIKAMENTOSA

Terapi bersifat simptomatik antiperitik, analgesik, antihistamin

Pengobatan Topical bedak salisilat (mentol+ camphora) -> mencegah pecahnya vesikel
dan memberi efek antipruritus

Infeksi sekunder antibiotik berupa salap/oral

Antiviral menurunkan jumlah lesi, durasi/ lamanya penyakit jika diberikan maksimal
48 jam setelah lesi pertama muncul

An important study by Kubeyinje (1997) suggested that the use of acyclovir in healthy young adults
with zoster is not clearly justified, especially in situations of limited economic resources.[6]

PENCEGAHAN
1. Vaksinasi
Perlindungan terhadap varicella hingga 71 100%
Lebih efektif pada anak setelah > 1 tahun.
< 13 tahun dosis tunggal
> 13 Tahun dua dosis yang diberikan dengan interval waktu 4 8 minggu.
2. Imunoglobin Varicella Zooster (VZIG)
profilaksis setelah terpapar virus, dan terutama pada orang orang dengan resiko tinggi
Dosis 125 IU / 10 kgBB. 125 IU adalah dosis minimal, sedangkan dosis maksimal adalah 625 IU dan
diberikan secara intramuskuler

PEMBAHASAN
TINJAUAN PUSTAKA
Varisela
merupakan infeksi akut primer yang
disebabkan oleh virus varisella zooster.
menyerang kulit dan mukosa, secara klinis
terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit
yang polimorfik, terutama berlokasi di
bagian central tubuh
Umumnya menyerang anak-anak

KASUS

Anamnesis

Muncul Lenting-lenting berisi


cairan yang tersebar ke seluruh
tubuh.

Baru pertama kali mengalami sakit


ini.
Diawali demam --> muncul lesi
dengan gambaran yang bervariasi
(papul, vesikel, erosi)
Usia 1 tahun

PEMBAHASAN
TINJAUAN PUSTAKA

KASUS

Diagnosis:

Dapat ditegakkan secara klinis dengan


gambaran lesi kulit yg khas :

Muncul setelah masa prodromal


singkat & ringan

Gambaran lesi polimorfik (Perubahan


lesi yg cepat dr makula, vesikula,
pustula hingga krusta diikutu dengan
munculnya lesi-lesi baru)

keluhan terdapat lenting-lenting


diseluruh badan sejak 2 hari
terakhir. Awalnya demam dan
rewel 1 hari setelahnya timbul
lenting-lenting,(awalnya di badan
dahulu, kemudian menyebar di
wajah , tangan, sampi ke kaki).

Penyebaran secara sentrifugal (badan> wajah, ektremitas)

Umumnya px. Lab tak diperlukan lagi

Anamnesis:

PE :
Efloresensi
: Tampak vesikelvesikel dengan dasar eritematosa,
terdapat pustul terutama di regio
abdomen., didapatkan pula erosi,
dan krusta warna putih dan kuning
terutama pada wajah.
Pemeriksaan Penunjang (-)

TINJAUAN PUSTAKA

Terapi bersifat simptomatik antipiretik,


analgesik, antihistamin

Pengobatan Topical bedak salisilat (mentol+


camphora) -> mencegah pecahnya vesikel dan
memberi efek antipruritus

Infeksi sekunder antibiotik berupa salap/oral

Antiviral menurunkan jumlah lesi, durasi/


lamanya penyakit jika diberikan maksimal 48
jam setelah lesi pertama muncul

An important study by Kubeyinje (1997)


suggested that the use of acyclovir in healthy
young adults with zoster is not clearly justified,
especially in situations of limited economic
resources.[6]

KASUS

Terapi Medikamentosa.

Oral : Imbost syrup : 2x 1 cth


Amoxillin syrup 3x 1cth
Paracetamol syrup 3x1 cth ->prn

Topikal : Bedak salisil 2%, taburkan


2x/hari pada lenting yang belum pecah.