Anda di halaman 1dari 14

BPH

DEFINISI
BPH ( Benign Prostatic Hyperplasia )
adalah pertumbuhan jinak pada
glandula prostatica yang
menyebabkan prostat membesar

Anatomi Organ
Terdiri atas :
Substansia muscularis : otot polos dan
jaringan fibrosa
Substansia glandularis : beberapa
kelompok kelenjar-kelenjar diantara
substansia muscularis. Kelenjar-kelenjar ini
menghasilkan cairan yang ikut membentuk
semen yang memberi bau spesifik
Bagian prostat : lobus dextra dan lobus
sinistra, isthmus prostat, lobus medius

Morfologi :

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.

Berbentuk sebagai conus


Basis prostat (meghadap vesica urinaria)
Apex prostat (menghadap diaphragma pelvis)
Dua facies inferolateral
Facies anterior
Facies posterior
Syntopi :
Cranial : menghadap vesica urinaria
Caudal : menghadap diaphragma pelvis
Ventral : simpisis ossis pubis
Dorsal : - bagian cranial : ditempati oleh vesicula seminalis
dan ductus deferens
- Bagian caudal : menghadap rectum
- Lateral : m. Levator ani dextra et sinistra

Patogenesis dan Fisiologi


Patogenesis :
Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul
fibromuskuler, nodul asinar atau nodul campuran
fibroadenomatosa.
Hiperplasia glandular terjadi berupa nodul asinar atau
campuran dengan hiperplasia stroma. Kelenjarkelenjar biasanya besar dan terdiri atas tall columnar
cells. Inti sel-sel kelenjar tidak menunjukkan proses
keganasan.
Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan
kolagen dan elastin di antara otot polos yang
berakibat melemahnya kontraksi otot. Hal ini
mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca
fungsional, ketidakseimbangan neurotransmiter, dan
penurunan input sensorik, sehingga otot detrusor
tidak stabil.

PATOFISIOLOGI
BPH adalah perbesaran kronis dari prostat
pada usia lanjut yang berkorelasi dengan
pertambahan umur. Perubahan yang
terjadi berjalan lambat dan perbesaran ini
bersifat lunak dan tidak memberikan
gangguan yang berarti. Tetapi, dalam
banyak hal dengan berbagai faktor
pembesaran ini menekan uretra
sedemikian rupa sehingga dapat terjadi
sumbatan partial ataupun komplit

Ductus ejaculatorius menembus bagisan atas permukaan


prostat untuk bermuara pada uretra pars prostatica pada
pinggir lateral orificium utriculus prostaticus.
Prostat secara tak sempurna dibagi dalam lima lobus.
Lobus anterior, atau isthmus, terletak di depan uretra dan
tidak mempunyai jaringan kelenjar. Lobus medius, adalah
kelenjar yang berbentuk baji yang terletak antara uretra
dan ductus ejaculatorius. Permukaan atasnya dibatasi
oleh trigonum vesicae. Bagian ini kaya akan kelenjar.
Lobus posterior terletak di belakang uretra dan di baeah
ductus ejaculatorius dan juga mengandung
jaringankelenjar. Lobus lateral kanan dan kiri terletak di
samping uretra dan dipisahkan satu sama lain oleh alur
vertikal dangkal yang terdapat pada permukaan posterior
prostat. Lobus lateral mengandung banyak kelenjar.

Fisiologi :
Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan
tipis seperti air susu yang mengandung asam
sitrat dan fosfatase asam. Kedua zat ini
ditambahkan ke caioran semen pada saat
ejakulasi. Otot polos pada stroma dan kapsula
berkontraksi dan sekret yang berasawl
bersama kelenjar diperas masuk ke uretra
pars prostatid. Sekret prostat bersifat alkali
yang membantu menetralkan keasaman
vagina.

Gambar

Terapi Non Medikamentosa

Terapi Bedah Konvensional


Open simple prostatectomy
Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu
besar, di atas 100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.
Terapi Invasif Minimal
1. Transurethral resection of the prostate (TUR-P)
Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan
obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter.
2. Transurethral incision of the prostate (TUIP)
Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan
dengan ukuran prostat kecil.
Terapi laser :
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP)
yang dilakukan dengan bantuan USG,
Visual coagulative necrosis,
Visual laser ablation of the prostate (VILAP),
dan interstitial laser therapy.

Terapi alat
1. Microwave hyperthermia
Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan
melalui uretra atau rektum sampai suhu 42-45oC sehingga
diharapkan terjadi koagulasi.
2. Trans urethral needle ablation (TUNA)
Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah
diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk
adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi
sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat.
3. High intensity focused ultrasound (HIFU)
Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan
energi ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.
4. Intraurethral stent
Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa
prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.
5. Transurethral baloon dilatation
Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat
mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih.