Anda di halaman 1dari 17

EFEK SAMPING

OBAT
ANTI-PSIKOSIS
Made Karina Dwi Lestari
2016.04.2.0108

EKSTRA PIRAMIDAL
SYNDROME
AKUT
1. Distonia Akut
Distonia adalah kontraksi otot yang singkat atau
lama, biasanya menyebabkan gerakan atau
postur yang abnormal, termasukkrisis okulorigik,
protrusi lidah, trismus, tortikolis, distonia laringfaring, dan postur distonik pada anggota gerak dan
batang tubuh. Distonia lebih banyak diakibatkan
oleh APG I terutama yang mempunyai potensi tinggi,
dan umumnya terjadi di awal pengobatan (beberapa
jam sampai beberapa hari pengobatan) atau pada
peningkatan dosis secara bermakna.

1. Distonia Akut
Mata
Krisis okulorigik terjadi apabila kedua bola mata
melirik ke salah satu sisi, biasanya selama
beberapa menit, tetapi adakalanya dapat
berlangsung sampai beberapa jam.
Lidah
Protrusion, memuntir (menjulurkan lidah keluar)
Otot Leher
Torticollis (Tortikolis menggambarkan adanya
posisi abnormal leher. Tortikolis adalah kejang
otot leher yang menyebabkan sakit leher dan
kekakuan, kepala miring, dan banyak lagi.)

Otot Rahang
Trismus (gangguan pembukaan mulut yang
disebabkan adanya konstraksi otot-otot
pengunyahan dan bersifat sementara), gaping
(mulut ternganga) dan grimacing (seringai muka).
Seluruh otot tubuh
Opistotonus
Gangguan menelan (disfagia), bicara, atau
bernafas (spasme laring-faring, disfonia)
Penebalan atau bicara cadel karena lidah
hipertonik atau membesar (disartria,
makroglosia)

2. Akatisia (restless leg


syndrome)
Manifestasi klinis berupa perasaan subjektif
kegelisahan (restlessness) yang panjang, dengan
gerakan yang gelisah, umumnya laki-laki yang
tidak bisa tenang. Penderita dengan akathisia
berat tidak mampu untuk duduk tenang,
perasaannya menjadi cemas atau iritable.
GEJALA :
Menggerakkan atau mengayunkan kaki dengan
gelisah
Menggoyangkan kaki saat berdiri
Berjalan bolak balik untuk menghilangkan
kegelisahan
Tidak dapat duduk atau berdiri selama

3. Parkinsonism
Terdiri dari akinesia, tremor, dan bradikinesia.
Akinesia meliputi wajah topeng, jedaan dari
gerakan spontan, penurunan ayunan lengan
saat berjalan, penurunan kedipan, dan
penurunan mengunyah yang dapat
menimbulkan pengeluaran air liur.
Faktor risiko antipsikotik menginduksi
parkinsonism adalah peningkatan usia, dosis
obat, riwayat parkinson sebelumnya, dan
kerusakan ganglia basalis.
Akibat blokade D2 di basal ganglia.

KRONIS
Tardive dyskinesia
Pergerakan berulang involunter pada lidah,
wajah, mulut/rahang, anggota gerak, di
mana gejala ini menghilang saat tidur
Gerakan oral-facial meliputi mengecapngecap bibir (lip smacking), menghisap
(sucking), dan mengerutkan bibir
(puckering) atau seperti facial grimacing.
Biasanya terjadi pada pemakaian jangka
panjang (lebih dari 6 bulan s.d 1 tahun).

HIPOTENSI ORTHOSTATIK
Bila terjadi penurunan tensi saat adanya
perubahan posisi
Disebabkan blokade reseptor alfa1
adrenergik
Kriteria diagnosa : bila perubahan tensi
sistolik 20 mmHg, atau tekanan diastolik
10 mmHg, atau penurunan tekanan darah
sistolik sampai di bawah 90 mmHg
Biasanya karena pemakaian Antipsikotik
Tipikal, chlorpromazine.

SNM (SINDROMA NEUROLEPTIK MALIGNA)


Merupakan kondisi yang mengancam kehidupan
akibat reaksi idiosinkrasi terhadap obat anti
psikosis (Resiko lebih besar pada long action).
Kondisi seperti dehidrasi, kelelahan, dan
malnutrisi membuat resiko SNM menjadi lebih
tinggi.
Diagnosis sindrom neuroleptik maligna :
Suhu badan >38C (hiperpireksia).
Sindrom ekstrapiramidal berat (rigiditas).
Gejala disfungsi otonom (inkontinensia urin).
Perubahan status mental.
Perbubahan tingkat kesadaran.
Gejala timbul dan berkembang dengan cepat.

EFEK SAMPING
KARDIOVASKULAR
Antipsikotik potensi rendah lebih bersifat
kardiotoksik dibandingkan dengan
antipsikotik potensi tinggi.
Chlorpromazine menyebabkan perpanjangan
interval QT dan PR, penumpulan gelombang
T, dan depresi segmen ST.
Thioridazine, khususnya memiliki efek yang
nyata pada gelombang T dan disertai
dengan aritmia malignan, seperti torsade de
pointes yang sangat mematikan. Selain itu
kematian mendadak juga disebabkan karena
timbulnya takikardia ventrikuler atau fibrilasi
ventrikuler.

EFEK SAMPING GASTROINTESTINAL


DAN SALURAN KEMIH

Efek antikolinergik perifer:


Mulut kering
Konstipasi
Occasional diarrhea
Retensi Urin
Lebih sering terjadi pada penggunaan
APG1 potensi rendah.

EFEK HEMATOLOGI
Paling sering dapat menyebabkan
Agranulositosis
Leukopenia (<3500)
Trombositopenia

EFEK ENDOKRIN
Penghambatan reseptor dopamine pada
saluran tuberinfundibular menyebabkan
peningkatan sekresi prolaktin, yang dapat
menyebabkan, galaktorea, gymnecomastia
dan impotensi pada laki-laki, dan amenore
serta penghambatan orgasme pada wanita.
Peningkatan berat badan juga merupakan
efek endokrin yang paling sering terjadi
akibat penggunaan antipsikotik tipikal.
Peningkatan berat badan nantinya akan
menjadi resiko terjadinya DM tipe 2,
hipertensi dan dislipidemia.

EFEK SAMPING PADA KULIT


DAN MATA
Reaksi kutaneus : urtikaria, makulopapular,
peteki, edema
Antipsikotik potensi rendah (DET), ex CPZ :
diskolorasi biru-kelabu pada kulit pada
daerah yang terpapar dengan sinar
matahari.
Pada mata:
CPZ : deposit granular pada kamera okuli
anterior dan posterior
Dosis tinggi thioridazine : pigmentasi
irreversible pada retina: retinitis

EFEK SAMPING BERKAITAN


DENGAN KEHAMILAN DAN LAKTASI
APG1 melewati sawar plasenta.
Hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan
adanya hubungan antara penggunaan anti
psikotik dengan peningkatan insidens
malformasi kongenital.
Anti psikotik disekresikan pada ASI dalam
konsentrasi rendah.

EFEK SAMPING BERKAITAN


DENGAN AMBANG KEJANG
APG1 potensi rendah cenderung akan
menurunkan ambang kejang
resiko kejang
Untuk pasien yang retan terhadap
kejang diberikan APG1 potensi
tinggi