Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

HIFEMA

ANNISA FADHILAH
110.2011.033

KEPANITERAAN MATA
RSUD DR. DRAJAT PRAWIRANEGARA
2015 / 2016

LATAR BELAKANG
Hifema merupakan keadaan dimana terjadi perdarahan pada bilik mata depan
dapat terjadi akibat trauma tumpul pada mata. Darah ini berasal dari iris atau
badan siliar yang robek.
Diagnosis dan tatalaksana yang tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi
hifema yaitu peningkatan tekanan intraokular, perdarahan sekunder, sinekia
posterior, deposisi darah pada kornea, glaukoma sekunder, atrofi saraf optik serta
kebutaan.

TUJUAN
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami tentang definisi, etiologi, klasifikasi,
patofisiologi, gambaran klinis, pemeriksaan, diagnosis, penatalaksanaan serta
prognosis dari Hifema.
1.2.2 Tujuan Khusus
Untuk memenuhi salah satu tugas di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata di
RSUD Dr. Drajat Prawiranegara Serang dan sebagai salah satu persyaratan dalam
mengikuti ujian di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata di RSUD Dr. Drajat
Prawiranegara Serang.

ANATOMI BOLA MATA


Definisi

Vaskularisasi Mata

Definisi
Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di
dalam bilik mata depan, yang dapat terjadi akibat trauma
tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan
siliar dan bercampur dengan akuos humor yang jernih

ETIOLOGI
Hifema sebagian besar disebabkan oleh trauma .Hifema

juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi


mata baik selama dan sesudah operasi.

Keadaan

lain yang dapat menyebabkan hifema namun


jarang terjadi adalah adanya neovaskularisasi pada pasien
diabetes mellitus dan keadaan iskemik, tumor mata
seperti retinoblastoma, uveitis, dan kelainan pembuluh
darah yaitu juvenile xanthogranulom.

Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi

1. Hifema traumatika
2. Hifema akibat tindakan medis
3. Hifema akibat inflamasi yang arah pada iris dan badan silier
4. Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah.
5. Hifema akibat neoplasma

Klasifikasi
Berdasarkan onset perdarahannya, hifema dibagi menjadi:

1. Hifema primer
2. Hifema sekunder
Berdasarkan darah yang terlihat, hifema diklasifikasikan menjadi:

1. Makrohifema
2. Mikrohifema

Klasifikasi

Patofisiologi

PATOFISIOLOGI

Manifestasi Klinis

Diagnosis
Adanya riwayat trauma
Riwayat tindakan pembedahan hifema akibat tindakan operatif.
Riwayat penyakit lain seperti diabetes mellitus atau sickle cell disease
Pada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada bilik mata depan.
Penglihatan pasien akan menurun jika darah pada bilik mata depan mengganggu

media refraksi.
Darah yang mengisi bilik mata depan secara

langsung dapat mengakibatkan


peningkatan tekanan intra okuler.
Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair.

Pemeriksaan oftalmologis

Pemeriksaan ketajaman penglihatan


Pemeriksaan menggunakan kartu mata Snellen, visus dapat menurun
akibat kerusakan pada media refraksi.
Pemeriksaan Lapang pandang, penurunan lapang pandang dapat
disebabkan oleh glaukoma.
Slit Lamp Biomicroscopy untuk menentukan kedalaman bilik mata
depan, kekeruhan akuos humor, dan adanya sinekia posterior.
Pengukuran tonometri untuk mengukur tekanan intra okuler.
Pemeriksaan oftalmoskopi unutk mengkaji struktur internal okuler.

PENATALAKSANAAN
Tujuan Penatalaksanaan hifema pada dasarnya adalah
1. Menghentikan perdarahan.
2. Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder.
3. Mengeliminasi darah di bilik depan bola mata dengan
mempercepat absorbsi.
4. Mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari
komplikasi yang lain.
5. Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

PENATALAKSANAAN
Konservatif
1. Tirah baring
2. Pemakaian obat-obatan
-Koagulansia
-Midriatika miotika
- Ocular Hypotensive Drug
- Kortikosteroid dan antibiotik

Operatif
Indikasinya adalah sebagai berikut
1. Empat hari setelah onset hifema total
2. Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu)
3. Total dengan dengan Tekanan Intra Okular 50 mmHg atau lebih selama 4
hari (untuk mencegah atrofi saraf optik)
4. Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari bilik mata depan selama
6 hari dengan tekanan 25 mmHg
5. Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9
6.Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya
dengan tekanan Intra okular lebih dari 35 mmHg lebih dari 24 jam .

Operatif
1. Parasentesis

Parasentesis

merupakan

tindakan

pembedahan

dengan

mengeluarkan cairan atau darah dari bilik depan bola mata


Melakukan irigasi di bilik depan bola mata dengan larutan
fisiologik.
3. Dengan cara seperti melakukan ekstraksi katarak dengan
membuka korneoscleranya sebesar 1200

Parasintesis

KOMPLIKASI
1.
2.
3.
4.
5.

Perdarahan Sekunder
Glaukoma Sekunder
Hemosiderosis kornea
Sinekia posterior
Atrofi optik

Prognosis
Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada bilik
mata depan. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai
glaukoma, prognosisnya baik karena darah akan diserap kembali dan hilang
sempurna dalam beberapa hari. Hifema yang telah mengalami komplikasi
seperti glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa besar glaukoma
tersebut menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam
penglihatan telah mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosis
penderita adalah buruk karena dapat menyebabkan kebutaan.

SIMPULAN
Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata

depan, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh
darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan akuos humor yang
jernih. Keadaan lain yang dapat menyebabkan hifema namun jarang terjadi
adalah adanya tumor mata seperti retinoblastoma, dan kelainan pembuluh
darah yaitu juvenile xanthogranuloma.
Penegakan diagnosis hifema berdasarkan adanya riwayat trauma, terutama
mengenai matanya dapat memastikan adanya hifema. Pada gambaran
klinik ditemukan adanya perdarahan pada bilik mata depan, kadangkadang ditemukan gangguan visus. Dapat juga ditemukan tanda-tanda
iritasi dari konjungtiva dan perikorneal, fotofobia, penglihatan ganda,
blefarospasme, edema palpebra, midriasis.

SIMPULAN
Penatalaksanaan hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2
golongan besar dengan cara konservatif dan tindakan operasi.
Tindakan ini bertujuan untuk menghentikan perdarahan,
menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder, mengeliminasi
darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat absorbsi,
mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang
lain, dan berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Ilyas, Sidarta. 2013. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Keempat. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Rezaputra R, 2012. Anatomi mata. Diunduh tanggal 19 oktober . Tersedia dari http:// www.Medicinesia.com
Ghafari BA et al, 2013. Hyphema Caused by Trauma. Med Arh, vol.67, no.5, pp 354-356.
Sheppard JD, 2014. Hyphema. Diunduh 18 oktober 2015. Tersedia dari http: //emedicine.medscape.com
Rezaputra R, 2012. Anatomi mata. Diunduh tanggal 19 oktober . Tersedia dari http:// www.Medicinesia.com Vaughan &
Asburys. 2011. General Ophtalmology 18th Edition. The McGraw-Hill Companies.
Yuindartanto A, 2010. Anatomi Bola Mata. Diunduh tanggal 24 oktober 2015. Tersedia dari http://
yumizone.wordpress.com.
Lenihan P and Hitchmoth D, 2014. Traumatic Hyphema: A Teaching Case Report. Optometric Education, vol.39, no.3,
pp 110-118.
Rizky G, 2013. Hifema. Diunduh tanggal 19 oktober . Tersedia dari http://www.Medicinesia.com
American Optometric Association. 2014. Eye Globe. Diunduh 20 oktober 2015. Tersedia dari http://www.aoa.org
Gharaibeh et al, 2012. Medical intervention for traumatic hyphema. Diunduh 18 oktober 2015. Tersedia dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed
Misko M, 2012. Ocular Contusion with Microhyphema and Commotio Retinae. American Optometric Association,
vol.83 , no.8, pp 5-10.
Oldham GW et al, 2015. Hyphema. Diunduh 20 oktober 2015. Tersedia dari http://www.aoa.org.