Anda di halaman 1dari 14

Z O N A IN TER TID A L

Kelompok 1
Atabatul Ghulam
Budimansyah
Desi Sukartini
Hariyati
Rieska Paramita N.P

Pengertian Zonasi
Zonasi adalah distribusi atas bawah organisme yang dipengaruhi
beberapa faktor:
Faktor fisik: Kemiringan permukaan berbatu, kisaran pasang surut
& keterbukaan terhadap gerakan ombak. Akibat: Kekeringan,
suhu, salinitas & gelombang cahaya. Faktor biologis: Kompetisi,
predator & grazing.
1. Kompetisi: Pantai berbatu terbatas persediaan ruang karena

luas daerah yang terbatas.


2. Predator utama: Bintang laut.

3.

Grazer: Limpet, bulu babi, siput litorina.

Pengertian Zona Intertidal


Daerah intertidal merupakan suatu daerah yang selalu terkena
hempasan gelombang tiap saat. Daerah ini juga sangat
terpengaruh dengan dinamika fisik lautan yakni pasang surut.
Menurut Nybakken (1988) , susunan faktor-faktor lingkungan
dan kisaran yang dijumpai dizona intertidal sebagian
disebabkan zona ini berada diudara terbuka selama waktu
tertentu dalam setahun, dan kebanyakan faktor fisiknya
menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di
air.

Menurut Prajitno (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi


kondisi lingkungan zona intertidal diantaranya adalah :

Pasang-surut yaitu naik turunnya permukaan air laut


secara periodik selam interval waktu tertentu. Pasangsurut merupakan faktor lingkungan paling penting yang
mempengaruhi kehidupan di zona intertidal.
Suhu mempengaruhi zona intertidal selama harian/
musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleransi.
Perubahan
salinitas
yang
dapat
mempengaruhi
organisme terjadi di zona intertidal.
Gelombang merupakan parameter utama dalam proses
erosi atau sedimentasi besarnya erosi tergantung pada
besarnya energi dihempaskan oleh gelombang.

Faktor Penyebab D istribusiZonasiPada D aerah Intertidal


Ada berbagai faktor yang menyebabkan adanya berbagai macam distribusi pada daerah
intertidal. Pada dasarnya faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yang saling
terkait yaitu:
1. Faktor fisika. Faktor ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh
pada ekosistem intertidal. Akibat adanya pasang surut maka
menyebabkan faktor pembatas pada daerah ini menjadi lebih
ekstrim. Faktor pembatas tersebut yaitu kekeringan, suhu, dan
sinar matahari ketiga faktor tersebut saling terkait. Jika laut surut
maka daerah intertidal terekspose oleh sinar matahari, akibatnya
suhu meningkat. Suhu yang meningkat menyebabkan penguapan
dan dampaknya daerah menjadi kering.
2. Faktor biologis. Faktor ini sangat tergantung dari faktor fisik
perairan. Organisme berusaha untuk menyesuaikan diri pada
keadaan yang sangat ekstrim tersebut. Ada berbagai macam cara
organisme menyesuaikan diri salah satunya dengan mengubur diri
atau memodifikasi bentuk cangkang agar dapat hidup pada derah
yang kering.

Pem bagian Zona Intertidal


Secara umum daerah intertidal berdasarkan material atau substrat penyusun dasar
perairan dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu,
1. Tipe pantai berbatu. Pantai ini terbentuk dari batu granit dari
berbagai ukuran tempat ombak pecah. Kawasan ini paling padat
mikroorganismenya, dan mempunyai keragaman fauna maupun
flora yang paling besar. Tipe pantai ini banyak ditemui di selatan
Jawa, Nusa Tenggara dan Maluku.

2. Tipe pantai berpasir. Pantai ini dapat ditemui di daerah yang


jauh dari pengaruh sungai besar atau di pulau kecil yang
terpencil. Makroorganisme yang hidup disini tidak sepadat di
kawasan
pantai
berbatu,
dan
karena
kondisi
kondisi
lingkungannya organisme yang ada cenderung menguburkan
dirinya ke dalam substrat. Kawasan ini lebih banyak dimanfaatkan
manusia untuk berbagai aktivitas rekreasi.

3. Tipe pantai berlumpur. Perbedaan antara tipe pantai ini dengan


tipe sebelumnya
terletak pada ukuran butiran sedimen
(substrat). Tipe pantai berlumpur mempunyai ukuran butiran
yang paling halus. Pantai berlumpur terbentuk di sekitar muaramuara sungai dan umumnya berasosiasi dengan estuaria.

Biota Pada Zona Intertidal

Menurut Nyabakken (1988), Dilingkungan laut khususnya di


intertidal. Spesies yang berumur panjang cenderung terdiri dari
berbagai hewan invertebrata. Hewan-hewan intertidal dominan
yang menguasi ruang selain Mytilus californianus yang terdapat
dalam jumlah banyak dipesisir pasifik adalah teritip Balanus
cariogus dan Balanus glandula.

Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan


tempat yang sangat baik bagi hewan-hewan atau tumbuhantumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini.
Golongan ini termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan
tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar (Hutabarat, 2008).

Pola AdaptasiO rganism e Intertidal


Organisme intertidal memilki kemampuan
untuk
beradaptasi
dengan
kondisi
lingkungan yang dapat berubah secara
signifikan, pola tersebut meliputi,

Daya
tahan
terhadap
kehilangan air
Pemeliharaan keseimbangan
panas
Tekanan Mekanik
Pernapasan
Cara makan
Tekanan Salinitas
Reproduksi

Pola AdaptasiO rganism e Intertidal


Daya tahan terhadap kehilangan air
Organisme laut berpindah dari air keudara terbuka, mereka mulai
kehilangan air. Mekanisme yang sederhana untuk menghindari
kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak seperti
kepiting dan anemon.
Pemeliharaan keseimbangan panas
Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu
panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi
tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan
panas internal.
Tekanan Mekanik
Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai
berbatu dan pada pantai berpasir. Untuk mempertahankan posisi
menghadapi gerakan ombak, organisme intertidal telah membentuk
beberapa adaptasi.

Pola AdaptasiO rganism e Intertidal


Pernapasan
Diantara hewan intertidal terdapat kecendrungan organ pernapasan
yang mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk
mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai
molusca dimana insang terdapat pada rongga mantel yang
dilindungii cangkang.

Cara makan
Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan
bagian-bagian berdaging dari tubuhnya. Karena itu seluruh hewan
intertidal hanya aktif jika pasang naik dan tubuhnya terendam air.
Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan,
pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun
predator.

Pola AdaptasiO rganism e Intertidal


Tekanan Salinitas
Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat
menimbulkan masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal
yang hanya dapat menyesuaikan diri dengan air laut. Kebanayakan
tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol kadar garam cairan
tubuhnya dan disebut osmokonformer. Adaptasi satu-satunya sama
dengan adaptasi untuk melindungi dari kekeringan.

Reproduksi
Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan
melekat, sehingga dalam penyebarannya mereka menghasilkan
telur atau larva yang terapung bebas sebagai plankton. Hampir
semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang
seirama dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti
misalnya pada saat pasang purnama.

TERIMAKASIH