Anda di halaman 1dari 23

Geotermal

Kelompok 3
Adi Wahyudiyanto
Mila Karmila
Nirwana sima
Nur Hidayati
Pritha Amalia
Saarah Sofhah

Proses Terbentuknya Panasbumi (Geothrmal Energy)


Secara garis besar bumi ini terdiri dari tiga lapisan utama
yaitu kulit bumi (crust), selubung bumi (mantel) dan inti
bumi (core). Kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi.
Ketebalan dari kulit bumi bervariasi, tetapi umumnya kulit
bumi di bawah suatu daratan (continent) lebih tebal dari
yang terdapat di bawah suatu lautan. Di bawah suatu
daratan ketebalan kulit bumi umumnya sekitar 35 kilometer
sedangkan di bawah lautan hanya sekitar 5 kilometer.
Batuan yang terdapat pada lapisan ini adalah batuan keras
yang mempunyai density sekitar 2.7-3 gr/cm3.
Di bawah kulit bumi terdapat suatu lapisan tebal yang
disebut selubung bumi (mantel) yang diperkirakan
mempunyai ketebalan sekitar 2900 kilometer. Bagian
teratas dari selubung bumi juga merupakan batuan keras.
Bagian terdalam dari bumi adalah inti bumi (core) yang
mempunyai ketebalan sekitar 3450 kilometer. Lapisan ini
mempunyai temperatur dan tekanan yang sangat tinggi
sehingga lapisan ini berupa lelehan yang sangat panas

Kulit bumi dan bagian teratas dari selubung bumi


kemudian dinamakan litosfir (80-200 km). Bagian
selubung bumi yang terletak tepat di bawah litosfir
merupakan batuan lunak tapi pekat dan jauh lebih
panas. Bagian dari selubung bumi ini kemudian
dinamakan astenosfer (200-300 km). Di bawah lapisan
ini, yaitu bagian bawah dari selubung bumi terdiri dari
material-material cair, pekat dan panas, dengan
density sekitar 3.3-5.7 gr/cm3.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa litosfer
sebenarnya bukan merupakan permukaan yang utuh,
tetapi terdiri dari sejumlah lempeng-lempeng tipis dan
kaku.
Lempeng-lempeng tersebut merupakan bentangan
batuan setebal 64145 km yang mengapung di atas
astenosfer. Lempeng-lempeng ini bergerak secara
perlahan-lahan dan menerus. Di beberapa tempat
lempeng-lempeng bergerak memisah sementara di
beberapa tempat lainnya lempeng-lempeng saling

Adanya material panas pada kedalaman beberapa ribu


kilometer di bawah permukaan bumi menyebabkan terjadinya
aliran panas dari sumber panas hingga ke pemukaan. Hal ini
menyebabkan tejadinya perubahan temperatur dari bawah
hingga ke permukaan bumi, dengan gradien temperatur ratarata sebesar 30 0C/km. Di perbatasan antara dua lempeng
(daerah penujaman) harga laju aliran panas umumnya lebih
besar dari harga rata-rata tersebut. Hal ini menyebabkan
gradien temperatur di daerah tersebut menjadi lebih besar
dari gradien temperatur rata-rata, sehingga dapat mencapai
70-80 0C/km.
Pada dasarnya sistem panasbumi terbentuk sebagai hasil
perpindahan panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya
yang terjadi secara konduksi dan secara konveksi.
Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan,
sedangkan perpindahan panas secara konveksi terjadi karena
adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas.
Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi
karena gaya apung (bouyancy). Air karena gaya gravitasi
selalu mempunyai kecenderungan untuk bergerak kebawah,
akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu sumber

Sebagian Besar Sumber Daya Panas Bumi Berada


di Dekat Batas Lempeng
Sumber daya panas bumi yang paling aktif biasanya
ditemukan di sepanjang batas lempeng utama, dimana
gempa bumi dan gunung berapi terkonsentrasi.
Sebagian besar aktivitas panas bumi di dunia terjadi di
daerah yang disebut Ring of Fire. Daerah ini
mengelilingi Samudera Pasifik.
Ketika magma mendekati permukaan, ia memanaskan
air tanah yang berada dalam batuan berpori atau air
yang mengalir sepanjang permukaan batuan retak.
Fitur-fitur ini disebut hidrotermal. Mereka memiliki dua
komponen umum: air (hidro) dan panas (termal).
Ahli geologi menggunakan berbagai cara untuk
mencari reservoir panas bumi. Pengeboran sumur dan
pengujian suhu bawah tanah merupakan metode yang

Pemanfaatan Energi Geothermal


Beberapa aplikasi energi geothermal
menggunakan suhu bumi di dekat permukaan,
sementara yang lainnya memerlukan
pengeboran bermil-mil ke dalam Bumi. Tiga
penggunaan utama energi geothermal adalah:
Penggunaan langsung dan sistem
pemanas distrik, menggunakan mata air
panas atau reservoir dekat permukaan.
Pembangkit listrik tenaga geothermal,
membutuhkan air atau uap pada suhu yang
sangat tinggi (300 sampai 700 F).
Pembangkit listrik geothermal umumnya
dibangun di daerah reservoir panas bumi
terletak, sekitar satu atau dua mil dari

Pompa panas geothermal, menggunakan


suhu stabil tanah atau air di dekat permukaan
bumi untuk mengontrol suhu bangunan di atas
tanah.
Penggunaan Langsung Energi Geothermal
Dalam bentuk mata air panas, geothermal sudah
digunakan secara langsung sebagai sumber
energi sejak zaman kuno. Romawi dan Cina
kuno, serta penduduk asli Amerika
menggunakan air mineral panas untuk mandi,
memasak, dan pemanas. Dewasa ini, mata air
panas banyak yang masih digunakan untuk
mandi, dan banyak orang percaya, air panas
kaya mineral memiliki kekuatan penyembuhan
alami.

Selain

sebagai tempat pemandian,


penggunaan langsung yang paling umum dari
energi geothermal adalah untuk
menghangatkan bangunan melalui sistem
pemanas distrik. Air panas di dekat permukaan
bumi dapat disalurkan langsung ke dalam
bangunan dan industri untuk mendapatkan
panasnya. Sebuah sistem pemanas distrik
mampu menyediakan panas untuk 95%
bangunan di Reykjavk, Islandia.
Aplikasi energi geothermal dimanfaatkan pula
oleh pelaku industri termasuk untuk dehidrasi
makanan, pertambangan emas, dan
pasteurisasi susu. Dehidrasi, atau pengeringan

EKSPLORASI geothermal

Eksplorasi pendahuluan atau Reconnaisance survey


dilakukan untuk mencari daerah prospek panas bumi, yaitu
daerah yang menunjukkan tanda-tanda adanya sumberdaya
panas bumi dilihat dari kenampakan dipermukaan, serta
untuk mendapatkan gambaran mengenai geologi regional di
daerah tersebut.
dalam usaha mencari daerah prospek panas bumi adalah
mengumpulkan peta dan data dari laporan-lapaoran hasil
survei yang pernah dilakukan sebelumnya di daerah yang
akan diselidiki.
Survei lapangan terdiri dari survei geologi, hidrologi dan
geokomia. Luas daerah yang disurvei pada tahap ini
umumnya cukup luas, yaitu sekitar 5000-20000 km2, tetapi
bisa juga hanya seluas 5-20 km2
Apabila dari data geologi, data geokimia, dan data geofisika
yang diperoleh dari hasil survey di daerah yang diselidiki
terdapat sumberdaya panasbumi yang ekonomis untuk
dikembangkan, maka tahap selanjutnya adalah tahap
pemboran sumur eksplorasi. Biasanya di dalam satu prospek

Eksploitasi geothermal
Pengembangan eksploitasi panas bumi di
masa depan akan sangat bergantung pada
tindakan konstruktif yang dilakukan oleh
pemerintah dan para pengembang energi
independen (Independent Power Producers /
IPP). Dengan komitmen kuat dari keduanya,
potensi energi panas bumi yang sangat besar
di Indonesia dapat dimanfaatkan dan
dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan
generasi penerus Indonesia.
Bagi Indonesia, Energi Panas Bumi adalah
sumber daya yang sempurna untuk
mengatasi krisis energi di negeri ini karena
sifatnya yang terbarukan, bukan komoditi

INTAN

A. Proses Pembentukan
Intan adalah mineral yang secara kimia merupakan
bentuk Kristal, atau alotrop, dari karbon. Intan terkenal
karena memiliki sifat sifat fisika yang istimewa, terutama
faktor kekerasannya dan kemampuannya mendispersikan
cahaya. Sifat-sifat ini yang membuat intan di gunakan
dalam perhiasan dan berbagai penerapan di dalam dunia
industri. Menurut para ahli mineralogy, intan tertua
berumur lebih tua daripada makhluk hidup tertua di bumi /
tumbuhan asal batubara.
Ada 4 teori pembentukan intan yaitu ;
a. Deep Source Eruption
Kebanyakan deposit intan yang bersifat komersil bersal dari
erupsi gunung api yang memindahkan intan dari bawah
hingga ke atas permukaan bumi. Lapisan pada mantel
tempat terdapatnya deposit berlian dinamakan Diamond
Stability Zone. Deposit tersebut dapat mengalir hingga ke
atas permukaan kerak bumi dengan cepat ketika erupsi
terjadi. Jenis batuan yang mengandung intan adalah

b.Subduction Zone Diamonds


Zona subduksi terdapat di batas pertemuan lempeng samudera
dan lempeng benua, dimana salah satu lempeng masuk ke
dalamlapisan mantel bumi. Ketika lempeng tersebut masuk ke
mantel, maka tekanan dan suhu akan meningkat dan
membentuk mineral intan. Mineral intan yang bersifat komersil
jarang di temukan pada proses pembentukkan seperti ini .
Deposit intan jenis ini sangat kecil dan tidak cocok untuk di olah
menjadi perhiasan komersil.
c.Asteroid Impact Diamons
Keterdapatan intan di temukan di sekitar lubang bekas tabrakan
asteroid. Bumi telah banyak di jatuhi asteroid selama sejarah
pembentukkannya pada masa lampau. Tekanan dan panas yang
di hasilkan tumbukan asteroid cukup untuk membentuk mineral
intan. Mineral intan tipe ini tidak bagus untuk di olah secara
komersil.
d.Diamond Formed in Space
Keterdapatan intan juga di temukan pada meteorit. Para ahli
berpendapat intan tersebut di luar angkasa akibat tabrakan

B. Potensi Intan Di Indonesia


Penelitian Tambang Intan Dengan Pengambilan Contoh Tipe
Paritan Tegak di Daerah Pleihari dan Sekitarnya Kalimantan
Selatan.
Keberadaan Intan di kalimantan dikenal sejak abad 16 di
Kalimantan, selama ini penambangan yang dilakukan masih
terkonsentrasi kepada potensi intan plaster, sementara
keberadaan intan primer sampai sekarang belum pernah di
temukan , oleh karena itu sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya (Kepmen ESDM No.1915 tahun 2001) maka pada tahun
anggaran 2004 program geologi kuarter dan lingkungan
Puslitbang geologi,melalui penelitian intan plaser akan
melakukan penelitian endapan teras dan hubungannya denga
keterdapatan
intan
plaser
di
daerah
martapura
dan
sekitanya,Propinsi Kalimantan Selatan.
Komoditi pertambangan merupakan salah satu penyumbang
devisa yang cukup besar di Indonesia, termasuk di dalamnya
intan. Pulau Kalimantan telah sejak lama di kenal sebagai
penghasil intan, khususnya di daerah Pleihari dan Martapura,
yang merupakan penghasil batu mulia intan di Indonesia. Namun
seiring dengan perkembangannya potensi bahan galian tersebut
masih belum tertata dengan baik, hal ini dibuktikan dengan

Kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai teknik penelitian


dan eksplorasi keberadaan intan secara detil serta penentuan
sumberdaya dan potensinya. Secara geologi endapan intan di
daerah penelitian adalah merupakan endapan plaser atau endapan
permukaan hasil rework yakni endapan aluvial yang antara lain ;
Endapan Sungai Tua, Endapan Cekungan Banjir, Endapan Sungai,
Endapan Pantai dan Pematang Pantai, Endapan Transisi dan
Endapan Kipas Aluvial yang terutama berkerakal, sehinggga
penelitian pun dilakukan dengan sistim tertentu.
Adapun teknik penelitian yang dilakukan adalah Pemetaan Geologi
dan Pengambilan Contoh Tipe Paritan Tegak dengan pemilihan
daerah dimana banyak di dapat Singkapan Paleochanel yeng
kemudian dilakukan penghitungan kadar intan
Daerah potensi intan antara lain : Desa Pumpung, CKPC 201, CKCP
202, desa Bentok, Desa Sambangan, Desa Pandahan dan Desa
palam.
Indonesia memiliki potensi pasar beragam batu mulia yang cukup
besar dan cukup diperhitungkan dimata international dengan
populasi penduduk diatas 200 juta dan penggemar batu permata
yang beraneka ragam.
.

C. Peta Persebaran Intan Di


Indonesia

D.Eksplorasi Intan
Penambangan intan
Teknik Penambangan
Pencarian intan dilakukan dengan cara membuat atau menggali
lubang didalam tanah yang sudah tentu mengandung intan. Ada dua
macam lubang yaitu lubang surut dan lubang dalam. Lubang surut
kedalamannya antara satu sampai setengah meter sedangkan
lubang dalam dapat mencapai sepuluh meter atau lebih. Untuk
menghancurkan tanahnya pada mulanya hanya digali dengan
tenaga manusia, tetapi saat sekarang sudah ada yang
mempergunakan pompa semprot seperti yang sudah dilakukan di
daerah penambangan rakyat di daerah Sungai Gula, Kecamatan
Permata Intan.
Pemisahan tanah dengan intan dilakukan dengan dulang (=
lingganan) yang terbuat dari kayu. Tempat mendulang batu dan
tanah dinamakan pendulangan. Pendulangan yang ada disekitar
Martapura ialah di Cempaka, Banyu Ireng, Ampar Tikar, Pendarapan
dan Banjarbaru. Disekitar proyek Riam Kanan terdapat pendulangan
Mandikapau, Awang Bangkal, Tiwingan, Rantau Bujur dan Rantau
Alayung.Dimasa yang akan mendatang nanti kemungkinan
penambangan intan akan dilakukan dengan cara atau menggunakan
mekanik yang lebih canggih lagi untuk menggali intan tersebut.

E.Eksploitasi intan

Kegiatan penambangan intan dapat mempengaruhi sifat fisika,


kimia, serta biologi tanah maupun air, melalui pengupasan tanah
lapisan atas penambangan, pencucian, serta pembuangan tailing.
Dengan demikian sifat tanah asli atau semula berubah menjadi sifat
tanah tailing.
Penambangan intan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan
akan menyebabkan terancamnya daerah sekitarnya dari bahaya erosi
dan tanah longsor sebagai hilangnya vegetasi penutup tanah.
Pembongkaran lahan secara besar-besaran juga menyebabkan
terjadinya bentang alam (morfologi dan topografi), yaitu perubahan
sudut pandang dan bentuk lereng. Pengupasan, penimbunan tanah
penutup dari penggalian sumber daya alam menimbulkan perubahan
pada drainase, debit air sungai, dan kualitas permukaan pada saat
hujan. Aspek tersebut adalah:
1.
Aspek Hidrologi
Pada musim hujan, mata air keluar di banyak tempat pada lembahlembah di kaki bukit, tetapi pada musim kemarau sebagian besar dari
mata air tersebut kering karena di sepanjang bukit sebagian besar
sudah gundul. Pada beberapa lembah yang agak dalam dan datar
sering ditemukan rawa atau genangan air yang cukup besar terutama
di musim hujan. Genangan-genangan tersebut mempunyai

2.

Aspek Geologi
Tumpukan batuan penutup (overburden) yang dibiarkan tertutup
secara tidak teratur bukaan tambang menghasilkan bukit-bukit kecil
dan lubang-lubang. Demikian juga bekas bukaan yang tidak ditutup
kembali juga akan menghasilkan lubang yang akan terisi oleh air
hujan. Kenyataan di lapangan yang banyak terdapat kolam berisi air
hujan, mengindikasikan bahwa timbunan tanah bekas galian bersifat
kedap air, resapan air hujan untuk membentuk sistem air tanah sangat
kecil.
3.
Erosi Tanah
Erosi tanah bersifat permanen dan merupakan salah satu dampak
utama dan aktifitas penambangan. Erosi tanah menimbulkan dampak
lanjutan yaitu menurunnya kesuburan tanah di lahan terbuka sekitar
lubang tambang dan sedimentasi sungai. Sedimen hasil erosi tanah
diangkut oleh aliran air larian (runoff) masuk ke dalam sungai pada di
ujung tekuk lereng dalam daerah tadah (catchment area).

4.
Longsoran Tanah
Longsoran (overburden) dan waste rock dapat menimbulkan dampak
lanjutan berupa sedimentasi sungai. Karena jumlah overburden da
waste rock cukup banyak. Hal ini berdampak negative terhadap
lingkungan yang bersifat permanen.

5.
Sedimentasi Sungai
Sedimentasi dari longsoran dan erosi tanah dapat terbawa oleh
aliran air larian yang masuk ke dalam sungai. Meskipun longsoran
dan erosi tanah merupakan dampak yang signifikan, tetapi
sedimentasi belum tentu mempunyai dampak yang signifikan.
Sedimentasi sungai selain ditentukan oleh jumlah sedimentasi yang
masuk ke sungai, juga ditentukan oleh factor-faktor hidrologi sungai,
seperti kecepatan arus, pola arus sungai, kelandaian dasar sungai
dan morfologi dasar sungai.
6.
Gangguan Estetika Lahan
Kegiatan pertambangan pada umumnya dilakukan dengan
penambangan terbuka. Lokasi kegiatannya berderet-deret di daerah
perbukitan yang memberikan pemandangan deretan lahan terbuka
berwarna cokelat, kontras dengan daerah bervegetasi yang Nampak
hijau. Perubahan bentuk lahan dan kerusakan lainnya Nampak jelas
dari kejauhan yang terlihat jelas karena letaknya yang cukup tinggi.
Hal ini akan menimbulkan gangguan terhadap estetika lahan yang
harmonis.

7.

Pencemaran Sungai
Seperti aktivitas pertambangan lainnya di Indonesia, pertambangan
intan di Kalsel juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan
yang cukup parah. Kegiatan eksploitasi, lubang-lubang besar yang
tidak mungkin ditutup kembali apalagi dilakukan reklamasi telah
mengakibatkan terjadinya kubangan air dengan kandungan asam yang
sangat tinggi. Limbah yang dihasilkan dari proses pencucian
mencemari tanah dan mematikan berbagai jenis tumbuhan yang hidup
diatasnya. Pembiaran lubang-lubang bekas galian yang ditinggalkan
begitu saja dan pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan
tersebut seperti debu, rembesan air asam tambang dan limbah
pencuciannya terjadi di hampir semua lokasi pertambangan dan
Akibat pengelolaan yang buruk ini terjadi kerusakan lingkungan dan
bahkan mencemari air/sungai yang dimanfaatkan oleh warga.
kehancuran ekosistem di banyak tempat, praktek pelanggaran
terhadap hak-hak rakyat, perampasan sumber kehidupan rakyat, dan
penghancuran
nilai-nilai
dan
budaya
masyarakat
adat/lokal.
Pengelolaan, hingga eksploitasi yang mestinya dapat meningkatkan
harkat, martabat, dan kesejahteraan bagi rakyat Kalimantan Selatan
malah justru sebaliknya menimbulkan kerusakan lingkungan yang
cukup parah, peminggiran terhadap masyarakat lokal/adat dan
kemiskinan. Saat ini pertambangan intan telah menghancurkan sumber
daya alam di Kalsel. Aktivitas pertambangan terbuka yang telah
menghabiskan tutupan lahan mengancam keberadaan daerah aliran
sungai (DAS).

Sekitar 50 persen DAS di Kalsel airnya sudah


keruh, karena pengaruh kegiatan pertambangan
terbuka yang menimbulkan erosi. Secara kasat
mata, akibat pertambangan terbuka di atasnya,
mengakibatkan kondisi DAS di Kalsel cukup
mengkhawatirkan. Banjir pun kerap mengancam.
Akibatnya, saat hujanvdebit air yang melimpah
tidak dapat tertampung lagi, sehingga DAS semakin
menyempit setelah terpengaruh longsoran atau
F. Manfaat
Intan
erosi
tanah dari
atas lahan yang sudah ditambang.
Di gunakan dalam industri sebagai alat
pemotong kaca, pengasah, di pasang pada mata
bor untuk eksplorasi, dan di jadikan batu permata.
Dan sekarang lebih banyak di gunakan sebagai
perhiasan. Seperti kalung, gelang, dan cincin.