Anda di halaman 1dari 22

NORMALISASI SUNGAI

Oleh:
Renaldo ( 325130097 )
Vriky Adiputra ( 325130106 )
Raymond Gosali ( 325130120 )
Billy Ivanko ( 325130124 )
Satya Dharmadi ( 325130134 )

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
2015

Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu, pemanfaatan
lahan di Daerah Aliran Sungai semakin
tidak terkendali. Banyak pengalihan fungsi
lahan, kerusakan aliran akibat erosi,
aktivitas manusia maupun bencana alam.
Akibatnya terjadi penurunan kapasitas
sungai akibat sedimentasi oleh tanah,
tumbuhan, dan lain-lain.

Upaya untuk mengendalikan sedimentasi sungai:


Pembuatan krib
Sabo dam
Dam konsolidasi
Check dam
Kantong Lumpur

Normalisasi Sungai

Definisi
Normalisasi sungai: menciptakan kondisi sungai
dengan lebar dan kedalaman tertentu sehingga
sungai mampu mengalirkan air sehingga tidak
terjadi luapan dari sungai tersebut.
Kegiatan ini berupa membersihkan sungai dari
endapan lumpur dan memperdalamnya agar
kapasitas sungai dalam menampung air dapat
meningkat.
Hal ini dilakukan dengan cara mengeruk sungai
tersebut di titik-titik rawan.

Dampak Positif
Pada dasarnya, normalisasi sungai
dilakukan untuk meningkatkan
kapasitas dari suatu sungai untuk
supaya dapat mengalirkan air hujan
kembali ke laut dengan baik.
Upaya normalisasi apabila dilakukan
secara rutin dan kontinu cukup
efektif dalam mengurangi jumlah dan
luasan genangan banjir.

Dampak Negatif
Dari sisi konservasi sumber daya air, kegiatan
normalisasi sudah pasti merubah morfologi sungai.
Jika morfologi sungai berubah kecepatan dan energi
air bertambah akibatnya air mengalir dengan cepat
menuju laut, dan yang tersimpan sebagai base flow
(aliran dasar) yang akan masuk kedalam sistem aliran
air tanah relatif sedikit.
Dampak tersebut akan sangat dirasakan pada musim
kemarau, dimana sumur menjadi kering. Makaupaya
normalisasi sungai harus memperhatikan rasio debit
pada musim hujan dan musim kemarau (maksimumminimum), jangan sampai perbedaannya (gap) besar.

LANGKAH-LANGKAH NORMALISASI
Menentukkan debit rencana
Memperkirakan volume galian
Menghitung anggaran dan jadwal
pengerjaan

1) Menentukan Debit
Rencana
Dilakukan studi terlebih dahulu
terhadap volume air yang datang
dan luapan yang terjadi sehingga
perlu data berupa:
curah hujan tahunan
profil penampang sungai
data-data banjir,
ataupun kebutuhan irigasi dari desa
yang memakai air sungai tersebut.

2) Memperkirakan Volume Galian


Upaya normalisasi dengan cara
melebarkan dan memperdalam sungai
merupakan langkah tepat.
Bila sungai dilebarkan menjadi dua kali
dari kapasitas semula, maka debitnya
meningkat dua sampai empat kali dari
debit semula.
Demikian pula bila sungai diperdalam dua
kali maka debit (kapasitas tampung) akan
bertambah dua sampai empat kali.

a) diperlebar dua kali (debit hanya naik menjadi 2-4 kali dari debit semula)

b) dikeruk (diperdalam) dua kali tetap akan ada kecendrungan kembali


ke kedalaman semula akibat sedimentasi

Selain itu, Kegiatan normalisasi sungai harus


dilakukan secara holistik dari hulu ke hilir,
jangan hanya pada satu bagian sungai.
Misalnya, jika hanya dilakukan pelebaran
pada bagian hulu atau tengah sungai dan di
bagian hilir tidak dilebarkan dengan alasan
susah dilakukan karena sisi kiri kanan sungai
merupakan hunian padat penduduk, nantinya
akan terjadi terjadi penyempitan alur sungai
dan nampak seperti botol (bottleneck).

3) Menghitung Anggaran dan Jadwal


Pengerjaan
Setelah profil sungai dan volume galian
yang direncanakan telah didapat, maka
kita harus menghitung anggaran biaya
yang perlu dikeluarkan untuk melakukan
normalisasi.
Disini perlu diperhitungkan pula biaya
upaya pembebasan lahan yang mungkin
diperlukan untuk memperoleh daerah
yang akan dijadikan kawasan sempadan
sungai.

Alat-Alat Berat yang


Dibutuhkan

Excavator (untuk menggali tanah)

Pemasang Sheetpile (untuk penahan dinding sungai)

Dump Truck (untuk mengangkut tanah dan sampah galian)

Vibrator Roller (memadatkan tanah di daerah sempadan)

STUDI KASUS

STUDI KASUS

Poin penting dari studi kasus di


atas:
Pada dasarnya sistem drainase di Jakarta
baik karena dirancang secara kapiler
Normalisasi dilaksanakan untuk
menghubungkan sungai-sungai di Jakarta
Penyebab tersumbatnya aliran sungai
adalah PKL dan bangunan liar pada badan
sungai
Ahok melakukan normalisasi secara kontinu
untuk mengatasi sedimen dan sampah
pada sungai-sungai di Jakarta

Kesimpulan:
Normalisasi sungai merupakan salah
satu cara penanganan sementara
terhadap sedimentasi sungai.
Tujuan utama dan prinsip Normalisasi
sungai adalah pengerukan sungai
untuk meningkatkan kapasitas dari
sungai itu sendiri

Saran:
Ada baiknya normalisasi sungai dipakai
sebagai solusi remanen dan bukan solusi
permanen karena harus dilakukan secara
terus menerus.
Normalisasi harus dilakukan secara
kontinu dan menyeluruh bila ingin
mendapatkan hasil yang baik dan tidak
lupa untuk memberikan perkuatan pada
dinding sungai yang dikeruk agar tidak
runtuh.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.wikipedia.org/
http://www.pu.go.id/
http://istiarto.staff.ugm.ac.id/docs/tsungai/
TS08a%20Degradasi-Agradasi%20Dasar%20Sungai.p
df
www.kemdikbud.go.id
ppejawa.com/ekoregion/das-bengawan-solo
jatim.metrotvnews.com/
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/30
/206679727/diduga-tercemar-air-sungai-bengawa
n-solo-berubah-warna
http://www.pu.go.id/uploads/services/infopubl
ik20131206104913.pdf