Anda di halaman 1dari 25

Ukuran Nilai

Baik dan Buruk


dalam Akhlak
Islami
Akhlak Tasawuf
Pend. Kimia B

KELOMPOK
2

Disusun Oleh:
Nadiya Nur Rahmania (1132080054)
Sisca Ayu Verawati (1132080076)
Serli Diana Putri (1122080071)
Syifa Nuratifah (11220800)
Tata (11220800)

Materi
Nama Istilah
Akhlak Baik
dan Akhlak
Buruk

Akhlak
Siapa Yang
Diukur?

Menurut
Perspektif
Filsafat

Ukuran Nilai
Baik Dan
Buruk Dalam
Akhlak Islami

Metoda Dan
Teknik
Pengukuran
Baik Buruknya
Akhlak

Menurut
Ajaran
Islam

Nilai Apa Yang


Dipakai
Mengukur
Baik Dan
Buruk?

Ukuran Nilai Baik dan Buruk


dalam Akhlak Islami
Apa itu
baik dan
buruk?

tu
ai
Ap lai?
Ni

Ap
Ak a i
hl tu
ak
?

1. Substansi yang diukur Akhlak sebagai ilmu/

pengetahuan adalah ilmu


yang bersifat normatif
untuk mengukur sesuatu.
Yang diukurnya bukanlah
perilaku atau perbuatan
dlohir melainkan
perbuatan bathini yang
bersifat abstrak/ psikis
yang tidak nampak, dan
sangat samar-samar
indikatornya nampak pada
perilaku dohir.

Dalam mendefinisikan baik dan buruk, setiap orang pasti


berbeda-beda. Sebab, sumber penentu baik dan benar, yaitu
Tuhan dan manusia; wahyu dan akal; agama dan filsafat. Berikut
ini adalah beberapa perbedaan tersebut.
1. Ali bin Abi Thalib (w. 40 H): kebaikan adalah menjauhkan
diri dari larangan, mencari sesuatu yang halal, dan
memberikan kelonggaran kepada keluarga.
2. Ibnu Maskawaih (941-1030 M): kebaikan adalah yang
dihasilkan oleh manusia melalui kehendaknya yang tinggi.
Keburukan adalah sesuatu yang diperlambat demi mencapai
kebaikan.
3. Poerwadarminta (1904-1958): baik: (1) elok, patut, teratur;
(2) berguna, manjur; (3) tidak jahat; (4) sembuh, pulih; (5)
selamat (tak kurang sesuatu pun). Buruk: (1) rusak atau
busuk; (2) jahat, jelek, kurang baik, tidak menyenangkan.

Baik dan buruk kadang diukur oleh adat. Sebab,


adat istiadat sangat dipengaruhi oleh faktor
geografis dan lingkungan yang berbeda antara
satu dan lainnya.
Sehingga tidak heran jika muncul berbagai aliran
etika yang mempunyai standar masing-masing
dalam menentukan baik dan buruk

Aliran/ Faham Filsafat Nilai yang biasa dipakai mengukur


baik-buruknya sifat atau perbuatan manusia, diantaranya:

1. Aliran Naturalisme
Natiralisme adalah aliran filsafat yang menerima natura sebagai
keseluruhan realitas. Menurut aliran Naturalisme, ukuran baik atau buruk
adalah apakah sesuatu itu sesuai dengan fitrah (naluri) manusia atau
tidak, baik fitrah lahir maupun batin. Apabila sesuai dengan fitrah maka
dikatakan baik, sedangkan apabila tidak sesuai maka dikatakan buruk.
Berikut beberapa pemikiran aliran Naturalisme.
a. Segala sesuatu yang dalam dunia ini menuju pada tujuan tertentu.
b. Hewan mencapai tujuannya melalui naluri, sedangkan manusia
melalui akal.

2. Aliran Hedonisme
Hedonis berasal dari bahasa Yunani, hedone yang
berarti kesenanga atau kenikmatan.
Berikut beberapa pandangan aliran Hedonisme.
a. Setiap perbuatan dikatakan susila apabila perbuatan
itu mengandung kelezatan atau kenikmatan.
b. Kelezatan dan kenikmatan merupakan suatu tolak
ukur dalam menentukan baik-buruknya suatu
perbuatan.

3. Eudaemonisme
Eudaemonisme atau Eudaimonia berasal dari bahasa
Yunani Kuno, eudemonia yang berarti bahagia atau
kebahagiaan yang lebih tertuju pada rasa bahagia.
Menurut Aristoteles (384 322 SM), dalam bukunya,
Nicomedian Ethnics, bahwa dalam setiap kegiatannya,
manusia mengejar suatu tujuan, sedangkan tujuan
tertinggi atau terakhir hidup manusia adalah
kebahagiaan (eudaimonia).

Berikut ini beberapa pandangan aliran Eudaemonisme.


a. Tujuan hidup dan kegiatan manusia adalah
tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan yang
sifatnya hanya sementara.
b. Kesenangan dan kebahagiaan jasmaniah adalah satusatunya hal yang baik dalam dirinya sendiri,
sedangkan kejahatan dianggap sebagai penyebab
utama segala bentuk rasa sakit dan kesedihan.
c. Yang disebut baik secara moral adalah hal-hal yang
mendatangkan kegunaan dan keuntungan dalam
upaya manusia mencapai cita-citanya, yaitu
kebahagiaa dan kesuksesan sementara.

4. Pragmatisme
Pragmatisme dalam bentuk yang umum, adalah pemikiran yang
dipengaruhi kepentingan situasi dan kondisi yang ada. Adapun
yang tidak berubah adalah mempertahankan kepentingan itu
sendiri. Dengan demikian, Pragmatisme adalah pemikiran yang
tidak teratur, sebab kepentingan individu itu tidak teratur.
Aliran ini menitik beratkan pada hal-hal yang berguna dari diri
sendiri, baik yang bersifat moril maupun materiil. Titik
beratnya adalah pengalaman. Oleh karena itu, penganut paham
ini tidak mengenal istilah kebenaran, sebab kebenaran bersifat
abstrak dan tidak akan diperoleh dalam dunia empiris.

6. Idealisme
Aliran ini sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran
manusia.
Tokoh utama aliran ini adalah Immanuel Kant (1725 1804).
Pokok-pokok pandangannya adalah sebagai berikut.
a. Seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena
dianjurkan orang lain, melainkan atas dasar kemauan sendiri
atau rasa kewajiban.
b. Faktor yang paling penting memengaruhi manusia adalah
kemauan yang melahirkan tindakan yang konkret. Adapun
pokoknya adalah kemauan baik.
c. Kemauan yang baik itulah yang dihubungkan dengan suatu hal
yang menyempurakannya, yaitu rasa kewajiban.

5. Vitalisme
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran Naturalisme, sebab
menurut paham Vitalisme, uuran baik dan buruk itu bukan alam,
tetapi vitae atau hidup (yang sangat diperlukan untuk hidup).
Berikut ini beberapa pandangan aliran Vitalisme.
a. Ukuran baik dan buruk adalah daya kekuatan hidup. Manusia
dikatakan baik apabila memiliki daya kekuatan hidup yang kuat,
sehingga memaksa manusia yang lemah untuk mengikutinya.
b. Keburukan adalah apabila manusia tidak memiliki daya
kemampuan kuat yang memaksa manusia untuk mengikuti pola
kehidupan orang lain

7. Eksistensialisme
Etika Eksistensialisme berpandangan bahwa eksistensi
di atas dunia selalu terkait pada keputusan-keputusan
individu. Artinya, andaikan indivudu tidak mengambil
suatu keputusan, pastilah tidak ada yang terjadi.
Ungkapan dari aliran ini adalah Truth is subjectivity
atau kebenaran terletak pada pribadinya, maka
disebutlah baik, dan sebaliknya, apabila keputusan itu
tidak baik bagi pribadinya, maka itulah yang buruk.

8. Utilitarisme
Aliran ini dianggap seagai etika sukses, yaitu etika yang
menilai kebaikan orang lain dari apakan perbuatannya
menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak.
Pokok-pokok pandangannya adalah sebagai berikut.
a. Baik buruknya suatu perbuatan atas dasar besar / kecilnya
manfaat yang ditimbulkan bagi manusia.
b. Kebaikan yang tertinggi (summun bonum) adalah utility
(manfaat).
c. Segala tingkah manusia selalu diarahkan pada pekerjaan
yang membutuhkan manfaat yang sebesar-besarnya.
d. Tujuannya adalah kebahagiaan (happiness) orang banyak.

9. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari bahasa Yunani
deon yang berarti kewajiban. Oleh karena itu,
etika deontologi menekankan kewajiban
manusia untuk bertindak secara baik.
Menurut aliran ini, suatu tindakan dianggap
baik bukan berdasarkan tujuan ataupun tampak
perbuatan itu, tetapi berdasarkan tindakan itu
sendiri.

10. Teologis
Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi
ukuran baik dan buruknya perbuatan adalah
ajaran Tuhan, apakah perbuatan tersebut
diperintah atau dilarang. Segala sesuatu yang
diperintahkan Tuhan adalah baik, sebaliknya,
perbuatan yang dilarang-Nya adalah buruk

Ajaran Islam
Menurut paham ini, penentuan baik dan buruk
dalam ajaran Islam harus didasarkan pada
petunjuk al-Quran dan as-Sunah, yang
menunjukkan bahwa penjelasan tentang sesuatu
yang baik menurut ajaran Islam jauh lebih
lengkap dan komprehensif karena meliputi
kebaikan yang bermanfaat bagi fisik, akal,
ruhani, jiwa, kesejahteraan di dunia dan akhirat,
serta akhlak yang mulia.

Nilai Apa Yang Dipakai Mengukur Baik Dan


Buruk Dalam Ilmu Akhlak?
Dalam Ilmu akhlak (islami); Ukuran benarsalah, baik-buruk, indah-jelek, ukuran utamanya
yang dijadikan sumber nilai atau norma nya
adalah wahyu ( al Quran dan Hadits) serta nilai
lain (dari filsafat maupun tradisi/ hukum, dll.)
selama selaras dan tidak bertentangan dengan
nilai wahyu.

Metoda dan Teknik Pengukuran baik


buruknya Akhlak
Pokok Yang dinilai:
a. motif/ niyat nya
b. Konsistensi motif dengan norma yang dianut
Contoh:1
niyat/ motif
: baik (lillah)
norma/ tindakannya
: suka-suka/ asal-asalan
nilai akhir
: buruk
Contoh: 2
niyat/ motif
: riya
norma tindakan
: sesuai syariat
nilai akhir
: tetap akhlak buruk

(Karena Yang Dinilai Motifnya);


Akhlak Siapa Yang Mudah Diukur?
Akhlak diri sendiri
Akhlak orang lain tidak mudah diukur, hanya
zhanniy , diduga, belum pasti.
Mungkin butuh keahlian khusus untuk menduga dg
lebih tepat, didasarkan kepada:
A) motiv umum (yang mengadat), dan
B) ukuran lazim yang menonjol/ berlebihan dari
biasa

Nama Istilah Untuk Akhlak Baik Dan


Buruk:
Dalam ilmu akhlak dikenal istilah-istilah lain untuk
nama akhlak Baik atau buruk, diantaranya yang
populer:
Akhlak Baik:
Akhlak Karimah = akhlak mulia
Akhlak Munjiyat = akhlak yang unggul (juara);
Akhlak Mahmudah = akhlak terpuji

Akhlak
Akhlak
Akhlak
Akhlak

Buruk:
Sayyiah = akhlak buruk
Muhlikat = akhlak pecundang;
Madzmumah = akhlak tercela

Terimaka
sih

Ada pertanyaan?

Kesimpula
n
Dapat disimpulkan bahwa yang baik itu adalah sesuatu yang
mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang
memberikan kepuasan; sesuatu yang sesuai dengan keinginan;
sesuatu yang mendatangkan rahmat dan memberikan perasaan
senang atau bahagia.
Sedangkan sesuatu yang tidak baik, biasanya kurang dalam
nilai, tidak mencukupi, tidak menyenangkan, tidak dapat
diseujui, tidak dapat diterima, sesuatu yang tercela, dan
bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di
masyarakat.

Aliran/ Faham Filsafat Nilai yang biasa diapakai


mengukur baik-buruknya sifat atau perbuatan manusia,
diantaranya: 1. Aliran Naturalisme
2. Aliran Hedonisme
3. Eudaemonisme
4. Pragmatisme
5. Idealisme
6. Vitalisme
7. Eksistensialisme
8. Utilitarisme
9. Deontologi
10.Teologis
11.Ajaran islam

Anda mungkin juga menyukai