Anda di halaman 1dari 20

Gangguan Distimia

Dhita Aprilia Anjoti


112014104

Definisi Gangguan
Distimia
Gangguan mood yang terdepresi, dengan

karakteristik perjalanan penyakit kronik


dengan onset yang tidak tiba-tiba.

Epidemiologi
Insiden dan prevalensi : Gangguan distimik

memiliki prevalensi 6 % dari keseluruhan


gangguan depresi
Jenis kelamin: masa pubertas dan sesudah
menopause : = sama, masa dewasa :
=2:1
Usia : masa kanak, masuk usia remaja hingga
menginjak usia 20 th.
Faktor psikososial: Menurut Freud orang
rentan terhadap depresi, tergantung secara
oral dan membutuhkan pemuasan narsistik

Etiologi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Faktor biologis
Studi mengenai tidur
Studi neuroendokrin
Faktor psikososial
Freud
Teori kognitif

Perjalanan Penyakit
Usia awitan : seringkali terjadi pada usia

sebelum remaja, yang terus berlanjut hingga


memasuki usia 20-an
Penyesuaian sosial : biasanya memiliki fungsi
sosial yang stabil. Namun seringkali kestabilan
itu terganggu
Perjalanan penyakit: onset gangguan
berlangsung perlahan dimulai sejak akhir
masa kanak atau awal masa remaja

Kriteria Diagnosis
Perlu ada mood yang terdepresi sekurang-

kurangnya 2 tahun (satu tahun untuk anak


dan remaja).
Gejala-gejala tersebut tidak boleh memenuhi
gejala depresi berat. Tidak boleh ada episode
manik atau hipomanik

Kriteria Diagnosis DSM IV


Mood terdepresi sepanjang hari. Sekurang-

kurangnya 2 minggu.
Saat mood terdepresi ditemukan dua atau lebih
gejala berikut:
1) Nafsu makan yang menurun atau makan berlebih
2) Insomnia atau hiperinsomnia.
3) Energy menurun atau lelah
4) Harga diri yang menurun
5) Konsentrasi buruk atau sulit menngambil
keputusan
6) Perasaan putus asa

Selama periode 2 tahun gangguan (1 tahun

untuk anak-anak dan remaja), tidak pernah


bebas gejala criteria A dan B selama lebih
dari 2 bulan pada suatu waktu.
Tidak pernah ada episode depresif berat
selama 2 tahun pertama gangguannya .
Tidak pernah terdapat episode manik, episode
campuran atau episode hipomanik, dan tidak
pernah memenuhi criteria untuk gangguan
siklotimik.

Gangguan tidak terjadi bersamaan dengan

gangguan psikotik kronis.


Gejala bukan merupakan efek fisiologis
langsung dari suatu zat atau suatu kondisi
medis umum.
Gejala menyebabkan penderita bermakna
secara klinis atau gangguan dalam fungsi
social, pekerjaan atau fungsi penting lainnya

Kriteria B DSM IV
Ketika depresi, terdapat tiga (atau lebih) hal berikut:
1. Harga diri atau percaya diri yang rendah, atau rasa tidak
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

adekuat.
Rasa pesimis, hilang harapan, atau putus asa.
Hilang minat atau kesenangan menyeluruh.
Penarikan diri dari sosial.
Letih atau lelah kronis.
Rasa bersalah, terus-menerus memikirkan masa lalu.
Rasa iritabilitas atau marah berlebihan yang subyektif.
Aktivitas, efektivitas atau produktivitas berkurang.
Sulit berpikir, dicerminkan dengan konsentrasi buruk,
memori buruk atau keragu-raguan.

Pedoman Diagnosis
PPDGJ
F34.1 Distimia
Ciri esensial ialah depresi suasana perasaan (mood) yang
berlangsung sangat lama yang tak pernah atau jarang
sekali cukup parah untuk memenuhi criteria gangguan
depresif berulang ringan atau sedang ( F33.0 atau F33.1)
Biasanya mulai dini dalam masa kehidupan dewasa dan
berlangsung sekurang-kurangnya beberapa tahun,
kadang-kadang untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Jika onsetnya pada usia lebih lanjut, gangguan ini sering
kali merupakan kelanjutan suatu episode depresif
tersendiri (F32) dan berhubungan dengan masa
berkabung atau stress nyata lainnya

Tanda dan Gejala


Perubahan dalam pikiran : Sulit berkonsentrasi dan

membuat keputusan.
Perubahan dalam perasaan:Kebanyakan sedih,
Motivasi menurun, merasa lamban dan mudah
lelah,sulit mengontrol amarah, aktivitas tdk
menyenangkan
Perubahan dalam perilaku: apati, tidak nyaman
berhubungan dengan orang lain, selera makan
menurun, menangis secara berlebihan,sering marah
dalam ekspresi kekerasan. Dorongan seksual
menurun, bentuk aktivitas seks yang berkurang
Perubahan dalam kesehatan fisik

Niculescu dan Akisal mengemukakan 2

subtipe gangguan distimik:


1. Distimik anksietas dengan gejala berupa
rasa rendah diri, kegelisahan yang tidak
berarah dan sensitif terhadap penolakan
dalam berelasi dengan orang lain.
2. Distimik anergik dengan gejala energi yang
rendah, hipersomnia dan ahedonia.

Pemeriksaan Status
Mental
Pembicaraan yang terbata-bata dengan

volume suara yang pelan.


Mood yang turun sesuai dengan afek.
Pasien juga memperlihatkan kontak mata dan
ekspresi wajah yang terbatas

Pemeriksaan Fisik
Adanya peningkatan atau penurunan berat

badan (BB) yang bermakna


Temperatur tubuh yang menurun, reflek yang
lambat dan gejala lain untuk hipotiroid. Untuk
hal ini dapat dikonfirmasi dengan
pemeriksaan hormon tiroid.

Diagnosis Banding
1.
2.
3.
4.

Gangguan depresif ringan


Gangguan depresif singkat berulang
Depresi ganda
Penyalahgunaan alkohol dan zat

Penatalaksanaan
Psikoterapi
1. Terapi kognitif
2. Terapi perilaku
3. Psikoterapi berorientasi tilikan
4. Terapi interpersonal
5. Terapi keluarga dan kelompok
Farmakoterapi
6. Anti depresan SSRI, trisiklik antidepresant, monoamine
oksidase inhibitor
7. Psikostimulan
Kegiatan olahraga : aerobik

Tindak Lanjut
Perlunya edukasi bagi pasien bahwa obat

harus dilanjutkan selama 6 bulan sebelum


dosis diturunkan.
Oleh karena penggunaan antidepresan dalam
jangka panjang maka dievaluasi
efektivitasnya. Apabila efektivitasnya kurang
maka obat diganti dengan golongan lainnya.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah
gangguan depresi mayor dan bipolar.
Komplikasi lainnya adalah kecenderungan
untuk bunuh diri dan mortalitas akibat
gangguan fisik yang menyertainya

Prognosis
Prognosisnya bervariasi.
Gangguan distimia dengan adanya

tatalaksana obat antidepresan dan terapi


kognitif dan perilaku akan memperlihatkan
hasil yang baik
Edukasi yang baik terhadap pasien dan
keluarga dapat meningkatkan prognosis yang
baik.

Kesimpulan
Gangguan distimik adalah gangguan mood yang

terdepresi, dikarakteristikan dengan perjalanan penyakit


yang kronik dengan onset yang tiba-tiba.
Gejala distimia:
1. Berfikiran negatif, pesimistik dan berpandangan suram.
2. Mood terdepresi
3. Gelisah
4. Cemas
5. Gejala Neurovegetative
6. Anhedonia
. Terapi dilakukan dengan cara psikoterapi dan
farmakoterapi akan memberikan prognosis yang baik.