Anda di halaman 1dari 33

ANESTESI

UMUM
Andre
Andre Christian
Christian Cundawan
Cundawan
11.2014.096
11.2014.096

Anestesi Umum :
- Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara
sentral disertai dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih
kembali (reversible). Praktek anestesi umum juga termasuk
mengendalikan pernapasanpemantauan fungsi-fungsi vital
tubuh selama prosedur anestesi. Tahapannya mencakup induksi,
maintenance, dan pemulihan.
Komponen ideal anestesi umum
1. Hipnotik
2. Analgesi
3. Relaksasi otot

METODE ANESTESI
1. Parenteral
2. Perektal
3. Perinhalasi

Pilihan cara anestesi :

Umur

Status fisik

Posisi pembedahan

Ketrampilan dan kebutuhan


dokter pembedah

Keterampilan dan pengalaman


dokter anestesiologi

Keinginan pasien

Bahaya kebakaran dan ledakan

Cara pemberian anestesi


umum:

Parenteral (intramuskular/intravena). Digunakan untuk


tindakan yang singkat atau induksi anestesi. Umumnya
diberikan Tiopental, namun pada kasus tertentu dapat
digunakan ketamin, diazepam, dll. Untuk tindakan yang
lama anestesi parenteral dikombinasikan dengan cara
lain.

Perektal. Dapat dipakai pada anak untuk induksi anestesi


atau tindakan singkat.

Anestesi inhalasi, yaitu anestesi dengan menggunakan


gas atau cairan anestesi yang mudah menguap sebagai
zat anestesi melalui udara pernafasan. Zat anestetik
yang digunakan berupa campuran gas (dengan O2) dan
konsentrasi zat anestetik tersebut tergantung dari
tekanan parsialnya. Tekanan parsial dalam jaringan otak
akan menentukan kekuatan daya anestesi, zat anestetik
tersebut dikatakan bila dengan tekanan parsial yang
rendah sudah dapat memberikan annestesi yang
adekuat.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


1. Respirasi
2. Sirkulasi
3. Jaringan
4. Sifat fisik
5. Lain lain
STADIUM ANESTESI
1. Stadium I ( analgesia sampai kesadaran hilang)
2. Stadium II ( sampai respirasi teratur)
3. Stadium III
4. Stadium IV ( henti nafas dan henti jantung)

Tahapan tindakan anestesi


umum

Penilaian dan persiapan pra anestesi

Penilaian pra bedah

Anamnesis (RPS,RPD,RPK,dsb)
PF (head to toe yang berkaitan dengan tindakan
operasi dan anestesi)
PP ( darah, urinalisis, EKG, foto thoraks)
Klasifikasi status fisik oleh ASA
Masukan oral (jadwal puasa)

Premedikasi

Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien

Menghilangkan rasa khawatir


melalui:

Kunjungan pre anestesi


Pengertian masalah yang
dihadapi
Keyakinan akan keberhasilan
operasi

Memberikan ketenangan (sedative)

Membuat amnesia

Mengurangi rasa sakit (analgesic


non/narkotik)

Mencegah mual dan muntah

Memudahkan atau memperlancar induksi

Pemberian hipnotik sedative atau narkotik

Mengurangi jumlah obat-obat anestesi

Pemberian hipnotik sedative atau narkotik

Menekan refleks-refleks yang tidak


diinginkan (muntah/liur)

Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan


lambung

Pemberian antikolinergik atropine, primperan,


rantin, H2 antagonis

Mengurangi rasa sakit

Obat Premedikasi yang sering


digunakan

Analgesik narkotik

Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2


mg/kgBB

Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1


mg/kgBB

Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 13gr/kgBB

Sedatif

Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg),


dosis 0,1 mg/kgBB

Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15


mg),dosis 0,1mg/kgBB

Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg),


dosis 2,5 mg/kgBB

Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg),


dosis 0,1 mg/kgBB

Analgesik non narkotik

Ponstan

Tramol

Toradon

Hipnotik

Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2

Anti emetic

Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25


mg),dosis 0,001 mg/kgBB

DBP

Narfoz, rantin, primperan

INDUKSI ANASTESI
STATICS:

S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope,


pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.

T : Tube Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan > 5
tahun dengan balon (cuffed).

A : Airway Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring
(naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk
menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.

T : Tape

I : Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang mudah
dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.

C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia

S : Suction

Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

penyedot lender, ludah danlain-lainnya

OBAT ANESTESI INTRAVENA

Natrium Tiopental (tiopental,pentotal)


Tiopental berupa bubuk kuning yang bila akan digunakan dilarutkan
dalam air menjadi larutan 2,5% atau 5%. Indikasi pemberian tiopental
adalah induksi anestesi umum, operasi/tindakan yang singkat(reposisi
fraktur, insisi, jahit luka, dilatasi serviks, dan kuretase), sedasi pada
analgesi regional, dan untuk mengatasi kejang-kejang eklampsia atau
epilepsi. Kontra indikasinya adalah status asmatikus, syok, anemia,
disfungsi hepar, asma bronkial, miastenia gravis dan riwayat alergi
terhadap tiopental. Keuntungan penggunaan tiopental adalah induksi
mudah dan cepat, tidak ada delirium, masa pemulihan cepat, tidak
ada iritasi mukosa jalan napas. Sedangkan kerugiannya adalah dapat
menyebabkan depresi pernapasan, depresi kardiovaskuler, cenderung
menyebabkan spasme laring, relaksasi otot perut kurang dan bukan
analgetik.

Ketamin
Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic.
Indikasi pemakaian ketamin adalah prosedur dengan pengendalian
jalan napas yang sulit, prosedur diagnosis, tindakan ortopedi, pasien
resiko tinggi, tindakan operasi sibuk, dan asma. Kontra indikasinya
adalah tekanan sistolik 160 mmHg dan diastolik 100 mmHg, riwayat
penyakit serebrovaskular, dan gagal jantung.

Droperidol (dehidrobenzperidol, droleptan)


Droperidol adalah turunan buturofenon dan merupakan antagonis
reseptor dopamin. Obat ini digunakan sebagai premedikasi (antiemetik
yang baik) dan sedasi pada anestesi regional. Obat anestetik ini juga
dapat digunakan untuk membantu prosedur intubasi, bronkoskopi,
esofagoskopi, dan gastroskopi. Droperidol dapat menimbulkan reaksi
ekstrapiramidal yang dapat diatasi dengan pemberian diphenhidramin.

Diprivan (diisopropil fenol, propofol)


Propofol adalah campuran 1% obat dalm air dan emulsi berisi 10%
minyak kedelai, 2,25% gliserol, dan lesitin telur. Propofol menghambat

Anestetik inhalasi

MAC(minimal alveolar
concentration), konsentrasi alveoli
minimal . Definisi MAC minimal
adalah konsentrasi alveoli pada
tekanan 1 atmosfer yang dapat
mencegah 50% pasien saat
dilakukan stimulus pembedahan

Macam anestesi inhalasi :

Eter

Halotan

Enfluran

Desfluiran

Isofluran

Sevofluran

Metoksifluran

Nitrous oksida

Xenon

OBAT ANESTESI INHALASI


Dinitrogen Oksida (N2O/ gas gelak)

N2O merupakan gas yang tidak berwarna, berbau


manis, tidak iritatif, tidak berasa, lebih berat dari
pada udara, tidak mudah terbakar/meledak dan tidak
bereaksi dengan soda lime absorber (pengikat CO2).
Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam
kombinasi N2O:O2 yaitu 60%:40%, 70%:30%, dan
50%:50%. Dosis untuk mendapatkan efek analgesik
digunakan dengan perbandingan 20%;80%, untuk
induksi 80%:20%, dan pemeliharaan 70%:30%.

Halotan

Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau


enek, tidak iritatif, mudah menguap, tidak mudah
terbakar/meledak, tidak bereaksi dengan soda
lime, dan mudah diuraikan cahaya. Halotan
merupakan obat anestetik dengan kekuatan 4-5
kali eter atai 2 kali kloroform. Keuntungan
penggunaan halotan adalah induksi cepat dan
lancar, tidak mengiritasi jalan nafas,
bronkodilatasi, pemulihan cepat, proteksi
terhadap syok, jarang menyebabkan
mual/muntah. Kerugiannya adalah sangat poten,
relatif terjadi over dosis, analgesi dan relaksasi
yang kurang, harus dikombinasika dengan obat
analgetik dan relaksan, harga
mahal,menimbulkan hipotensi, aritmia, dll.

Etil Klorida

Merupakan cairan tidak berwarna, sangat


mudah menguap, dan mudah terbakar.
Anestesi dengan etil klorida cepat terjadi
namun cepat hilang. Induksi dapat dicapai
dalam 0,5-2 menit dengan waktu
pemulihan 2-3 menit sesudah pemberian
anestesi dihentikan. Etil klorida sudah
tidak dianjurkan digunakn sebagai anestesi
umum. Sebagai anestesi lokal etil klorida
digunakan dengan cara disemprotkan pada
kulit sampai beku.

Eter (Dietil Eter)

Merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau


kkhas, mengiritasi saluran napas, mudah terbakar/meledak,
tidak bereaksi dengan soda lime absorber, dan dapat terurai
oleh udara serta cahaya. Eter merupakan obat anestesi
yang sangat kuat sehingga pasien dapat memasuki tiap
tingkat anestesi. Keuntungan penggunaan eter adalah
mudah didapat dan murah, tidak perlu digunakan bersamasama dengan obat-obat lain karena telah memenuhi trias
anestesi, cukup aman dengan batas keamanan yang lebar,
dal alat yang digunakan cukup sederhana. Kerugiannya
adalah mudah terbakar/meledak, bau tidak enak,
mengiritasi jalan napas, menimbulkan hipersekresi kelenjar
ludah, menyebabkan mual dan muntah serta masa
pemulihannya cepat. Jumlah eter yang dibutuhkan
tergantung dari berat badan dan kondisi pasien, kebutuhan
dalamnya anestesi dan teknik yang digunakan.

Enfluran (ethran)

Merupakan obat anestetik eter berhalogen berbentuk


cairan, mudah menguap, tidak mudah terbakar, tidak
bereaksi dengan soda lime. Induksi dengan enfluran
cepat dan lancar. Oabt ini jarang menimbulkan mualdan
muntah serta masa pemulihannya cepat.

Isofluran (forane)

Merupakan eter berhalogen, berbau tajam dan tidak


mudah terbakar. Keuntungan penggunaan isofluran
adalah irama jantung stabil dan tidak terangsang oleh
adrenalin serta induksi dan masa pulih anestesi cepat.

Sevofluran

Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen


yang paling disukai untuk induksi inhalasi, induksinya
enak dan cepat terutama pada anak.

Induksi per rectal

Cara ini hanya untuk


anak atau bayi
menggunakan
thiopental atau
midazolam.

Induksi mencuri

Dilakukan pada anak atau bayi yang


sedang tidur. Induksi inhalasi biasa
hanya sungkup muka tidak kita
tempelkan pada muka pasien, tetapi
kita berikan jarak beberapa
sentimeter, sampai pasien tertidur
baru sungkup muka kita tempelkan

Obat relaksan

Succinylcholine

Dosis yang diperlukan untuk menimbulkan blok pada 95 % penderita (ED95) pada
otot adductor pollicis adalah 0,3 - 0,5 mg / kg. Sedangkan dosis efektif yang
menimbulkan efek pada 50 % penderita (ED50) adalah 0,2 - 0,3 mg / kg. Pada
kedua keadaan tersebut, pemberian obat anestesi inhalasi akan menyebabkan
penurunan dosis. waktu paruhnya sekitar 2-4 menit

Pancuronium bromide

Pancuronium diberikan dengan dosis 0,1 mg/kg. 15-40 % dari jumlah yang
diberikan akan mengalami proses deasetilisasi menjadi 3-OH, 17-OH, atau 3,17OH pancuronium. Obat ini sebagian besar diekskresi dalam bentuk asalnya, 46%
melalui urine dan 5-10% melalui empedu setelah 24 jam pertama. Sisanya
dieksrkresi melalui urine setelah diubah menjadi metabolit hasil diasetilisas

Vecuronium

Vecuronium mempunyai rumus bangun yang menyerupai pancuronium,


namun mempunyai masa kerja yang lebih singkat, sekitar setengah kali masa kerja
pancuronium Dosis awal yang dibutuhkan adalah 0,1 mg/kg dan dapat
ditingkatkan sampai 0,3 mg/kg, namun dosis 0,15 mg/kg sudah cukup untuk
memberikan efek blok dengan mula kerja 1-2 menit setelah pemberian sebagai
sarana intubasi trakhea. ED dari obat ini adalah 50 m g/kg dan akan mempunyai
mula kerja yang lebih singkat pada anak-anak, namun akan memanjang pada bayi
dan orang tua karena adanya penurunan bersihan plasma. Masa kerjanya dengan
dosis pemeliharaan 0,1 mg/kg

KONTRA INDIKASI ANESTESI UMUM

Mutlak :dekomp.kordis derajat III IV : AV


blok
derajat II total
2. Relatif ; hipertensi berat/tak terkontrol, DM
tak
terkontrol, infeksi akut, sepsis, GNA
1.

TEHNIK ANESTESI UMUM


I. SUNGKUP MUKA (fask mask) nafas spontan
Indikasi
> Tindakan singkat ( - 1 jam )
> Keadaan umum baik ( ASA I II )
> Lambung harus kosong
Prosedur
1. Siapkan peralatan dan kelengkapan obat
anestetik
2. Pasang infus
3. Premedikasi + / 4. Induksi
5. Pemeliharaan

II.

INTUBASI ENDOTRAKEA DG NAFAS SPONTAN


Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube)
endotrakea (ET= endotrakheal tube) kedalam trakea
via oral atau nasal
Indikasi ; operasi lama, sulit mempertahankan airway
Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan

III INTUBASI DENGAN NAFAS KENDALI (KONTROL)


1. Tehnik sama dengan diatas
2. Obat pelumpuh otot non depolar
3. Pemeliharaan, obat pelumpuh otot dapat
diulang pemberiannya

Paska Pembedahan
> Periode sangat penting
> Observasi dan monitor tanda vital
> Pengendalian nyeri
> Hipoksia
> Pengembalian keruangan

JALAN NAFAS PADA ANESTESI UMUM


> Airway bebas dan nafas lancar
> Guedel atau ET
> Hati-hati obstruksi
Tanda-tanda obstruksi parsial :
1. Stridor
2. Retraksi otot-otot dada
3. Nafas paradoksal
4. Kembang kempis balon lemah
5. Nafas makin berat
6.Sianosis

Tanda-tanda obstruksi total


1. Retraksi lebih jelas
2. Gerak paradoksal lebih jelas
3. Kerja otot meningkat
4. Sianosis lebih cepat timbul
Sebab-sebab obstruksi
1. Lidah jatuh
2. Lendir jalan nafas
3. Spasme laring

Langkah-langkah Penanggulangan
Langkah 1
a. Kepala ekstensi
b. Triple airway manouver
Langkah 2
a. Pengisapan lendir
b. Cegah aspirasi
c. Tredelenburg
Langkah 3
a. Pasang infus
b. Posisi tetap ekstensi

Bila langkah 1,2 dan 3 obstruksi (+)


Kemungkinan ada spasme laring.
Pada anestesi umum anestesi dangkal

Tindakan selanjutnya :
a. Ventilasi dibantu dan dalamkan anestesi
b. Berikan obat pelemas otot
Bila cara diatas gagal dipertimbangkan
Langkah 4, 5 dan 6

Langkah 4

Intubasi trakea ; sulit dan traumatis, pakai pelemas


otot, nafas harus dikendalikan

Langkah 5

Krikotirotomi ; bila alat intubasi (-) atau intubasi tak


mungkin dilakukan
Caranya : tusukan jarum besar misalnya No.14
diantara tulang rawan krikoid tiroid cegah asfiksia

Langkah 6

Trakeostomi bukan tindakan sangat darurat


Indikasi : pasien yang membutuhkan bantuan nafas
jangka panjang ; obstruksi jalan nafas karena tumor,
stenosis ; operasi tumor dekat jalan nafas

pernafasan
3. Cegah aspirasi
4. Pengisapan sekret
5. Ventilasi mekanik jangka lama
6. Mengatasi obstruksi laring
7. Anestesi umum pada operasi dengan nafas
kontrol,
operasi posis miring, tengkurap dll
Persiapan
1. Persiapan alat-alat yang dibutuhkan seperti
laringoskop,
ET, stilet dll
2. Masih siap pakai / atau alat bantu nafas
3. Obat-obat induksi seperti ; pentotal, ketalar, diprivan
dll
4. Obat-obat pelumpuh otot seperti suksinil kolin,
trakrium,
pavulon dll
5. Obat darurat seperti ; adrenalin (efinefrin ), SA &

Tehnik Intubasi
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama kira-kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendo
rong kepala sedikit ekstensi mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit
demi sedikit, menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
6. Cari epiglotis tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah beng
kok) atau angkat epiglotis ( pada bilah lurus )
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dari
luar )
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah
9. Masukan ET melalui rima glotis
10. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu
nafas ( alat resusitasi )