Anda di halaman 1dari 34

Referat

HIFEMA
Oeh :
Adrian Reza Fahlevi, S.Ked
Fandi samsudin, S.Ked
Rara Siti Aisyah, S.Ked
Pembimbing :
dr. Sri Subekti, Sp.M, M.Sc
dr. Iva Rini Aryani, Sp.M, M.Sc

Kepaniteraan Klinik Bagian Mata


Fakultas Kedokteran Unizar
RSUD dr. R. Soedjono Selong

Pendahuluan
Hifema

adalah suatu keadaan di


mana di dalam bilik mata depan
ditemukan darah.

Insidensi

dilaporkan sebanyak 17-24


kasus per 100.000 populasi.

Puncak

isnidensi
adalah
usia
dibawah 20 tahun (Khan et al.,
2007).

: perempuan 20 : 4 per
100.000 populasi.

laki-laki

Mayoritas

pasien (80%) dengan


hifema oleh trauma. (Walton et al.,
2002)

Apabila

hifema tidak mengurang


dalam 5 hari dan tekanan bola mata
meninggi

pembedahan
mengeluarkan darah dari bilik mata
depan (parasentesis). (Ilyas, 2010)

Anatomi dan Fisiologi Mata

Mata

adalah suatu struktur sferis


berisi cairan yang dibungkus oleh
tiga lapisan yaitu, lapisan fibrosa
(sklera, kornea), lapisan
vaskulosa (khoroid, badan siliar,
iris), lapisan nervosa (retina).
Sedangkan isi bola mata terdiri
dari Lensa,uvea, badan kaca dan
retina.

a. Sklera
Sklera

merupakan jaringan ikat


protektif yang kuat disebelah
luar, yang membentuk bagian
putih mata.

b.Kornea
Kornea,

lapisan luar anterior yang


transparan tempat lewatnya berkasberkas cahaya ke interior mata.
kornea terdiri atas lima lapisan :
1. Epitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descemen
5. Endotel

c. Koroid
Koroid

merupakan lapisan tengah


di bawah sklera yang sangat
berpigmen dan mengandung
banyak pembuluh darah untuk
memberi makan retina, lapisan
koroid di sebelah anterior
mengalami spesialisasi menjadi
badan siliaris dan iris.

d. Lensa
Merupakan

badan yang bening,


bikonveks dengan ketebalan
sekitar 5 mm dan berdiameter 9
mm pada orang dewasa.
Permukaan lensa bagian
posterior lebih melengkung
dibanding bagian anterior.

e. Uvea
Uvea

merupakan jaringan yang


lunak terdiri dari 3 bagian yaitu
iris, badan siliar dan koroid.

f. Badan Kaca
Mengisi

sebagian besar bola


mata dibelakang lensa, tidak
berwarna, bening dan
konsistensinya lunak.

g. Retina
Retina,

lapisan paling dalam dibawah koroid.


Terdapat 10 lapisan retina, diantaranya :
1. Membran limitan dalam
2. Lapisan serabut saraf
3. Lapisan sel ganglion
4. Lapisan pleksiform dalam
5. Lapisan nukleus dalam
6. Lapisan pleksiform luar
7. Lapisan nukleus luar
8. Membran limitan luar
9. Lapisan batang dan kerucut
10. Lapisan epitel pigmen

Definisi Hifema
Hifema

adalah akumulasi darah


pada kamera okuli anterior pada
mata.
Hifema dapat terjadi akibat trauma
tumpul yang merobek pembuluh
darah iris atau badan siliar
Mikrohifema sel darah merah
yang bersirkulasi pada aqueous
humor di bilik mata depan, tanpa
(Balatay,
tampaknya darah (kasat 2008)
mata)

Epidemiologi

Etiologi dan patofisiologi


Hifema

dapat terjadi akibat trauma


tumpul atau laserasi, atau setelah
operasi intraocular.
dapat terjadi secara spontan pada
kondisi seperti rubeosis iridis
Hifema juga berkaitan dengan
penggunaan zat yang dapat
mempengaruhi platelet atau fungsi
thrombin (seperti ethanol,aspirin,
warfarin). (Walton et al., 2002)

Berdasarkan penyebabnya,
hifema terbagi menjadi tiga yakni:
Hifema

Gambaran Klinis

Harus dilakukan pemeriksaan secara


teliti keadaan mata luar. Untuk
kelainan yang ditemukan seperti
(Ilyas, 2009):
Laserasi

kelopak

Ekimosis
Proptosis
Enoftalmos
Fraktura

yang disertai gangguan


pada gerakan mata

Klasifikasi
Hifema diklasifikasikan berdasarkan jumlah
darah pada bilik mata depan yaitu (Balatay,
2008):
Stadium

1: darah memenuhi < 1/3 bilik mata

depan
Stadium 2: darah memenuhi 1/3-1/2 bilik mata
depan
Stadium 3: darah memenuhi hingga hampir
seluruh bilik mata depan
Stadium 4: darah memenuhi seluruh bilik mata
depan, yang dikenal dengan black ball atau 8ball hyphema.

Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatan hifema
ditujukan untuk (Ilyas, 2009):
Menghentikan perdarahan atau mencegah
perdarahan ulang
Mengeluarkan darah dari bilik mata depan
Mengendalikan tekanan bola mata
Mencegah terjadinya imbibisi kornea
Mengobati uveitis bila terjadi akibat
hifema
Menemukan sedini mungkin penyulit
yang mungkin terjadi

Untuk kasus ringan, penatalaksanaan dapat


meliputi terapi konservatif, seperti:
Membatasi

aktivitas pasien
Melakukan penutupan mata dengan eye
patch atau eye cover
Melakukan elevasi kepala 30-45o.
Memberikan sedasi, terutama pada pasien
pediatri yang hiperaktif.
Pemberian analgesik, apabila dirasakan nyeri
yang ringan dapat diberikan asetaminofen,
atau nyeri yang cukup berat dapat diberikan
kodein.
Pemantauan berkala (setiap hari) tentang
tajam penglihatan, tekanan intraokular, serta
regresi hifema.

Untuk mencegah atrofi papil saraf optik


dilakukan pembedahan bila (Ilyas, 2009):
Tekanan bola mata maksimal > 50
mmHg selama 5 hari
Tekanan bola mata maksimal > 35
mmHg selama 7 hari
Untuk mencegah sinekia anterior perifer
dilakukan pembedahan bila (Ilyas, 2009):
Hifema total bertahan selama 5 hari
Hifema difus bertahan selama 9 hari

Pasien diindikasikan rawat inap


jika:
Pasien

mengalami hifema derajat


Ii atau lebih, sebab berpotensi
terjadinya perdarahan sekunder
Merupakan sickle cell trait
Terjadi trauma tembus okuli
Pasien yang tidak patuh terhadap
pengobatan
Pasien yang memiliki riwayat
glaukoma

Pasien akan menjalani bedah


apabila terdapat:
Corneal

blood staining
Riwayat sickle cell trait, dengan tekanan intraokular di atas 24
mmHg lebih dari 24 jam
Hifema dengan derajat lebih dari 50% COA selama 9 hari atau
lebih.
Hifema total, dengan tekanan intraokular lebih dari 50 mmHg
selama 4 hari atau lebih meskipun sudah mendapatkan terapi
medik secara maksimal
Hifema total atau hifema dengan derajat >75% COA, dengan
tekanan intraokular lebih dari 25 mmHg selama lebih dari 6
hari meskipun sudah mendapatkan terapi medik secara
maksimal
Untuk

mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila


(Ilyas, 2009)
Tekanan bola mata rata-rata > 25 mmHg selama 6 hari
Bila terlihat tanda-tanda dini imbibisi kornea

Komplikasi
Prognosis

visual dan komplikasi


biasanya buruk pada hifema total
dibanding dengan hifema subtotal

Pemulihan

tajam penglihatan (lebih dari


20/50) pada pembersihan hifema terjadi
pada 104/137 (76%) pasien

pada

total hifema, pemulihan tajam


penglihatan terjadi hanya pada 7/20
(35%) pasien. (Walton et al., 2002)

Peningkatan Tekanan Intraokular


Pada

hifema traumatik, tekanan intraocular dapat


terjadi akibat:
a. oklusi anyaman trabekular oleh bekuan darah
b. penutupan pupil akibat bekuan darah baik pada bilik
mata depan dan belakang.

Sinekia Anterior Perifer


Hifema persisten lebih dari 1 minggu dapat
menyebabkan pembentukan sinekia anterior
perifer.
Insidensi dari sinekia anterior perifer meningkat
dengan ukuran dan durasi hifema lebih dari 8 hari.
Pembentukan sinekia merupakan hasil dari
inflamasi atau pembentukan bekuan darah.
(Walton et al., 2002)

Atrofi Diskus Optik

Pada hifema traumatik, atrofi


diskus optik dapat terjadi akibat
peningkatan tekanan intraokular.
Atau karena kontusi nervus optikus.
dicirikan dengan pucatnya papil
tanpa glaucomatous cupping.

Imbibisi Kornea

Insidensi imbibisi kornea yang berkaitan


dengan trauma berkisar antara 2-11%.

Imbibisi kornea dapat terjadi pada


hifema dalam area yang luas,
perdarahan sekunder, durasi bekuan
darah yang panjang, dan disfungsi
endotel kornea. (Walton et al., 2002)

Prognosis
bergantung

pada jumlah darah di dalam


bilik mata depan.
Bila darah sedikit dalam bilik mata
akan hilang dan jernih dengan sempurna.
darah lebih dari setengah tingginya bilik
mata depan prognosis buruk dan akan
disertai dengan beberapa penyulit.
Hifema yang penuh di dalam bilik mata
depan prognosis lebih buruk dibanding
hifema sebagian.

Penyulit lain hifema :


Glaukoma

sekunder : terutama
pada hifema total, terjadi akibat
reses sudut pada 10% kasus
kontusi.

Gejala

hifema sekunder: timbul


rasa sakit baru pada mata,
hifema segar baru di dalam bilik
mata depan, terlihat garis darah
mengalir pada iris.

Kesimpulan
Hifema

adalah suatu keadaan di mana di


dalam bilik mata depan ditemukan darah.
Hifema dapat terjadi akibat trauma tembus,
trauma tumpul, spontan
Klasifikasi hifema berdasarkan jumlah darah
dalam bilik mata depan
Hifema ditatalaksana dengan tirah baring
posisi 30-60, pemberian agen antifibrinolitik,
steroid, agen yang menurunkan tekanan
intraocular, dan parasentesis apabila terdapat
indikasi seperti darah tidak direabsorbsi
setelah 5 hari, atau terjadi peningkatan
tekanan intraokular yang menetap.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

Balatay, A., Ibrahim, HR., 2008. Traumatic hyphema: a study of 40 cases.


Iraq: Dohuk Medical Journal Volume 2 Number 1.
Ilyas S. 2011. Ilmu Penyakit Mata. edisi keempat. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
Ilyas, Sidarta. 2009. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kanski JJ, Bowling B. 2011. Clinical ophtalmology. Seventh edition.
Philadelphia: Elsevier Saunders
Khan BS., Hussain I., Nawaz A., 2007. Management of Traumatic Hyphema
With Raised Intraocular Pressure. Peshawar: Pak Journal of Ophtalmology
Volume 23 Number 4.
Riordan-Eva P, Whitcher JP. 2004. Vaughan & asburys general
ophtalmology. 16th edition. New York: McGraw Hill
Sheppard, JD. 2013. Hifema pada www.emedicine.medscape.com . diakses
pada tanggal 9 September 2016.
Walton W., Hagen SV., Grigorian R., Zabin M., 2002. Management of
Traumatic Hyphema. USA: Survey of Ophtalmology Volume 47 Number 4.

Terima kasih
Thank you