Anda di halaman 1dari 17

BUDAYA

ANTIKORUPSI

Program Diploma I Kepabeanan dan Cukai


Politeknik Keuangan Negara STAN

Pengertian Umum
Korupsi:
Dalam bahasa Latin disebut corruptio dari kata kerja corrumpere yang memiliki banyak
makna seperti busuk, merusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyuap.
Korupsi: suatu tindakan pejabat publik, baik politisi, pegawai negeri, yang
menyalahgunakan kekuasaannya mengambil atau mengakali hak milik orang lain demi
kepentingannya sepihak sehingga dapat merugikan banyak kalangan masyarakat
Contoh:

perbuatan melawan hukum,


penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan),
penggelapan dalam jabatan,
pemerasan dalam jabatan,
ikut serta dalam pengadaan
menerima gratifikasi

Dalam arti yang luas, korupsi adalah penyalahgunaan jabatan atau kekuasaan resmi
untuk keuntungan pribadinya sendiri.

Pengertian Umum
Kolusi:
Suatu perbuatan yang tidak jujur atau kecurangan
dalam melakukan kesepakatan khusus secara diamdiam atau tersembunyi dengan melakukan penyuapan
sebagai pelancar atau pelicin agar segala urusannya
bisa berjalan lancar tanpa hambatan.
Contoh:
Penyuapan agar diterima menjadi PNS
Penyuapan dalam mencuci nilai rapor sekolah
Penyuapan agar diterima di sekolah negeri favorit

Pengertian Umum
Nepotisme
Berasal dari kata Latin nepos, yang memiliki arti
"keponakan" atau "cucu".
Nepotisme adalah sikap pilih kasih dengan lebih
mementingkan anak, kerabat, atau orang terdekat dalam
segala urusan sehingga tidak memandang nilai atau
kemampuan seseorang yang tidak dekat dengannya .
Contoh:
Seorang Gubernur mengangkat semua anggota keluarganya
menjadi penjabat pemerintahan di provinsi yang dipimpinnya ,
sehingga tdak menilai para orang yang lebih layak berda di
posisi itu.

Deklarasi Arusha

Setiap strategi untuk mengendalikan tindak korupsi di lingkungan Administrasi


kepabeanan harus sesuai dengan semangat dan tujuan Deklarasi Arusha.
Deklarasi Arusha (Tanzania, 7 Mei 1993) merupakan wujud pengakuan WCO
bahwa korupsi merupakan masalah yang semakin berkembang dan faktor yang
merusak di dalam setiap masyarakat.
Korupsi mengakibatkan Bea dan Cukai tidak berhasil mencapai misi yang
diembannya. Deklarasi Arusha dimaksudkan untuk mengembalikan citra baik
administrasi pabean sehingga mampu menjamin terwujudnya tingkat integritas
dan profesionalisme aparatnya.
Deklarasi Arusha terdiri dari 12 faktor utama yang dimaksudkan untuk
meningkatkan integritas berisi rekomendasi upaya yang harus dilakukan untuk
mengidentifikasi, mencegah dan menangani masalah korupsi dan menjadi dasar
program peningkatan integritas serta strategi integritas yang saling berhubungan.
Deklarasi Arusha memberikan dasar-dasar praktis bagi administrasi kepabeanan
untuk membuat, mengembangkan dan melaksanakan strategi peningkatan
integritas dan pengendalian tindak korupsi.

Korupsi

Dasar Hukum: UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan


Tindak Pidana Korupsi, bahwa para penyelenggara negara
(Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif) wajib melaporkan kekayaannya
pada saat pengangkatan baru dan setelah mengakhiri jabatan selaku
penyelenggara negara.
Empat topik permasalahan yang biasanya dilontarkan para
pengguna jasa kepabeanan:
1. Ketidakjelasan besarnya biaya pengurusan kepabeanan yang disebabkan
banyaknya cost, baik yang resmi maupun tidak resmi yang harus
dikeluarkan;
2. Ketidakpastian waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan prosedur
kepabeanan;
3. Kegagalan Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai dalam memberantas
penyelundupan dan mengatasi pelanggaran pabean lainnya di pelabuhan;
4. Bocornya penerimaan negara.

Korupsi

Faktor pendorong korupsi:


1.
2.
3.
4.

Lemahnya sistem dan prosedur administrasi pemerintahan


Lemahnya pengawasan oleh pihak independen
Lemahnya kemampuan SDM
Kurangnya kesejahteraan aparat pemerintahan

Segala bentuk penerimaan pemberian dengan imbalan


meninggalkan tugas negara (kewajiban kepada
masyarakat) dan terjadi secara tertutup adalah tindak
korupsi.
3 kategori korupsi di lingkungan institusi kepabeanan:
penyuapan (bribery), nepotisme (nepotism) dan
penyalahgunaan (misappropriation).

Definisi Korupsi

Undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Korupsi, Bab II, Pasal 2, ayat (1), tindak korupsi adalah:
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara,
..
Pasal 3, termasuk tindak korupsi adalah: Setiap orang yang dengan
tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Korupsi menurut sumber referensi internasional adalah:
Penyalahgunaan kewenangan dan sumber daya untuk kepentingan
pribadi. (sumber : Deklarasi Lima 1997; Deklarasi Colombus 1994)

Definisi Korupsi

Pengertian korupsi selanjutnya berarti :


bekerja sama dengan pihak lain, baik secara sendiri-sendiri
atau bersama-sama, untuk mengambil keuntungan dengan
melakukan perbuatan yang menyebabkan negara mengalami
kerugian.
berarti menyelewengkan atau menggelapkan harta milki
negara untuk keuntungan pribadi atau pihak lain.
berarti perbuatan yang hanya memberikan keuntungan pada
keluarga, teman-teman, kerabat dan seterusnya, yang dapat
merugikan negara.

Definisi Korupsi

Elemen kunci terjadinya korupsi:


1. Terdapat kegiatan meninggalkan tugas negara (kewajiban
kepada masyarakat);
2. Menerima segala bentuk pemberian sebagai imbalan; dan
3. Terjadi secara rahasia/ tertutup

Penyebab Terjadinya Korupsi

1.Terdapat monopoli kekuasaan, misalnya : keputusan clearance barang di


pelabuhan tidak dapat diberikan kepada instansi lain.
2.Terdapat discretionary power (kewenangan diskresi) yang terlalu besar
dimana dengan kekuasaan itu dapat menentukan nasib pengguna jasa,
misalnya : dengan dimilikinya kewenangan untuk membuat professional
judgement terhadap dokumen PIB ataupun barang penumpang.
3.Tidak terdapatnya penilaian akuntabilitas kinerja yang memadai.
4.Tingginya tingkat toleransi terhadap korupsi.
5.Rendahnya penegakan hukum yang mengakibatkan rendahnya hukuman
yang dijatuhkan.
6.Rendahnya risiko yang ditanggung oleh pelaku.
7.Rendahnya gaji dan insentif yang legitimate.
8.Belum dipatuhinya kode etik dan perilaku dengan baik.

Konsekuensi Terjadinya Korupsi


1.Berkurangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah
2.Berkurangnya tingkat kepercayaan dan kerjasama antara DJBC dengan instansi
penegak hukum lainnya
3.Rendahnya semangat kerja aparatur pemerintah (termasuk pegawai Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai), terutama apabila wibawa pemerintah sudah sedemikian
rendahnya di mata masyarakat
4.Meningkatnya cost pada masyarakat yang dapat menghambat pertumbuhan
ekonomi
5.Berkurangnya tingkat kepatuhan masyarakat
6.Kebocoran penerimaan negara
7.Tidak efektifnya perlindungan kepada masyarakat terhadap lalu lintas perdagangan
barang yang berbahaya dan merusak lingkungan, sosial dan budaya, serta
keamanan negara
8.Timbulnya hambatan dalam perdagangan internasional yang berdampak pada
berkurangnya kepercayaan para investor karena tidak adanya jaminan keamanan
investasinya.

Gratifikasi

Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni


meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount),
komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas
penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma,
dan fasilitas lainnya apabila berhubungan dengan
jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau
tugasnya dilarang menurut undang-undang.

Ketentuan Pidana

Suap Menyuap:
Apabila pegawai negeri atau penyelenggara negara yang
menerima pemberian atau janji dan berbuat atau tidak
berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan
kewajibannya maka dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan
atau pidana denda paling sedikit Rp.50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah).

Ketentuan Pidana

Suap Menyuap:
Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau
janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah itu janji tersebut
diberikan untuk menggerakkan agar melakukan untuk tidak melakukan
sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau
pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal
diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai
akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan
sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya,
hukumannya dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit
Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp.250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Ketentuan Pidana

Gratifikasi
Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh
tahun), dan pidana denda paling sedikit Rp.200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)

TERIMA
KASIH