Anda di halaman 1dari 10

KONFLIK INDUSTRIAL

Konflik industrial merupakan suatu realitas social yang


tidak pernah dan akan pernah berhenti sepanjang dalam
masyarakat ada dua kelompok yang memiliki kepentingan
yang berbeda. Sebagimana Marx menjelaskan bahwa
selama dalam masyarakat terdapat dua kelompok dalam
relasi produksi ini, yaitu kelompok yang memiliki/pemilik
dan kelompok yang tidak memiliki/bukan pemilik (struktur
kelas), maka pemisahan antara kelompok sosial yang
menghasilkan profit (dan karenanya menguasai kapital)
dan kelompok sosial yang hanya mampu menjual tenaga
kerjanya saja menentukan hubungan kelas, itulah yang
menjadi basis terjadinya eksploitasi dan konflik sosial
dalam masyarakat modern.

Marx mengakui bahwa konflik bersumber dari perubahan


yang terjadi dalam Model produksi (mode of production),
komunis primitif, kuno, feodal, kapitalis dan komunis. Model
produksi (mode of production) terdiri atas kekuatan produksi
(forces of production) dan hubungan/relasi produksi
(relations of production). Kekuatan produksi meliputi sarana
produksi (means of production) yaitu bahan mentah dan alat
produksi (instrument of production) atau sarana/alat produksi
yang mengolah. Kekuatan produksi menghasilkan komoditas
yang dibutuhkan masyarakat pada waktu itu, dan kekuatan
produksi ini akan menentukan bentuk hubungan/relasi
produksi. Hanya ada dua kelompok dalam relasi produksi ini,
yaitu kelompok yang memiliki/pemilik dan kelompok yang
tidak memiliki/bukan pemilik. Inilah yang oleh Marx disebut
struktur kelas.
Jones, Pip, Pengantar Teori-Teori Sosial :
Dari Teori Fungsionalisme Hingga Post-modern, Jakarta,
Yayasan Obor Indonesia, 2009; 78

Pemisahan antara kelompok sosial yang menghasilkan


profit dan karenanya menguasai kapital- dan kelompok
sosial yang hanya mampu menjual tenaga kerja saja,
menentukan hubungan kelas, yang menjadi basis
eksploitasi dan konflik sosial dalam masyarakat modern.
Di dalamnya menyangkut relasi sosial : pertama,
hubungan-hubungan produksi yang bersifat primer seperti
hubungan buruh dan majikan; kedua, hubungan-hubungan
produktif yang bersifat sekunder seperti serikat buruh,
asosiasi pemilik modal dan pola-pola dasar kehidupan
keluarga yang berkaitan erat dengan sistem produksi
kapitalistik; ketiga, hubungan-hubungan politik dan sosial
yang bersumber dari hubungan produksi primer dan
sekunder, lembaga-lembaga pendidikan, dan lembagalembaga sosial lainnya yang mencerminkan hubungan
buruh dan majikan. Itulah pandangan teori Marxian.

Sementara konflik adalah terbangunnya


hubungan-hubungan beberapa pihak
dalam arena dan struktur sosial tertentu
akibat adanya perbedaan kepentingan
dan tujuan sebagai bentuk
penerjemahan kebutuhan yang
diperjuangkan secara individual dan
maupun kolektif (Susan, 2009, Bartos
and Wehr, 2003; Burton, 1990)
Susan,
Novri; Sosiologi Konflik & Isu-isu Konflik
Kontempore, Jakarta, Kencana Prenada
Media Group. 2009)

Dahrendorf berpendapat bahwa, konflik


hadir dalam masyarakat dan konteks
wilayah sosial (social field) yang mana
ada hubungan-hubungan sosial khusus
seperti arena sosial pertentanggaan,
arena sosial sekolah, arena sosial
perkantoran, dan arena sosial industri.
Dahrendorf menyebutnya sebagai
integrated into a common frame of
reference (Dahrendorf, 1959: 165).

Ralf Dahrendorf melalui buku


fenomenalnya mengenai Conflict and
Industrial Conflict (1959)
memperlihatkan bagaimana konflik
industrial terbangun melalui proses dari
ketidakpuasan individual buruh, menuju
pada ketidakpuasaan kolektif yang tidak
teroganisir, dan sampai pada tingkat
pengorganisasian ketidakpuasan kolektif
buruh dalam rangka perjuangan untuk
mencapai tujuan.

Akar masalah konflik (the root causes of conflict) bisa dikatakan


sebagai sebab yang paling mendasar dari munculnya
hubungan-hubungan konflik dan dinamika yang dikarakteri oleh
berbagai bentuk strategi konflik. Perspektif structural dalam
sosiologi konflik memiliki pandangan bahwa akar masalah
konflik selalu berkaitan dengan kekuasaan (power) dan angka
kepentingan di dalamnya (Rubenstein, 1996). Kekuasaan secara
sosiologis dimanifestasikan pada bentuk wewenang legal
formal, dan modal-modal ekonomi dan budaya. Walaupun
demikian dalam konteks konflik industrial, kekuasaan lebih
didefiniskan oleh wewenang leghal formal negara dan modal
ekonomi pasar. Kekuasaan legal formal negara yang mampu
menciptakan regulasi bekerjasama dengan kekuasaan ekonomi
pasar yang bisa menentukan keberhasilan ekonomi suatu
negara. Pada pengertian struktural ini, bisa dilihat bagaimana
dua kekuasaan tersebut melakukan perselingkuhan untuk
kepentingan dan tujuan masing-masing pemegang kekuasaan.

Dalam konteks hubungan industri,


kekuasaan yang hanya menguntungkan
diri sendiri dan mengabaikan fakta
hubungan-hubungan kerja memiliki
kecenderungan menciptakan kekerasan
(Sale, 2003).

Pada saat negara dan pasar menggunakan kekuasaan


mereka untuk menciptakan kekerasan dalam bentuk
pemberian upah yang kecil dan tiadanya jaminan
keselamatan kerja pada para buruh, yang terjadi adalah
proses respon dalam bentuk kekerasan juga. Akibatnya pola
hubungan konflik adalah conflict spiral, suatu kondisi yang
membuat para pihak berkonflik terus melakukan aksi
balasan. Pada kasus-kasus aksi buruh yang muncul dalam
bentuk anarkisme, perusakan kantor perusahaan, dan
berbagai bentuk aksi kekerasan pada pengertian ini tidak
lebih dari respon terhadap praktek kekerasan pemerintah
dan perusahaan terhadap buruh.
Camara, Dom Helder, Spiral Kekerasan, Resist Book,
Jogjakarta, 2005