Anda di halaman 1dari 26

SERAYU SELATAN

Menurut Van Bemmelen (1949), berdasarkan


sifat fisiografinya, Jawa Tengah dibagi menjadi 6
bagian, yaitu:
1. Endapan Vulkanik Kuarter
2. Daratan Aluvium Jawa Utara
3. Antiklinorium Bogor, Rangkaian

Pegunungan Serayu Utara dan Kendeng


4. Zona Pusat Depresi Jawa Tengah
5. Kubah dan Pegunungan Pusat Depresi,
Rangkaian Pegunungan Serayu Selatan
6. Pegunungan Selatan Jawa Barat dan Jawa
Timur

Fisiografi

STRATIGRAFI

OAF

Batuan Pratersier
Kompleks Mlange Luk Ulo (Sukendar Asikin,

1974 dalam Prasetyadi 2010).


Graywake, sekis, lava basalt berstruktur
bantal, gabbro, batugamping merah, rijang,
lempung hitam yang bersifat serpihan dimana
semuanya
merupakan
campuran
yang
dikontrol oleh tektonik.
Batuan tertua yang tersingkap di zona
pegunungan serayu selatan, mempunyai umur
kapur tengah sampai denga paleosen

Formasi Karangsambung
kumpulan endapan olisostrom, terjadi akibat

pelongsoran gaya berat di bawah permukaan


laut, melibatkan endapan sedimen yang belum
terkompaksi yang berlangsung pada lereng
parit di bawah pengaruh endapan turbidit.
Diendapkan diatas bancuh Luk Ulo,
Terdiri dari konglomerat polimik, lempung abuabu, serpih, dan beberapa lensa batugamping
foraminifera besar. Hubungan tidak selaras
dengan batuan Pratersier.

Formasi Totogan
Harloff (1933) dan Tjia HD (1996)

menamakan sebagai tuf napal I, sedangkan


Suyanto & Roksamil (1974) menyebutnya
sebagai lempung breksi.
Litologi berupa breksi dengan komponen
batulempung, batupasir, batugamping,
napal, dan tufa.
Berumur oligosen-miosen awal, dan
berkedudukan selaras diatas formasi karang
sambung.

Formasi Waturanda
Fomasi ini terdiri dari batupasir vulkanik dan

breksi vulkanik
Berumur miosen awal-miosen tengah
yang berkedudukan selaras diatas formasi
totogan.
Formasi ini memiliki anggota Tuff, dimana
Harloff (1933) menyebutnya sebagai Eerste
Merger Tuff Horizon.

Formasi Penosogan
Formasi ini terendapkan selaras diatas

formasi waturanda,
Tersusun dari perselingan batupasir,
batulempung, tufa, napal, dan kalkarenit.
Ketebalan formasi ini 1000 meter,
umur miosen awal-miosen tengah.

Formasi Halang
Menindih selaras di atas formasi Penosogan
litologi
terdiri
dari
perselingan
batupasir,

batulempung, napal, tufa dan sisipan breksi.


Merupakan kumpulan sedimen yang dipengaruhi oleh
turbidit bersifat distal sampai proksimal pada
bagian bawah dan tengah kipas bawah laut.
Umur miosen awal-pliosen.
Anggota Breksi Halang, Sukendar Asikin menamakan
sebagai formasi breksi II dan berjemari dengan
formasi Penosogan. Namun Sukendar Asikin (1974)
meralat bahwasanya Anggota Breksi ini menjemari
dengan Formasi Halang (dalam Prasetyadi, 2010)

Formasi peniron
Peneliti terdahulu menamakan sebagai horizon

breksi III.
Formasi ini menindih selaras diatas formasi
halang dan merupakan sedimen turbidit
termuda
yang
diendapkan
di
Zona
pegunungan serayu selatan.
Litologinya terdiri dari breksi aneka bahan
dengan komponen andesit, batulempung,
batupasir dengan masa dasar batupasir
sisipan
tufa,
batupasir,
napal,
dan
batulempung.

Batuan vulkanik muda


Memiliki hubangan yang tidak selaras dengan

semua batuan yang lebih tua dibawahnya.


Litologi terdiri dari breksi dengan sisipan
batupasir tufan, dengan komponen andesit dan
batupasir yang merupakan bentukan aliran
lahar pada lingkungan darat.
Berdasarkan ukuran komponen yang
membesar kearah utara menunjukkan arah
sumber di utara yaitu Gunung Sumbing
Berumur plistosen (Dari berbagai sumber
dalam Prasetyadi, 2010)

(modifikasi dari Prasetyadi, 2007)

Tektonostratigrafi Kenozoikum Zona Serayu (dikompilasi dari Asikin dkk., 1992a; Asikin dkk., 1992b;
Condon dkk., 1996; Djuri dkk., 1996; Lunt et al., 2009; Hall, 2012).Formasi Pemali yang seumur dengan
Formasi Tapak tidak dimasukkan karena sebarannya menempati Zona Bogor

Zona Serayu Selatan memiliki batuan-batuan pra-Tersier


dan Paleogen yang tersingkap ke permukaan di daerah
Karangsambung. Kompleks Luk-Ulo yang berumur Kapur
Akhir, serta Formasi Karangsambung dan Formasi
Totogan yang berumur Paleogen, terbentuk oleh proses
longsoran gravitasional laut dalam pasca kolisi antara
Sundaland dan lempeng kontinen mikro Jawa Timur
(Hall, 2012), dimana fragmen aneka bahan (batuan
metamorfik, batuan beku, batuan sedimen laut)
bercampur-bancuh dalam massa dasar batulempung.

Pembentukan Serayu (Husein


2013)

Oligosen Akhir (b) cekungan belakang busur terbentuk di Zona Serayu Utara, dengan
pengendapan gaya-berat Wora-Wari terbentuk di bagian tepi selatannya.Pada Miosen
Awal (c) naiknya genang laut memicu terendapkannya Formasi Rambatan menutupi WoraWari. Proses re-sedimentasi akibat gaya-berat menghasilkan banyak struktur slump.

Pada Miosen Tengah (d) proses


magmatisme Serayu Selatan
berhenti, diduga terganggu
oleh proses rotasi Sundaland
yang baru berjalan. Jawa
Tengah
mulai
mengalami
pemendekan
(shortening).Kondisi
genang
laut maksimum (highstand)
mendorong
pertumbuhan
batugamping terumbu Formasi
Kalipucang.Pada Miosen Akhir
(e)
terbentuk
dua
busur
vulkanik (double-arc) di Zona
Serayu,
dengan
reaktifasi
vulkanisme Serayu Selatan
dan munculnya vulkanisme
Serayu Utara.Beban dari tubuh
gunungapi
Serayu
Utara
menekan Formasi Rambatan
dan
Wora-Wari
sehingga
mereka bergerak ke arah luar
dari
tepi
cekungan.Akibat
rotasi
dan
shortening,
Karangsambung
mulai
terangkat dan terlipat.

Pada Pliosen (f) terjadi


perubahan
tataan
subduksi akibat proses
rotasi Sundaland yang
kembali berlanjut dan
disertai
pemendekan/kompresi.
Sekali lagi magmatisme
dan vulkanisme Jawa
Tengah berhenti, dan
pengendapan
Formasi
Tapak
berlangsung.Karangsam
bung
dan
Wora-Wari
terus
terangkat.Pada
Plistosen (g) vulkanisme
Serayu Utara kembali
aktif.Beban dari tubuh
gunungapi
kembali
menekan
Formasi
Rambatan dan WoraWari sehingga mereka
bergerak naik ke arah
selatan.Lembah Serayu
(Zona Serayu sensustricto)
terbentuk
diantara
tinggian
Karangsambung
dan
WoraWari.Perkembanga
n selanjut kala Holosen
ditandai
dengan
intensitas
denudasi
yang sangat tinggi, baik
di
Serayu
Selatan
maupun
di
Serayu