Anda di halaman 1dari 35

NURUL FITRIYAH

ETIOLOGI
Salmonella typhi
Mempunya 3 antigen:
Antigen O (tubuh kuman)
Antigen H (flagela kuman)
Antigen Vi (simpai kuman)
Mati pada pemanasan 57 C selama

beberapa menit

CARA PENULARAN

PATOGENESIS

MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi 10-14 hari
Gejala minggu pertama :
Demam
Nyeri kepala
Nyeri otot
Anoreksia
Mual
Muntah
Obstipasi atau diare

Minggu kedua:

- demam
- Bradikardi relatif (peningkatan suhu 11C tidak diikuti
peningkatan denyut nadi 8x permenit)
Lidah berselaput
Hepatomegali
Splenomegali
Gangguan kesadaran

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan Rutin
Anemia ringan
Trombositopenia
LED
Leukopeni
Uji Widal

dilakukan untuk menentukan adanya aglutinin dalam


serum penderita.

Anglutinin O dan aglutinin H yang digunakan

untuk diagnosis
Pembentukan aglutinin terjadi pada akhir minggu
pertama demam
Terus meningkat dan mencapai puncak pada
minggu ke empat dan tetap tinggi selama beberapa
minggu.

Faktor yang mempengaruhi uji widal:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengobatan dini dengan antibiotik


Gangguan pembentukan antibodi, dan pemberian
kortikosteroid
Waktu pengambilan darah
Daerah endemik atau non-endemik
Riwayat vaksinasi
Reaksi anamnestik

Kultur Darah

Hasil biakan positif demam tifoid


Hasil negatif palsu disebabkan:
1. Telah mendapat terapi antibiotik
2. Volume darah kurang (5cc darah)
3. Riwayat vaksinasi
4. Pengambilan darah setelah minggu pertama

Tes Typhidot
mendeteksi antibodi total (IgM dan IgG) S.Typhy.
Tes Typhidot M
mendeteksi IgM
sensitivitas dan spesitifitas tinggi

PENATALAKSANAAN
Istirahan dan Perawatan
tirah baring absolut minimal 7 hari bebas demam

( 14 hari)
Posisi tubuh harus diawasi untuk mencegah
dekubitus dan pneumonia ortostatik.

Diet
Hindari makanan yang tinggi serat (rendah

selulose) seperti: Tepung gandum,sayuran


hijau,agar-agar
Antimikroba

Antimikroba yang sering digunakan:


kloramfenikol
Dosis: 4 x 500mg per hari, diberikan secara per
oral/ IV
diberikan sampai dengan 7 hari bebas demam

Tiamfenikol

Dosis 4 x 500mg
demam rata-rata menurun pada hari ke-5 sampai
ke-6
Kotrimoksazol

Dosis dewasa 2 x 2 tablet (1 tablet mengandung


sulfametoksazol 400mg dan 80mg trimetoprim)
diberikan selama 2 minggu

Sefalosporin Generasi Ketiga

Dosis 3-4gram dalam dextrosa 100cc, diberikan


selama jam perinfus sekali sehari, diberikan
selama 3-5 hari.
Golongan Fluorokuinolon

Norfofloksasin dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari


Siprofloksasin dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
Ofloksasin dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari

Pengobatan Demam Tifoid pada Wanita Hamil


Kloramfenikol

tidak dianjurkan pada trimester ke-3 kehamilan


karena dapat terjadi partus prematur, kematian fetus
intrauterin, dan grrey syndrome pada neonatus.
tiamfenikol
tidak dianjurkan pada trimester pertama kehamilan
karena kemungkinan efek teratogenik terhadap
fetus.
obat yang dianjurkan: ampisilin, amoksisilin, dan
seftriakson.

Ekstra-Intestinal
- Perdarahan
usus gagal sirkulasi perifer, miokarditis
Kardiovaskular:

PENCEGAHAN
1. Identifikasi dan eradikasi S.Typhi
Aktif : mendatangi sasaran pengelolaan sarana
makanan-minuman, pelayanan masyarakat
(petugas kebersihan,guru, petugah kesehatan)
Pasif : menunggu bila ada penerimaan pegawai suatu
instansi atau swasta
2. Pencegahan transmisi langsung
Dilakukan di RS, klinik, maupun dirumah dan
lingkungan sekitar orang yang telah diketahui
pengidap kuman S. Typhy

3. Proteksi
Vaksinasi tifoid di daerah endemik maupun
hiperendemik
Indikasi vaksinasi:
a. Hendak mengunjungi daerah endemik
b. Orang yang terpapar denagn penderita karier tifoid
c. Petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan

Jenis vaksin
Vaksin oral: -Ty21a (vivotif Berna) diberikan 3

kali secara bermakna menurunkan 66% selama 5


tahun.
efek samping: demam, sakit kepala
Vaksin parental: -ViCPS (Typhim Vi/Pasteur
Merieux).
efek samping: demam,malaise,sakit kepala.

Tindakan preventif berdasar lokasi daerah:


Daerah non-endemik. Tanpa ada kejadian outbreak

- sanitasi air dan kebersihan lingkungan


- Penyaringan pengelola pembuatan/distributor/
penjualan makanan/minuman
- pencarian dan pengobatan kasus tifoid karier
Bila ada kejadian epidemi tifoid:
- pencarian dan eliminasi sumber penularan
- pemeriksaan air minum
- penyuluhan higiene dan sanitasi pada populasi
umum

Daerah endemik

- memasyarakatkan pengelolaan bahan makanan


dan minuman yang memenuhi standar prosedur
kesehatan (perebusan >57
C, iodisasi, dan
klorinisasi)
- pengunjung ke daerah ini harus minum air yang
telah melalui pendidihan, menjauhi makanan
segar(sayur/buah)
- Vaksinasi secara menyeluruh pada masyarakat
setempat maupun pengunjung

Laporan Kasus

Identitas
Nama

: Sdr.R
Umur
: 19 tahun
Alamat
: Lap Bakti
Ruang
: Zaal Laki
Tanggal Masuk : 5 Juli 2014 jam 01.00 wib
Tanggal Keluar : Juli 2014

Anamnesis
Keluhan Utama : Demam
Keluhan Tambahan : Pusing
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan

demam sekitar sehari sebelum masuk rumah sakit. Demam terus


menerus sepanjang hari. Menggigil (-), batuk (-), pilek (-), mual
(-), muntah (-), pusing (+), badan terasa sakit. Orang tua pasien
sempat memberikan paracetamol, demam turun kemudian naik
lagi.
Riwayat Penyakit Dahulu : Demam dengue (-), Malaria (-), Tifoid
(-)
Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga dengan keluahan yang
sama (-), demam dengue (-), malaria (-).

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Lemah
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : Tekanan Darah : 150/100 mmHg

Nadi: 120x/menit
Suhu : 39,80C
Respirasi : 22x/menit
Status Umum
Kepala : Konjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-), reflex cahaya
(+/+), isokor, bibir kering (-), lidah kotor (-)
Leher: Pembesaran limfonodi (-), JVP meningkat.
Paru
Inspeksi : Dada simetris (+), ketinggalan gerak (-), retraksi (-).
Palpasi : Ketinggalan gerak (-), vokal fremitus kanan=kiri, tidak
ada massa.
Perkusi : Seluruh lapang paru sonor.
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan ronki
(-/-), wheezing (-/-).

basah kasar

Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak.
Palpasi : Iktus cordis teraba.
Perkusi : Batas jantung kiri atas SIC II prasternalis
Batas jantung kanan atas SIC II parasternal dextra
Batas jantung kiri bawah SIC V linea midclavicula
sinistra
Batas jantung kanan bawah SIC IV parasternal dextra
Auskultasi : S1-S2 reguler, bising (-).
Abdomen
Inspeksi : Simetris, massa (-), sikatrik (-), venektasi (-).
Auskultasi : Bising usus (+) N.
Palpasi : Supel, nyeri tekan (+) di epigastrik, massa (-).
Perkusi : Timpani (+), asites (-).
Ekstremitas : Deformitas (-), edema (-), sianosis (-), akral hangat (+).

Hasil Lab

5 Juli 2014

7 Juli 2014

Nilai Normal

Satuan

Hemoglobin

10,0

14-18

gr/dl

Leukosit

9.200

4.800-10.800

/ul

Malaria

Negatif

Negatif

Widal

Negatif

Typi H 1/80
Typi O 1/320

Diagnosis
Demam Tifoid

Terapi
Inf RL 20 tpm
Inj Ranitidin 2x1 amp
Inj Cefixim 2x1 gr
Paracetamol 3x500 mg
Lansoprazol 1x30 mg

Follow Up
5 Juli 2014
S : demam (+), pusing
(+), mual (-),
muntah (-), menggigil
(-), nyeri BAK (-)
O : KU : CM
TD : 100/70
N/S : 87/38
A : Demam tifoid
P : terapi lanjut

6 Juli 2014
S : demam (+), pusing
(+), mual (-),
muntah (+), menggigil
(+) malam, nyeri perut
(+)
O : KU : CM
TD : 100/70
N/S : 87/38
A : Demam tifoid
P : terapi lanjut

7 Juli 2014
S : demam (+), pusing
(+), mual (+),
muntah (-), menggigil
(-), nyeri perut (+)
O : KU : CM
TD : 110/70
N/S : 85/37,7
Typi H 1/80
Typi O 1/320
A : Demam tifoid
P : Inj Cefixime 2x1 gr

8 Juli 2014
S : demam (-), pusing
(+) berkurang, mual
(-), muntah (-),
nyeri ulu hati (+)
O : KU : CM
TD : 120/70
N/S : 87/37,6
A : Demam tifoid
P : terapi lanjut

9 Juli 2014
S : demam (+), pusing
(+), mual (+),
muntah (-), nyeri perut
(+)
O : KU : CM
TD : 110/70
N/S : 87/38
A : Demam tifoid
P : terapi lanjut

10 Juli 2014
S : demam (-), pusing
(-), mual (-), muntah (-),
nyeri perut (-)
O : KU : CM
TD : 120/80
N/S : 80/36,8
A : Demam tifoid
P : BLPL
Ciprofloxacin 2x500
Ponconeuron 1x1

Pembahasan
Berdasarkan anamnesis gejala pada pasien sesuai

dengan gejala minggu pertama demam tifoid, yaitu


demam, nyeri kepala, nyeri otot, mual, muntah.
Dari hasil pemeriksaan widal didapatkan aglutinin O
1/320 dan aglutinin H 1/80.
Pasien didiagnosis mengalami demam tifoid dan
mendapatkan terapi antibiotik injeksi cefixime selama
dirumah sakit dan ciprofloxacin untuk obat lanjutan
dirumah.

Terima kasih