Anda di halaman 1dari 14

Latar Belakang

Etika,

Moral, Hukum
Hukum merupakan entitas yang
sangat komplek, meliputi kenyataan
kemasyarakatan yang majemuk,
mempunyai banyak aspek, dimensi
dan fase. Hukum berakar dan
terbentuk dalam proses interaksi
berbagai aspek kehidupan politik,
ekonomi, sosial, budaya, teknologi,
keagamaan dan lain lain.

Kompleksitasnya

permasalahan hukum,
menyebabkan hukum dapat dipelajari
dari berbagai sudut pandang, maka
lahirlah berbagai disiplin hukum di
samping filsafat hukum dan ilmu
hukum, misalnya sejarah hukum,
sosiologi hukum, antropologi hukum,
perbandingan hukum, psikologi hukum
dan sekarang yang sedang tumbuh
adalah politik hukum. Kesemua disiplin
hukum tersebut merupakan ilmu bantu
yang dimanfaatkan untuk membantu
perkembangan dan analisis hukum
(untuk dapat menggali dan menjelaskan
apa sesungguhnya hukum itu dan
bagaimana proses terbentuknya).

POLITIK HUKUM
PENGERTIAN :
Politik Hukum adalah kemauan atau
kehendak negara terhadap hukum.
Artinya:untuk apa hukum itu diciptakan, apa
tujuan penciptaannya dan kemana arah
yang hendak dituju
Politik Hukum adalah kebijakan pemerintah
mengenai hukum mana yang akan
dipertahankan, hukum mana yang akan
diganti, hukum mana yang akan direvisi dan
hukum mana yang akan dihilangkan

Moh.

Mahfud MD, Politik Hukum merupakan


kebijaksanaan hukum (legal policy) yang akan
atau telah dilaksanakan pemerintah secara
nasional. Hal ini mencakup pula pengertian
tentang bagaimana politik mempengaruhi
hukum dengan cara melihat konfigurasi
kekuatan yang ada di belakang pemuatan dan
penegakan hukum. Hukum tidak dapat hanya
dipandang sebagai pasal pasal yang bersifat
imperatif atau keharusan keharusan yang
bersifat das sollen, melainkan harus dipandang
sebagai subsistem yang dalam kenyataan (das
sein) bukan tidak mungkin sangat ditentukan
oleh politik, baik dalam perumusan materi dan
pasal pasalnya maupun dalm implemntasiya
dan penegakannya

Hukum dapat dikaji dan difahami melalui berbagai


pendekatan, seperti pendekatan politik, budaya, sosiologi,
filsafat, pendekatan sistem dsb. Pendekatan mana yang
akan digunakan sangat tergantung pada kepentingan
analisis.
Dilihat dari pendekatan politik, hukum dipandang sebagai
produk atau output dari proses politik atau hasil
pertimbangan dan perumusan kebijakan publik ( product of
political decision making; formulation of public policy).
Namun disamping hukum sebagai produk pertimbangan
politik, dikenal pula politik hukum (legal policy) yakni garis
atau dasar kebijakan untuk menentukan hukum yang
seharusnya berlaku dalam negara.
Di negara demokrasi, masukan (inputs) yang menjadi bahan
pertimbangan untuk penentuan hukum bersumber dari dan
merupakan aspirasi masyarakat yang disalurkan melalui
wakil-wakil rakyat yang kemudian diproses sehingga muncul
sebagai outputs dalam bentuk peraturan hukum. Oleh
karena itu para wakil rakyat dituntut memiliki kemampuan :

berkomunikasi dengan masyarakat


keterbukaan
vokal
membuat rumusan atau artikulasi atas usulan rakyat
penguasaan pengetahuan dasar dan pengalaman

KONSTITUSI
ASPIRASI
RAKYAT
(Kemerdekaan, Keadilan,
Kesejahteraan,
Pengakuan dan
Penjaminan Hak,
Kewarganegaraan,)

RESPON
BALIK

BENTUK
DAN
SALURAN
ASPIRASI

GERAKAN
SOSIAL,
WACANA,
AKSI-AKSI
KOLABORATIF,
DLL.
KEBIJAKAN

(: no land policy is policy)

POLITIK
FORMAL
(PARLEMEN)

REGULASI
(UNDANGUNDANG)
PERATURAN
DAN BERBAGAI
TURUNANNYA

KAPITALISME,
Pemburu rente
BENTUK
DAN
SALURAN
ASPIRASI

RESPON
BALIK

GERAKAN
SOSIAL,
WACANA,
AKSI-AKSI
KOLABORATIF,
DLL.
KEBIJAKAN

(: no land policy is policy)

POLITIK
FORMAL
(PARLEMEN)

REGULASI
(UNDANGUNDANG)
PERATURAN
DAN BERBAGAI
TURUNANNYA

Hukum itu bukan merupakan tujuan, akan tetapi hanya


merupakan jembatan yang akan harus membawa kita
Berbicara
kepada
ide yangpolitik
dicita-citakan
hukum berarti berbicara

soal legal and policy of the state.


Untuk mengetahui politik hukum suatu
negara pertama kali yang harus dilihat
atau dipahami adalah Konstitusi dari
negara yang bersangkutan, setelah itu
peraturan pelaksanaannya.
Untuk mengetahui politik hukum negara
Indonesia di era reformasi, maka
pertama kali yang harus dipahami
adalah UUD tahun 1945 pasca
perubahan beserta peraturan
perundang-undangan pelaksanaanya

OBYEK POLITIK HUKUM


Hukum menjadi obyek politik,
yaitu obyek dari politik hukum
Politik sebagai determinan
atas hukum
Berbeda dengan metode lain
yang menyatakan bahwa
hukum adalah determinan
atas politik

Melihat

hukum dari sisi yuridis sosiopolitis, yakni menghadirkan sistem


politik sebagai variabel yang
mempengaruhi rumusan dan
pelaksanaan hukum.
Menurut Mahfud suatu proses dan
konfigurasi politik rezim tertentu
sangat berpengaruh terhadap produk
hukum.
Dalam negara demokratis produk
hukumnya bersifat responsif atau
populistik, sedangkan dalam negara
yang otoriter produk hukumnya
bersifat ortodok atau konservatif.

Pada

konfigurasi politik demokratis, karakter produk


hukumnya adalah responsif/populistik yang
diartikan sebagai produk hukum yang
mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi
harapan masyarakat. Dalam proses pembuatannya
memberikan peranan besar dan partisipasi penuh
kelompok-kelompok sosial atau individu-individu di
dalam masyarakat. Hasilnya bersifat responsif
terhadap tuntutan-tuntutan kelompok sosial atau
individu dalam masyarakat.
Sementara konfigurasi politik otoriter akan
melahirkan produk hukum
konservatif/ortodoks/elitis yaitu produk hukum yang
isinya lebih mencerminkan visi sosial elit politik,
lebih mencerminkan keinginan pemerintah, bersifat
positivis-instrumentalis, yakni menjadi alat
pelaksana ideologi dan program negara.
Berlawanan dengan hukum responsif, hukum
ortodoks lebih tertutup terhadap tuntutan-tuntutan
kelompok maupun individu-individu di dalam
masyarakat. Dalam pembuatannya peranan dan
partisipasi masyarakat relatif kecil.

No.

Perihal

Tipe menindas

Tipe Otonom

1.

Tujuan Hukum

Ketertiban

Kesahan

2.

Legitimasi

3.

Peraturan

4.

Panalaran

Ad hoc; sesuai keperluan dan


partikularistik

Mangikat diri secara ketat


kepada hukum; peka terhadap
formalisme dan legalisme

5.

Diskresi

Merata; Oportunistik

Dibatasi oleh peraturan


peraturan; pendelegasian sangat
terbatas

6.

Pemaksaan

Luas sekali; pembatasannya lemah

7.

Moralitas

Moralitas komunal ; moralitas


hukum; moralitas pemaksaan

8.

Kaitan Politik

9.

Harapan terhadap
Kepatuhan

Hukum ditundukkan kepada


politik kekuasaan
Tidak Bersyarat; ketidakpatuhan
dengan begitu saja dianggap
menyimpang

Hukum bebas dari politik;


pemisahan kekuasaan
Bertolak dari peraturan yang
sah, yaitu menguji kesahan UU,
peraturan

10.

Partisipasi

Tunduk dan patuh; kritik


dianggap tidak loyal

Dibatasi oleh prosedur yang


ada; munculnya kritik hukum

Pertahanan Sosial dari Raison


detat
Kasar dan Terperinci ; tetapi
hanya mengikat pembuat peraturan
secara lemah

Menegakkan Prosedur
Sangat Terurai; mengikat
pembuat maupun mereka yang
diatur

Dikontrol oleh pembatasan


pembatasan hukum
Moralitas kelembagaan, yaitu
diikat oleh pemikiran tentang
integritas dari proses hukum

Contoh kasus
Undang-Undang

Pemilu, UndangUndang Pemerintahan Daerah dan


Undang-Undang Keagrariaan
UU ini dianalisis dan dibandingkan,
bagaimana ketiga UU tersebut
dihasilkan oleh tiga fase konfigurasi
politik yang berbeda yaitu pada
masa demokrasi liberal, demokrasi
terpimpin dan masa orde baru.