Anda di halaman 1dari 40

AKUNTANSI

TRANSAKSI
MUDHARABAH

KELOMPOK 4

Konsep Dasar Transaksi Mudharabah

Mudharabah adalah

akad kerjasama usaha


antara dua pihak
pihak

pertama (Shahibul Mal) menyediakan


seluruh modal,

pihak

lainnya (Mudharib) sebagai pengelola.

Keuntungan usaha. Dibagi sesuai dengan


kesepakatan dalam kontrak.
Kerugian; -Bukan kelalaian pengelola, akan
ditanggung oleh pemilik modal.
-Akibat kecurangan pengelola,
sepenuhnya akan ditanggung oleh
pengelola.

I. Fatwa DSN no: 07/DSN-MUI/IV/2000


tentang MUDHARABAH (Qiradh)

1.
2.

3.

4.

Ketentuan yang diatur :


Pertama : Ketentuan Pembiayaan
Pembiayaan Mudharabah
Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul mal
(pemilik dana) membiayai 100% kebutuhan usaha,
sedangkan pengusaha (nasabah) sebagai
mudharib.
Jangka waktu usaha, tata cara pengembalian dana,
dan pembagian keuntungan ditentukan
berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha
yang telah disepakati bersama dan sesuai dengan
syariah, dan LKS tidak ikut serta dalam manajemen
usaha tapi memiliki hak untuk melakukan
pembinaan dan pengawasan.

5. Jumlah pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam


bentuk tunai dan bukan piutang.
6. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian
akibat mudharabah kecuali jika mudharib melakukan
kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.
7. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada
jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan
penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib
atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan bila
mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal
yang telah disepakati dalamj akad.
8. Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme
pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan
memperhatikan fatwa DSN.
9. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib.
10.Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan
kewajiban atau pelanggaran terhadap kesepakatan,
mudharib berhak memperoleh ganti rugi atas biaya yang
telah dikeluarkan.

Kedua : Rukun dan Syarat Pembiayaan


1. Penyedia dana (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) harus
cakap hukum.
2.
Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para
pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam
mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal
berikut :
-Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit
menunjukkan tujuan kontrak.
-Penerimaan dan penawaran pada saat kontrak.
-Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau
dengan
menggunakan cara- cara komunikasi modern.
3.
Modal ialah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan
oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha
dengan syarat sebagai berikut :
-Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.
-Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai.
-Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus
dibayarkan kepada mudharib baik secara bertahap
maupun tunai sesuai dengan kesepakatan saat akad.

4. Keuntungan mudharabah
-Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh
disyaratkan
hanya untuk satu pihak.
-Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus
diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati
dan harus dalam bentuk presentasi (nisbah) dari
keuntungan sesuai kesepakatan.
-Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari
mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung
kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan
disengaja, kelalaian,
atau pelanggaran kesepakatan.
5. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib) sebagai
perimbangan (muqabil) modal yang disediakan oleh
penyedia dana

Ketiga : Beberapa Ketentuan Hukum


Pembiayaan
1.

2.

3.

4.

Mudharabah boleh dibatasi pada periode


tertentu.
Kontrak tidak boleh dikaitkan (muallaq) dengan
kejadian dimasa depan yang belum tentu terjadi.
Pada dasarnya dalam mudharabah tidak ada
ganti rugi karena akad ini bersifat amanah,
kecuali akibat dari kesalahan disengaja,
kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.
Jika salah satu pihak tidak menunaikan
kewajibannya atau terjadi perselisihan diantara
kedua pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak
tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

II.Fatwa DSN MUI No 33/DSNMUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah


Mudharabah
1.

2.

3.

Ketentuan yang diatur :


Pertama : Ketentuan Umum
Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka
panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan
Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang
mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada
pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil/margin/fee
serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh
tempo.
Obligasi Syariah Mudharabah adalah Obligasi Syariah yang
berdasarkan akad Mudharabah dengan memperhatikan
substansi Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No. 7/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah.
Emiten dalam Obligasi Syariah Mudharabah adalah
Mudharib sedangkan pemegang Obligasi Syariah
Mudharabah adalah Shahibul Mal.

Kedua : Ketentuan Khusus


1.

2.

3.

4.

5.

6.

Akad yang digunakan dalam Obligasi Syariah Mudharabah adalah


akad Mudharabah;
Jenis usaha yang dilakukan Emiten (Mudharib) tidak boleh
bertentangan dengan syariah dengan memperhatikan substansi
Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN- MUI/IV/2001 tentang Pedoman
Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah;
Pendapatan (hasil) investasi yang dibagikan Emiten (Mudharib)
kepada pemegang Obligasi Syariah Mudha-rabah (Shahibul Mal)
harus bersih dari unsur non halal;
Nisbah keuntungan dalam Obligasi Syariah Mudharabah ditentukan
sesuai kesepakatan, sebelum emisi (penerbitan) Obligasi Syariah
Mudharabah;
Pembagian pendapatan (hasil) dapat dilakukan secara periodik
sesuai kesepakatan, dengan ketentuan pada saat jatuh tempo
diperhitungkan secara keseluruhan;
Pengawasan aspek syariah dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah
atau Tim Ahli Syariah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional
MUI, sejak proses emisi Obligasi Syariah Mudharabah dimulai;

7. Apabila Emiten (Mudharib) lalai dan/atau melanggar syarat


perjanjian dan/atau melampaui batas, Mudharib
berkewajiban menjamin pengembalian dana Mudharabah,
dan Shahibul Mal dapat meminta Mudharib untuk membuat
surat pengakuan hutang;
8. Apabila Emiten (Mudharib) diketahui lalai dan/atau
melanggar syarat perjanjian dan/atau melampaui batas
kepada pihak lain, pemegang Obligasi Syariah Mudharabah
(Shahibul Mal) dapat menarik dana Obligasi Syariah
Mudharabah;
9. Kepemilikan Obligasi Syariah Mudharabah dapat dialihkan
kepada pihak lain, selama disepakati dalam akad.

Ketiga : Penyelesaian Perselisihan


Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau
terjadi perselisihan antara pihak yang terkait, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah
setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

III. Fatwa DSN 38/DSN-MUI/X/2002


Ketentuan Sertifikat
Umum
Ketentuan
Penyelesaian
tentang
Investasi
Khusus
Perselisihan
Mudharabah Antarbank (IMA)
1.

2.

3.

4.

Sertifikat investasi
antarbank yang
berdasarkan bunga, tidak
dibenarkan menurut
syariah.
Sertifikat investasi yang
berdasarkan pada akad
Mudharabah, yang disebut
dengan Sertifikat Investasi
Mudharabah Antarbank
(IMA), dibenarkan menurut
syariah.
Sertifikat IMA dapat
dipindahtangankan hanya
satu kali setelah dibeli
pertama kali.
Pelaku transaksi Sertifikat

Implementasi dari
fatwa ini secara
rinci diawasi oleh
Dewan Pengawas
Syariah pada
bank syariah dan
oleh Bank
Indonesia.

Jika salah satu pihak


tidak menunaikan
kewajibannya atau jika
terjadi perselisihan di
antara para pihak,
maka penyelesaiannya
dapat dilakukan
melalui Badan
Arbitrasi Syariah yang
berkedudukan di
Indonesia setelah tidak
tercapai kesepakatan
melalui musyawarah.

IV. Fatwa DSN 50/DSN-MUI/III/2006: Akad


Mudharabah Musytarakah
Ketentuan
Umum

Ketentuan
Hukum

Ketentuan Akad

Mudharabah
Musytarakah
adalah bentuk
akad
Mudharabah di
mana pengelola
(mudharib)
menyertakan
modal atau
dananya dalam
kerjasama
investasi.

Mudharabah
1.
Musytarakah
boleh
dilakukan oleh
Lembaga
Keuangan
Syariah (LKS),
karena
merupakan
2.
bagian dari
hukum
3.
Mudharabah.

4.

Akad yang
digunakan adalah
akad Mudharabah
Musytarakah,
yaitu perpaduan
dari akad
Mudharabah dan
akad Musyarakah.
LKS sebagai
mudharib
LKS sebagai pihak
yang
menyertakan
dananya
(musytarik)
Bagian
keuntungan
sesudah diambil
oleh LKS

Ketentuan
Penutup
1.

2.

Jika salah
satu pihak
tidak
menunaika
n
kewajibann
ya atau jika
terjadi
perselisiha
n
Fatwa
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkan,

5) Fatwa DSN No: 51/DSN MUI/III/2006 tentang


MUDHARABAH MUSYTARAKAH PADA ASURANSI
SYARIAH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan :

Asuransi adalah asuransi jiwa, asuransi kerugian, dan


reasuransi syariah;

Peserta adalah peserta asuransi atau perusahaan


asuransi dalam reasuransi.
Kedua : Ketentuan Hukum

Mudharabah Musytarakah boleh dilakukan oleh


perusahaan asuransi, karena merupakan bagian dari
hokum Mudharabah.

Mudharabah Musyarakah dapat diterapkan pada


produk asuransi syariah yang mengandung unsur
tabungan (saving) maupun non tabungan.

Ketiga : Ketentuan Akad

1.

2.

3.

4.

5.

Akad yang digunakan adalah akad Mudharabah


Musytarakah, yaitu perpaduan dari akad Mudharabah
dan akad Musytarakah.
Perusahaan asuransi sebagai mudharib menyertakan
modal atau dananya dalam investasi bersama dana
peserta.
Modal atau dana perusahaan asuransi dan dana peserta
diinvestasikan secara bersama-sama dalam portofolio.
Perusahaan asuransi sebagai mudharib mengelola
investasi dana tersebut.
Dalam akad, harus disebutkan sekurang-kurangnya :
a.
b.
c.

Hak dan kewajiban pesertadan perusahaan asuransi;


Besaran nisbah, cara dan waktu pembagian hasil
investasi;
Syarat-syarat lain yang disepakati, sesuai dengan
produk asuransi yang diakadkan.

6.

Hasil investasi :

Pembagian hasil investasi dapat dilakukan dengan salah stu alternative


sebagai berikut.
Alternative I :
a.
Hasil investasi dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai
mudharib) dengan peserta (sebagai shahibul maal) sesuai dengan
nisbah yang disepakati.
b.
Bagian hasil investasi sesudah disisihkan untuk perusahaan asuransi
(sebagai mudharib) dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai
musytarik) dengan para peserta sesuai dengan porsi modal atau
dana masing-masing.
Alternatif II :
a.
Hasil investasi dibagi secara professional antara perusahaan asuransi
(sebagai musytarik) dengan peserta berdasarkan porsi modal atau
dana masing-masing.
b.
Bagian hasil investasi sesudah disisihkan untuk perusahaan asuransi
(sebagai musytarik) dibagi antara perusahaan asuransi sebagai
mudharib dengan peserta sesuai dengan nisbah yang disepakati.
c.
Apabila terjadi kerugian maka perusahaan asuransi sebagai
musytarik menanggung kerugian sesuai dengan porsi modal atau
dana yang disertakan.

Keempat : Kedudukan Para Pihak dalam Akad Mudharabah Musytarakah


1.

2.

3.

Dalam akad ini, perusahaan asuransi bertindak sebagai mudharib


(pengelola) dan sebagai musytarik (investor).
Peserta (pemegang polis) dalam produk saving, bertindak sebagai
shahibul maal (investor).
Para peserta (pemegang polis) secara kolekif dalam produk non
saving, bertindak sebagai shahibul maal (investor).

Kelima : Investasi
1. Perusahaan asuransi selaku pemegang amanah wajib melakukan
investasi dari dana yang terkumpul.
2. Investasi wajib dilakukan sesuai dengan prinsip syariah.
Keenam : Ketetentuan Penutup
1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika
terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai
kesepakatan melalui musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan
disempurnakan sebagaimana mestinya.

Standar Akuntansi Keuangan Transaksi


A.
Penyempurnaan Akuntansi Mudharabah pada
Mudharabah
PSAK 105

PSAK 105 berlaku untuk entitas yang melakukan transaksi


Mudharabah baik sebagai pemilik dana (shahibul maal) maupun
pengelola dana (mudharib).
Sistematika penulisan secara garis besar disusun dengan memisahkan
akuntansi untuk pemilik dana (shahibul maal) dan akuntansi untuk
pengelola dana (mudharib) dalam transaksi Mudharabah.
Mudharabah yang dimaksud dalam PSAK ini terdiri dari Mudharabah
mutlaqah, Mudharabah muqayyadah, dan Mudharabah musytarakah.
Pada bagian pengakuan dan pengukuran untuk entitas sebagai pemilik
dana penyempurnaan dilakukan untuk :
Pengakuan investasi Mudharabah pada saat penyaluran daana syrkah
temporer; dan
Pengakuan keuntungan / kerugian atas penyerahan asset nonkas
dalam investasi Mudharabah.
Pada bagian pengakuan dan pengukuran untuk akuntansi pembeli,
penyempurnaan dilakukan untuk :
Pengakuan dana syirkah temporer kelolaan;
Pengakuan modal mudharib bersama-sama dengan modal pemilik
dana (shahibul maal) dalam Mudharabah musytarakah.

B. Substansi PSAK 105 : Akuntansi Mudharabah


Karakteristik
Entitas dapat bertindak baik sebagai pemilik dana atau pengelola
dana.
Mudharabah terdiri dari mudharabah muthlaqah, mudharabah
muqayyadah, dan Mudharabah musytarakah. Jika entitas
bertindak sebagai pengelola dana, dana yang diterima disajikan
sebagai dana syirkah temporer.
Dalam Mudharabah muqayyadah, contoh batasan antara lain :
Tidak mencampurkan dana pemilik dana dengan dana lainnya;
Tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan
cicilan, tanpa penjamin, atau tanpa jaminan; atau
Mengharuskan pengelola dana untuk melakukan investasi
sendiri tanpa melalui pihak ketiga.
Pada penyaluran Mudharabah tidak ada jaminan
Pengembalian dana syirkah temporer
Jika dari pengelolaan dana syirkah temporer menghasilkan
keuntungan maka porsi jumlah bagi hasil untuk pemilik dana dan
pengelola dana ditentukan berdasarkan nisbah yang disepakati
dari hasil usaha yang diperoleh selama periode akad.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN ENTITAS


SEBAGAI PEMILIK DANA
1.

2.

3.

4.

5.

Dalam syirkah temporer yang disalurkan oleh pemilik dana


diakui sebagai investasi Mudharabah pada saat pembayaran
kas atau penyerahan asset nonkas kepada pengelola dana.
Pengukuran investasi Mudharabah adalah sebagai berikut :
Investasi Mudharabah dalam bentuk kas
Investasi Mudharabah dalam bentuk asset nonkas
Jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya,
diakui sebagai kerugian;
Jika niali wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya
diakui sebagai keuntungan tangguhan dan
diamortisasi sesuai jangka waktu akad Mudharabah.
Jika nilai investasi Mudharabah turun sebelum usaha dimulai
karena rusak, hilang, atau factor lain yang bukan kelalaian
pihak pengelola dana
Jika sebagian investasi Mudharabah hilang setelah dimulainya
usaha tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pengelola dana
Usaha Mudharabah dianggap mulai berjalan sejak dana atau
modal usaha Mudharabah diterima oleh pengelola dana.

6. Dalam investasi Mudharabah yang diberikan dalam bentuk barang


(nonkas) dan barang tersebut mengalami penurunan nilai pada
saat atau setelah barang dipergunakan secara efektif dalam
kegiatan kegiatan Mudharabah, maka kerugian tersebut tidak
langsung mengurangi jumlah investasi, namun diperhitungkan
pada saat pembagian bagi hasil.
7. Kelalaian atas kesalahan pengelola dana, antara lain, ditunjukkan
oleh :
a.
Persyaratan yang ditentukan di dalam akad tidak dipenuhi;
b.
Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan yang lazim dan /
atau yang telah ditentukan dalam akad; atau
c.
Hasil keputusan dari institusi yang berwenang.
8. Jika akad Mudharabah berakhir sebelum atau saat akad jatuh tempo
dan belum dibayar oleh pengelola dana, maka investasi
Mudharabah diakui sebagai piutang jatuh tempo.

Penghasilan usaha

Jika investasi Mudharabah melebihi satu periode pelaporan,


penghasilan usaha diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil
sesuai nisbah yang disepakati.

Kerugian yang terjadi dalam suatu periode sebelum akad


Mudharabah berakhir diakui sebagai kerugian dan dibentuk
penyisihan kerugian investasi. Pada saat akad Mudharabah berakhir,
selisih antara :
Investasi Mudharabah setelah dikurangi penysihan kerugian
investasi;
Dan pembelian investasi Mudharabah, diakui sebagai keuntungan
atau kerugian.

Kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pengelola dana dibebankan


pada pengelola dana dan tidak mengurangi investasi Mudharabah.

Bagian hasil usaha yang belum dibayar oleh pengelola dana diakui
sebagai piutang jatuh tempo dari pengelola dana.

Mudharabah Musytarakah

Jika entitas juga menyertakan modal dalam


Mudharabah musytarakah, maka penyaluran modal
milik entitas diakui sebagai investasi Mudharabah.
Akad Mudharabah musytarakah merupakan
perpaduan antara akad mudharabah dan akad
musyarakah. Dalam Mudharabah musytarakah
pengelola dana (berdasarkan akad Mudharabah)
menyertakan juga modalnya dalam investasi
bersama (berdasarkan akad musyarakah) pemilik
modal musyarakah (musytarik) memperoleh bagian
hasil usaha sesuai porsi modal yang disetorkan.
Pembagian hasil usaha antara peneglola dana dan
pemilik dana dalam Mudharabah adalah sebesar hasil
usaha musyarakah setelah dikurangi porsi pemilik
dana sebagai pemilik modal musyarakah.

Penyajian

Pemilik dana menyajikan investasi mudharabah


dalam laporan keuangan sebesar nilai tercatat
Pengelola dana menyajikan transaksi mudharabah
laporan keuangan, tetapi tidak terbatas, pada:

Dana syirkah temporer dari pemilik dana yang


disajikan sebesar jumlah nominalnya untuk setiap
jenis mudharabah.
Bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah
diperhitungkan dan telah jatuh tempo tetapi belum
diserahkan kepada pemilik dana disajikan sebagai
kewajiban.
Bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah
diperhitungkan tetapi belum jatuh tempo disajikan
dalam pos bagi hasil yang belum dibagikan.

Pengungkapan

Pemilik dana mengunggkapkan hal-hal terkait


transakasi mudharabah, tetapi tidak terbatas
pada:

Rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan


jenisnya,
Penyisihan kerugian investasi mudharabah selama
periode berjalan, dan pengungkapan diperlukan sesuai
dengan PSAK nomor 101 tentang penyajian laporan
keuangan syariah.

Pengelola dana mengungkapkan hal-hal terkait


mudharabah, tetapi tidak terbatas, pada:

Dana syirkah temporer yang disesuai berdasarkan


jenisnya, dan
Penyaluran dana yang berasal dari mudharabah
muqayadah.

Jurnal

Pada saat bank membayar uang tunai kepada mudharib


(Dr) pembiayaan mudharabah
xx
(Cr) kas xx
Pada saat bank menyerahkan aktiva non kas kepada
mudharib

Jika nilai wajar aktiva yang diserahkan lebih rendah atas nilai
buku.

(dr) pembiayaan mudharabah 9sebesar nilai wajar)


(dr) kerugian penyerahan aktiva
xx
(cr) aktiva non kas
xx

xx

Jika nilai wajar aktiva yang diserahkan lebih tinggi atas nilai
buku.

(dr) pembiayaan mudharabah (sebesar nilai wajar)


(cr) aktiva non-kas (sebesar nilai buku)
xx
(cr) keuntungan penyerahan aktiva xx

xx

Pengakuan biaya akad mudharabah

Saat terjadi biaya akad

(dr) beban akad mudharabah


(cr) kas

xx
xx

Jika biaya akad diakui sebagai beban

Tidak ada jurnal

Jika berdasarkan kesepakatan dapat diakui sebagai


pembiayaan

(dr) pembiayaan mudharabah


xx
(cr) beban akad mudharabah
xx
Apabila sebagian pembiayaan mudharabah dalam
bentuk aktiva nonkas hilang sebelum dimulainya
pekerjaan kaarena adanya kerusakan atau sebab
lainnya tanpa adnaya kelalaian mudharib.
(dr) kerugian pembiayaan mudahrabah
xx

Apabila sebagian pembiayaan mudharabah hilang setelah


dimulainya pekerjaan karena adanya kerusakan atau
sebab lainnya tanpa adanya kelalaian mudaharib
Tidak ada jurnal

Penerimaan keuntungan mudharabah


(dr) kerugian bagi hasi mudharabah xx
(cr) pembiayaan mudaharabah

xx

Pencatatan kerugian yang timbul bukan akibat kelalaian


atau kesalahan mudharib
(dr) kerugian bagi hasil mudaharabah

xx

(cr) pembiayaan mudharabah xx

Pencatatan kerugian yang timbul akibat kelalaian atau


kesalahan mudharib
(Dr) piutang kepada mudharib
(cr) pembiayaan mudharabah xx

xx

Kerugian Penurunan Nilai Aset


Mudharabah
Jika terjadi penurunan nilai aktiva
sebelum diserahkan, misalkan komputer
server yang rencananya dikirim kepada
PT.JIT ternyata 30 unit diantaranya
mengalami kerusakan akibat peristiwa
kebakaran di gudang milik Bank Syariah
IQTISADUNA sebelum diserahkan kepada
PT.JIT. Hal ini terjadi karena kelalaian bank
syariah IQTISADUNA dalam melakukan
pengamanan terhadap aktiva tersebut.

Lanjutan
Sebaliknya, apabila kecelakaan tersbut
terjadi setelah usaha tersebut berjalan dan
berdasarkan hasil investigasi ternyata
terbukti bahwa kerugian terjadi akibat
kelalain mudharib, maka kerugian menjadi
tanggungan mudharib. Pada akhir masa
akad, kerugian akan dikompensasi dengan
bagi hasil untuk shohibul maal.

Pembayaran Angsuran
Pembiayaan Mudharabah
(Pokok
Pembiayaan)
Pengembalian modal pembiayaan
mudharabah
oleh
mudharib
dapat
dilakukan sesuai kesepakatan, secara
sekaligus pada masa akhir akad atau
dilakukan
secara
bertahap
sesuai
kemampuan
mudharib.
Setiap
pembayaran kembali atas pembiayaan
mudharabah akan mengurangi saldo
pembiayaan mudharabah.

Pengakuan Bagi Hasil (Profit Loss


Sharing) Mudharabah
Dewan Syariah Nasional (DSN) mengeluarkan
fatwa nomor 15/DSN-MUI/IX/2000 tentang
prinsip distribusi hasil usaha dimana lembaga
keuangan syariah boleh menggunakan prinsip
revenue sharing (bagi pendapatan) maupun
profit loss sharing (bagi untung/rugi). Menurut
fatwa tersebut dilihat dari sisi kemaslahatan,
pembagian
hasil
usaha
sebaiknya
menggunakan
prinsip
revenue
sharing.
Penentuan penggunaan prinsip yang dipilih
harus disepakati pada awal akad.

Sebagai contoh PT. JIT sepakat melakukan pembayaran modal


pembiayaan mudharabah secara bertahap sebanyak tiga kali
dengan komposisi :
Akhir tahun pertama akan dikembalikan modal mudharabah
sebesar Rp 250.000.000
Akhir tahun kedua akan dikembalikan modal mudharabah
sebesar Rp 250.000.000
Akhir athun ketiga akan dikembalikan modal mudharabah
sebesar Rp 500.00.000

Awal tahun
Akhir
tahun
pertama
Akhir
tahun
kedua
Akhir
tahun

Pembayaran
Modal

Nisbah

Saldo Pembiayaan
Mudharabah

Bank

Rp 0
Rp
250.000.000

Rp 1.000.000.000
Rp 750.000.000

40
30

Nasaba
h
60
70

Rp
250.000.000

Rp 500.000.000

20

80

Rp
500.000.000

Rp 0

100

Pengakuan Bagi Hasil (Profit Loss


Sharing) Mudharabah
Dewan Syariah Nasional (DSN) mengeluarkan
fatwa nomor 15/DSN-MUI/IX/2000 tentang
prinsip distribusi hasil usaha dimana lembaga
keuangan syariah boleh menggunakan prinsip
revenue sharing (bagi pendapatan) maupun
profit loss sharing (bagi untung/rugi). Menurut
fatwa tersebut dilihat dari sisi kemaslahatan,
pembagian
hasil
usaha
sebaiknya
menggunakan
prinsip
revenue
sharing.
Penentuan penggunaan prinsip yang dipilih
harus disepakati pada awal akad.

Kasus Pengakuan Laba


Akad mudharabah antara bank syariah IQTISADUNA dan PT. Jogja
Information Technology (JIT) dengan pembiayaan sebesar Rp
10.000.000,- dan nisbah 40:60. Atas pengelolaan dana mudharabah
tersebut PT. JIT mencatat laba bersih sebesar Rp 10.000.000,- pada tahun
pertama dan segera dibagihasilkan kepada bank syariah IQTISADUNA
pada awal tahun kedua akad. Adapun pembagian porsi untuk masingmasing pihak adalah sebagai berikut :
Shohibul
maal
(bank)
40%xRp100.000.000
Mudharib (PT. JIT) = 60%xRp
100.000.000

= Rp 40.000.000

(Dr) kas/rekening PT JIT

Rp 40.000.000

Rp 60.000.000

Jumlah yang dibuat oleh bank sayriah IQTISADUNA pada saat menerima
bagi hasil tersebut adalah sebagai berikut :

(Cr) pendapatan
mudharabah

bagi

hasil

Rp 40.000.000

Kasus Pengakuan Rugi


Jika PT. JIT mengalami kerugian pada tahun pertama sebesar Rp 100.000.000,dan berdasarkan fakta yang disepakati antara kedua belah pihak terungkap bahwa
kerugian terjadi karena bencana alam sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian
aktiva mudharabah dan diluar kemampuan mudharib untuk menghindarinya, maka
jurnal yang dibuat bank syariah IQTISADUNA atas kejadian tersebut adalah :
Pada saat pembentukan cadangan kerugian pembiayaan
mudharabah
(Dr)
beban
penyisihan Rp 100.000.000
kerugian
pembiayaan
mudharabah
(Cr) penyisihan kerugian
mudharabah

Rp 100.000.000

Pada saat penghapusbukuan pembiayaan mudharabah


(Dr) penyisihan pembukuan Rp 100.000.000
mudharabah
(Cr)
pembiayaan
mudharabah

Rp 100.000.000

Kasus Bagi Hasil Belum


Direalisasi

Jika PT. JIT mengakui adanya keuntungan dalam pengelolaan


pembiayaan mudharabah sebesar Rp 100.000.000,- dan sampai saat
yang ditentukan ternyata PT. JIT belum membayarkan bagian bagi
hasil yang menjadi hak bank syariah IQTISADUNA sebesar Rp
40.000.000,- maka bank syariah IQTISADUNA akan mengakui
kejadian tersebut dalam jurnal sebagai berikut :
(Dr) piutang kepada Rp 40.000.000
mudharib

(Cr)
pendapatan
mudharabah

Rp 40.000.000

Faktor perhitungan distribusi hasil


usaha perbankan syariah;

Besaran kontribusi investasi (pembobotan sumber dana)


adalah jumlah atau prosentase yang diputuskan oleh bank
sebagai landasan besaran dana yang dapat diinvestasikan.
Penentuan jenis sumber dana yang diikutsertakan dalam
perhitungan distribusi hasil usaha (profit distribution);
merupakan unsur yang penting karena jumlah sumber dana
ini yang akan berdampak terhadap penyaluran dan pendapatan
yang akan diperoleh dengan pola;
Dana prinsip mudharabah mutlaqah saja;
Total sumber dana pihak ketiga (prinsip wadiah dan
mudharabah mutlaqah):
Total sumber dana (prinsip wadiah di mudharabah dan
modal)
Jenis penyaluran dana dan pendapatan yang terkait
Prioritas penyaluran (penyaluran utama dan penyaluran
lainnya)
Total penyaluran dana
Penentuan pendapatan dibagihasilkan

Konsep dan Mekanisme Bagi


Hasil Usaha
Dana
pemilik

Wad
iah

LKS
Moda
l

Kesepakatan dan penandatanganan akad berisi ruang lingkup


kerja sama, nominal, nisbah, dan jangka waktu kesepakatan
Menghasilkan pendapatan margin (jual beli), bagi hasil
(syirkah) dan jasa sewa (ijarah)

Tata Cara Perhitungan Bagi


Hasil LKS

Menghitung saldo rata rata harian (SRRH) sumber dana sesuai klasifikasi
dana yang dimiliki

Menghitung saldo rata rata tertimbang sumber dana yang telah


diinvestasikan

Menghitung total pendapatan yang diterima dalam periode berjalan dari


dana operasi dan pembiayaan lain yang menggunakan dana mudharabah

Membandingkan antara jumlah sumber dana dengan total pembiayaan


yang telah tersalurkan untuk mnghitung porsi pendapatan yang akan
dibagihasilkan

Mengalokasikan total pendapatan yang dibagihasilkan ke masing masing


klasifikasi dana yang dimiliki sesuai data saldo rata rata tertimbang

Mengalokasikan pendapatan yang sudah dihitung untuk setiap sumber


dana sesuai dengan nisbah yang disepakati

Mendistribusikan bagi hasil sesuai dengan nisbah masing masing pemilik


dana sesuai jenis sumber dana yang dimiliki

Menjurnal distribusi bagi hasil usaha sebagai bagian dalam penyusunan


laporan keuangan

Laporan Rekonsiliasi
Pendapatan dan Bagi Hasil

Pendapatan usaha utama, seperti jual beli, syirkah, sewa/sewa beli


yang menggunakan dana dari pemegang rekening mudharabah
mutlaqah

Penyesuaian atas:
Pendapatan usaha utama periode berjalan yang kas atau
setara kas nya belum diterima
Pendapatan usaha utama periode sebelumnya yang kas atau
setara kas nya diterima di periode berjalan

Pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil

Bagian LKS atas pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil

Bagian pemilik dana atas pendapatan yang tersedia untuk bagi


hasil:
Bagi hasil yang sudah didistribusikan ke pemilik dana