Anda di halaman 1dari 32

PRESENTASI KASUS

TETANUS
dr. AQSHA AMANDA

INTERNSHIP RSU BERKAH PANDEGLANG

LAPORAN KASUS
Nama
: Tn. M
Jenis kelamin
: Laki-laki
Tempat/tanggal lahir : Pandeglang , 17-11-1979
Usia
: 35 tahun
Alamat
: Karang Tanjung
Agama
: Islam
Pendidikan terakhir
: SD
Pekerjaan terakhir : Petani
Status perkawinan : Menikah
Tanggal masuk
: 16 Februari 2016

ANAMNESA
Keluhan utama
Pasien datang dengan keluhan kejang kaku pada
seluruh badan sejak 1 hari SMRS.

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang dengan keluhan kejang kaku pada
seluruh badan sejak 1 hari SMRS. Pasien tersadar saat
badan kaku. Pasien kesulitan membuka mulut.
Keluhan lain seperti mual, muntah, batuk, pilek, sesak
dan demam serta sakit kepala disangkal. Terdapat luka
pada kaki kiri karena kecelakan lalu lintas kurang
lebih 7 hari yang lalu. Luka hanya dibersihkan dengan
betadine dan daun-daun tumbuhan.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat sakit seperti ini sebelumnya disangkal

Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai petani

Kondisi lingkungan sosial dan fisik (Rumah,


Lingkungan, Pekerjaan)
Pasien tinggal bersama istri dan kedua anaknya
dalam satu rumah.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Vital (UGD RSU Berkah 16/02/2016 pk 11:30)
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 88x/ menit
RR : 24x/ menit
Suhu : 36.6 C
GCS : E4M6V5 (15)
Kepala : Kaku Kuduk (+)
Mulut : Trismus (+)
Abdomen : Perut papan (+) Bising usus (+) Opistotonus (+)
Ekstremitas : Status Lokalis : tampak luka et regio pedis
sinistra ukuran diameter 2cm, krusta (+) hiperpigmentasi
(+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hb : 15.8 g/dl
Hitung jenis
Ht : 45%
- Basofil 0 %
Eritrosit : 5.3 juta/L
- Eosinofil 1 %
Leukosit : 16.620/ uL
- Batang : 4 %
Trombosit : 281.000/uL
- Segmen : 83 %
MCV : 85 fL
- Limfosit : 22 %
MCH :30 pg
- Monosit : 7 %
MCHC : 35 g/dl

DIAGNOSIS
Tetanus

PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN


Pemeriksaan kultur C. Tetani

PENATALAKSANAAN
IGD
IVFD RL 20 tpm
Tetagam 12 amp
Diazepam drip lambat 20 amp dalam NS 100 cc / 24 jam
Cefotaxime 2x1 gr
Metronidazol 3x500mg

FOLLOW UP

17. Subjektif

Objektif

Assesment

Perencanaan

Tetanus

IVFD RL 20 tpm

Diazepam drip lambat

Riwayat luka pada kaki lebih

TD : 120/80

kurang 1 minggu yg lalu

Nadi 88x/mnt

Sering berkeringat

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

Sulit membuka mulut

Suhu : 37o C

cc / 24 jam

Leher, perut, punggung terasa

Trismus (+)

Ceftazidime 2x1 gr

kaku

Perut papan (+)

Metronidazol 3x500

Kejang (+)

Opistotonus (+)

Diet cair

Tidak bisa duduk

Kaku kuduk (+)

BU (+)

18. Subjektif

Objektif

Assesment

Perencanaan

Sering berkeringat

TD : 110/80

Tetanus

IVFD RL 20 tpm

Sulit membuka mulut

Nadi : 84 x/mnt

Diazepam drip lambat

Leher, perut dan punggung

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terasa kaku

Suhu : 36,8o C

cc / 24 jam

Kejang (+)

Trismus (+),

Ceftazidime 2x1 gr

Tidak bisa duduk

Opistotonus (+)

Metronidazol 3x500

Kaku kuduk (+)

Diet cair

Perut papan (+)

BU (+)

19. Subjektif

Objektif

Assesment

Perencanaan

Sering berkeringat

TD : 120/90

Tetanus

IVFD RL 20 tpm

sulit membuka mulut

Nadi 82 x/mnt

Diazepam drip lambat

Leher, perut dan punggung

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terasa kaku

Suhu : 37,1o C

cc / 24 jam

Kejang (+) <

Trismus (+)

Ceftazidime 2x1 gr

Tidak bisa duduk

Opistotonus (+)

Metronidazol 3x500

Kaku kuduk (+)

Diet cair

Perut papan (+)

BU (+)

20. Subjektif

Objektif

Perencanaan

Tetanus

IVFD RL 20 tpm

Diazepam drip lambat

Buka mulut kaku <

Leher, perut dan punggung

Nadi 100x/mnt

terasa kaku <

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

Kejang (+) <<

Suhu : 37,4o C

cc / 24 jam

Tidak bisa duduk

Trismus (+) <

Ceftazidime 2x1 gr

Berkeringat <

Opistotonus (+) <

Metronidazol 3x500

Kaku kuduk (+) <

Diet cair

Perut papan (+) <

BU(+)

TD : 100/70

Assesment

21. Subjektif

Objektif

Perencanaan

Tetanus

IVFD RL 20 tpm

Diazepam drip lambat

Kaku saat buka mulut <

Leher, perut dan punggung

Nadi 86x/mnt

terasa kaku <<

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terdapat

Suhu : 37,4o C

cc / 24 jam

rangsangan

Trismus (+) <

Ceftazidime 2x1 gr

Tidak bisa duduk

Opistotonus (+) <

Metronidazol 3x500

Berkeringat <

Kaku kuduk (+) <

Diet cair

Perut papan (+) <

BU (+)

Kejang

apabila

22. Subjektif

TD : 120/70

Assesment

Objektif

Perencanaan

Tetanus

IVFD RL 20 tpm

Diazepam drip lambat

Sulit membuka mulut <<

Leher, perut dan punggung

Nadi 88x/mnt

terasa kaku<<

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terdapat

Suhu : 36,1o C

cc / 24 jam

rangsangan

Trismus (+) <<

Ceftazidime 2x1 gr

Tidak bisa duduk

Opistotonus (+) <<

Metronidazol 3x500

Berkeringat <

Kaku kuduk (+) <<

Diet cair

Perut papan (+) <<

BU(+)

Kejang

apabila

TD : 120/80

Assesment

23. Subjektif
Objektif
Kaku saat membuka mulut
TD : 120/80

<<<

Assesment
Tetanus

Perencanaan
IVFD RL 20 tpm

Nadi 88x/mnt

Leher, perut dan punggung

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terasa kaku <<<

Suhu : 36,5o C

cc / 24 jam

Kejang

apabila

terdapat

Diazepam drip lambat

Trismus (+) <<<

Ceftazidime 2x1 gr

rangsangan

Opistotonus (+) <<<

Metronidazol 3x500

Tidak bisa duduk

Kaku kuduk (+) <<<

Makanan lunak

Berkeringat <

Perut papan (+) <<<

BU (+)

24. Subjektif

Berkeringat <<

Objektif

TD : 110/80

Assesment
Tetanus

Perencanaan

IVFD RL 20 tpm

sulit membuka mulut <<<

Nadi 88x/mnt

Leher, perut dan punggung

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terasa kaku <<<

Suhu : 36,5o C

cc / 24 jam

Kejang (-)

Trismus (+) <<<

Ceftazidime 2x1 gr

Opistotonus (+) <<<

Metronidazol 3x500

Kaku kuduk (+) <<<

Gentamisin zalf

Perut papan (+) <<<

Makanan lunak

BU (+)

Diazepam drip lambat

25. Subjektif
Berkeringat <<

Objektif
TD : 120/80

Assesment
Tetanus

Perencanaan
IVFD RL 20 tpm

Sulit membuka mulut <<<

Nadi 88x/mnt

Leher, perut dan punggung

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terasa kaku <<<

Suhu : 36,6o C

cc / 24 jam

Kejang (-)

Trismus (+) <<<

Ceftazidime 2x1 gr

Mengunyah (+)

Opistotonus (+) <<<

Metronidazol 3x500

Kaku kuduk (+) <<<

Gentamisin zalf

Perut papan (+) <<<

Makanan lunak

BU (+)

Assesment
Tetanus

Diazepam drip lambat

26. Subjektif

Berkeringat <<

Objektif

TD : 110/80

Perencanaan

IVFD RL 20 tpm

sulit membuka mulut <<<

Nadi 88x/mnt

Leher, perut dan punggung

RR : 24x/mnt

20 amp dalam NS 100

terasa kaku <<<

Suhu : 36,4o C

cc / 24 jam

Kejang (-)

Trismus (+) <<<

Ceftazidime 2x1 gr

Mengunyah (+)

Opistotonus (+) <<<

Metronidazol 3x500

Kaku kuduk (+) <<<

Gentamisin zalf

Perut papan (+) <<<

Makanan lunak

BU (+)

Pulpak

Diazepam drip lambat

PROGNOSIS
Ad vitam
: bonam
Ad functionam : bonam
Ad sanationam : bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Mekanisme impuls saraf
Timbulnya kontraksi potensial aksi arus listrik
yang menyebar ion-ion kalsium lepas dari retikulum
endoplasma kontraksi.

Mekanisme gerak biasa (gerak sadar)


Rangsangan Saraf sensorik otak
saraf motorik gerak otot

Mekanisme gerak reflek (gerak tidak sadar)


Rangsangan saraf sensorik pusat integrasi di
sumsum tulang belakang saraf motorik gerak otot

TETANUS
DEFINISI
Tetanus adalah Gangguan neurologis yang ditandai
dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang
disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein
yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.

EPIDEMIOLOGI

Di negara yang telah maju seperti Amerika Serikat


sejak 1940 meluasnya penggunaan
imunisasi terhadap tetanus
Namun berbeda di negara berkembang seperti
Indonesia, insiden dan angka kematian akibat
tetanus masih cukup tinggi tetanus neonatorum.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur.
umur 5 19 tahun dan 20 29 tahun 7x,
umur 3039 tahun dan umur lebih 60 tahun 9x

KARAKTERISTIK C. TETANI
bakteri Gram +,
anaerob obligat,
dapat membentuk spora sangat resisten panas dan
antiseptik
berbentuk drumstick.
banyak ditemukan ditanah, kotoran manusia dan
hewan peliharaan dan di daerah pertanian.
terdistribusi pada tanah dan saluran pencernaan
serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus,
babi, dan ayam.
menghasilkan neurotoksin. C. tetani menghasilkan
dua buah eksotoksin, yaitu tetanolysin dan
tetanospasmin

Tetanolysin tidak diketahui dengan pasti


fungsinya menambah optimal kondisi local
untuk berkembangnya bakteri menyebabkan
lisis dari sel-sel darah
Tetanospasmin toksik terhadap sel saraf.
diabsorpsi oleh saraf end organ diujung saraf
motorik ke sel ganglion dan susunan saraf
pusat

PATOGENESIS
luka / OMSK / gigi berlubang / pemotongan tali pusat
1-2 mg sistem pembuluh darah atau limpa GK
Toksin motor endplate ganglioside dijalarkan
secara intraaxonal sel saraf tepi ke kornu
anterior sumsum tulang belakang.
eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat
memblok pelepasan dari neurotransmiter kontraksi
otot yang tidak terkontrol/ eksitasi terus menerus dan
spasme GK.
Neuron, yang melepaskan GABA dan glisin,
neurotransmitter inhibitor utama, sangat sensitif
terhadap tetanospasmin kegagalan penghambatan
refleks respon motorik terhadap rangsangan sensoris.

MANIFESTASI KLINIS
makin jauh tempat invasi dari otak, masa
inkubasi makin panjang.
Trismus
Risus Sardonisus
Ophistotonus
Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin
meningkat, kejang refleks. Kejang otot ini bisa
terjadi spontan dengan atau tanpa rangsangan
dari luar.

Toxin ke medulla spinalis kekakuan yang


berat, pada extremitas, otot-otot pada dada,
perut dan mulai timbul kejang.
Toksin korteks serebri kejang umum yang
spontan
Tetanospasmin pada sistem saraf otonom
gangguan pernapasan, metabolisme,
hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran
kemih, dan neuromuscular.
Spasme larynx, hipertensi, gangguan irama
janjung, hiperflexi, hyperhidrosis merupakan
penyulit akibat gangguan saraf otonom,

Secara klinis, tetanus dibedakan atas :


Tetanus lokal
Tetanus umum
Tetanus sefalik
Tetanus neonatorum

Anak
Tetanus ringan : Trismus lebih dari 3 cm, tidak disertai kejang
umum walaupun dirangsang
Tetanus sedang : trismus kurang dari 3 cm dan disertai kejang
umum bila dirangsang.
Tetanus berat : trismus kurang 1 cm dan disertai kejang umum yang
spontan.

Dewasa
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
Stadium 4

: umumnya trismus
: opisthotonus
: Kejang rangsang
: kejang spontan

DIAGNOSIS
GK
Port de entry
Kultur C. tetani (+)
SGOT CPK meningkat

Klasifikasi
Albett

DIAGNOSIS BANDING
Meningitis bacterial
Poliomyelitis
Rabies
Keracunan strychnine
Tetani
Timbul karena hipokalsemia dan hipofosfatemia
dimana kadar kalsium dan fosfat dalam serum
rendah. Yang khas bentuk spasme otot ialah
karpopedal spasme dan biasanya diikuti dengan
laringospasme, jarang dijumpai trismus.
Histeria

PENATALAKSANAAN
Merawat dan membersihkan luka
Diet cukup kalori dan protein
Isolasi
Oksigen
Rehidrasi

Anibiotik
Peniciline 50.000 IU /KgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari,
IM.
Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit
/kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.
tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2
gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ).
Eritromisin : 50 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis, selama 10 hari.
Metronidazole loading dose 15 mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5
mg/KgBB tiap 6 jam ATAU 3 x 1 gr / hari.

ATS
ATS diberikan 20.000 IU/hari.

Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus


Immunoglobulin ( TIG)
3000-6000 U, pemberian tidak perlu diulang karena
waktu paruh antibody ini 3 1/2 4 minggu
secara IM. tidak boleh diberikan secara intravena
karena TIG mengandung "anti complementary
aggregates of globulin ", yang mana ini dapat
mencetuskan reaksi allergi yang serius.

Pemberian Tetanus Toksoid (TT)


Diberikan bersamaan dengan pemberian antitoksin tetapi
pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda.
Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus
dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap tetanus
selesai.

Diazepam.
0,5mg/kgbb/kali i.v. perlahan-lahan dengan dosis
optimum 10mg/kali diulang setiap kali kejang.
peroral- 0,5/kgbb/kali sehari diberikan 6 kali.
Diazepam diberikan karena memiliki margin of safety
yang cukup baik

Imunisasi aktif

Merupakan virus/ bakteri


yang dilemahkan
Pembentukan antibodi
memerlukan waktu
Efek kekebalan bertahan
lebih lama
Efek penolakan (alergi)
lebih minimal
Contoh TT membentuk
antibodi Tetanus pada hari
ke -21 setelah disuntik

Imunisasi pasif

Antibodi dari manusia


atau hewan
Memberikan efek
kekebalan dengan segera
Terdapat resiko reaksi
alergi
Contoh : TETAGAM, ATS

PERBED A A N T ET A GA M VS A T S
FAKTOR PERBEDAAN

TETAGAM

ATS

BAHAN BAKU

IG M A N U S IA

SERUM KUDA

BAHAN PENGAW ET

T ID A K A D A

F E N O L 0 ,2 5 %

S K IN T E S T S U B C U T A N E O U S

T ID A K P E R L U

PERLU

REAKSIALERG I

B E L U M P E R N A H D IL A P O R K A N

L E B IH S E R IN G T E R J A D I

R E A K S I S Y O K A N A F IL A K T IK

B E L U M P E R N A H D IL A P O R K A N

L E B IH S E R IN G T E R J A D I

DAYA PRO TEKSI

4 M IN G G U

2 M IN G G U

P E R B A N D IN G A N IM U N O G L O B U L IN P E R 1 IU

7 S A T U A N Ig

1 S A T U A N Ig

D O S IS P R O F IK L A K S IS T E T A N U S

2 5 0 IU

1 .5 0 0 IU

D O S IS P E N A T A L A K S A N A A N T E T A N U S

3 .0 0 0 IU - 6 .0 0 0 IU

1 0 0 .0 0 0 IU 2 0 0 .0 0 0 IU

E X P IR E D D A T E

36 BULAN

24 BULAN

PROGNOS
IS
Phillips score
<9, severitas ringan;
9-18, severitas sedang;
>18, severitas berat.
Dakar score
0-1, severitas ringan dengan
mortalitas 10%;
2-3, severitas sedang dengan
mortalitas 10-20%;
4, severitas berat dengan
mortalitas 20-40%;
5-6, severitas sangat berat
dengan mortalitas >50%
TSS
8 untuk risiko tinggi
<8 untuk risiko rendah

Dakar score
Sensitivitas 13%
Spesifisitas 98%
TSS
Sensitivitas 77%
Spesifisitas 82%
Phillips score
Sensitivitas 89%
Spesifisitas 20%

DAFTAR PUSTAKA
De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. In : Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono TOH,
Rudiman R, editors. 3 ed. Jakarta : EGC; 2012; p. 45 50.
Bachsinar. B.,Bedah Minor : Tetanus . Jakarta. Hipokrates Jakarta ; 1992; p 83 90
J J Farrara,b, L M Yenc, T Cookd, N Fairweathere, N Binhc, J Parrya,b. Neurological Aspects Of
Tropical Disease. [serial online] 2000 [cited 2013 Jul 5. ] ; 69 : 292 - 301 Available :
http://jnnp.bmj.com/content/69/3/292.full . Accested : June 20, 2016

Taylor, A.M., 2006. Tetanus, Continuing Education In Anaesthesia Critical Care and Pain.
Available at http://ceaccp.oxfordjournals.org/search?fulltext=tetanus&submit=yes&x=0&y=0
Accested : June 20, 2016.
Sherwood.L ., Fisiologi Manusia dari sel ke system : Fisiologi otot. Ed 2. Jakarta. EGC, 2001; p
221
Mardjono.M., Sidartha P., : Neurologi Klinis Dasar : Susunan Neuromuskular.Jakarta. Dian
rakyat; 2010; 15; (10-11)
Kayser.F.H.,Kurt .A.,Eckert J.,Medical Microbiology. New York . Thiemme Stuttgart ; 2005; p 274.
Ritarwan, Kiking. Tetanus. Bagian Neurologi FK USU/RSU H. Adam Malik. Available at
http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf . Accested : June 20, 2016

Hinfey, Patrick B. Tetanus. Available at http://emedicine.medscape.com/article/229594 . Accested :


June 20, 2016
Adams R.D, et al : Tetanus in : principles of Newology, Mc Graw Hill, ed 1997, p 1205 07
Anaesth. B.J., 2001. Tetanus : A Review of Literature. Available from:
http://bja.oxfordjournals.org/content/87/3/477.full . Accested ; June 20, 2016