Anda di halaman 1dari 23

EVALUASI PROGRAM

CAKUPAN
PENGAWASAN JAMBAN
Eka Yunita Wulandari
11.2012.296

Masalah
Hendrik L. Blum, derajat kesehatan dipengaruhi lingkungan 45%,
perilaku 30%, pelayanan kesehatan 20% dan keturunan 5%.
Berdasarkan hasil studi WHO 2007, intervensi melalui modifikasi
lingkungan dapat menurunkan risiko penyakit diare sampai dengan
94%, pemanfaatan jamban menurunkan risiko 32%.
Berdasarkan studi ISSDP2006 menunjukan 47% masyarakat
masih berperilaku BABS.
Menurut Susenas 2007 terdapat 59,86% kepemilikan terhadap
fasilitas tempat buang air yang terdiri 42,79% kloset leher angsa
dan 29,41% yang memiliki septik tank.

Masalah
Proporsi rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi dasar
layak 72,54% di perkotaan dan 38,97% di perdesaan dengan target
MDGs 2015 perkotaan yaitu 76,82% dan perdesaan yaitu 55,55%.
Kepmenkes RI No. 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) salah satu pilar dan indikator adalah setiap
individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar
sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari BABS atau Open
Defecation Free (ODF).
Berdasarkan data Riskesdas 2013, proporsi rumah tangga yang
menggunakan fasilitas BAB milik sendiri di perkotaan lebih tinggi (84,9%)
dibandingkan di perdesaan (67,3%).

Masalah
Berdasarkan data Riskesdas 2013 proporsi rumah tangga
dengan pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik
di perkotaan lebih tinggi (79,4%) dibanding di perdesaan
(52,4%).
Berdasarkan Memorandum Program Sanitasi (MPS)
Kabupaten Karawang 2014 - 2018 didapatkan 38,77%
masyarakat belum memiliki akses terhadap jamban dan
masih melakukan BABS
Pada data yang diperoleh Januari 2014 sampai September
2014, didapatkan cakupan pengawasan jamban di wilayah
kerja Puskesmas Pedes sebesar 44,22% dari target yang
ditetapkan provinsi Jawa Barat yaitu 56,25%.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program

pengawasan jamban di UPTD Puskesmas Pedes periode


Januari 2014 sampai September 2014.

Tujuan Khusus
Diketahuinya jumlah sarana jamban yang ada, jumlah

penduduk yang menggunakan jamban, jenis jamban yang


ada dan jumlah jamban yang memenuhi syarat kesehatan
di wilayah kerja Puskesmas Pedes periode Januari 2014
sampai dengan September 2014.
Diketahuinya penyuluhan tentang sarana jamban/program
pengawasan jamban di wilayah kerja Puskesmas Pedes
periode Januari 2014 sampai dengan September 2014.

Tujuan Khusus
Diketahuinya cakupan hasil inspeksi program

pengawasan jamban di wilayah kerja Puskesmas Pedes


periode Januari 2014 sampai dengan September 2014.
Diketahuinya presentase akses fasilitas jamban yang
memenuhi syarat kesehatan di wilayah kerja Puskesmas
Pedes periode Januari 2014 sampai dengan September
2014.

Materi
Pencatatan
dan
pelaporan

Penyuluhan
tentang
sarana
jamban/progr
am
pengawasan
jamban

Pendataan
jumlah sarana
jamban yang
ada

Jumlah
penduduk
yang
menggunakan
jamban

Materi yang
dievaluasi dalam
program pengawasan
jamban periode
Januari 2014 September 2014 di
UPTD Puskesmas
Pedes

Pemetaan
sarana
jamban yang
memenuhi
syarat

Hasil inspeksi
jamban
keluarga yang
ada di wilayah
kerja UPTD
Pedes

Jenis jamban
yang ada
/yang
digunakan

Jumlah
jamban yang
memenuhi
syarat
kesehatan

Peta Wilayah Kerja UPDT Pedes

Batas Wilayah Kerja Puskesmas


Pedes
Utara
Selatan

UPTD Puskesmas Sungai Buntu


UPTD Puskesmas Kuta Mukti

Barat

UPTD Puskesmas Cibuaya

Timur

UPTD Puskesmas Kerta Mukti

Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pedes Kecamatan Pedes mempunyai 8


desa binaan yaitu Desa Payung Sari, Desa Karang Jaya, Desa Kerta
Rahaja, Desa Rangdu Mulya, Desa Laban Jaya, Desa jati Mulya, Desa
Kerta Mulya dan Malang Sari.
Jarak dari Puskesmas Pedes Ke Kota Kabupaten + 35 Km dengan
waktu tempuh
+ 90 menit menggunakan roda empat.

NO

JENIS SARANA KESEHATAN

SWAS
TA

PEMERINTAH

JUMLAH

Pustu

Poskesdes

11

Ambulan (mobil Pusling)

Praktek Bidan Swasta

10

10

Pos Bindu

Posyandu

49

49

Klinik 24 jam

- Dokter Umum

- Dokter gigi

- Perawat

12

12

- Bidan

18

18

18

18

BP

Pengobatan Tradisional

10

Apotek

Lingkungan
Lingkungan Fisik
Lokasi :
Semua lokasi sarana jamban dapat dijangkau dengan sarana
transportasi yang ada (sepeda motor) karena terdapat akses jalan
yang bisa dilalui sepeda motor. Walaupun sebagian jalan masih
berlubang-lubang dan masih banyak jalan yang belum diaspal
tetapi tidak mempengaruhi pelaksanaan program secara
signifikan.
Iklim :
Iklim tidak mempengaruhi pelaksanaan program. Tetapi bila
musim hujan beberapa tempat becek dan sering banjir.
Kondisi Geografis :
Kondisi geografi tidak mempengaruhi program pengawasan
jamban. Berdasarkan keterangan petugas kesehatan lingkungan
puskesmas Wanakerta tidak mempengaruhi.

Lingkungan
Lingkungan Non Fisik
Keadaan sosial ekonomi masyarakat dapat mempengaruhi
keberhasilan program.
Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani, dan
terdapat 52,6% KK miskin, hal tersebut dapat mempengaruhi akses
untuk mendapatkan sarana jamban yang memadai.
Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah yaitu SD sebanyak
68%.
Perilaku masyarakat yang masih BAB sembarangan seperti di
sungai, selokan, sawah, dan kebun yang mempengaruhi
keberhasilan program.
Sebagian besar masyarakat masih belum memiliki sarana jamban
yang memenuhi syarat.
Adanya kebiasaan di masyarakat bahwa jika tidak BAB di sungai
maka tidak akan keluar.

Umpan Balik
Adanya rapat kerja bulanan bersama Kepala Puskesmas

satu bulan satu kali yang membahas laporan kegiatan


evaluasi program yang telah dilaksanakan.
Adanya pencatatan dan pelaporan yang lengkap sesuai
dengan waktu yang ditentukanakan dapat digunakan
sebagai masukan dalam perencanaan program
pengawasan jamban selanjutnya.

Masalahan (Keluaran)
Cakupan hasil pengawasan/inspeksi sarana jamban

44,22% dari target 56,25%, besar masalah 12,03%.


Presentase penduduk dengan akses fasilitas sanitasi
yang layak/jamban sehat yaitu 27% dari target 56,25%,
besar masalah 29,25%.

Dari Unsur Lain


Masukan
Dana (Money )
Tidak ada laporan penggunaan dana yang diterima secara rinci

khususnya di bagian kesehatan lingkungan.


Sarana (Material)
Tidak ada poster, leafet dan lembar timbal balik yang mengenai sarana

jamban atau perilaku stop BABS.


Metode (Method)
Tidak dilakukan pemetaan sarana jamban yang memadai.

Masalah (1)
Cakupan hasil pengawasan/inspeksi sarana jamban

44,22% dari target 56,25%.


Penyebab antara lain :
Pengorganisasian
Struktur organisasi sudah jelas, namun koordinasi belum optimal

koordinasi di lintas program dan lintas sektoral antar petugas pelaksana


program pengawasan jamban.

Penyelesaian antara lain :


Meningkatkan koordinasi antara penanggung jawab dengan
koordinator program, koordinator dengan pelaksanaserta
mengoptimalkan koordinasi lintas program dan lintas sektoral
seperti mengikuti rapat mingguan desa dan kecamatan bekerja
sama dengan promosi kesehatan, bidan desa dan sebagainya.

Masalah (2)
Presentase penduduk dengan akses fasilitas sanitasi

yang layak/jamban sehat yaitu 27%


Penyebab antara lain :
Pengorganisasian
Belum optimal koordinasi di lintas program dan lintas sektoral antar

petugas pelaksana program pengawasan jamban.


Metode
Tidak dilakukan pemetaan sarana jamban yang memenuhi syarat

padahal sudah ada data pencatatan setiap bulan tentang jumlah jamban
yang memenuhi syarat.

Masalah (2)
Penyebab antara lain :
Pelaksanaan
Penyuluhan hanya terbatas di posyandu dan dalam gedung saja serta

kurangnya sarana dan prasarana penunjang penyuluhan kesehatan


kepada masyarakat sehingga sasaran target penyuluhan kurang.
Dilakukan arisan jamban yang diikuti oleh tiap 20 rumah dan yang
memenangkan arisan dibuatkan 1 jamban yang memenuhi syarat
kesehatan.

Masalah (2)
Penyebab antara lain :
Lingkungan
Fisik:
Pada saat musim hujan agak sulit sebab sebagian besar jalan tidak diaspal
(berupa tanah) dan berupa tanah sehingga jalan menjadi becek dan
beberapa tempat banjir.
Non-Fisik
Sebagian besar penduduk bermata pencaharian adalah petani, hal tersebut
dapat mempengaruhi akses untuk mendapatkan sarana jamban yang
memadai.
Tingkat pendidikan masih rendah sehingga kurangnya pengetahuan tentang
pentingnya sanitasi dasar yang berkualitas (sarana jamban yang memadai)
terhadap kesehatan.
Perilaku masyarakat yang masih BABS menjadi suatu tradisi atau kebiasaan
hidup.

Masalah (2)
Penyelesaian antara lain :
Meningkatkan koordinasi antara penanggung jawab dengan
koordinator program, koordinator dengan pelaksana serta
mengoptimalkan koordinasi lintas program dan lintas sektoral
seperti mengikuti rapat mingguan desa dan kecamatan bekerja
sama dengan promosi kesehatan, bidan desa dan sebagainya.
Melakukan pemetaan jamban yang memenuhi syarat sesuai
dengan pencatatan bulan yang ada.

Masalah (2)
Penyelesaian antara lain :
Dilakukan penyuluhan secara intensif dengan meningkatkan frekuensi

penyuluhan tidak hanya 1x dalam 1 bulan, bervariasi dengan


memberikan contoh sarana jamban yang memadai dan yang tidak
memenuhi syarat di lapangan.
Penyuluhan tentang pentingnya sarana jamban sehat dengan
kesehatan. Penyuluhan diharapkan menambah pengetahuan
masyarakat sehingga mengubah sikap dan perilaku dalam hal BABS.
Mulai mensosialisasikan dan menerapkan sistem program STBM yang
salah satu pilarnya adalah ODF atau stop BABS.

TERIMA KASIH