Anda di halaman 1dari 15

PENGANGGARAN DI ERA

(PASCA) REFORMASI
(PERIODE 1999-2004)

PERATURAN PELAKSANAAN PENDUKUNG


OTONIMI PENGELOLAAN KEUANGAN
1. PP Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan.
2. PP Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
3. PP Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah.
4. PP Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara
Pertanggungjawaban Kepala Daerah.
5. Surat Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Tanggal 17
November 2000 Nomor 903/2735/SJ tentang Pedoman
Umum Penyususunan dan Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran
2001.

PERATURAN PELAKSANAAN
PENDUKUNG OTONIMI
PENGELOLAAN KEUANGAN

6. Kepmendeagri Nomor 29 Tahun 2002 tentang


Pendoman Pengurusan, Pertanggungjawaban, dan
Pengawasan Keuangan Daerah, serta Tata Cara
Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan
Daerah, serta Penyusunan Perhitungan APBD.
7. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
8. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara.

PERBEDAAN PADA MASA


PRAREFORMASI
1. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah beserta perangkat
lainnya, sebagai badan eksekutif, sedangkan DPRD sebagai
bagian DPRD sebagai badan legislatif. Terdapat pemisahan
yang tegas antara lembaga legislative dan eksekutif.
2. Bentuk Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran
terdiri atas:
a. Laporan Perhitungan APBD
b. Nota Perhitungan APBD
c. Laporan Aliran Kas
d. Neraca Daerah

PERBEDAAN PADA MASA


PRAREFORMASI
3. Pinjaman APBD tidak lagi masuk dalam pos
Pendapatan, melainkan masuk dalam pos Penerimaan
(yang belum tentu menjadi hak pemda)
4. Proses penyusunan APBD melibatkan unsur-unsur
dalam masyarakt, selain pemda dan DPRD
5. Bentuk dan susunan APBD terdiri atas tiga bagian
yaitu pendapatan, belanja, dan pembiayaan.

APBD

Pendapatan

PAD

Dana
Perimbangan
Pendapatan Lainlain Daerah yang
Sah

Belanja

Belanja Apatur
Daerah
- Belanja Adm.
Umum
- Belanja Operasi
dan
Pemeliharaan
- Belanja
Modal/Pembiaya
an
Belanja Bagi Hasil
dan Bantuan
Keuangan

Pembiayaan

Belanja Pelayanan
Publik
- Belanja Adm.
Umum
- Belanja Operasi
dan
Pemeliharaan
- Belanja Modal
Belanaj Tidak
Terduga

Penerimaan

Pengeluaran

PERBEDAAN PADA MASA


PRAREFORMASI
6. Indikator kinerja pemda tidak hanya mencakup tiga
hal sebagaimana pada masa prareformasi, tetapi juga
meliputi standar pelayanan yang diharapkan.
7. Terdapat perubahan mendasar dalam pengelolaan
anggaran dengan dikeluarkannya PP Nomor 105 Tahun
2000 dan Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002 yang
menutut akan akuntabilitas dan transparansi yang
lebih besar dalam pengelolaan anggaran, sehingga
terjadi pergeseran, yaitu:

PERBEDAAN PADA MASA


PRAREFORMASI
a. Dari pertanggunjawab secara vertical menjadi
pertanggungjawaban horizontal
b. Dari sistem anggaran tradisional menjadi anggaran
kinerja
c. Dari pengendalian dan audit keuangan, menjadi
ditambah dengan audit kinerja
d. Lebih menetapkan konsep value for money
e. Penerapan konsep pusat pertanggungjawaban
f. Perubahan sistem akuntansi keuangan pemerintahan

PERBEDAAN PADA MASA


PRAREFORMASI
8. Sebagaimana disebutkan poin f, bahwa perubahan
pada sistem pencatatan yaitu dengan
dilaksanakannya akuntansi dalam pengelolaan
keuangan daerah dan bukan pembukuan
sebagaimana yang dilaksanakan selama masa
prareformasi. Akuntansi memiliki peranan penting
dalam pengelolaan keuangan daerah dibandingkan
sebelum reformasi yang lebih mementingkan kegiatan
perbendaharaan, yaitu kegiatan administrasi
penerimaan dan pengeluaran.

PENGANGGATAN DI ERA
PASCA-REFORMASI
LANJUTAN
(PERIODE 2004-SEKARANG)

PERUBAHAN MENDASAR YANG


TERJADI PADA PERIODE INI
a. Dikenalkan kembali bendahara penerimaan dan
bendahara pengeluaran untuk mengadministrasikan
penerimaan dan pengeluaran anggaran
b. Pengelompokan belanja diganti dari belanja apartur ,
belanja pelayanan public, belanja bagi hasil dan
bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga, menjadi
belanja langusung dan belanja tidak langsung yang
dikaitkan dengan keterkaitan langsung maupun tidak
langsung dengan program dan kegiatan

PERUBAHAN MENDASAR YANG


TERJADI PADA PERIODE INI
c. Ditetapkannya konsep multi terms expenditure framework (MTEF)
d. Perlunya penyusunan sistem akuntansi keuangan daerah yang
mensyaratkan adanya standar akuntansi pemerintahan dan
prosedur akuntansi keuangan daerah untuk menjamin konsistensi
dalam pelaporan keuangan.
e. Konsekuensi dari diterbitkannya PP Nomor 24 Tahun 2005 dan PP
Nomor 58 Tahun 2005 adalah pengelolaan keuangan daerah
bergeser dari sentralisasi ke desentralisasi atas proses
pengelolaan keuangan daerah dan tanggung jawab
pengelolaannya yang telah didelegasikan dari Kepala Daerah
kepada masing-masing Kepala SKPD

AGENDA DI MASA MENDATANG


Agenda masa mendatang adalah bagaimana menyusun
konsep dan aplikasi penganggaran berbasis akrual yang
merupakan syarat diterapkannya akuntansi
pemerintahan berbasis akrual. Jika anggaran
pendapatan, belanjaan dan pembiayaannya masih
berbasis kas sedangkan realisasinya berbasis akrual,
maka antara anggaran dan realisasinya tidak dapat
diperbandingkan.

KESIMPULAN
Perubahan mendasar dari pengelolaan keuangan pada
masa sebelum reformasi yaitu pengertian pemerintah
daerah adalah kepada daerah dan DPRD sehingga
proses penyusunan APBD disusun oleh DPRD bersamasama dengan kepala daerah. Konsekuensinya
pertanggungjawaban APBD bersifat veritkal, yaitu tidak
ditujukan kepada DPRD sebagai lembaga perwakilan
masyarakat, melainkan ditujukan kepada pemerintahan
yang lebih tinggi.

KESIMPULAN
Pada era awal otonomi daerah, perubahan mendasar
dari pengelolaan keuangan daerah yaitu terdapat
pemisahan yang tegas antara kepala daerah sebagai
lembaga eksekutif dengan DPRD sebagai lembaga
legislatif, sehingga kepala daerah
mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan
daerah kepada DPRD
Periode selanjutnya, yaitu era reformasi lanjutan
perubahan pengelolaan keuangan daerah lebih kepada
penyempurnaan penganggaran berbasis kinerja, dari
segi penyusunan maupun bentuk APBD, serta
diberlakukannya standar akuntansi pemerintahan.