Anda di halaman 1dari 20

Trauma Dada

(Pneumothorak dan
Hemathorak)
Oleh:
Diana F.N
Fitriah
Taufik Hidayat

Definisi
O Trauma dada

adalah
abnormalitas
rangka dada yang disebabkan oleh
benturan pada dinding dada yang
mengenai tulang rangka dada, pleura
paru-paru, diafragma ataupun isi
mediastinal baik oleh benda tajam
maupun
tumpul
yang
dapat
menyebabkan
gangguan
sistem
pernapasan (Suzanne & Smetzler,
2001).

Etiologi
O Tension pneumothorak-trauma dada pada selang dada
O Penggunaan
therapy
ventilasi
mekanik
yang
O
O

O
O
O
O
O

berlebihan
Penggunaan balutan tekan pada luka dada tanpa
pelonggaran balutan.
Pneumothorak tertutup-tusukan pada paru oleh
patahan tulang iga, ruptur oleh vesikel flaksid yang
seterjadi sebagai sequele dari PPOM.
Tusukan paru dengan prosedur invasif.
Kontusio paru-cedera tumpul dada akibat kecelakaan
kendaraan atau tertimpa benda berat.
Pneumothorak terbuka akibat kekerasan (tikaman
atau luka tembak)
Pukulan daerah thorax dan Fraktur tulang iga
Tindakan medis (operasi)

Klasifikasi
O Trauma Tajam
O Pneumothoraks terbuka
O Hemothoraks

O Trauma Tumpul
O Flail Chest

O Hematotorax

adalah
tedapatnya
darah
dalam
rongga
pleura,
sehingga
paru
terdesak
dan
terjadinya perdarahan.
O Pneumotorax
adalah terdapatnya
udara
dalam
rongga
pleura,
sehingga paru-paru dapat terjadi
kolaps.

Pathophysiology of
Thoracic Trauma Chest
Wall
Injuries
O Flail Chest

O Segment of the chest that becomes

free to move with the pressure changes


of respiration
O Three or more adjacent rib fracture in
two or more places
O Serious
chest
wall
injury
with
underlying pulmonary injury
O Reduces volume of respiration
O Adds to increased mortality

O Paradoxical flail segment movement


O Positive pressure ventilation can restore

tidal volume

Manifestasi Klinis
Pneumothorak
O timbulnya mendadak, biasanya setelah

mengangkat barang berat, habis batuk


keras,
kencing
yang
mengejan,
penderita menjadi sesak yang makin
lama makin berat.
O sesak, nafas berat, bisa disertai batukbatuk. Nyeri dada dirasakan pada sisi
sakit, terasanya berat (kemeng), terasa
tertekan, terasa lebih nyeri
pada
gerakan respirasi.

Hemathorak
O Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain

dari luka yang berdarah didinding dada.


Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak
menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia
dan syok hipovalemik merupakan keluhan
dan gejala yang pertama muncul.
O Secara klinis pasien menunjukan distress
pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea
berat, tahikardia dan peningkatan awal
tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi
sesuai dengan penurunan curah jantung.

Pemeriksaan
Diagnostik
O Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
O Radiologi : Foto Thorax (AP)
O Gas Darah Arteri (GDA) dan pH
O CT-Scan
O Ekhokardiografi
O EKG (Elektrokardiografi)
O Angiografi

Penatalaksanaan PreHopital dan Hospital

O Pemeriksaan dan Pembebasan Jalan Napas (Air-

Way)
O Pemeriksaan dan Penanganan Masalah Usaha
Napas (Breathing)
O Pemeriksaan dan Penanganan Masalah Siskulasi
(Circulation)

Hospital
Bullow Drainage / WSD

Pada trauma toraks, WSD dapat


berarti :
Diagnostik
Terapi
Preventive

Management of the Chest


Injury Patient
O Open

Pneumothorax
O High flow O2
O Cover site with

sterile occlusive
dressing taped on
three sides
O Progressive airway
management if
indicated

Management of the Chest


Injury Patient
O Hemothorax
O High flow O2
O 2 large bore IVs
O EVALUATE BREATH SOUNDS for fluid

overload

Dinyatakan berhasil,
bila
O Paru sudah mengembang penuh

pada pemeriksaan fisik dan


radiologi.
O Darah cairan tidak keluar dari WSD /
Bullow drainage.
O Tidak ada pus dari selang WSD.

ASUHAN
KEPERAWATAN
pengkajian
O Point yang penting dalam riwayat

keperawatan :
O Umur : Sering terjadi usia 18 - 30 tahun.
O Alergi terhadap obat, makanan tertentu.
O Pengobatan terakhir.
O Pengalaman pembedahan.
O Riwayat penyakit dahulu.
O Riwayat penyakit sekarang.
O Dan Keluhan.

Pemeriksaan fisik
O Sistem Pernapasan
O Sistem Kardiovaskuler
O Sistem Persyarafan
O Sistem Perkemihan
O Sistem Pencernaan
O Sistem Muskuloskeletal

Integumen
O Sistem Endokrine

Diagnosa
O Ketidakefektifan

pola pernapasan
berhubungan dengan ekpansi paru
yang
tidak
maksimal
karena
akumulasi udara/cairan

Intervensi

O Berikan posisi yang

nyaman, biasanya dnegan


peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang
sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak
mungkin.
O Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi
pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda
vital.
O Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk
kontrol diri dengan menggunakan pernapasan
lebih lambat dan dalam.