Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS CANDIDIASIS

VULVOVAGINITIS
Tri Rohmanto
201510401011050
Pembimbing :
Dr. Sri Adilla Nurainiwati, Sp. KK

Tinjaun Pustaka
Definisi
Kandidiasis
(atau
kandidosis,
monoliasis, trush) merupakan berbagai
macam
penyakit
infeksi
yang
disebabkan oleh Candida albicans dan
anggota
genus
kandida
lainnya.
Kandidiasis
vulvovaginitis
ialah
penyakit jamur candida yang mengenai
mukosa vagina dan vulva.1,2

Candida sp

Etiologi
Candida
albicans
merupakan
penyebab 80-90% KVV, dan Candida
glabrata merupakan spesies yang
paling sering terlibat selanjutnya. 3,6
Candida
membentuk
pseudohifa
ketika tunas-tunas terus tumbuh
tetapi
gagal
melepaskan
diri
sehingga menghasilkan rantai sel
yang memanjang yang terjepit atau
tertarik pada septa di antara sel.3,6
Candida albicans bersifat dismorfik
(ada
juga
yang
menyebutnya
polimorfik);
selain
ragi
dan
pseudohifa, Candida albicans juga
bisa menghasilkan hifa sejati.3,6

EPIDEMIOLOGI

Sekitar 3-4 dari semua wanita akan


mengalami
episode
KVV
seumur
hidupnya. KVV mempengaruhi banyak
wanita paling sedikit satu kali selama
hidupnya, paling sering pada usia
mampu melahirkan, diperkirakan 7075%, 3-5 dari 40-50% akan mengalami
kekambuhan. 5
Banyak studi mengindikasikan KVV
merupakan diagnosis paling banyak
diantara wanita muda, mempengaruhi
sebanyak 15-30% wanita yang bersifat
simptomatik
yang
mengunjungi
dokter.5

Faktor Resiko
Ada beberapa faktor predisposisi terjadinya vulvovaginal
candidiasis, yaitu diantaranya:2,5,9

Kehamilan

Penggunaan steroid

Kontrasepsi

Diabetes Mellitus

Inumosupresif

Antibiotik

Kontak bahan kimia, alergi lokal, atau reaksi


hipersensitivitas

PATOGENESIS
Kandida memasuki lumen vagina datang dari faktor perianal
atau kontaminasi dari traktus gastrointestinal

Invasi hifa ke dalam epitel jaringan akan


menyebabkan terjadinya proses keradangan dan
akhirnya merusakkan sel-sel epitel tersebut.
Proses ini menyebabkan reaksi inflamasi pada mukosa
yang mengakibatkan pembengkakan, eritema, dan
deskuamasi sel epitel vagina.

Selain proses tersebut di atas mungkin kandida


menimbulkan simtom vaginitis karena reaksi
hipersensitivitas, khususnya pada wanita yang mengalami
VVC rekuren yang idiopatik.

Manifestasi Klinis
Nyeri pada vaginal, iritasi, rasa
terbakar, dispareunia, dan disuria
eksternal biasanya ada. Bau, jika ada,
sedikit dan tidak mengganggu. 2
Dispareunia 2
Keputihan seperti kepala
susu/ krim , atau sedikit
dan cair seperti usus
pecah.5

DIAGNOSA
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
KOH 10% atau
dengan
pewarnaan
gram,
terlihat sel ragi,
blastospora,
atau hifa
semu.2,5,11

Diagnosis ditegakkan
berdasarkan pada:5,9
Anamnesis.
gambaran klinis.
pemeriksaan
penunjang.

Diagnosa Banding

TERAPI
Menghindari
atau
menghilangkan
faktor
predisposisi. Sistemik dapat diberikan:4,14
Miconazole/clotrimazole 200 mg intravaginal
perhari selama 3 hari.
Clotrimazole 500 mg intravaginal dosis
tunggal.
Nystatin 100.000 IU intravaginal perhari
selama 14 hari.
Tablet ketokonazole sehari 2 kali 1 tablet
selama 7 hari.
Itrakonazol 2 x 100 mg sehari, selama 3 hari.

Prognosis

Prognosis baik bila faktor predisposisi dapat


diminimalkan.11

TINJAUAN KASUS
Identitas Penderita

Nama : Sdri. P
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 17 tahun
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Bulakrejo Balerejo
Tanggal pemeriksaan : 22 8 2016
No RM : 32 50 88

Anamnesis

Keluhan Utama: Keputihan


Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang
ke poli kulit dan kelamin RSUD Jombang
Tanggal 22-8-2016 dengan keluhan
keputihan. Keluhan dirasakan kurang lebih
1 bulan ini. Keputihan warna putih
bergumpal seperti susu pecah, tidak ada
bau. Terasa perih kdang-kadang terasa
gatal. Pasien sering menggunakan sabun
dettol diarea kemaluan.
Riwayat pengobatan: Belum pernah berobat
sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu:


- Dulu tidak pernah sakit seperti ini.
Riwayat Penyakit Keluarga:
- Saat ini Tidak ada keluarga yang sakit
seperti ini.
Riwayat Sosial:
- sering menggunakan sabun dettol diarea
kemaluan.
Riwayat Alergi
- Alergi makanan: ayam, telur.
- Alergi obat-obatan disangkal

Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata
Keadaan Umum
: Baik
Gizi
: Cukup
Kepala
: Dalam batas normal.
Leher
: Dalam batas normal.
Thorax
: Dalam batas normal.
Abdomen
: Dalam batas normal.
Ekstremitas atas : Dalam batas normal.
Ekstremitas bawah
: Dalam batas normal.

Status Lokalis
Et regio genitalia
externa terdapat
discharge warna
putih,
sedikit,
bergumpal
seperti
susu
pecah, bau (-).
Pemeriksaan
penunjang tidak
dilakukan.

Diagnosis
Candida vulvovaginitis
Diagnosis Banding
Trikhomoniasis vaginitis.
Planning
Planning Diagnosis: Pemeriksaan KOH 1020%.
Planning Terapi
a. Loratadin 10 mg 2 x 1
b. Ketokonazole 2 x 200 mg tab selama 7
hari.
Planning Monitoring:
- Keluhan pasien, efloresensi, dan efek

Planning Edukasi
Menjelaskan kepada pasien tetang
penyakit (Def-prog).
Menjelaskan kepada pasien untuk
menghindari faktor predisposisi
seperti tidak menggunakan sabun
dettol pada vagina.
Menjelaskan kepada pasien untuk
mencuci vagina cukup dengan air saja
tanpa sabun.
Menjelaskan kepada pasien tentang
pengobatan yang diberikan dan efek
sampingnya.

Prognosis:

Dubai ad bonam.

PEMBAHASAN

Anamnesa

Kasus:
Wanita 17 tahun

Keputihan kurang lebih 1


bulan terasa perih kadang
terasa gatal, bergumpal
tidak ada bau.

Teori:
Sekitar 3-4 dari semua wanita
akan mengalami episode KVV
seumur
hidupnya.
Banyak
studi mengindikasi-kan KVV
merupakan diagnosis paling
banyak diantara wanita muda,
mempengaruhi sebanyak 1530% wanita yang bersifat
simptomatik
yang
mengunjungi dokter.5
Nyeri pada vaginal, iritasi,
rasa
terbakar,
dispareunia,
dan disuria eksternal biasanya
ada. Bau, jika ada, sedikit dan
tidak mengganggu.2

Kasus:
Sering memakai
sabun diarea
vaginanya

Teori:
Kontak bahan kimia,
alergi lokal, atau
reaksi hipersensitivitas
dapat mengubah
lingkungan vagina dan
memungkinkan
transformasidari
kolonisasi yang
bersifat asimptomatik
menjadi vaginitis yang
bersifat simptomatik.2,5

Pemeriksaan Fisik
Kasus
Status general dalam
batas normal.
Status lokalis: Et regio
genitalia externa
terdapat discharge
warna putih, sedikit,
bergumpal seperti susu
pecah, bau tidak ada.

Pemeriksaan penunjang
tidak dilakukan.

Teori
Keputihan seperti kepala susu/
krim , atau sedikit dan cair
seperti usus pecah.15 Bau, jika
ada,
sedikit
dan
tidak
mengganggu.2

Pemeriksaan
KOH
10-20%,
tampak adanya sel ragi yang
polimorfik, berbentuk lonjong,
atau bulat berukuran 2-6 x 4-9
m, blastospora (sel ragi yang
sedang bertunas), sel budding
yang khas, hifa bersekat atau
pseudohifa,
kadang-kadang
ditemukan klamidiospora. 2,5

Penatalaksanaan
Kasus:
Loratadin 10 mg
2x1
Ketokonazole 2
x 200 mg tab
selama 7 hari.

Teori:
Menghindari atau
menghilangkan faktor
predisposisi. Sistemik dapat
diberikan:4,14
Miconazole/clotrimazole 200
mg intravaginal perhari
selama 3 hari.
Clotrimazole 500 mg
intravaginal dosis tunggal.
Nystatin 100.000 IU
intravaginal perhari selama 14
hari.
Tablet ketokonazole sehari 2
kali 1 tablet selama 7 hari.
Itrakonazol 2 x 100 mg sehari,
selama 3 hari

Prognosis
Kasus
Dubai ad bonam

Teori
Prognosis
baik
bila
faktor
predisposisi
dapat
diminimalkan.11

KESIMPULAN

Kandidiasis vulvovaginitis ialah penyakit jamur candida


yang mengenai mukosa vagina dan vulva. Penyebabnya
yang tersering biasanya adalah candida albicans. Nama
lain dari penyakit ini adalah kandidosis vulvovaginitis
atau MycoticVulvovaginitis. Kandidiasis vulvovaginitis
dapat terjadi apabila ada faktor predisposisi baik
eksogen maupun endogen.
Tanda khasnya adalah flour albus bewarna putih
kekuningan disertai gumpalangumpalan seperti kepala
susu. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
gejala klinis,disertai dengan pemeriksaan penunjang
antara lain kerokan kulit atau usapan mukosa diperiksa
dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan gram.
Pada pewarnaan gram terlihat sel lagi, blastospora dan
hifa semu.

TERIMAKASIH

DAFTAR PUSTAKA
1.Dewa Made Rendy Sanjaya, IGK Darmada, Luh Made Mas Rusyati. KANDIDIASIS VAGINA
YANG MENDAPAT TERAPI SISTEMIK DAN TOPIKAL. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah,
Denpasar
2.Janik MP, Heffernan MP. Yeast infection: candidiasis and tinea (pityriasis) versicolor. In:
Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatricks
dermatology in general medicine. 7th ed. New York: The McGraw-Hill Companies, 2008;
p.1822-8.
3.Hay RJ, Moore MK. Mycology. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths, editors. Rooks
textbook of dermatology. 7th ed. Massachusets: Blackwell Publishing; 2004; p. 31.60-75.
4.Kuswaji. Kandidosis. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 5th ed. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.p;106-109.
5.Sobel JD. Vulvovaginal candidiasis . In : Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, Piot P,
Wasserheit JN, Corey L, Cohen MS, Watts DH, editors. Sexually Transmitted Disease. 4th
ed. United State of America:Mc Graw Hill;2008;p 823-35
6.Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi kedokteran. Edisi 1. Jakarta: Salemba
Medika, 2005.
7.Calderone, R.A., and Fonzi, W.A. (2001). Virulence factors of Candida albicans. Trends
in Microbiology, 9(7): 327-35.

8.Stawiski MA, Prince SA. Infeksi kulit. Dalam: Prince SA, Wilson LM, editor. Patofisiologi
konsen klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2005; p. 1443-54.
9.Nyirjesy, P., C. Peyton, et al. (2006). Causes of chronic vaginitis: analysis of a
prospective database of affected women. Obstet Gynecol 108(5):p 1185-91.
10.Schwebke, JR. Vaginitis . In :Zenilman JM, Shahmanesh M, editors. Sexually
Transmitted Disease: Diagnosis, Management and Treatment. United State of
America:LLC;2012;p 65
11.James, Wiliam D, Dirk M Elston, Timothy G. Berger. Andrews Disease of The Skin
Clinical Dermatology. 11th ed. British:Saunder elsevier; 2006; p 297-9
12.Richardson MD, Warnock DW. Fungal infection. Edisi ke 3, Oxford :Blackwell
Publication; 2003.
13.Daill SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual. Edisi keempat. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011.
14.Workowshi KA, Berman SM. Sexually Transmitted Diseases Treatment guidelines
2006. US Department of Health and Human Services. Centers For Disease Control and
Prevention (CDC). Morbidity and Mortality Weekly Report; 2006. 55 : p. 54-6.
15.Lumintang, I. , Martodihardjo, S., Barakbah, J. (2005) Flour Albus. Dalam : Pedoman
Diagnosis dan Terapi. SMF ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo.
Surabaya. Hal 15-18.

Anda mungkin juga menyukai