Anda di halaman 1dari 35

BIAYA OVERHEAD PABRIK (BOP)

Kelompok 5:
Chandra Fernandez
Dwi Cahya Piscessa
Lilis Sania
Thalia
Uray Mayang Sari

A. PENGERTIAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Biaya Overhead Pabrik (BOP)


merupakan biaya produksi selain
biaya biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung. Contoh biaya
bahan penolong, biaya tenaga kerja
tak langsung, penyusutan aktiva
tetap pabrik, biaya sewa gedung
pabrik, biaya listrik pabrik, biaya
pemeliharaan, dan penyusutan
mesin pabrik serta biaya lain-lain.

B. JENIS-JENIS BIAYA OVERHEAD


PABRIK
1.

Biaya Bahan Penolong


Biaya bahan penolong adalah biaya
bahan yang digunakan untuk membantu
penyelesaian suatu produk yang
jumlahnya relatif kecil sehingga biaya
tersebut digolongkan kedalam biaya
produksi tak langsung. Misalnya lem
dalam perusahaan percetakan, pernis,
dan paku dalam perusahaan mebel.

2. Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung


Biaya tenaga kerja tak langsung adalah biaya
tenaga kerja yang diberikan kepada pekerja
yang tidak menangani secara langsung dalam
proses produksi, misalnya upah mandor, gaji
direksi produksi, gaji pegawai pada departemen
pembantu.
3. Biaya Penyusutan Aktiva Tetap Pabrik
Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik adalah biaya
penyusutan aktiva tetap yang dipergunakan di pabrik
untuk menyelesaikan produk, baik secara langsung
maupun tidak langsung .
Misalnya penyusutan gedung pabrik, penyusutan mesin
pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, dan penyusutan
barang inventaris lainnya.

4 BIAYA REPARASI DAN PEMELIHARAAN


Biaya dan reparasi dan pemeliharaan adalah
biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan
perawatan mesin dan peralatan pabrik.
5 BIAYA ASURANSI PABRIK
Biaya asuransi pabrik adalah biaya dikeluarkan
untuk membagi resiko yang terjadi dalam
produksi di pabrik misalnya asuransi terhadap
gedung pabrik, tenaga kerja pabrik, dan lain-lain
6 BIAYA JASA KEPADA PIHAK LAIN
biaya jasa kepada pihak lain adalah biaya yang
ditimbulkan karena pengguna jasa kepada pihak
lain guna penyelesaian dan kelancaran proses
produksi misalnya biaya listrik dan air untuk
pabrik, reparasi mesin pabrik, dan lain-lain .

7. BIAYA-BIAYA LAIN YANG SIFATNYA TIDAK


LANGUNG
Biaya lain yang sifatnya tidak langsung
merupakan biaya yang berhubungan
dengan proses produksi yaitu biaya yang
dikeluarkan pada departemen pembantu,
misalnya gaji mandor bagian bahan baku
dan cadangan pembangkit listrik (diesel).
Berdasarkan perilaku terhadap produksi
biaya overhead pabrik dapat digolongkan
menjadi tiga macam, yaitu BOP variabel,
BOP tetap, dan BOP semi variabel.

a. BOP variabel adalah BOP yang bertambah dan


berkurang sebanding dengan perubahan volume
produksi, sehingga BOP per unit selalu tetap,
meskipun ada perubahan volume produksi. (biaya
bahan penolong termaksut dalam BOP variabel)
b. BOP tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap dan
pada batas-batas tertentu tidak terpengaruh oleh
perubahan volume produksi sehingga totalnya
selalu tetap walaupun produksi berubah,
sebaiknya BOP per unit akan selalu berubah,
berbanding terbalik dengan perubahan volume
produksi
BOP tetap antara lain meliputi biaya penyusutan
mesin pabrik dan biaya penyusutan gudang pabrik

c. BOP semi variabel adalah BOP yang


jumlahnya berubah secara tidak
proposional dengan perubahan volume
produksi. Biaya ini mengandung unsur
tetap dan variabel.
Contohnya gaji mandor bagian,
produksi biaya listrik dan lainlain.

C. TARIF BIAYA OVERHEAD PABRIK


Dalam menentukan besarnya
overhead pabrik yang dibedakan pada
produk suatu perusahaan didasarkan
atas tarif yang ditentukan di muka.
Besar biaya overhead tidak bedasarkan
BOP yang sesungguhnya terjadi.

Penentuan tarif tersebut disebut didasarkan


atas beberapa sifat dari biaya overhead
pabrik.penentuan sifat tersebut adalah sebagai
berikut.
1. adanya biaya overhead pabrik yang terjadinya
tidak menentukan/tidak merata setiap bulan,
sehingga bila didasarkan atas biaya yang
sesungguhnya terjadi akan mengakibatkan
harga pabrik produk lebih besar saat terjadi
pengeluaran, biaya overhead pabrik dan harga
pokok produk akan rendah saat terjadi
pengeluaran biaya overhead. Contoh: biaya
reparasi mesin/perbaikan peralatan prabrik.

2.

Adanya biaya overhead pabrik yang


bersifat tetap sehingga bila didasarkan
atas prabik yang sesungguhnya terjadi
akan mengakibatkan pembebanan
biaya overhead pabrik yang mana
biaya per unitnya akan berubah-ubah
sesuai dengan perubahan volume
produksi setiap priode maka pada saat
volume produksi rendah biaya
overhead pabrik per unit akan lebih
besar dan sebaliknya.

3.
Adanya biaya overhead pabrik
yang jumlahnya baru diketahui pada
waktu-waktu tertentu sehingga
perubahan BOP pada produk tertentu
telah selesai akibatnya harga pokok
produksi yang selesai pada
pertengahan bulan tidak dibebani atas
BOP yang belum diketahui jumlahnya
misalnya biaya listrik pabrik. Atas dasar
uraian di atas, maka penentuan tarif
BOP didasarkan atas tarif yang
ditetapkan di muka dan tidak
didasarkan atas biaya yang

D. LANGKAH-LANGKAH MENENTUKAN TARIF


BIAYA OVERHEAD PABRIK DENGAN TARIF
TUNGGAL

Untuk menentukan besarnya tarif biaya overhead pabrik


yang dibebankan pada produk dilakukan langkahlangkah sebagai berikut.
1. Menyusun Anggaran Biaya Overhead Pabrik
Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan
tingkat produksi (kapasitas) yang digunakan sebagai
dasar penaksiran jumlah anggaran BOP. Kapasitas
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Kapasitas Teoretis (Kapasitas Ideal)
Kapasitas teoretis adalah kapasitas maksimum yang
dapat dihasilkan oleh suatu departemen atau pabrik
dalam kondisi yang sempurna tanpa adanya
hambatan baik dari intern maupun ekstern
perusahaan.

b. Kapasitas Praktis (Kapasitas Realistis)


Kapasitas praktis adalah kapasitas yang dapat dicapai oleh
departemen atau pabrik setelah diperhitungkan adanya
hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan dari
intern perusahaan. Misalnya kerusakan mesin, kehabisan
bahan, mogok kerja bagi pegawai dan lain-lain.
c. Kapasitas Normal (Kapasitas Jangka Panjang)
Kapasitas normal adalah kapasitas yang dapat dicapai
departemen atau pabrik setelah dikurangi dengan hambatan
yang terjadi pada intern perusahaan untuk jangka panjang.
d. Kapasitas Jangka Pendek
Kapasitas jangka pendek merupakan kapasitas
sesungguhnya yang diharapkan. Oleh karena itu, kapasitas
jangka pendek merupakan kapasitas yang diperkirakan akan
dapat dicapai departemen atau pabrik pada tahun yang
akan datang selama 1 tahun. Dalam praktek kapasitas yang
dipakai sebagai dasar penyusunan anggaran BOP adalah
kapasitas normal dan kapasitas sesungguhnya diharapkan.

2. Menentukan Dasar Pembebanan Biaya Overhead


Pabrik kepada Produk
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa
langkah awal dalam penentuan tarif BOP adalah
menyusun anggaran BOP. Sadangkan dasar
penyusunan anggaran BOP adalah kapasitas
normal atau kapasitas sesungguhnya yang
diharapkan, maka dasar yang dipakai untuk
pembebanan BOP kepada produksi adalah
sebagai berikut.
a. Satuan produksi
b. Biaya bahan baku
c. Biaya tenaga kerja langsung
d. Jam tenaga kerja langsung
e. Jam mesin

3. MENGHITUNG TARIF BIAYA OVERHEAD PABRIK


Dalam menghitung tarif biaya overhead pabrik
yang telah ditetapkan/dipilih tarif BOP dapat
dihitung sesuai dengan dasar pembebanan masingmasing.
a. Atas Dasar Satuan Produk
Untuk menentukan tarif BOP atas dasar satuan
produk, maka dapat dihitung dengan cara
membagi taksiran biaya overhead pabrik
dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan
dan hasilnya merupakan tarif BOP per unit
Taksiranbila
biaya
overhead pabrik
Tarif BOP
produksi,
dirumuskan
bentuknya
sebagai
per unit
Taksiran
berikut.satuan produk yang dihasilkan

Rumus BOP yang dibebankan pada produk


Tarif BOP per unit x unit yang dihasilkan pada periode
yang bersangkutan

b. Atas Dasar Biaya Bahan Baku


Untuk menentukan tarif BOP atas dasar biaya
bahan baku dapat dihitung dengan jalan
membagi taksiran BOP dengan taksiran biaya
bahan baku yang dinyatakan dengan
persentase dan hasilnya merupakan tarif BOP
dalam % dari biaya bahan baku.
Taksiran biaya overhead pabrik
100% = % anggaran BOP dari biaya
Taksiran biaya bahan baku
bahan baku
Besarnya BOP yang dibebankan pada produk adalah % BOP dari
bahan yang dikeluarkan pada periode yang bersangkutan.

c. Atas Dasar Biaya Tenaga Kerja Langsung


Bila tarif BOP didasarkan atas biaya tenaga
kerja langsung maka tarif tersebut dihitung
dengan cara membagi taksiran biaya
overhead pabrik dengan taksiran biaya
tenaga kerja langsung yang dinyatakan dalam
persentase dengan rumus
100% = Persentase tarif

Taksiran Tarif BOP


BOP dari
Taksiran biaya tenaga kerja langsung
biaya tenaga kerja
langsung

Rumus persentase
BOP tenaga
yang dibebankan
padauntuk
produk
Persentase
tarif BOPtarif
x Biaya
kerja langsung
produk yang bersangkutan

d. Atas Dasar Jam Tenaga Kerja Langsung


Bila tarif BOP didasarkan atas tenaga kerja
langsung, maka tarif tersebut dapat
dihitung dengan cara membagi tafsiran
BOP dengan taksiran jam kerja langsung.
Untuk menghitung tarif BOP berdasarkan
jam tenaga kerja langsung digunakan
rumus berikut.
Taksiran BOP
Tarif BOP per jam kerja
Taksiran jam tenaga kerja langsung
langsung

BOP
yang
pada
produk
Tarif BOP
perdibebankan
jam kerja langsung
x jam
kerja langsung yang
dapat dicapai pada periode yang bersangkutan.

e. Atas Dasar Jam Mesin


Bila tarif BOP didasarkan atas jam mesin
maka tarif BOP dapat dihitung dengan
membagi taksiran BOP dengan taksiran jam
mesin.
Taksiran BOP Tarif BOP per jam
Taksiran jam mesinmesin

Rumus
BOP
yangx Jam
dibebankan
pada
Tarif BOP per
jam mesin
mesin yang dapat
dicapai
pada periode yang bersangkutan
produk

Untuk menghitung analisa selisih BOP baik selisih


anggaran maupun selisih kapasitas penentuan tarif
BOP sering juga dibedakan atas tiga jenis yaitu tarif
BOP total, tarif BOP tetap, tarif BOP variabel.
1. Tarif BOP total adalah tarif BOP secara
keseluruhan baik BOP variabel maupun BOP
tetap. Rumus yang digunakan untuk menghitung
tarif BOP total adalah sebagai berikut.
Taksiran BOP total
Tarif BOP
Ukuran
total
kemampuan (kapasitas)

2. Tarif BOP tetap adalah tarif BOP yang tidak


dipengaruhi oleh perubahan volume produksi.
Untuk menghitung tarif BOP tetap digunakan
rumus sebagai berikut.

Taksiran BOP
tetap
Ukuran
kapasitas

3. Tarif BOP variabel adalah tarif BOP


yang berubah sebanding dengan
perubahan volume produksi. Untuk
menghitung tarif BOP variabel
digunakan rumus sebagai berikut.
Taksiran BOP
variabel
Ukuran kapasitas

4. TARIF BOP DEPARTEMEN

Bila dalam pengolahan produksi suatu perusahaan


menggunakan beberapa departemen produksi dan
beberapa departemen pembantu, maka untuk
menentukan tarif biaya overhead pabrik per
departemen dilakaukan langkah-langkah berikut.
a. Penyusunan Anggaran Biaya Overhead Pabrik Per
Departemen
Untuk mengadakan penyusunan anggaran BOP per
departemen terlebih dahulu harus mendistribusikan
biaya overhead pabrik tidak langsung departemen ke
departemen yang menikmati manfaat biaya tersebut.
Dasar pendistribusian BOP tak langsung departemen
ke departemen yang menikmatinya secara umum
adalag sebagai berikut.

BOP Tak Langsung


1. Biaya listrik pabrik
2. Biaya penyusutan
gedung
3. Biaya gaji pegawai
4. Dan lain-lain

Dasar Pendistribusian ke Departemen


yang Menikmati
Pemakaian KWH departemen yang
bersangkutan
Luas lantai departemen yang bersangkutan
Jumlah karyawan departemen

Ketentuan di atas tidaklah mutlak tetapi tergantung


dari perusahaan masing-masing.

b. Alokasi Biaya Overhead Pabrik Departemen Pembantu ke


Departemen Produksi
Setelah diadakan pendistribusian BOP tak langsung
departemen ke departemen yang menikmati (baik
departemen produksi maupun departemen pembantu).
Selanjutnya, mengalokasikan BOP departemen pembantu
untuk selalu membantu atau memberi jasa pada
departemen produksi. Ada dua metode yang dapat dipakai
untuk mengalokasikan BOP departemen pembantu ke
departemen produksi antara lain metode berikut.
1. Metode Alokasi Langsung
Bila digunakan metode alokasi langsung, maka
pembebanan BOP departemen pembantu dialokasikan
langsung ke departemen produksi yang menikmati.
Biasanya metode ini diterapkan karena jasa departemen
pembantu hanya dinikmati oleh departemen-departemen
produksi, sehingga tidak dialokasikan ke departemen
pembantu lainnya.

2. Metode Alokasi Bertahap


Bila digunakan metode alokasi bertahap, maka
pembebanan BOP departemen pembantu ke
departemen produksi dilaksanakan secara bertahap.
Hal ini disebabkan karena jasa departemen pembantu
disamping dinikmati oleh departemen produksi juga
dinikmati oleh departemen pembantu lainnya,
sedangkan pelaksanaan alokasi bertahap dapat
dilakukan dengan dua cara seperti yang dinikmati oleh
departemen pembantu, yaitu alokasi bertahap tidak
timbal balik dan alokasi bertahap timbal balik.
c. Perhitungan Tarif BOP Per Departemen
Setelah mengadakan alokasi BOP departemen
pembantu ke departemen produksi maka akan didapat
anggaran BOP departemen produksi setelah alokasi.
Sedangkan untuk menghitung tarif BOP departemen
produksi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus
tarif BOP tunggal :

Tarif BOP departemen produksi


setelah menerima alokasi dari
departemen pembantu
Dasar Pembebanan

d. Selisih Biaya Overhead Pabrik


Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa BOP
dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditetapkan di
muka, jumlah pembebanan ini sering tidak sama dengan
BOP yang sesungguhnya terjadi, maka akan timbul selisih
BOP. Bila BOP sesungguhnya lebih besar dari BOP yang
dibebankan, maka akan timbul selisih rugi yang dicatat pada
rekening BOP kurang dibebankan dan sebaliknya bila BOP
sesungguhnya terjadi lebih kecil dari BOP yang dibebankan
akan timbul selisih yang menguntungkan yang dicatat dalam
rekening BOP lebih dibebankan. Untuk selanjutnya selisih
BOP tersebut dapat diperlakukan sebagai rudi/laba atau
dibebankan ke harga pokok penjualan. Secara umum
pencatatan jurnal BOP yang dibebankan, BOP sesungguhnya,
dan selisih BOP adalah sebagai berikut.

1. Jurnal pembebanan BOP kepada produk


Barang dalam proses biaya
Overhead pabrik
Rp xxx
Biaya overhead pabrik
dibebankan
Rp xxx
BOP-BOP
Rp xxx
BOP yang dibebankan
Rp xxx
2. a. Jurnal pengumpulan BOP sesungguhnya
BOP sesungguhnya
Rp xxx
Persediaan bahan pembantu
Rp xxx
Biaya tenaga kerja tidak langsung
Rp xxx
Penyusutan gedung pabrik
Rp xxx
Penyusutan mesin pabrik Rp xxx

b. Atau bila BOP tidak disebutkan secara rinci dapat


dijurnal sebagai berikut.
BOP Sesungguhnya Rp xxx
Macam-macam rekening
yang harus dikredit
- Rp xxx
3. Saat pencatatan selisih BOP
a. BOP lebih dibebankan
BOP dibebankan
Rp xxx
BOP sesungguhnya
Rp xxx
BOP lebih dibebankan
Rp xxx
b. BOP kurang dibebankan
BOP dibebankan Rp xxx
BOP kurang dibebankan Rp xxx
BOP sesungguhnya
Rp xxx

4. a. Jika selisih BOP dibebankan ke rekening rugi/laba


1. Jurnal BOP lebih dibebankan
BOP lebih dibebankan
Rp xxx
Rugi/laba
- Rp xxx
2. Jurnal BOP kurang dibebankan
Rugi/laba Rp xxx
BOP kurang dibebankan
- Rp xxx
b. Jika selisih BOP dibebankan ke rekening HPP
1. Jurnal BOP lebih dibebankan
BOP lebih dibebankan Rp xxx
Harga pokok penjualan
Rp xxx
2. BOP kurang dibebankan
Harga pokok penjualan Rp xxx
BOP kurang dibebankan
Rp xxx

E. ANALISIS SELISIH BIAYA OVERHEAD PABRIK


Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa terjadinya
selisih BOP adalah disebabkan karena adanya perbedaan
antara BOP yang dibebankan dengan BOP sesungguhnya.
Selisih BOP tersebut dapat dianalisis dengan
menggunakan metode analisis dua selisih yaitu selisih
anggaran (selisih budged) dan selisih kapasitas.
1. Selisih Anggaran
Selisih anggaran adalah selisih BOP dari perbedaan
antara biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi
dengan taksiran biaya yang seharusnya dikeluarkan
menurut anggaran. Selisih ini pada umumnya disebabkan
karena adanya perubahan pada BOP variabel, sehingga
selisih anggaran dapat dihitung dengan cara
membandingkan antara jumlah BOP sesungguhnya
dengan anggaran BOP pada kapasitas yang ditetapkan.

Maka secara umum selisih anggaran dapat dihitung


dengan rumus berikut.
BOP yang sesungguhnya
Rp xxx
BOP yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya:
BOP tetap
Rp xxx
BOP variabel (kapasitas sesungguhnya X tarif) Rp xxx
Rp xxx
Selisih anggaran
Rp xxx
Bila BOP sesungguhnya lebih besar dari BOP yang
dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya timbul
selisih rugi. Sebaliknya bila BOP sesungguhnya lebih
kecil dari BOP yang dianggarkan pada kapasitas
sesungguhnya timbul selisih (menguntungkan).

2. Selisih Kapasitas
Selisih kapasitas adalah selisih BOP dari perbedaan
antara BOP tetap yang dianggarkan dengan BOP yang
dibebankan kepada produk. Maka secara umum selisih
kapasitas dapat dihitung dengan rumus berikut.
BOP tetap yang dianggarkan
Rp xxx
BOP tetap yang dibebankan pada produk Rp xxx
(Kapasitas sesungguhnya X tarif)
Selisih kapasitas
Rp xxx
Bila BOP tetap yang dianggarkan lebih besar dari BOP
tetap yang dibebankan pada produk akan timbul
selisih rugi.
Sebaliknya bila BOP tetap yang dianggarkan lebih kecil
dari BOP tetap yang dibebankan pada produk akan
timbul selisih laba (menguntungkan).

contoh soal menghitung tarif biaya BOP


Suatu perusahaan manufaktur menetapkan tarif BOP
berdasarkan pemakaian jam kerja mesin. BOP
dianggarkan pada kapasitas 40.000 jam mesin dengan
anggaran sebagai berikut:
biaya overhead pabrik tetap
Rp 10.000.000
biaya overhead pabrik variabel Rp 12.000.000
jumlah
Rp 24.000.000

Dari data anggaran diatas, tarif BOP tiap jam mesin


adalah sbb :
Tarif BOP tetap : Rp 10.000.000 = Rp 250,00
40.000
Tarif BOP variabel : Rp 12.000.000 = Rp 300,00
40.000
Tarif BOP per jam mesin
Rp 550,00

Apabila jam mesin yang sesungguhnya dapat dicapai


(kapasitas sesungguhnya) sebanyak 45.000 jam , dan
biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi
berjumlah Rp 22.500.000,Selisih biaya overhead pabrik, dihitung sbb :
Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya
Rp
22.500.000,Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada
produk dalam periode yg bersangkutan
45.000 x Rp 550,= Rp
24.750.000,Selisih menguntungkan (laba)
= Rp
2.250.000,-