Anda di halaman 1dari 47

PNEUMOTHORAX

RUWAEDA NASARUDDIN
AULIA AFRIANI
CITRA LESTARI
ST. NURSYAMSIAH
AIMIE FARHANAH

C111 11 320
C111 11 316
C111 11 176
C111 11 174
C111 11 834

ADVISOR:
dr. Mira Maya Kumala
SUPERVISOR:
Dr. dr. Mirna Muis, Sp.Rad.

Identitas Pasien
Nama pasien : Tn. MG
Tanggal lahir/umur : 31-12-1949 / 65
tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama
: Kristen Protestan
Alamat
: Karunganga, Toraja Utara
Tanggal masuk/jam : 28-01-2015 / 19:20
Diagnosa masuk
: Closed Fracture
Middle
Right Clavicle

Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri bahu kanan
Dialami sejak kurang lebih 5 hari yang
lalu akibat kecelakaan lalu lintas.
Mekanisme injury : pasien sedang
menyeberang jalan dan tiba-tiba
tertabrak motor. Riwayat pingsan ada.
Riwayat mual muntah tidak ada. Pasien
adalah tukang cukur dan dominan
tangan kanan. Riwayat pengobatan di RS
Toraja selama 3 hari dan di Awal Bross
selama 2 hari dan kemudian di rujuk ke

Pemeriksaan Fisik
Primary Survey
Airway
: tidak ada sumbatan
Breathing
: 18 kali/menit
Circulation : Tensi 130/70 mmHg
Nadi 88 kali/menit
Disability
: GCS 15 (E4M6V5)
Pupil isokor 2.5 mm/ 2.5mm
Exposure
: 36,7 0C suhu axilla

Pemeriksaan Fisik
Secondary survey
Head Region :
Inspeksi : tampak luka ekskoriasi pada
regio
frontal, tidak tampak
hematom, tidak
ada udem
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada
krepitasi

Pemeriksaan Fisik
Secondary survey
Thorax Region :
Inspeksi

: tampak hematom luas pada hemithorax dekstra,


pengembangan dada asimetris, hemithorax
dekstra
tertinggal, tidak tampak penggunaan otot
bantu
pernafasan, tidak tampak deviasi trachea
Palpasi
: vocal fremitus hemithorax dekstra lebih kecil dari
hemithorax sinistra, tidak ada krepitasi
Perkusi
: Hipersonor pada hemithorax dekstra, sonor pada
hemithorax sinistra
Auskultasi : Suara pernafasan bronkovesikuler , menurun pada
hemithorax dekstra, suara tambahan : ronkhi
terdengar
pada apex hemithorax dekstra et sinistra,
wheezing
tidak terdengar

Pemeriksaan Fisik
Right Shoulder Region :
Look

: tampak deformitas, udem dan


hematoma, tidak tampak luka
Feel
: nyeri tekan ada
Neurovaskular distal : Sensibilitas baik, pulsasi arteri
radialis teraba, capillary refill time
kurang dari 2 detik
Move
: gerak aktif dan pasif shoulder joint
tidak dievaluasi

Pemeriksaan Laboratorium
Jenis Pemerikaan
DARAH
RUTIN

Hasil

Nilai Rujukan

WBC

15.99 x103/Ul

4 - 10 x 103/Ul

RBC

3.59 x106/Ul

4.506.50 x 106/u L

HGB

10.3 g/dL

14 - 18 g/Dl

HCT

32.8 %

40 54%

PLT

368 x 103/Ul

129x 103/uL

SGOT

31 U/L

<38U/L

SGPT

24 U/L

<41U/L

Ureum

29 mg/dl

10-50mg/dl

Kreatinin

0.60 mg/dl

1,3mg/dl

Waktu bekuan

700

4-10

Waktu pendarahan

400

1-7

Waktu prothrombine (PT)

11.0 kontrol 11.2

10-14

APTT

26.7 kontrol 26.1

22.0-30.0

Kesan : Leukositosis, anemia

Pemeriksaan Radiologi
Foto Thorax AP (28 Januari 2015) :
-Tampak hyperlusen disertai pleural
white line pada hemithorax dextra
disertai kolaps paru
-bercak-bercak infiltrat pada
lapangan atas dan tengah paru
sinistra
- Cor: cardiothoracic index dalam
batas normal, aorta elongasi,dan
kalsifikasi
- sinus costophrenicus kanan lebih
dalam dari kiri, kedua diafragma
baik
-Tampak fraktur costa I-IV dextra

Pemeriksaan Radiologi
Kesan :
- Pneumothorax dekstra
-Kontusio paru sinistra
DD/
Bronkopneumonia
-Fraktur costa I-IV
posterior dextra dan
fraktur kominutif 1/3
tengah os.clavicula
dextra
- elongatio et

Diagnosis

Pneumothorax
dekstra

Terapi
- Ringer lactate 20 tetes per menit
intavena
- Analgetik : Ketorolac 30mg per 8 jam IV
- Pasang chest tube, pasang verban tiap
3 hari

Tinjauan Pustaka

Pneumothorax

Definisi
Pneumothorax adalah keadaan
dimana terdapat udara atau gas
dalam cavum pleura menyebabkan
kolapsnya paru. Pada kondisi
normal, cavum pleura tidak terisi
udara sehingga paru-paru dapat
leluasa mengembang terhadap
rongga dada.

Epidemiologi

sering terjadi pada penderita dewasa yang


berumur
sekitar 40 tahun
laki lebih sering daripada wanita, dengan
perbandingan 5 : 1
Pneumothorax iatrogenik merupakan tipe
pneumothorax yang sangat sering terjadi
Di RSUD Dr. Soetomo, lebih kurang 55%
kasus
pneumothorax disebabkan oleh penyakit
dasar
seperti tuberculosis paru aktif, tuberkulosis
paru
disertai fibrosis atau emfiesema local,
bronkotis

Klasifikasi
Pneumothoraks
spontan

setiap
pneumothoraks yang
terjadi secara tibatiba.
- Primer (tanpa dasar
penyakit yang jelas)
- Sekunder (PPOK,
bronkhiectasis,
fibrosis
cystic, kanker paru,

Pneumothoraks
traumatik
terjadi akibat adanya
trauma trauma
penetrasi maupun bukan
robeknya pleura,
dinding dada maupun
paru
-traumatik noniatrogenik
(trauma kecelakaan)
- Iatrogenik
(tindakan medis)

Klasifikasi
Berdasarkan Ukuran
- Small Pneumothoraks < 2
cm
jarak antara paru dengan
dinding
dada
- Large Pneumothoraks : 2 cm
jarak antara paru dan dinding
dada

Anatomi & Fisiologi Pleura

Etiopatogenesis

Udara
dlm
cavum
pleura

Robeknya pleura
visceralis
(closed
pneumothorax)

Robeknya dinding dada


dan pleura parietalis
(open pneumothorax)

Manifestasi Klinis
Gejala

5-10% asimptomatik
Sesak nafas
Nyeri dada
Batuk-batuk

* Gejala-gejala tersebut bisa


berdiri sendiri maupun
kombinasi. Derajat
gangguannya bisa mulai dari
asimptomatik atau
menimbulkan gangguan ringan

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Observasi dada :
bentuknya simetris atau
tidak, gerak dada, pola
nafas, frekuensi nafas,
irama nafas,
penggunaan otot
pernapasan tambahan,
gerak paradox, retraksi
antara iga, retraksi atas
klavikula, jaringan parut.

pada pneumothorax :
-pergeseran
mediastinum atau
trakea

Pemeriksaan Fisik
Palpasi

Meraba letak trakea,


penonjolan nodus limfa,
penonjolan di dinding
dada, nyeri tekan, gerak
pernapasan simetris
atau tidak, derajat
ekspansi dada, vocal
fremitus

pada pneumothorax :
-fremitus melemah
sampai menghilang

Pemeriksaan Fisik
Perkusi

Menentukan batas-batas
organ

pada pneumothorax :
- resonansi perkusi
dapat normal atau
meningkat/hipersonor

Pemeriksaan Fisik
Auskultasi

Mendengarkan suara
nafas, frekuensi nafas,
intensitas suara nafas,
suara nafas tambahan.

pada pneumothorax :
- Suara nafas
melemah sampai
menghilang,

Diagnosis

1)
Anamnesi
s/ gejala
klinis

5-10%
asimptomatik
Sesak nafas
Nyeri dada
Batuk-batuk
Riwayat trauma

Diagnosis
2) Analisis
Gas
Darah
memberikan
gambaran
hipoksemia.
*meskipun
pada
kebanyakan
pasien sering
tidak
diperlukan

Pada sebuah
penelitian
didapatkan :
17% dengan PO2 <
55mmHg,
4% dengan PO2 < 45mmHg
16% dengan PCO2 >
50mmHg
4% dengan PCO2 >
60mmHg

Diagnosis
Tampak gambaran
hiperlusen avaskuler
berbatasan dengan
jaringan paru yang
masih ada, vaskuler
dipisahkan oleh pleura
visceralis yang tampak
sebagai garis putih tipis
paralel dengan dinding
dada.
Pneumothoraks sedikit
(small pneumothorax)
bila jarak paru dan
dinding dada < 2cm dan
dikatakan luas (large
pneumothorax) bila >

3) Radiologi
(Konvensional)
Pleural visceral memiliki
kurva konveks yang
membedakannya dari
bulla atau kista di paru
Bila pneumothorax cukup
luas atau telah terjadi
tension pneumothorax
maka akan ditemukan
gambaran berupa
pendesakan mediatinum
ke arah kontralateral,
pelebaran intercostal
space, diafragma rendah,
dan mendatar, kompresi
dan konsolidasi paru

Diagnosis
Pada posisi supine
mungkin
pneumothorax bisa tidak
terdeteksi. Tanda-tanda
penting yang harus
diperhatikan adalah
hemithorax yang relatif
lebih lusen, kontur
mediastinum, jantung dan
diafragma yang lebih tegas.
Pada pneumothorax
yang minimal, gambaran
udara bebas akan lebih
nyata bila dibuat foto
dengan ekspirasi penuh
sehingga volume paru

3) Radiologi
(Konvensional)
Deep sulcus sign
merupakan sulcus
costophrenicus yang
tertekan ke bawah
dengan gambaran
lusensi pada sulcus
tersebut. Deep sulcus
sign dapat terlihat pada
posisi supine.

Gambaran Pneumothorax posisi PA

Gambaran Pneumothorax posisi PA


dengan pleural white line

Gambar Penumothorax posisi AP


dengan deep sulcus sign

Foto Thorax Posisi PA

Gambar A. Tampak
hiperlusen avascular pada
hemithorax kiri disertai
dengan visceral white line
yang menandakan kolaps

Foto Thorax Posisi Supine

Gambar B. Deep Sulcus sign


(Panah kosong hitam). Sulcus
kanan jauh lebih rendah dari
sulcus kiri (panah putih). Garis
pleura visceral terlihat (panah
kosong putih). Trakea dan jantung

Diagnosis
Pemeriksaan CT-Scan
lebih sensitive dari pada
foto thoraks pada
pneumothorax yang
kecil walaupun gejala
klinisnya masih belum
jelas. CT-scan toraks
lebih spesifik untuk
membedakan antara
emfisema bullosa
dengan pneumotoraks,
batas antara udara
dengan cairan intra dan
ekstrapulmoner dan
untuk membedakan
antara pneumotoraks
spontan primer dan

4) CT Scan

Beberapa gambaran radiologi


pneumothorax
Tampak hiperlusen
avascular pada
hemithorax kiri
disertai dengan
visceral white line
(panah merah),
dengan jarak pleura
< 2cm ke dinding
dada

Small
Pneumothorax

Beberapa gambaran radiologi


pneumothorax
Large
Pneumothorax
Tampak hiperlusen
avascular pada
hemithorax kanan
disertai dengan pleural
white line (panah
putih) dengan jarak
pleura 2cm ke
dinding dada

Beberapa gambaran radiologi


pneumothorax
Tension
Pneumothora
x
Tampak hiperlusen
avascular pada
hemithorax kiri disertai
dengan pleural white
line (panah putih)
dengan mediastinum
shift ke hemithorax
kanan

Beberapa gambaran radiologi


pneumothorax
Pneumothorax karena trauma
tumpul
Terdapat multiplte
fracture dan udara
pada ruang pleura

Beberapa gambaran radiologi


pneumothorax
Pneumothorax karena
tusukan benda tajam

Terlihat gambaran pisau pada scapula kanan


menyebabkan Large Pneumothorax

Beberapa gambaran radiologi


pneumothorax
Pneumothorax karena rupture
bullosa apical
Pneumothorax
terjadi karena adanya
perlengketan pleura.
Bulla apical paru atau
blebs yang
mempredisposisi
terjadinya
pneumothorax
spontan

Diagnosis Banding
Emfisema merupakan
keadaan paru yang
abnormal dimana
terjadi pelebaran
rongga udara pada
asinus yang bersifat
permanen. Asinus
merupakan bagian
paru yang terletak di
bronkiolus terminal
distal. Gambaran

Emfisema

Diagnosis Banding
Pulmonary bullae adalah
daerah fokal emfisema tanpa
dinding yang bisa terlihat,
dengan ukuran diameter lebih
dari 1 cm. Kadang digunakan
juga istilah pulmonary bleb
untuk lesi 1 hingga 2 cm.
Dinding bulla berbentuk konkaf.
Lokasinya sering di subpleura
dan timbul akibat pneumotoraks
spontan. Gambaran radiologis
bulla tampak sebagai fokal
radiolusen, berbentuk bundar,
dikelilingi oleh dinding tipis.

Pulmonary
Bullae

Terapi

Tujuan utama penatalaksanaan pneumotoraks


adalah untuk mengeluarkan udara dari rongga
pleura dan menurunkan kecenderungan untuk
kambuh lagi
Observasi dan Pemberian O2

Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan


rongga pleura telah menutup, maka udara yang
berada didalam rongga pleura tersebut akan
diresorbsi. Laju resorbsi tersebut akan meningkat
apabila diberikan tambahan O2. Observasi
dilakukan dalam beberapa hari dengan foto
toraks serial tiap 12-24 jam pertama selama 2
hari. Tindakan ini terutama ditujukan untuk

Terapi
Tindakan dekompresi
Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus
pneumotoraks yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini
bertujuan untuk mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat
hubungan antara rongga pleura dengan udara luar dengan cara :
a. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga
pleura, dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga
pleura akan berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar
melalui jarum tersebut.
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil
- Dapat memakai infus set
- Jarum abbocath
- Pipa water sealed drainage (WSD)

Torakostomi
Torakotomi

Terapi
Tindakan bedah

Dengan pembukaan dinding toraks melalui


operasi, kemudian dicari lubang yang
menyebabkan pneumotoraks kemudian dijahit
Pada pembedahan, apabila ditemukan
penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak
bias mengembang, maka dapat dilakukan
dekortikasi.
Dilakukan resesksi bila terdapat bagian paru
yang mengalami robekan atau terdapat fistel dari
paru yang rusak
Pleurodesis. Masing-masing lapisan pleura yang
tebal dibuang, kemudian kedua pleura dilekatkan

References
1. Drake R.L., Vogl W., Mitchel A. W. L. 2005 Grays Anatomy for
Students. 1st ed. New York
: Elsevier Churchill Livingston. P 136139
2. Currie P Graeme et all. 2007. Pneumothorax : an update. Postgrad
Med J; 83: 461-465.
3. Djojodibroto, Darmanto. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta :
Penerbit EGC. 2007; p. 7-19, p. 116, p. 172-173, p. 185, p
4. Hisyam, B. Budiono, Eko. Pneumothoraks spontan. Dalam :Sudoyo,
Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus,Simadibrata.
Setiati, Siti (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jilid II. Edisi IV.
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen IlmuPenyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.P. 1063-1068
5. Irandi Putra P dan Faisal Yunus. 2013. Anatomi dan Fisiologi Pleura.
CDK-205. Vol 40 No. 6
6. Price, Sylvia A dan Lorrainne M. Wilson. 2008. Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 2. Ed 7. Jakarta. EGC
7. Soetikno, Ristaniah D. Radiology Emergensi. Bandung : PT Rafika
Aditama 2011 ; p.108-111
8. www. radiopedia.org/pneumothorax

THAN
K YOU