Anda di halaman 1dari 13

Journal Reading: Distinct Mu,

Delta, and Kappa Opioid Receptor


Mechanisms Underlie Low
Sociability and Depressive-Like
Behaviors During Heroin
Abstinence
PBL A-15
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016/2017

Kelompok : A-15
Ketua : Hirari Fattah Yasf (1102013128)
Sekertaris : Darayani Amalia (1102013070)
Anggota : Eriyasih

(1102013099)

Ayuvy Monzalitza

(1102013051)

Larasati Puspita Seruni (1102013153)


Freza Farizani (1102013114)
Haya Harareed

(1102013125)

Harvien Bhayangkara(1102013124)
Dewi Nur Azizah (1102011077)
Arief Nurhidayah Saputro (1102012028)

Abstract
Munculnya gejala depresi, termasuk penarikan sosial, dianggap sebagai
penyebab utama untuk kambuh, namun mekanisme yang mendasari kurang
dipahami
Reseptor delta dan kappa opioid (DOR dan KOR) pada tikus mengembangkan
gangguan emosional baik bertambah atau berkurang selama pantang heroin.
pengobatan kronis dengan obat antidepresan fluoxetine mencegah
munculnya sosialisasi yang rendah, dengan tidak berdampak pada defisit
memori kerja, yang melibatkan mekanisme serotonergik terutama dalam
aspek emosional dari gejala pantang
Secara keseluruhan, pada penelitian ini menunjukkan peran penting dan
berbeda untuk ketiga reseptor opioid dalam pengembangan perubahan
emosional yang mengikuti riwayat paparan heroin dan membuka jalan
menuju pemahaman opioid sistem-dimediasi serotonin homeostasis dalam
penyalahgunaan heroin.

Introduction
Gejala putus obat terutama pada golongan opium, biasanya
menunjukan kegelisahan, depresi (penurunan kondisi jiwa dan
anhedonia) bila di sertai dengan keadaan klinis yang parah dan
kompetensi sosial.
Sebelumnya telah dilakukan percobaan dengan menggunakan
morfin. Tikus atau mencit diberikan morfin selama 7 hari atau
satu minggu secara terputus-putus atau intermitten. Lalu
dilakukan memutusan obat selama 4 minggu. Penelitian ini akan
dibandingkan hasilnya dengan penelitian tersebut.
Heroin adalah derivat dari morfin diasetil, kerjanya lebih cepat
dan memilki efek euforia serta kemungkinan ketergantungan
yang lebih tinggi

Materials and Methods


Animals
Mencit jantan dewasa (20-35g), umur kurang lebih 10 minggu saat mulai diberikan paparan
heroin. Didapat kan 2 jenis yaitu C57BL/6JCrl dan 50 50% C57BL/6J-129SvPas.
Morphine and Heroin Treatments
2x sehari dengan dosis terus dinaikkan selama 5 hari (20-100mg/kg)
hari ke 6 dosis menjadi 1 x 100mg/kg
Saline sebagai kontrol
Heroin dosis dibagi 2 kali (10-50mg/kg).
Pada kandang hanya pemberian saline atau hanya opium secara terpisah.
Fluoxetine Treatment
Dosis 10mg/kg. Fluoxetine diberikan sesuai dengan berat badan awal dan intake makanan
perharinya.

Behavioral Testing
Selama 1, 4, 7 minggu
Open field (ruang terbuka)
Social interaction (SIs)
Tail suspension
Forced Swim (FS)
Y-Maze (YM)
Sucrose preference
Production of Viral Vectors
Adeno-associated virus serotype 2 (AAV): + eGFP dan +Cre +eGFP

DRN Stereotaxy
MORfl/fl dibagi dua: infus stereotaktik DRN (eGFP) sebagai kontrol dan infus stereotaktik DRN (AAV Cre)
Agonist Stimulated [35S]-GTPS Binding
Untuk melihat perletakan protein G pada MOR
Statistical Analysis
Dengan menggunakan uji ANOVA dan Bonferonis post hoc analysis. Signifikan p < 0,05

Results
Perilaku gelisah dan depresif pada open field tidak menimbulkan efek yang
banyak, yaitu kenaikan yang tidak signifikan pada lokomotor
Interaksi sosial, jangka waktu perilaku sosial menurun karena heroin, tidak
terpengaruh durasi putus obat, muncul pada minggu ke 4 dan 7
Self grooming tinggi pada mencit-heroin, terjadi pada minggu 4 dan 7
Despair like behaviour dan tail suspension tidak ada efek sementara forced swim
waktu mobilisasi meningkat pada minggu ke-7 saja
Waktu kecenderungan ketidak mampuan pergerakan pertama kali. Perilaku putus
asa ditemukan pada minggu ke-7 putus obat
Hedonic responses dengan menggunakan sucrose preference tidak ada efek heroin
Deficit cognitive (working memory spatial) pada Y-Maze menghitung persen
perubahan spontan durasi putus obat tidak ada efek, muncul diminggu ke-4
mencit-heroin.

Discussion
Melihat kegawatan terjadinya depresi dengan riwayat paparan heroin
Melihat kerentanan (DOR KO) dan ketahanan (KOR KO)
MOR pada DRN memediasi perkembangan sosial yang menurun pada putus
heroin ke-3 reseptor memegang peranan dasar pada kontrol mood dan fungsi
sosial saat putus obat.
Gejala putus heroin ditandi dengan penurunan interaksi sosial pada minggu ke4 bukan ke-1. Dikarenakan saat pemberian dosis heroin yang terus bertambah
akan memberikan stimulasi pada MOR dan stimulasi ini akan memacu untuk
beradaptasi yang mengarah pada penurunan interaksi sosial secara progresif.
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa reseptor opioid mempunyai pengaruh
pada sindrom emosional saat pantang heroin. DORs meregulasi hedonic
homeostatis, MOR mensignal jalur serotogenik dan KORs mengontrol perilaku
sosial.