Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

KASUS PELANGGARAN KODE ETIK BIDAN


Kewajiban bidan terhadap pemerintah nusa,
bangsa dan tanah air
DI SUSUN OLEH kelompok 4 :
Betha praviota Shela T
Nim
: 15616155
Juwita Evie Arini Nim
: 15616171
Nur Afini Amanah Nim
: 15616181
Okta Suswikin Nim
: 15616182
Retno Sulistia Ningsih Nim
: 15616187
Sri Wahyuningsih Nim
: 15616192
Yuni Riska Hadi Nim
: 15616195

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 DEFINISI BIDAN


Bidan adalah seorang perempuan yang lulus
dari pendidikan bidan, yang terakreditasi,
memenuhi kualifikasi untuk diregister, sertifikasi
dan atau secara sah mendapat lisensi untuk
praktek kebidanan.

2.3 KODE ETIK BIDAN


Ketujuh bab dapat dibedakan atas tujuh bagian yaitu :
1. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat ( 6
butir )
2.Kewajiban bidan terhadap tugasnya ( 3 butir )
3. Kewajiban Bidan terhadap sejawab dan tenaga
kesehatan lainnya ( 2 butir )
4. Kewajiban bidan terhadap profesinya ( 3 butir )
5. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri ( 2 butir )
6. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, bangsa dan
tanah air ( 2 butir )
7. Penutup ( 1 butir )

2.4 Kewajiban bidan terhadap pemerintah nusa, bangsa


dan tanah air
a. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa
melaksanakan
ketentuan ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan,
khususnya
dalam palayanan KIA / KB dan kesehatan keluarga dan masyarakat
b. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan
menyumbangkan
pemikirannya kepada pemerintahan untuk meningkatakan mutu
jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA / KB dan
kesehatan keluarga.

BAB III
TINJAUAN KASUS

Seorang ibu multigravida (39) datang ke BPM pukul 15.00


WIB mengeluh perutnya sakit seperti ingin melahirkan, hasil
pemeriksaan dilakukan oleh bidan didapatkan hasil
pembukaan 8cm dengan letak sungsang. Dalam kondisi ini
persalinan dengan letak sungsang harus di rujuk. Akan
tetapi, Bidan menyanggupi melakukan proses persalinan di
BPM. Pada akhirnya proses bersalinpun terjadi tubuh bayi
sudah keluar sedangkan kepala bayi mengalami kemacetan
( After Coming Head ), akhirnya kepala bayi terputus dan
tertinggal didalam rahim. Bidan pun melakukan rujukan ke
dr. SpOG untuk melakukan tindakan pengeluaran kepala.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Malpraktek


Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum
sifatnya dan tidak selalu berkonotasi yuridis. Secara
harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan
praktek mempunyai arti pelaksanaan atau
tindakan, sehingga malpraktek berarti
pelaksanaan atau tindakan yang salah.

4.2 Malpraktek Di Bidang Hukum

1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan
dalam kategori criminal malpractice manakala
perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik
pidana yakni perbuatan tersebut (positive act
maupun negative act) merupakan perbuatan
tercela dan dilakukan dengan sikap batin yang
salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional), kecerobohan (reklessness) atau
kealpaan (negligence).

2. Civil malpractice
Seorang bidan akan disebut melakukan civil
malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban
atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana
yang telah disepakati (ingkar janji).
3. Administrative malpractice
Bidan dikatakan telah melakukan administrative
malpractice manakala bidan tersebut telah
melanggar hukum administrasi

4.3 Landasan Hukum Wewenang Bidan


Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan.
Pengaturan tenaga kesehatan ditetapkan di dalam
undang-undang dan Peraturan Pemerintah. Tugas dan
kewenangan bidan serta ketentuan yang berkaitan
dengan kegiatan praktik bidan diatur di dalam
peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan. Kegiatan
praktik bidan dikontrol oleh peraturan tersebut.

4.5 Pembahasan Kasus

Pelayanan yang berkualitas adalah adalah pelayanan


yang dapat memuaskan pasien. Pelayanan yang
diberikan harus sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan
Suatu pelanggaran merupakan malpraktik hukum
pidana atau perdata, maka kasus diteruskan ke
pengadilan

Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai)


misalnya kurang hati-hati melakukan proses kelahiran.
Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP, pasal-pasal
karena lalai menyebabkan mati atau luka-luka berat.
Pasal 359 KUHP, karena kelalaian menyebabkan orang
mati :
Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan matinya
orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama
lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.

Pasal 360 KUHP, karena kelalaian menyebakan luka berat :


Ayat (1)
Barangsiapa karena kealpaannya menyebakan orang lain
mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.
Ayat (2)
Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain
luka-luka sedemikian rupa sehinga menimbulkan penyakit atau
halangan menjalankan pekerjaan, jabatan atau pencaharian
selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.

Pasal 361 KUHP, karena kelalaian dalam melakukan jabatan atau


pekerjaan (misalnya: dokter, bidan, apoteker, sopir, masinis dan
Iain-lain) apabila melalaikan peraturan-peraturan pekerjaannya
hingga mengakibatkan mati atau luka berat, maka mendapat
hukuman yang lebih berat pula.
Pasal 361 KUHP menyatakan :
Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencaharian, maka pidana
ditambah dengan pertiga, dan yang bersalah dapat dicabut haknya
untuk menjalankan pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan
dan hakim dapat memerintahkan supaya putusnya diumumkan.

Pertanggung jawaban didepan hukum pada


criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak
dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada
rumah sakit/sarana kesehatan.

Masalah yang terjadi pada pasien dengan


putusnya kepala bayi pada saat proses
persalinan merupakan kasus malpraktik karena
kelalaian dari tenaga kesehatan (bidan).
Sedangkan kerugian yang diakibatkan oleh
kelalaian diatur dalam Pasal 136 yang
berbunyi: Setiap orang bertanggung jawab
tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya.

Salah satu upaya untuk menghindarkan


dari malpraktek adalah adanya informed
consent (persetujuan) untuk setiap tindakan
dan pelayanan medis pada pasien.

Bagi bidan yang harus dilakukan menangani kasus ini


terkait atas tuduhan kepada bidan yang merupakan
criminal malpractice adalah
1. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/
menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau
tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada
2. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan
mengajukan atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum
3. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan
upayanya,
4. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed
consent
5. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis
6. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior
atau dokter
7. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan
memperhatikan segala kebutuhannya

SEKIAN
DAN
TERIMAKASIH