Anda di halaman 1dari 37

Anestesi Umum

Fadhillah Syafitri Suhatril


1102011091

Anestesi hilangnya sensasi sakit.


Pada GA hilangnya rasa sakit terjadi pada
seluruh tubuh disertai hilangnya kesadaran
yg bersifat reversibel.
Anestesi dibagi menjadi dua golongan besar
anestesi umum & anestesi lokal.
Anestesi umum dpt diberikan scr inhalasi,
intravena, intramuskuler, subkutan, per-oral,
per-rektal.

Obat anestesi inhalasi dpt berbentuk gas N2O,


cyclopropane & ethtylene.
Yg berbentuk cair melalui alat penguap akan diubah
menjadi gas.
Obat anestesi inhalasi berbentuk cair dibagi jadi dua
golongan besar gol. halogen hidrokarbon misalnya
halotan & halogen eter yang contohnya eter, enflurane,
isoflurane, desfluran & sevofluran.
Teknik anestesi umum inhalasi bisa dilakukan dgn napas
spontan sungkup muka, nafas spontan diintubasi, nafas
spontan dengan laringeal mask, nafas spontan dengan
COPA (Cuffed Oropharyngeal Airway) / nafas kendali
diintubasi.

Infant & anak-anak.


Operasi yg luas.
Pasien dgn kelainan mental.
Bila pasien menolak anestesi lokal.
Operasi yg lama.
Operasi dimana dgn anestesi lokal tdk praktis &
tdk menguntungkan.
Pasien dlm terapi anti coagulant.
Pasien yg alergi terhadap obat anestesi lokal.

Indikasi Anestesi
Umum

Analgesia :
Terjadi hambatan sensoris, di sini stimulasi nyeri dihambat scr sentral shg tdk dpt
diartikan di korteks serebri. Analgesia bisa terjadi dlm berbagai tingkatan dimulai
dgn light analgesia (stadium I) sampai true analgesia dimana semua sensasi
hilang.
Relaksasi:
Terjadi krn adanya hambatan motoris & hambatan refleks. Pada hambatan motoris
terjadi depresi area motorik di otak & hambatan impuls efferent terjadi relaksasi
otot skelet. Efek depresi motoris ini tergantung dari kedalaman anestesi, dimana
otot pernafasan / diafragma yang paling akhir ditekan. Pada hambatan refleks,
terjadi penekanan refleks misalnya ada sistim respirasi utk mencegah
brokhospasme, laringospasme, pembentukan mukus. Pada sirkulasi utk mencegah
terjadinya aritmia & pada gastrointestinal utk mencegah mual, muntah.
Hipnotik:
Terjadi hambatan mental. Ada beberapa tingkatan dimulai dari tenang, sedasi,
light sleep / hipnosis, deep sleep / narkosis, complete anaesthesia, & terakhir
terjadi depresi medulla oblongata.

Trias Anestesi

ANESTESI
I N T RAV E N A

Penggunaan :

untuk induksi
obat tunggal pada operasi singkat
tambahan pada obat inhalasi lemah
tambahan pada regional anesthesia
sedasi

Cara pemberian:
obat tunggal untuk induksi / operasi singkat
suntikan berulang (intermittent)
diteteskan perinfus

1 amp = 500 mg atau 1000 mg


Hanya untuk IV dengan dosis 3-7mg/Kg
diberikan dalam 30-60 detik
Efek :
a. menurunkan aliran darah otak
b. menurunkan tekanan intracranial

a. Tiopental

Kepekatan 1% (1 ml = 10 mg)
Tidak dianjurkan untuk ibu hamil dan anak <3
tahun

b. Propofol

Efek :
a.
b.
c.
d.
e.

takikardi
Peningkatan tekanan darah
Hipersalivasi
Nyeri kepala
Halusinasi

Diberikan Midazolam atau Diazepam (Valium)


dosis 0,1 mg/kg

c. Ketamin

ANESTESI
INHALASI

Suatu anestetik inhalasi disebut ideal


baunya menyenangkan & tdk mengiritasi
jalan nafas, kelarutan rendah, tdk toksik pada
organ, efek samping kardiovaskuler &
respirasi minimal, efek pada SSP reversibel
tanpa efek stimulant, efektif pada oksigen
konsentrasi tinggi, dpt digunakan dgn
vaporizer standar.

Anestetik gas
: N2O dan cyclopropane.
Anestetik volatil
: eter, halothane,
enflurane, isoflurane, sevoflurane dan
desflurane.

Ada 2 jenis

Memiliki sifat anestesi yang lemah, tetapi


sifat analgesik kuat
Pemberian N2O disertai dengan O2 25%
karena N20 cepat keluar melalui alveoli
sehingga mudah terjadi pengenceran dan
menyebabkan hipoksia

a. N2O (Dinitrit
monoksida, Nitrit oxide)

Merupakan turunan Etan


Sebagai induksi anestesi yang
dikombinasikan dengan N20
Kombinasi dengan adrenalin dapat
menyebabkan disritmia

b. Halotan

Merupakan halogenasi eter


Tidak dapat diberikan pada pasien dengan
riwayat epilepsi

c . E n fl u r a n

Merupakan halogenasi eter


Efek : dapat meningkatkan aliran darah otak
dan meningkatkan tekanan intracranial

d . I s o fl u r a n

Merupakan halogenasi eter


Bersifat simpatomimetik
Efek : takikardi, hipertensi

e . D e s fl u r a n

Merupakan halogenasi eter

f . S e f o fl u r a n

PELUMPUH OTOT

Sangat berguna dlm GA laringoskopi & intubasi jadi lebih


mudah serta menghindari cedera, digunakan selama operasi
dgn ventilasi kendali.
Disebut Pelumpuh otot ideal termasuk golongan non
depolarisasi, onset cepat, mula kerja singkat, pemulihan
cepat, potensi tinggi, tdk kumulatif, metabolitnya tdk aktif,
tdk ada efek kardiovaskuler, tdk ada pelepasan histamin, dpt
dilawan dng anticholinesterase.
Terminologi dlm pelumpuh otot :
ED 50 : dosis yang dapat melumpuhkan 50% kekuatan otot.
ED 90 : dosis yang dapat melumpuhkan 90% kekuatan otot.
Onset : interval antara mulai penyuntikkan sampai efek
maksimal.

Terdapat 2 golongan obat pelumpuh otot;


a. Golongan depolarisasi (bersifat nonkompetitif)
menyebabkan faskiculasi otot. Efeknya meningkat
dgn anticholinesterase , acetylcholine, hipotermi.
b. Golongan non-depolarisasi (bersifat inhibitor,
kompetitif) tdk menimbulkan fascikulasi,
efeknya menurun dgn obat anticholinesterase,
obat pelumpuh otot golongan depolarisasi,
penurunan suhu tubuh, epinephrine, acetylcholine.
Efeknya meningkat dgn obat pelumpuh otot nondepolarizing, anestetika volatile.

Pada
suatu
keadaan,
obat
golongan
depolarizing dpt berefek non depolarizing,
dual block / biphasic block.
Relaksasi otot disebabkan : central, anestesi
umum, perifer (local nerve block) & pelumpuh
otot.
Relaksan yg dipakai di klinik pada umumnya
highly ionized & terbatas pada cairan ekstra
seluler.

Golongan Suksinylcolin (Diasetyl-colin) dan


dekametonin
Bekerja seperti acetylcolin
Menimbulkan fasikulasi dan relaksasi otot
lurik

a. Golongan
depolarisasi

Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik


menyebabkan acetylcolin tidak dapat bekerja
Terdiri dari
a. Bensiliso-koinolinum ; metokurin,
mivakurium, atracurium
b. Steroid ; pankuronium, pipekuronium,
vekuronium, rokuronium
c. Eter-fenolik ; gellamin
d. Nortoksiferin ; alkuronium

b. Golongan nondepolarisasi

Bekerja pada sambungan saraf otot


mencegah acetylcolinesterase bekerja
Contoh:
a. Neostigmin (prostigmin) 0,04-0,008 mg/kg
b. Piridostigmin 0,01 0,03 mg/kg
c. Endrophonium
d. Physostigmin hanya diberikan peroral 0,040,08 mg/kg

c. Penawar
pelumpuh otot

Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik,


sehingga mudah menyebabkan hipersalivasi,
keringat berlebih, takikadi
Sehingga diberikan sulfas atropin 0,01-0,02
mg/kg atau glikopirolat 0,005-0,01 mg/kg

ANALGETIK

Memiliki 3 golongan, yaitu; agonis, antagonis


dan agonis-antagonis

Opioid

Bersifat mengaktifkan reseptor


a. Morfin
- bekerja long-acting
- sebagai analgetik, sedasi, stimulasi
parasimpatis
- menyebabkan hipertensi ortostatik
- dapat diberikan SK, IM, IV, epidural atau
intratekal

1. Agonis Opioid

b. Pethidin
- bersifat atropin, sehingga menyebabkan
mulut kering, pandangan kabur, dan takikardi
- Diberikan ;
IM 1-2 mg/kg diulang tiap 3-4 jam
IV 0,2-0,5 mg/kgBB
SK tidak dianjurkan

c. Fentanyl
- Dosis 1-3g/kgBB
- 50-150g/kgBB
- efek; meningkatkan gula darah,
meningkatkan kortisol, ADH

d. Papaveretum
e. Sufentanyl 0,1-0,3 mg/kgBB
f. Alfentanyl 10-20g/kgBB
g. Kodein

a. Nalokson
- efek ; peningkatan tekanan darah, kantuk
menghilang, pupil dilatasi, laju pernafasan
meningkat
- dosis; 1-2g/kgBB diulang tiap 3-5 menit
sampai ventilasi membaik

2. Opioid
Antagonis

b. Naltrekson
- dapat diberikan per oral 5 mg atau 10 mg
bertahan hingga 24 jam

a.
b.
c.
d.

Pentasosin
Nalbufin
Butarfanol
Buprenorfin

3. Agonis
Antagonis