Anda di halaman 1dari 27

Bppv

BENIGN PAROXYSMAL POTITIONAL


VERTIGO
Elsa Giatri
1110313060
Andika Budhi Rahmawan
1110312118

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Benign Jinak
Paroxysmal Secara tiba-tiba
Potitional Dipengaruhi oleh posisi
Vertigo Vertigo
BPPV adalah gangguan keseimbangan
perifer berupa vertigo yang mendadak
muncul setelah perubahan posisi kepala

Epidemiologi

3/9

PATOFISIOLOGI

4/9

Teori Kupulolitiasis dan


Kanalitiasis

Ada 2 teori :
1. Teori kupulolitiasis
Debris-debris degeneratif atau fragmen otokonia dari utrikulus
yang terlepas dan melekat pada permukaan kupula KSSP yang
menghadap utrikulus
2. Teori kanalitiasis
Adanya partikel padat ( debris ) yang mengapung dan bergerak
dalam KSSP. Ketika kepala tegak, partikel dalam KSS berada
pada posisi sesuai gaya gravitasi. Ketika kepala dimiringkan,
partikel tersebut bergerak berputar 90 derajat sepanjang arkus
KSSP, setelah terjadi perlambatan , partikel akan berada pada
bagian paling bawah sesuai dengan gaya gravitasi. Hal ini
menyebabkan endolimfe mengalir menjauhi ampulla dan
menyebabkan kupula mengalami deflesi dan menimbulkan
nistagmus. Pembalikan arah posisi menyebabkan pembalikan
deflesi kupula dan rasa pusing serta nistagmus keposisi yang
berlawanan.

Fisiologi alat keseimbangan


Keseimbangan dan orientasi tubuh
seseorang terhadap lingkungan di
sekitarnya tergantung pada input sensorik
dari reseptor vestibuler di labirin, organ
visual dan propioseptif.

Labirin terdiri dari labirin statis yaitu utrikulus


dan sakulus yang merupakan pelebaran
labirin membran yang terdapat dalam
vestibulum labirin tulang.

Keluhan dan gejala gangguan


keseimbangan

Adanya rasa goyang (unsteadiness)


Rasa goyang setelah gerakan (after motion)
Pening (dizziness)
Pusing berputar (Vertigo)
Rasa tidak menapak (unfoodtedness)
Instabilitas postural (postural instability)
Gejala otonom

Etiologi
Gangguan keseimbangan sentral (daerah
otak)
Gangguan keseimbangan perifer (daerah
telinga dalam) 80% dari gangguan
keseimbangan.

Gangguan keseimbangan
sentral
Pada nukleus vestibularis sampai batang
otak dapat terjadi TIA/Stroke
vertebrobasiler, tumor, trauma, migren
basilaris, multipel sclerosis (degeneratif).

Gangguan keseimbangan
perifer (daerah telinga dalam)

BPPV (Benigne paroxysmal positional vertigo)


Meniers disease
Infeksi (neuritis vestibuler, OMSK)
Ototoksik (Obat yang menyebabkan toksik/ racun
pada telinga dalam)
Penyumbatan pembuluh darah (oklusi a.labirin)
Trauma
Tumor (neurema akustik)
Kelainan degeneratif (prebiastasia)

Pemeriksaan Keseimbangan
Uji Romberg berdiri, lengan,dilipat
didada, mata ditutup, dapat dipertajam,
dengan memposisikan kaki tandem depan
belakang, lengan dilipat didada, mata
tertutup.pada orang normal dapat berdiri
lebih dari 30 detik.

Pemeriksaan Keseimbangan
Uji berjalan Stepping test, berjalan di
tempat 50 langkah, bila tempat berubah
melebihi jarak 1 meter dan badan berputar
lebih dari 30 derajat berarti sudah terdapat
gangguan keseimbangan.

Pemeriksaan Keseimbangan
Pemeriksaan fungsi serebelum Seperti
past pointing test, dilakukan dengan
merentangkan tangan diangkat tinggi,
kemudian telunjuk menyentuh telunjuk yang
lain dengan mata tertutup. Tes jari hidung,
dilakukan dalam posisi duduk pasien di
minta menunjuk hidung dengan jari dalam
keadaan mata terbuka dan tertutup.

BPPV (Benigne paroxysmal


positional vertigo)
Sering dirtemukan
Vertigo yang datang tiba-tiba pada
perubahan posisi kepala
Vertigo sangat berat, waktunya singkat
Sering berulang

Penyebab
- Penyakit degeneratif idiopatik
- Riwayat trauma kepala
- labirinitis virus
- neuritis vestibuler
- fistula perilimfe

Patofisiologi kanalitiasis yaitu adanya


debris yang melayang didalam kanalis
semi sirkularis
Diagnosis memprovokasi dan melihat
respon nistagmus yang timbul

Kelumpuhan n. fasialis
Kelumpuhan n. Fasialis (nervus VII)
merupakan kelumpuhan otot-otot wajah.
Pasien tidak dapat atau kurang dapat
menggerakan otot wajah, sehingga tampak
wajah pasien tidak simetris. Dalam
menggerakan otot ketika menggembungkan
pipidan mengerutkan dahi tampak sekali
wajah pasien tidak simetris.

Pemeriksaan fungsi n. fasialis


Tujuan pemeriksaan fungsi n. Fasialis
ialah untuk memnentukan letak lesi dan
menentukan derajat kelumpuhanya.
Derajat kelumpuhan ditetapkan
berdasarkan hasil pemeriksaan fungsi
motorik yang dihitung dalam persen (%)

Pemeriksaan fungsi saraf motorik


M. Frontalis diperiksa dengan cara mengangkat alis
keatas.
M. Sourciliar : diperiksa dengan cara mengerutkan alis.
M. Piramidalis : diperiksa dengan cara mengangkat dan
mngerutkan hidung ke atas.
M. Orbikularis okuli : diperiksa dengan cara
memejamkan kedua mata kuat-kuat.
M. Zigomatikus : Diperiksa dengan cara tertawa lebar
sambil memperlihatkan gigi.

22/9

Pemeriksaan fungsi saraf motorik


M. Relever komunis diperiksa dengan cara
memoncongkan mulut ke depan sambil memperlihatkan
gigi.
M. Businator diperiksa dengan cara menggembungkan
kedua pipi.
M. Orbikularis oris diperiksa dengan menyuruh penderita
bersiul.
M. Triangularis diperiksa dengan cara menarik kedua
sudut bibir ke bawah.
M. Mentalis diperiksa dengan cara memoncongkan
mulut yang tertutup rapat ke depan.
23/9

Pada tiap gerakan dari ke sepuluh otot tersebut, kita


bandingkan antara kanan dan kiri.
1.Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan
angka 3.
2.Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka 1.
3.Diantaranya dinilai dengan angka 2.
4.Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka 0.
Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan
normal akan mempunyai nilai 30.
24/9

Parase fasialis
Etiologi kelumpuhan n. Fasialis
1.Kongenital bersifat irreversibel dan
bersamaan dengan anomali pada telinga
dan tulang pendengaran.
2.Infeksi pada intrakranial atau infeksi
telinga tengah.

25/9

Lanjutan...
3. Tumor tumor intrakranial (tumor
serebelopontin, neuroma akustik dan
neuriloma) dan tumor ekstrakranial
(tumor telinga dan tumor parotis)
4. Trauma Fraktur pars petrosa os
temporal oleh karena trauma kepala

26/9

TERIMA KASIH