Anda di halaman 1dari 26

SPIRITUALITAS

ISLAM DALAM
PANDANGAN
MUHAMMADIYAH

Anggota Kelompok
Billy Dwi Wahyuni
(201310070311082)
Virdian Dwi cahyaningrum
(201310060311159)
Afrina Nurmiendayanti
(201310060311162)
Norma Asvyan P
(201310070311173)

Pengertian Spiritual Islam


Spritual islam adalah sikap dari setiap
muslim yang merefleksikan Allah swt
sebagai sesuatu yang vital dan
menentukan norma atau prinsip hidup. Alqur'an dipandang sebagai norma atau
prinsip hidup oleh mereka yang ingin
selamat. Spritualitas islam mengajak
kesadaran manusia untuk menjadikan
Tuhan dengan segala representasinya
sebagai model pokok dari segala bentuk
ekspresi kemakhlukan manusia
(Badruddin,2011)

Sejarah Spiritual Islami


Aktualisasi spiritualitas Islam ialah upaya
mewujudkan kehidupan islami, dengan
menekankan pada penyempurnaan pengamalan
ibadah, kesucian rohani, dan kesalihan moral atau
al-akhlaqul karimah.
Aktualisasi spiritualitas islam juga bersamaan
dengan kehendak mengembangkan pemikiran
tajdid (pembaharuan dan pemurnian ajaran
Islam). Hal itu dimaksudkan agar segala amalan
ibadah dilakukan dengan cara yang benar sesuai
dengan petunjuk Alquran dan hadis, bebas dari
syirik, bid'ah, khurafat, dan takhayul.

Prof Dr Hamka, telah memperkenalkan istilah tasawuf


modern untuk memberikan nama pada ajaran tasawuf
yang menurutnya sesuai dengan paham
Muhammadiyah
Orang yang menjalankan tasawuf murni mestilah
memegang teguh akidah yang benar (tauhid yang
bersih), melaksanakan ibadah dengan tekun,
menghiasi dirinya dengan al-akhlaqul karimah, serta
melakukan pergaulan dalam kehidupan sosial seharihari sesuai dengan Alquran dan hadis. Ia tidak
tenggelam dalam khalwat atau menjauhi kehidupan
duniawi, tapi bergaul secara wajar dalam kehidupan
sosial

Akhlak dan Tasawuf Ajaran Islam


meliputi tiga bagian pokok, yaitu akidah
(kepercayaan atau keimanan), syariah
(hukum-hukum agama, meliputi ibadah
dan muamalah), dan akhlak (moral atau
budi pekerti). Atau, tiga bagian pokok
itu ialah iman, Islam, dan ikhsan. Iman
adalah sebagaimana tercermin dalam
rukun iman yang keenam.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pada


masa hayatnya sangat menganjurkan segenap warga
untuk mengamalkan al-akhlaqul karimah. Di antara
sifat- sifatnya yang menonjol ialah zuhud, yakni tidak
tergila- gila atau serakah untuk mengejar harta,
bahkan harta beliau banyak dikorbankan untuk
membaiayai kegiatan amal usaha Persyarikatan,
seperti lembaga pendidikan, kesehatan, penyantunan
fakir miskin, dakwah, dan lain-lain. Dengan demikian
KH Ahmad Dahlan telah berhasil menjelmakan spirit
(roh) dan nilai-nilai substansial tasawuf menjadi etos
kerja warga Muhammadiyah dalam melaksanakan
kegiatan sosial keagamaan.

Definisi Zakat, Infaq dan


shadaqah
Zakat adalah bagian hak Allah swt. Yang
diberikan oleh manusia kepada orang-orang
miskin. Dinamakan zakat, karena mengandung
harapan dan keberkahan, penyucian diri dan
tambahan kebaikan
Secara etimologi (lughawi), kata zakat berasal
dari Bahasa arab al-zaka yang mengandung
beberapa arti seperti berkembang, suci dan
berkah. Sedangkan dalam terminologi hukum
(syara) zakat diartikan kadar harta tertentu
yang diberikan kepada yang berhak
menerimanya dengan beberapa syarat

Infaq yaitu mengeluarkan atau membelanjakan


harta yang cukup zakat dan non zakat. Infaq
ada yang wajib dan ada yang Sunnah.
Infaq wajib diantaranya kafarat, nadzar, zakat,
dan lain lain.
Infaq Sunnah diantaranya infaq kepada fakir
miskin sesama muslim, infaq sering juga
diartikan sebagainya. Dalam pengertian yang
umum infaq sering juga diartikan sebagi
menafkahi atau membelanjakan harta dijalan
allah

Landasan Kewajiban Zakat


dan Hukum Menolakmya
Hukum Zakat adalah wajib ain dalam arti
kewajiban yang ditetapkan untuk diri pribadi
dan tidak mungkin dibebankan kepada orang
lain.
Apabila seseorang mengingkari
kewajibannya, ia dipastikan keluar dari
agama (murtad) dan hukum bunuh dengan
alasan kafir. Kecuali jika dia baru masuk
islam, maka hal itu dapat dimaklumi karena
belum banyak mengerti hukum-hukum
agama

Sedangkan orang yang menolak


membayarnya, tapi masih meyakini
kewajibannya, maka dia berdosa, karena
penolakannya itu dan tidak dianggap
keluar dari agama. Namun, dalam kasus
seperti ini, pemerintah harus
mengambil zakat orang tersebut secara
paksa dan menghukumnya, tapi tidak
boleh mengambil lebih dari kadar zakat
harta yang harus dibayar

Harta yang dikenai Zakat


Dalam al-quran disebutkan beberapa macam
jenis kekayaan yang dikenai zakat yaitu:
emas dan perak, tanaman dan buah-buahan,
hasil usaha seperti dagang dan sebaginya,
hasil dari perut bumi seperti barang tambang
dan sebagainya, dan yang lain disebutkan
secara umum dalam kata-kata mal yang
berarti harta kekayaan. Sementara dalam
hadits nabi saw disebutkan bahwa binatang
ternak yang dikenai zakat ada tiga macam,
yaitu unta, sapi, dan kambing

Golongan Penerima Zakat


Fakir, orang yang tidak memiliki harta untuk
menunjang kehidupan dasarnya. Kefakiran orang
tersebut disebabkan ketidakmampuan untuk
mencari nafkah karena fisiknya tidak mampu,
seperti orang tua jompo dan cacat badan.
Miskin, orang yang tidak memiliki harta untuk
kehidupan dasarnya, namun ia mampu berusaha
mencari nafkah, hanya penghasilannya tidak
mencukupi bagi kehidupan dasarnya untuk
kehidupannya sendiri dan atau keluarganya.
Amil, orang yang ditunjuk oleh penguasa yang sah
untuk mengurus zakat, baik mengumpulkan,
memelihara, membagi dan mendayagunakan serta
petugas lain yang ada hubungannya dengan
pengurus zakat.
Muallaf, yaitu orang yang baru masuk islam dan

Riqab, adalah untuk kepentingan memerdekakan


budak, baik dengan membeli budak-budak untuk
kemudian dimerdekakan atau memberi dana
untuk kepentingan menebus dirinya dari
perbudakan.
Gharim, orang yang dililit utang dan tidak dapat
melepaskan dirinya dari jeratan hutang kecuali
dengan bantuan dari luar.
Sabillilah, segala keperluan untuk menegakkan
agama Allah. Dalam waktu perang dapat diartikan
biaya pasukan dan perlengkapannya selama
dalam peperangan. Sementara dalam situasi yang
bukan perang berarti segala usaha yang bertujuan
untuk menegakkan syiar agama.
Ibnu Sabil, orang yang berada dalam perjalanan
bukan untuk tujuan maksiat, yang kehabisan
biaya dalam perjalanannya dan tidak mampu

Keutamaan Zakat, Infaq


dan shadaqah

Setiap syariat yang ditetapkan allah untuk manusia


tentu memiliki nilai-nilai kebijakan bagi manusia itu
sendiri . begitu juga syariat zakat, infaq dan shadaqah
memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:
Termasuk ciri orang yang bertaqwa adalah
menginfaqkan rizki yang diberikan allah.
Termasuk mukmin yang beruntung.
Orang yang menunaikan zakat hartanya termasuk orang
yang mendapatkan rahmat dari allah SWT
Orang yang menunaikan zakat hartanya maka akan
dihilangkan keburukkannya
Harta yang disedekahkan akan berkembang dan
dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Ancaman bagi orang yang


tidak mengeluarkan Zakat,
Infak dan Sadaqah
Allah memberikan janji pahala bagi
orang-orang yang mengeluarkan
zakat hartanya, Allah juga
memberikan ancaman bagi orangorang yang enggan membayar zakat
atau mengeluarkan harta dalam
bentuk infaq dan shadaqah.

Allah SWT berfirman dalam surat (Al-Taubah ayat


34-35) yang artinya
. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan
perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (fi
sabilillah), maka beritahukanlah kepada mereka,
(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
pada hari dipanaskan emas perak itu dalam beraka
jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka,
lambung dan punggung merela (lalu dikatakan)
kepada mereka; Inilah harta bendamu yang kamu
simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah
sekarang (akibat dari) apa yang kamu dimpan itu.

Selain itu bagi orang yang memiliki harta kemudian tidak


mengeluarkan zakatnya maka kelak pada hari kiamat
harta itu akan dikalungkan di lehernya. Sebagaimana
firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 180 yang artinya
sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan
harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.
Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak
dilehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah
segala warisan (yang ada) dilangit dan di bumi, dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sementara bagi orang yang memiliki harta


dalam bentuk hewan ternak (Unta, Kambing,
dan Sapi) kemudian tidak mengeluarkan
zakatnya, maka kelak di akhirat hewanhewan itu akan melindas, menginjak-injak,
serta menanduk pemiliknya. Bahkan Allah
melalui lisan Nabi-Nya memberitakan
bahwa jika ada suatu kaum yang menolak
membayar zakat, maka Allah tidak akan
menurunkan hujan kepada mereka.

Tujuan dan Hikmah


Zakat, Infaq dan
Shadaqah
Tujuan disyariatkannya zakat, infaq dan
shadaqah diantaranya adalah supaya
harta itu tidak hanya beredar di kalangan
orang kaya semata
Adapun hikmah yang terkandung dalam
kewajiban zakat itu di antaranya adalah
untuk membersihkan jiwa orang yang
berzakat dari sifat sombong dan kikir
serta membersihkan hartanya dari
bercampur baurnya dengan hak orang lain

Embrio Gerakan Zakat,


Infaq dan Shadaqah dalam
Muhammadiyah

Sejarah telah membuktikan bahwa sejak


awal berdirinya Muhammadiyah memiliki
concern terhadap ketimpangan sosial
(kemiskinan dan keterbelakangan). Hal ini
tampak bagimana KH.Ahmad Dahlan
memiliki perhatian yang lebih terhadap surat
al-Maun.
Metode dakwah KH.Ahmad Dahlan sangat
sederhana, tetapi mengena. Ia memberi
pengajian subuh di masjid berulang-ulang
mengupas surat al-Maun saja

Dalam rangka mengamalkan surat al-Maun,


KH.Ahmad Dahlan mengajak untuk mencari orang
miskin disekitar tempat tinggal masing-masing. Jika
menemukan orang miskin di sekitar tempat tinggal
masing-masing, dimandikan dengan sabun dan diberi
sikat gigi yang baik, diberi pakaian seperti yang biasa
di pakai mereka, diberi makanan dan minuman serta
tempat tidur yang layak. Dari situlah embrio
mengelola zakat mal dan zakat fitrah untuk dibagikan
kepada fakir miskin. Lalu atas prakasa KH.Ahmad
Dahlan didirikan penampungan fakir miskin, panti
asuhan yatim piatu, dan rumah sakit PKU
Muhammadiyah di Yogyakarta.

LAZISMU : Wujud
Konsistensi Gerakan Zakat,
Infaq dan Shadaqah Dalam
Muhammadiyah
LAZISMU adalah lembaga nirlaba tingkat nasional
yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat
melalui pendayagunaan secara produktif dana zakat,
wakaf dan kedermawanan lainnya baik dari
perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi
lainnya. Berdirinya lembaga ini ditandai dengan
penandatanganan deklarasi oleh Prof. Dr. HA. SyafiI
Maarif, MA (buya safii) dan selanjutnya dikukuhkan
oleh menteri Agama Republik Indonesia sebagai
Lembaga Amil Zakat Nasional melalui SK No.457/21
november 2002

Berdirinya LAZISMU dilatar belakangi oleh


dua faktor.
Pertama, fakta Indonesia yang berselimut
dengan kemiskinan yang masih meluas,
kebodohan dan indeks pembangunan
manusia yang sangat rendah.
Kedua, zakat diyakini mampu
bersumbangsih dalam mendorong
keadilan sosial pembangunan manusia
dan mampu mengentaskan kemiskinan.

Berdirinya LAZISMU dimaksudkan sebagai institusi


pengelola zakat dengan manajemen modern yang dapat
menghantarkan zakat menjadi bagian dari penyelesai
masalah (problem solver) kondisi kebangsaan yang terus
berkembang.
Program utama LAZISMU difokuskan pada pendayagunaan
produktif yang terdiri atas: Pertama pemberdayaan
ekonomi masyarakat (micro economic empowerment),
Kedua, pemberdayaan pertanian dan peternakan
(agriculture and liveststock empowerment), Ketiga,
pengembangan pendidikan (education development) .
LAZISMU saat ini sudah tersebar hampir ditiap tingkat
kepengurusaan Muhammadiyah seluruh Indonesia.

TERIMAKASIH