Anda di halaman 1dari 251

m zaky

Tehnologi dan Formulasi


Sediaan solid

tablet

TABLET
1.
2.
3.

Tablet
Metode dan Bahan Pembuatan tablet
Tablet khusus

BAB I TABLET
Definisi
Tablet adalah sediaan bentuk padat yang
mengandung substansi obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Berdasarkan metode
pembuatannya, dapat diklasifikasikan sebagai
tablet atau tablet kompresi .(USP 26, Hal 2406)
Tablet adalah sediaan padat mengandung
bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Berdasarkan metode pembuatan dapat
digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet
kempa. (FI IV, Hal 4)
3

KRITERIA TABLET

Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :


1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi
persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu
tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
(Proceeding Seminar Validasi, Hal 26)

Keuntungan Sediaan
Tablet
Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki

beberapa keuntungan, yaitu :


1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang
paling banyak dipilih;
2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi
dalam dosis;
3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif
dengan volume yang kecil sehingga
memudahkan proses pembuatan, pengemasan,
pengangkutan, dan penyimpanan;
4. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis
dapat dicegah/diperkecil.

Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain,


sediaan tablet mempunyai keuntungan, antara
lain :
1.

2.

3.

Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat


(merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan
paling kompak), memudahkan pengemasan,
penyimpanan, dan pengangkutan;
Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh
(mengandung dosis zat aktif yang tepat/teliti) dan
menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk
sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas
kandungan yang paling rendah;
Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan
volume yang kecil;

4.
5.
6.
7.

Dibandingkan dengan bentuk sediaan


lain, sediaan tablet mempunyai
keuntungan, antara lain :

Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat


aktif lebih stabil;
Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut
dalam air;
Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang
rasanya dalam tablet;
Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling
mudah dan murah; tidak memerlukan langkah
pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan
pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul;
7

Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain,


sediaan tablet mempunyai keuntungan, antara
lain :
8.

9.
10.

11.

Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil


kemungkinan tertinggal di tenggorokan, terutama bila
bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet
tidak segera terjadi;
Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas
lambat, lepas terkendali);
Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi
rasa dan bau yang tidak enak, dan untuk terapi lokal
(salut enterik);
Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat,
sehingga biaya produksinya lebih rendah;
8

Dibandingkan dengan bentuk sediaan


lain, sediaan tablet mempunyai
keuntungan, antara lain :
12.
13.

Pemakaian oleh penderita lebih mudah;


Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki
sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas
mikrobiologi yang paling baik.
(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman
Hal 294 dan Proceeding Seminar Validasi, Hal 26 )

Kerugian Sediaan Tablet

1.
2.

Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam


keadaan tidak sadar/pingsan);
Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat,
karena sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;
Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut,
dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya
tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat
tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi
sedemikian rupa);

10

Kerugian Sediaan Tablet

Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang
tidak disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap
oksigen, atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan
enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan
kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.

(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman


Hal 294)

11

TABLET VS SEDIAAN LAIN


Tetapi jika dibandingkan dengan

keuntungannya, kerugian sediaan


tablet jauh lebih sedikit sehingga
sediaan tablet merupakan sediaan
yang paling banyak dijumpai di
perdagangan.
12

PENGEMPAAN TABLET

1.
2.
3.
4.
5.

KOMPONEN MESIN PENGEMPA TABLET


Hopper : untuk menahan/tempat menyimpan
dan memasukkan granulat yang akan dikempa.
Die : yang menentukan ukuran dan bentuk tablet
Punch : untuk mengempa granulat yang
terdapat didalam die
Jalur cam : untuk mengatur gerakan punch
Suatu mekanisme pengisian untuk
menggerakkan / memindahkan granul dari
hopper ke dalam die.
13

PENGEMPAAN TABLET

1.

2.

Pencetak Tablet Dibagi 2 :


Pencetak Tunggal : Seluruh pengempaan dilakukan
oleh punch atas, sehingga membuat mesin itu seperti
sebuah pencetak prangko
Pencetak Ganda ; dijuga rotari (berputar), sebab
berputarnya bagian kepala dari mesin tablet yang
memegang punch atas, dies dan punch bawah pada
tempatnya. Bila bagian kepala berputar, punch dituntun
ke atas dan ke bawah oleh jalur cam yang diam, yang
mengontrol urut-urutan pengisian, pengempaan, dan
pendorongan keluar. Bagian dari kepala yang
memegang punch atas disebut turret atas, yang
memegang punch bawah disebut turret bawah. Bagian
yang memegang die disebut meja die

14

PENGEMPAAN TABLET
2.

Pada saat mulai, granul yang berada didalam hopper


masuk kedalam rangka pengisi (A) yang mempunyai
beberapa kompartemen yang saling berhubungan.
Kompartemen-kompartemen ini menyebarkan granul
secara luas untuk menyediakan waktu bagi die (B)
untuk diisi. Turunnya cam (C) menuntun punch bawah
ke dasar perjalanannya yang vertikal, hal ini
memungkinkan die untuk diisi berlebihan. Punch itu
kemudian melalui cam pengontrol berat (E) yang
mengatur isi die sampai jumlah yang diinginkan. Pisau
pembersih (D) pada ujung memindahkan kelebihan
granul dan membawanya kembali mengelilingi turret
ke bagian muka rangka pengisi.

15

PENGEMPAAN TABLET
2.

Selanjutnya punch bawah bergerak diatas roda


pengempa bawah (F), bersamaan dengan itu punch atas
lewat dibawah roda pengempa atas (G). Punch atas
bergerak pada jarak tertentu kedalam die, sedangkan
punch bawah naik untuk meremas dan memadatkan
granul yang ada dalam die. Untuk mengatur gerakan ke
atas dari punch bawah, ketinggian dari roda pengempa
bawah diubah-ubah. Setelah pengempaan, punch atas
ditarik keluar mengikuti naiknya cam dari punch atas
(H), punch bawah mengikuti kenaikan naiknya cam (I),
ini membawa tablet sedikit diatas permukaan die.
Posisi yang tepat ditentukan oleh sekrup beralur yang
disebut tombol pelepas.

16

PENGEMPAAN TABLET
2.

Tablet itu akan melanggar pisau pembersih yang


dipasang pada bagian mukadan rangka pengisi (A) dan
meluncur jatuh pada wadah penampung. Pada saat yang
sama, punch bawah kembali masuk ke jalur cam, yang
menurun (C) dan siklus kembali berulang. Bagian lain
dari pencetak tablet dirancang untuk mengontrol
kegunaan komponen seperti kapasitas, kecepatan, berat
maksimum dan tekanan. Rancangan komponenkomponen itu dapat berbeda-beda, tetapi elemen
dasarnya tetap sama. Walaupun mesin pengempa tablet
mengalami banyak perubahan mekanis dari tahun ke
tahun, pengompakan materi diantara sepasang punch
yang bergerak didalam die masih tetap tidak berubah.
Modifikasi terutama terjadi pada peningkatan kecepatan
produksi,bukan perubahan dasar dari proses.

17

PENGEMPAAN TABLET
2.

GAMBAR LACMAN 2 HAL 663

18

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet

Permasalahan yang mungkin timbul adalah berkenaan


dengan bagaimana cara membuat sediaan yang baik
dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Untuk membuat sediaan yang baik diperlukan data
preformulasi yang meliputi stabilitas, organoleptik,
sifat fisikokimia, dan data-data lain yang menunjang
sehingga dapat diperkirakan bahan baku yang cocok
untuk terbentuknya suatu sediaan yang baik dan
tercapainya tujuan penggunaan.

19

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
OTT zat aktif (meleleh, berubah warna, terurai, dan
sebagainya).
2.
Stabilitas zat aktif :
a. Untuk zat yang rusak oleh adanya air, dibuat dengan
metode pembuatan tablet yang tidak menggunakan air
dan perlu diperhatikan pelarut yang digunakan untuk
granulasi.
b. Untuk zat yang mudah teroksidasi dengan pemanasan dan
sinar UV, digunakan metode pembuatan tablet yang tidak
memakai pemanasan dan sinar UV dalam prosesnya.
1.

20

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
2.

c.

Stabilitas zat aktif :


Untuk at yang higroskopis, jangan menggunakan
metode granulasi basah memakai mucilago amyli
karena massa cetak yang terjadi sulit untuk
dikeringkan. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan
adsorben seperti Aerosol < 3%.

21

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
Stabilitas zat aktif :
d. Untuk zat yang tidak tahan air dan pemanasan dapat
digunakan metode pembuatan tablet dengan cara
kempa langsung atau granulasi kering

Untuk zat dengan jumlah kecil (jumlah fines <30%)


dapat dibuat dengan Kempa Langsung

Untuk zat dengan jumlah besar (jumlah fines >30%)


dapat dibuat dengan Granulasi Kering.
2.

22

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
3.

4.

Pemilihan bahan pembantu yang cocok


Untuk penentuan eksipien perlu diperhatikan OTT
dengan zat aktif. Di samping itu, bahan pembantu yang
digunakan harus mempunyai titik leleh yang cukup
tinggi sehingga pada pencetakan tidak meleleh.
Jumlah fines total
Jumlah fines yang ditambahkan pada masa cetak
maksimal 30%, idealnya 15%. Jika lebih besar akan
menyusahkan pada pencetakan tablet.
23

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
5.
6.
7.

Perbandingan bobot jenis zat aktif dengan pembawa (jika


terlalu jauh hendaknya jumlah fine sesedikit mungkin)
Konsentrasi Mg stearat sebagai lubrikan maksimal 2%.
Jika terlalu besar akan terjadi laminating
Penggunaan mucilago amyli sebagai pengikat pada
proses pembuatan tablet akan mempersulit disolusi zat
aktif dari dalam granul karena mucilago amyli yang
sudah kering sulit ditembus air. Untuk mengatasinya,
perlu ditambah pembasah (Tween 80 0.05%-0.15%)
sehingga tablet mempunyai waktu hancur lebih baik.
24

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
8.

9.

10.

Pada penggunaan PVP sebagai pengikat, PVP sebaiknya


dilarutkan dalam alkohol 95%. Tetapi pada tahap awal,
volume alkohol yang digunakan tidak diketahui sehingga
dapat diberikan sebagai serbuk.
Penggunaan amylum yang terlalu banyak (maksimal 30%)
menyebabkan tablet tidak dapat dicetak karena
kompresibilitasnya sangat jelek.
Amylum yang digunakan sebagai penghancur luar haruslah
amylum kering karena dengan adanya air akan menurunkan
kemampuannya sebagai penghancur. Pengeringan amylum
dilakukan pada suhu 70 C karena pada suhu ini tidak terjadi
25
gelatinasi dari amylum.

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
11.

12.

Pada pembuatan tablet dengan metode KL, sebagai


pembawa dapat digunakan kombinasi Avicel dengan
Primogel atau Avicel dan Starch 1500 dengan
perbandingan 7:3 (penelitan Aliyah) atau 3:1. Karena Avicel
memiliki kompresibilitas yang baik tapi alirannya kurang
baik, maka untuk memperbaiki alirannya dapat digunakan
Primogel atau Starch 1500.
Untuk mengatasi kekeringan granul akibat pengeringan
yang tidak terkontrol maka perlu penambahan humektan
yaitu gliserin atau propilen glikol 1 4% dihitung terhadap
mucilago.
26

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
Gliserin ditambahkan pada mucilago (pengikat) untuk
mempermudah homogenitas gliserin pada tablet, sama
halnya dengan penambahan Tween untuk zat aktif hidrofob
pada mucilago.

Penambahan gliserin dan Tween adalah untuk tujuan:


- Gliserin : dikhawatirkan pada waktu pengeringan air
hilang/menguap semua
- Tween : dikhawatirkan komposisi yang digunakan menolak
air, sehingga perlu penambahan Tween agar tablet tidak
pecah.

27

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet

Jumlah Tween yang tepat tergantung pada:


Jumlah zat aktif
Jumlah bahan pembantu yang digunakan

13.

Jumlah aerosil yang ditambahkan tidak boleh lebih dari 3%


karena aerosil bersifat voluminous dan menyerap air
sehingga tablet dapat membatu yang menyebabkan waktu
hancur lebih lama.

28

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
Bila bobot tablet terlalu tinggi dan bervariasi

Kemungkinan disebabkan oleh:


Distribusi pada hoover yang disebabkan proses getaran.
Sehingga yang kecil terdesak, granul yang besar akan
keluar lebih dahulu, karena ada proses pemampatan. Oleh
karena itu perlu diusahakan ukuran granul yang seragam.
Aliran granul yang kurang baik
Distribusi partikel tidak normal, karena bobot jenis berbeda
jauh, sehingga aliran jelek.
Lubrikan kurang sehingga alirannya jelek.
14.

29

Masalah-Masalah Dalam Pembuatan


Tablet
Jika zat aktif larut air:
Jangan menggranulasi dengan air
Sebagai pengikat, gunakan pelarut yang tidak melarutkan
massa tablet.

Ketentuan : misalkan digunakan pelarut X, boleh saja ada


zat yang larut dalam pelarut X yang digunakan sebagai
pelarut pengikat, tetapi maksimal 30%.
15.

30

Permasalahan-Permasalahan Khusus
1.

Campuran Eutektik
Timbang kedua zat aktif secara proporsional, masukan
dalam mortir dan digerus. Bila meleleh berarti eutektik.
Cara lain adalah setelah dicampur kedua zat aktif
tambahakan musilago pakai air, bila tidak kering berarti
eutektik, atau musilago diganti dengan PVP alkohol.

31

Permasalahan-Permasalahan Khusus
2.

Pembuatan tablet Etambutol


Harus disalut dengan pahan penyalut yang larut alkohol
larut asam lemak tetapi tidak larut air, lebih baik disalut
dengan Cetosel. Etambutol jika digranulasi dengan
PVP/alkohol akan semakin melengket. Jadi cetak langsung
atau granulasi kering/slugging. Dengan slugging,
kekompakan akan turun, friabilitas menjadi tinggi. Teknik
penambahan PVP : tambahkan dulu PVP kedalam massa
cetak sampai homogen lalu ditambahkan alkohol sehingga
jumlahnya tepat.
32

Permasalahan-Permasalahan Khusus
3.

Vitamin C
Jangan gunakan Avicel, ini mempercepat oksidasi vitamin C.
Bisa digunakan PVP tapi jelek. Pakai musilago dalam ruang
hampa udara/bisa juga dipakai Cetosel dalam
alkohol/eksplotab/starch. Jangan digunakan dengan
granulasi basah karena waktu hancurnya akan jelek.
Yang baik gunakan Avicel adalah selama tidak OTT dengan
zat aktif. Avicel dapat digunakan untuk cetak langsung, atau
juga granulasi basah tetapi sebagai pengisi. Jika Avicel tidak
larut air dapat bertindak sebagai fasa luar dan fasa dalam.
Jika Avicel sebagai fasa luar, amilum kering dihilangkan
33
sehingga komposisi Fasa Luar :

Permasalahan-Permasalahan Khusus
R/ Avicel 6%
Talk 1% (dikurangi)
Mg Stearat 1%

Demikian juga jika digunakan Aerosil


sebagai fasa luar, talk dikurangi karena
telah berfungsi juga sebagai glidan.
34

Permasalahan-Permasalahan Khusus
4.

Starch
Starch yang baik jumlahnya 30%, jika zat jumlahnya tinggi
bila ditambah Starch 1500 30% maka bobot tablet akan
semakin besar sedangkan yang harus ditambahkan
adalah lubrikan, pelincir, maka starch ditambahkan kurang
dari 30% yang membuat aliran menjadi jelek. Untuk
mengatasi hal ini, gunakan Avicel yang dapat bertindak
sebagai pengisi juga penghancur.
Kombinasi Starch 1500 dan Eksplotab baik untuk
pembuatan tablet secara cetak langsung sebagai
penghancur, jangan digunakan sebagai pengisi.

35

Permasalahan-Permasalahan Khusus
5.

6.

Pembuatan Granulasi Kering


jangan memakai alkohol yang mengandung air (pakai alkohol
yang tidak berair). Jika mengandung air sulit direkonstitusi.
Penggunaan Pharmacot, Etocel, PVP
Hanya untuk zat aktif yang tidak boleh kena air (karena akan
terurai). Kombinasi Starch 1500/Avicel hanya untuk cetak
langsung, jumlah Avicel dikurangi dan Starch-nya 30%. Starch
1500 tidak boleh untuk granulasi basah sebagai pengisi karena
Starch dengan air akan membentuk gel yang dapat berfungsi
sebagai pengikat yang sangat kuat. Tetapi sebagai penghancur
untuk SL dapat digunakan dengan teknik granulasi basah.
36

Permasalahan-Permasalahan Khusus
7.

Penanganan Ekstrak untuk Tablet


Ekstrak kental larutkan dulu dalam etanol 70% kemudian
dikeringkan dengan SL. Untuk ekstrak Belladona 1:3.

37

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Papaverin HCl, jika digunakan air dapat larut maka


gunakan pelarut yang tidak melarutkan zat tersebut.
Zat hidrofob seperti Fenilbutazon, Vioform, Parasetamol,
Ester Kloramfenikol dapat dilakukan penambahan Tween
80 0,01% bobot tablet atau saponin 5% bobot tablet
(ditambahkan mucilago amyli sebanyak 0,03%)
Diazepam, jika dibuat granul akan kasar, oleh karena itu
dapat dihaluskan terlebih dahulu.
Untuk vitamin C dan Parasetamol, gunakan pelarut non air,
keringkan dengan dehumidifier.
38

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Fe mempunyai bobot jenis yang tinggi, maka gunakan


pengikat PVP dalam alkohol karena jika digunakan air akan
terjadi oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+.
Untuk vitamin B12, gerus 1 g + etanol + SL (99 g), keringkan jika
minta dispensasi bahwa tidak ada yang hilang selama proses
berarti 100 g sebanding dengan 1 g vitamin B12.
Selain itu, vitamin B12 terikat sangat kuat dengan mucilago
amyli sehingga waktu hancurnya lama. Avicel dengan
mucilago amyli membentuk adonan lengket yang sukar
digranulasi. Kadarnya sangat kecil, perlu diajukan uji
keseragaman kandungan.
Penisilin V / K terbaik dibuat dengan cara slugging
39

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Mg(OH)3 + alukol terbaik digunakan cetak langsung, dapat


granulasi basah menggunakan PVP dalam alkohol, jika
menggunakan mucilago amyli, kapasitas penetralan dapat
turun.
Alukol berat jenis tinggi untuk tablet (aliran baik), berat
jenis rendah dapat digunakan untuk suspensi, tablet
kunyah, voluminous.
Etambutol, tablet cepat basah. Granulasi dengan alkohol
atau disalut atau ditambahkan etambutol sebagai fines
40

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Alukol + ekstrak Belladona, gunakan SL sebagai pengisi.


Karena ekstraknya pahit, jarang untuk obat kunyah. Bila
dibuat obat kunyah maka tambahkan asam siklamat dan
sakarin untuk mengatasi rasa pahit. Alukol dengan antasid
lain, OTT terhadap CMC. Perlu dilakukan uji penetralan
terhadap bahan baku dan tablet (minta dispensasi).
Untuk garam-garam Kalsium, Ca Pantotenat dan lainnya
tidak dapat memakai mucilago amyli sebagai pengikat
sebab akan terbentuk massa seperti lem.
Mg-stearat dan Eksplotab, bila zat aktif bersifat asam, jangan
menggunakan Mg stearat dan Eksplotab, ganti saja Mg41
stearat dengan asam stearat.

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Antibiotika, terutama yang tidak tahan pemanasan,


dilakukan dengan slugging atau dehumidifier (dengan
alkohol + air) disedot pada suhu 30 C tetapi hasilnya
kurang baik, sebab potensi akan menurun karena kontak
dengan air.
Ekstrak untuk tablet, ekstrak kental dilarutkan dulu dalam
etanol 70%, baru dikeringkan dengan SL. Ekstrak Belladona
1:3 artinya dalam 3 bagian ada 1 bagian. Contohnya jika
diinginkan 20 mL ekstrak Belladona maka yang diambil
adalah 60 mL, digerus halus dan dicampurkan dengan
pengisi sedikit demi sedikit.
42

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Untuk zat-zat berkhasiat yang sangat pahit seperti


Kloramfenikol harus disalut (dispensasi). Kloramfenikol
palmitat tidak bisa dibuat tablet karena masih ada sisa
asam palmitat yang menyebabkan tablet mudah pecah
karena sukar diikat.
INH dan PAS (Para Amino Salisilat) tidak dapat dibuat
kombinasi dalam tablet karena PAS diabsorbsi di usus
tidak boleh terdisolusi di lambung

43

Masalah Pada Beberapa Senyawa Aktif

Untuk zat-zat berkhasiat yang sangat pahit seperti


Kloramfenikol harus disalut (dispensasi). Kloramfenikol
palmitat tidak bisa dibuat tablet karena masih ada sisa
asam palmitat yang menyebabkan tablet mudah pecah
karena sukar diikat.
INH dan PAS (Para Amino Salisilat) tidak dapat dibuat
kombinasi dalam tablet karena PAS diabsorbsi di usus
tidak boleh terdisolusi di lambung

44

Catatan Lain
1.

Fines
Maksimum 30% dari bobot tablet termasuk Fase Luar (FL)
jika lebih dapat terjadi capping. Jumlah yang berbeda,
distribusi berbeda dapat diatasi dengan hoover yang tidak
bergetar dan atau adanya pengaduk.

2.

Eksplotab
Tidak tahan asam, hanya untuk penghancur luar, tidak bisa
untuk granulasi basah, digunakan 3-5%, maksimum 25%.
45

Catatan Lain
3.

Starch 1500
Pengisi tablet untuk cetak langsung. Jika ada air akan
menjadi gel sehingga zat aktif terhambat, daya
mengembang kurang sehingga waktu hancur menjadi
jelek. Pengisi tablet tidak lebih dari 30%.

4.

Avicel pH 101,102,103 baik untuk tablet cetak langsung

5.

Jika jumlah zat aktif kecil dan berbentuk hablur, resiko


ketidakseragaman kandungan zat aktif besar jika dibuat
secara cetak langsung, karena kurang homogen.

46

Catatan Lain
6.
7.

8.
9.

Untuk cetak langsung gunakan zat aktif yang halus dengan


aliran baik.
Jika basis kasar dan zat aktif halus, maka distribusi
menjadi tidak merata karena terjadi distribusi ukuran
partikel yang tidak merata, terutama saat pencetakan,
akibat getaran.
Vitamin B12 untuk cetak langsung harus dihaluskan
terlebih dahulu. Gunakan pengisi manitol, bukan dengan SL
Untuk antibiotika, pilih pengikat yang tidak mengubah
potensi.
47

Catatan Lain
10.

11.
12.

13.

Mekanisme umum hancurnya tablet adalah pembasahan,


penetrasi air, pengembangan, dan hancur. Untuk cetak
langsung, jika kecepatan aliran masa cetak 1,5 g/dt atau
lebih sudah cukup baik.
Jika zat aktif 200 mg per tablet, siap-siap untuk dibuat
secara cetak langsung.
Dalam evaluasi waktu hancur tablet, tinjau mekanisme
waktu hancur, surfaktan, desintegrator lebih baik yang
hidrofob.
PVP mudah ditembus air.
48

Catatan Lain
14.
15.
16.

17.

Ukuran (mesh) 18-20; 20-22; yang biasa 16-16


Jika granul pengikatnya lemah, gunakan pengayak dengan
ukuran mesh sama
Zat aktif dengan bobot jenis tinggi (umumnya BJ zat
anorganik), granulasi seperti biasa, Fase Luar sekecil
mungkin.
CaCO3 dapat digunakan sebagai penghancur di dalam
lambung yang akan menyerap asam lambung dan berubah
menjadi CO2.
49

Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet


1.

Capping : pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian


atas/bawah tablet dari badan tablet

2.

Laminasi : pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih

3.

Chipping : keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong

4.

Cracking : keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di


bagian atas-tengah
50

Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet


5.

Picking : perpidahan bahan dari permukaan tablet dan


menempel pada permukaan punch

6.

Sticking : keadaan dimana granul menempel pada dinding


die (ada adhesi)

7.

Mottling : keadaan dimana distribusi zat warna pada


permukaan tablet tidak merata

51

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
1.

Lengket pada Cetakan


Manifestasinya :
Melekat pada die dan sulit untuk dikeluarkan
Bunyi keras pada mesin
Tablet kopak, jelek, sisi tablet kasar, kadang-kadang
hitam
Penyebab :
a. Antiadheren kurang
52

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
b. Lubrikan kurang atau tidak tepat
Contoh : Tablet asetosal dengan Mg stearat lengket,
seharusnya digunakan asam stearat (yang mikronize
karena fungsi lubrikan adalah antar partikel sehingga
kalau halus akan terselimuti oleh lubrikan).
c. Kandungan air (aspek kadar air) tinggi akan
menyebabkan penempelan pada die, sedangkan kadar air
rendah dapat menyebabkan laminating atau capping.
53

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
d. Kemungkinan karena interaksi kimia atau fisika,
contoh interaksi fisika etoksi benzamin dengan kafein,
gliseril guaiakolat dengan prometazin HCl, yaitu terjadinya
pelelehan sehingga adhesivitas tinggi dan akhirnya
menjadi lengket.
e. Bahan baku dengan titik leleh sangat rendah,
sehingga kesulitan dalam masalah pencetakan, contoh :
Ibuprofen, Gliseril guaiakolat, Siprofloksasin (Antibiotik
turunan Imidazol).
54

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

Penyelesaian Masalah Lengket pada cetakan :


a. Meningkatkan antiadheren dan lubrikan
b. Penggantian lubrikan yang cocok
c.Mengurangi jumlah granul yang kasar
d.Mengurangi jumlah air tapi jangan sampai berada di
bawah optimum, karena tablet menjadi kurang baik. Jika
sudah diketahui jumlah pembasah yang paling baik maka
agar pembasahnya pas, dilakukan dengan menambahkan
pembasah ke dalam larutan pengikat, yaitu bahan
pembantu yang tidak menguap tapi basah, contoh
Propilen glikol atau gliserin.
55

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
e. Jika terjadi lengket mungkin karena punch dan die yang
rusak, sebab kalau cacat pada punch, maka akan melekat
sehingga ratakan punch dan die.
f. Kalau mungkin pencetakan pada suhu rendah dan
humuditas rendah karena khusus untuk bahan aktif
dengan titik leleh rendah atau terjadi campuran eutektik
maka zat campuran eutektik semakin mudah menyerap air.
Contoh : Kombinasi ampisilin dengan asam klavulanat,
dimana asam klavulanat mudah hancur dengan
kelembaban dan temperatur yang tinggi. Oleh karena itu,
pembuatannya dilakukan dalam suhu dan RH yang rendah.
56

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

g. Perubahan bahan pengisi, bahan pengisi dengan titik


leleh tinggi dan dapat mengadsorbsi, seperti SiO2 dan
aerosil (adsorben). Penambahan aercsil pada tablet akan
menyebabkan penampilan tablet yang bagus, jernih dan
mengkilat, namun waktu hancur semakin panjang.

57

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
Lengket pada punch

Manifestasinya :
Terkelupasnya bagian tablet karena permukaan tablet
melekat pada punch. Penyebab sama dengan tadi
Kurangnya anti adheren
. Kandungan air tinggi
Lengket pada punch
2.

58

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

Penyelesaian Masalah Lengket pada punch :


a. Ubah ukuran granul
b. Tambah adsorben
c.Perbaiki alat
d.Alat dipoles, sehingga adhesivitas tablet dan punch
sangat kecil

59

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
3.

Capping /Laminating
Capping : copot
Laminating : belah
Penyebab Capping /Laminating :
a. Terjebaknya udara pada tablet karena granul sangat
halus
b. Porositas tinggi, khususnya pada penggunaan punch
yang baru, yaitu dengan adanya udara yang terjebak
antara punch dan die
60

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
c. Kekerasan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi (ada
yang optimal)
d. Granul yang terlalu kering, cara : tambahkan dalam
pelarut pengikat tambahkan bahan cair dan tidak mudah
menguap
e. Zat pengikat yang kurang tepat.
f. Pengikat yang jumlahnya terlalu sedikit (tepat tetapi
jumlahnya kecil)

61

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

Penanggulangan Capping /Laminating


a. Pembuatan granul diulang jika penyebabnya adalah
kelebihan atau kekurangan pengikat atau tidak cocok.
b. Tambahkan pengikat kering seperti gom arab, sorbitol,
PVP, sakarin, NHPC, LHPC 21, Metilselulosa dengan
konsistensi tinggi, sehingga meningkatkan kekompakan
tablet.
c. Pengurangan ukuran partikel dari granul, karena
spesifikasi ukuran harus sama.
62

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
4.

Sumbing atau retak-retak pada permukaan tablet

Manifestasinya :
Akibat dari ketiga masalah sebelumnya : laminating,
lengket atau kadang-kadang karena pons yang terlalu
dalam.

63

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

Penyelesaian Sumbing atau retak-retak pada permukaan


tablet

a.

punch dan die supaya di poles

b. Untuk ukuran granul yang besar, kurangi partikel


granul.
c. Diganti punch dan die
d. Tambahkan pengikat kering
64

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
5.

Keseragaman bobot (FI III) tablet


Penyebab pertama :
- Aliran kurang baik
- Distribusi ukuran granul yang tidak tepat, sebab
dengan demikian mungkin saja timbul porositas tinggi,
yang tidak dapat menjamin keseragaman bobot karena
adanya distribusi baru pada saat pencetakan.
- Sistem pencampuran yang tidak benar, sehingga
mesin harus terkunci baik terutama pons bawah karena
dapat berubah-ubah sehingga bobot berbeda-beda.
65

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

Penyelesaian masalah Penyebab pertama :

- Perbaiki atau ulangi proses pembuatan granul, perbaikan


ukuran granul, pengikat, granulasi, perbaikan
pencampuran massa cetak.
- Perbaikan mesin tablet yaitu validasi mesin tablet.
- Kecepatan aliran dapat menyebabkan bobot tablet yang
berbeda-beda. Penyebab kecepatan aliran : kandungan air
tinggi sehingga adesivitas tinggi dan aliran menjadi
kurang ; porositas tinggi, udara terjebak banyak karena
fines dan pengikat yang tidak cocok atau kurang. Jumlah
fines meningkat, porositas meningkat, aliran tidak baik. 66

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus

Penyebab kedua :
- distribusi granul tidak baik

Penyelesaian Masalah :
- Kurangi kadar air
- Pembuatan granul baru sehingga menyebabkan
porositas kecil, distribusi granul optimal sehingga aliran

bagus .

67

Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet


Secara Khusus
6.

Keseragaman Kandungan (FI IV hlm.999)

Dilakukan bila :
Kadar bahan aktif dibawah 50 mg
Bila perbandingan kadar bahan aktif dengan bobot tablet lebih kecil dari pada 50%
Penyebab jeleknya keseragaman kandungan :
Karena aliran jelek
Pencampuran pregranulasi tidak benar maka tentukan dulu homogenitas zat aktif
dalam granul (di pabrik)
Karena kadar fines tinggi maka porositas tinggi (bobot berbeda-beda)
Kandungan air yang tinggi sehingga aliran kurang baik
Kondisi mesin tidak benar..
Penyelesaian masalah
Perbaikan ukuran granul meliputi pencampuran, perubahan pengikat, granulasi.

Kalibrasi mesin.

68

Jenis Sediaan Tablet

I.
II.
III.
IV.
V.

Berdasarkan prinsip pembuatan


Berdasarkan tujuan penggunaan
Berdasarkan Rute Pemberian
Berdasarkan Penyalutan
Berdasarkan Pelepasan Zat Aktif
69

Jenis Sediaan Tablet


I.

Berdasarkan prinsip pembuatan

a.

Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan
tekanan tinggi pada serbuk/granul menggunakan
pons/cetakan baja.
b. Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab
dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan
tablet tergantung pada pembentukan kristal yang
terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada
70
kekuatan yang diberikan

Jenis Sediaan Tablet


II.

Berdasarkan tujuan penggunaan

1.

Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan


Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut
Tablet Kempa Digunakan Melalui Liang Tubuh
Tablet Kempa untuk Implantasi
Tablet Cetak untuk Penggunaan Lain (Di Lachman
disebutkan Jenis Tablet untuk Membuat Larutan)

2.
3.
4.
5.

71

Jenis Sediaan Tablet


1.

Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan

a. Tablet Konvensional Biasa


Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi
tunggal yang biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau
kombinasi dengan bahan eksipien seperti:
Pengisi (memberi bentuk) : laktosa
Pengikat (memberi adhesivitas/kelekatan saat
bertemu saluran pencernaan): musilago amili, amilum
Desintegrator (mempermudah hancurnya tablet)

72

Jenis Sediaan Tablet

b. Tablet Kempa Multi/Kempa Ganda


Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari
satu siklus kompresi tunggal sehingga tablet akhir
tersebut terdiri atas 2 atau lebih lapisan. Disebut juga
sebagai tablet berlapis.
Keuntungannya dapat memisahkan zat aktif yang
inkompatibel (tidak tersatukan)
c. Tablet Lepas Lambat
Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga
tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk
efek terapi yang kemudian disusul dengan dosis
pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif atau konsentrasi
zat aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu
tertentu. (misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam, dsb). 73

Jenis Sediaan Tablet

d. Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik)


Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu
zat yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam,
tetapi terlarut dalam usus halus.
e. Tablet Lepas Terkendali
Yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu
tertentu.
f. Tablet Salut Gula
Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis
lapisan gula baik berwarna maupun tidak.
Tujuan: melindungi zat aktif terhadap lingkungan udara
(O2, lembab), menutup rasa dan bau tidak enak,
menaikkan penampilan tablet.
74

Jenis Sediaan Tablet

g. Tablet Salut Film


Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, bewarna
atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang
hancur cepat di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak
perlu berkali-kali.
h. Tablet Efervesen
Tablet kempa yang jika berkontak dengan air menjadi
berbuih karena mengeluarkan CO2..Tablet ini harus
dilarutkan dalam air baru diminum.
i. Tablet Kunyah
Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien
yang harus dikunyah sebelum ditelan.

75

Jenis Sediaan Tablet


2.

Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut

a. Tablet Bukal
Tablet kempa biasa berbentuks oval yang ditempatkan di
antara gusi dan pipi. Biasanya keras dan berisi hormon.
Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat
tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan).
b. Tablet Sublingual
Tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan di bawah
lidah, berisi nitrogliserin. Biasanya untuk obat
penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris)
sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera memberi
efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah.

76

Jenis Sediaan Tablet

c. Tablet Hisap/Lozenges
Tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa
dan bau, dimaksudkan untuk disolusi lambat dalam mulut
untuk tujuan lokal pada selaput lendir mulut.
d. Dental Cones (Kerucut Gigi)
Yaitu suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk
ditempatkan di dalam akar gigi yang kosong setelah
pencabutan gigi. Tujuannya biasanya untuk mencegah
berkembangbiaknya bakteri di tempat yang kosong tadi
dengan menggunakan suatu senyawa antibakteri yang
dilepaskan secara perlahan-lahan, atau untuk mengurangi
perdarahan dengan melepaskan suatu astringen atau
koagulan. Pembawa yang umum digunakan adalah Na
bikarbonat, NaCl atau suatu asam amino.

77

Jenis Sediaan Tablet


3.

Tablet Kempa Digunakan Melalui Liang Tubuh

a. Tablet Rektal
Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan
secara rektal (dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal
atau sistemik.
b. Tablet Vaginal
Tabler kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk
dimasukkan dalam vagina yang di dalamnya terjadi
disolusi dan melepaskan zat aktifnya. Biasanya
mengandung antiseptik, astringen. Digunakan untuk
infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk
pemberian steroid dalam pengobatan sistemik.
78

Jenis Sediaan Tablet

4. Tablet Kempa untuk Implantasi


Tablet Implantasi/Pelet
Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet harus steril.
Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (Untuk KB, 3-6 bulan,
mencegah kehamilan).
5. Tablet Cetak untuk Penggunaan Lain (Di Lachman disebutkan
Jenis Tablet untuk Membuat Larutan)
a. Tablet Triturat untuk Dispensing
Adalah tablet yang dihaluskan dulu atau disiapkan untuk penggunaan
tertentu.
Tablet kempa atau cetak berbentuk kecil umumnya silindris
digunakan untuk memberikan jumlah zat aktif terukur yang tepat
untuk peracikan obat (FI IV).
Digunakan sebagai tablet sublingual atau dilepaskan di atas lidah dan
ditelan dengan air minum.
79

Jenis Sediaan Tablet

b. Tablet Hipodermik
Tablet cetak/kempa yang dibuat dari bahan mudah
larut/melarut sempurna dalam air. Umumnya digunakan
untuk membuat sediaan injeksi steril dalam ampul
dengan menambahkan pelarut steril (FI IV)
c. Tablet Dispensing
Tablet yang digunakan oleh apoteker dalam meracik
bentuk sediaan padat/cair. Dimaksudkan untuk
ditambahkan ke dalam air dengan volume tertentu, oleh
ahli farmasi atau konsumen, untuk mendapatkan suatu
larutan obat dengan konsentrasi tertentu.
80

Jenis Sediaan Tablet


III.

Berdasarkan Rute Pemberian


1. Tablet oral (dalam mulut)
2. Tablet rektal
3. Tablet vaginal
4. Tablet implantasi

81

Jenis Sediaan Tablet


IV.

V.

Berdasarkan Penyalutan
1. Tablet polos
2. Tablet salut gula
3. Tablet salut film
Berdasarkan Pelepasan Zat Aktif
1. Tablet pelepasan biasa
2. Tablet lepas lambat
3. Tablet lepas tunda
4. Tablet lepas terkendali
82

BAB II METODE DAN BAHAN PEMBUATAN TABLET

II.1 Metode Pembuatan Tablet


II.2 Bahan Pembantu Granulasi Basah
II.3 Perkembangan Formula Tablet

83

II.1 Metode Pembuatan Tablet


Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam
metode, yaitu
A.
Granulasi basah
B.
Granulasi kering
C.
Kempa langsung
Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini
biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif
yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan
terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar
kecilnya dosis, dan lain sebagainya.
84

A. Granulasi basah
yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan
eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan
menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang
tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat
digranulasi. Metode ini biasanya digunakan
apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas.
Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak
langsung
karena
sifat
aliran
dan
kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode
granulasi basah adalah membasahi masa tablet
dengan larutan pengikat teretentu sampai
mendapat tingkat kebasahan tertentu pula,
kemudian masa basah tersebut digranulasi.
85

A. Granulasi basah
Metode ini membentuk granul dengan cara
mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai
pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan
larutan, suspensi atau bubur yang mengandung
pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran
serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan
kering ke dalam campuran serbuk dan cairan
dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan
memiliki peranan yang cukup penting dimana
jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan
kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah
cairan yang ditambahkan meningkat, gaya
tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling
86
penting pada awal pembentukan granul,

A. Granulasi basah
bila cairan sudah ditambahkan pencampuran
dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata
dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika
sudah diperoleh massa basah atau lembab maka
massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan
dengan alat penggiling atau oscillating granulator
tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas
permukaan meningkat dan proses pengeringan
menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul
diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada
alat penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet
yang akan dibuat.
87

A. Granulasi basah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Keuntungan metode granulasi basah :


Memperoleh aliran yang baik
Meningkatkan kompresibilitas
Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
Mengontrol pelepasan
Mencegah pemisahan komponen campuran
selama proses
Distribusi keseragaman kandungan
Meningkatkan kecepatan disolusi
88

A. Granulasi basah

1.

2.
3.

Kekurangan metode granulasi basah:


Banyak tahap dalam proses produksi yang
harus divalidasi
Biaya cukup tinggi
Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan
panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini.
Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut
non air
89

B. Granulasi kering
disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat
aktif dan eksipien dengan mengempa campuran
bahan kering menjadi massa padat yang
selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan
partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk
semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah
membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan
bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat
melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan
untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang
terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif
yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban.
90

B. Granulasi kering

Pada proses ini komponenkomponen tablet


dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu
ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan
punch sehingga diperoleh massa yang disebut
slug, prosesnya disebut slugging, pada proses
selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk
untuk mendapatkan granul yang daya
mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila
slug yang didapat belum memuaskan maka
proses diatas dapat diulang.
91

B. Granulasi kering

Dalam jumlah besar granulasi kering dapat


juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut
roller compactor yang memiliki kemampuan
memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor
memakai dua penggiling yang putarannya
saling berlawanan satu dengan yang lainnya,
dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah
satu penggiling mesin ini mampu
menghasilkan tekanan tertentu pada bahan
serbuk yang mengalir diantara penggiling.
92

B. Granulasi kering

Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi


sebagai berikut :
Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
Zat aktif susah mengalir
Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab

93

B. Granulasi kering

1.

2.
3.

Keuntungan cara granulasi kering adalah:


Peralatan lebih sedikit karena tidak
menggunakan larutan pengikat, mesin
pengaduk berat dan pengeringan yang
memakan waktu
Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap
panas dan lembab
Mempercepat waktu hancur karena tidak
terikat oleh pengikat
94

B. Granulasi kering

1.
2.
3.

Kekurangan cara granulasi kering adalah:


Memerlukan mesin tablet khusus untuk
membuat slug
Tidak dapat mendistribusikan zat warna
seragam
Proses banyak menghasilkan debu sehingga
memungkinkan terjadinya kontaminasi silang
95

C. Kempa Langsung

yaitu pembuatan tablet dengan mengempa


langsung campuran zat aktif dan eksipien
kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih
dahulu.
Metode ini merupakan metode yang paling
mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya,
namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat
aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut
tidak tahan terhadap panas dan lembab
96

C. Kempa Langsung
Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl,
NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa,
tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah
untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif
tunggal yang langsung dikempa untuk
dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah
jika terkena air (cairan tubuh). secara umum
sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa
langsung adalah; alirannya baik,
kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan
mampu menciptakan adhesifitas dan
97
kohesifitas dalam massa tablet.

C. Kempa Langsung

1.
2.

3.
4.

Keuntungan metode kempa langsung yaitu :


Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit
Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan
lebih sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk
menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan
mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.
Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas
dan tidak tahan lembab
Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak
melewati proses granul, tetapi langsung menjadi
partikel. tablet kempa langsung berisi partikel halus,
sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel 98
halus terlebih dahulu.

C. Kempa Langsung

1.

2.

3.

Kerugian metode kempa langsung :


Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif
dengan pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul
yang selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya
kandungan zat aktif di dalam tablet.
Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa
langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar
memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang
dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi
pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan
laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa
langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama
pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat
aktif dalam granul terganggu.
Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan
harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik;
kohesifitas dan adhesifitas yang baik
99

II.2 Bahan Pembantu Granulasi


Basah
A. Pengisi
B. Adsorben
C. Pengikat
D. Flavour
E. Disintegran
F. Lubrikan
G. Glidan
H. Anti Adheren
100

A. Pengisi

Adalah zat inert yang ditambahkan dalam


formula tablet yang ditujukan untuk
membuat bobot tablet sesuai dengan
yang diharapkan
Biasanya tablet yang mengandung zat
aktif dengan dosis kecil memerlukan zat
pengisi yang banyak. Jika dosis besar
maka pengisi sedikit atau tidak sama
101
sekali.

A. Pengisi

1. Avicel (mikrokristalin selulosa)


2. Kalsium sulfat trihidrat
3. Kalsium fosfat dibasic
4. Laktosa
5. Sukrosa
6. Dekstrosa
7. Manitol
8. Emdex dan Celutab
9. Starch 1500 (penjelasan ada di bagian
Pengikat)

102

A. Pengisi
1. Avicel (mikrokristalin selulosa)

Bentuk 103 memiliki keunggulan dibandingkan dengan 101, 102


karena volume spesifiknya kecil, aliran lebih baik dan waktu
hancur lebih singkat.

Insoluble, non-reaktif, aliran kurang baik, kapasitas pegang 50%.

Menghasilkan tablet yang keras dengan tekanan kecil


(kompresibilitas baik) dan friabilitas tablet rendah, waktu
stabilitas panjang.

Menghasilkan pembasahan yang cepat dan rata sehingga


mendistribusikan cairan penggranul ke seluruh massa serbuk;
menghasilkan distribusi warna dan obat yang merata.

Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang


keras dengan sedikit fines.
103

Bisa bersifat pengikat kering, disintegran, lubrikan dan glidan

A. Pengisi
1. Avicel (mikrokristalin selulosa)

Penggunaannya membutuhkan lubrikan; penggunaannya dapat


dikombinasi dengan laktosa, manitol, starch, kalsium sulfat.

Membantu mengatasi zat-zat yang jika overwetting (terlalu basah)


menjadi seperti clay yang sukar digranulasi dan ketika kering
granulnya menjadi keras dan resisten terhadap disintegrasi.
Contoh: kaolin, kalsium karbonat.

Avicel dalam Granulasi Basah memperbaiki ikatan pada


pengempaan, mengurangi capping dan friabilitas tablet.

Avicel membantu obat larut dengan air agar homogen, mencegah


migrasi pewarna larut air dan membantu agar evaporasi cepat dan
seragam.
104

A. Pengisi
1. Avicel (mikrokristalin selulosa)

Untuk obat dengan dosis kecil, Avicel digunakan sebagai pengisi dan
pengikat tambahan.

60% avicel PH 101 dan 40% amilum sebagai pasta 10% membuat
massa lembab mudah digranulasi, membentuk granul yang kuat pada
pengeringan dengan sedikit fine daripada pasta yang hanya terbuat
dari amilum.

Bentuk PH 101: serbuk, PH 102: granul, PH 103: serbuk

Sebagai disintegran :

- Merupakan disintegran yang sangat baik terutama pada

konsentrasi 10% atau lebih tinggi.

- Pada GB Avicel tidak bersifat disintegran.

- Perhatian: pada konsentrasi tinggi, Avicel dapat menyebabkan


105

tablet lengket pada lidah saat akan digunakan.

A. Pengisi
2. Kalsium sulfat trihidrat

Digunakan sebagai pengisi untuk granulasi dengan


jumlah zat aktif 20-30%.

Sinonim: terra alba, snow white filler.

Insoluble, non-higroskopis.

Semakin tinggi grade-nya semakin putih, pengisi paling


murah, bisa dipakai untuk zat aktif asam, netral, basa;
punya kapasitas abisaorbisai yang tinggi untuk minyak.

Pengikat yang disarankan: PVP, MC, starch paste.


106

A. Pengisi
3. Kalsium fosfat dibasic

Digunakan sebagai pengisi dan pengikat untuk kempa


langsung dengan memiliki ukuran paling kecil, tidak
mahal, tidak dapat digunakan bersama senyawa asam
atau garam asam
Jika digunakan cairan pengikat yang terlalu banyak
maka jadi lengket dan keras, tidak dapat digranul
sehingga solusinya dikombinasi dengan starch/Avicel

107

A. Pengisi
4. Laktosa
(Lachman Tablet)

Inkompatibel dengan: senyawa yang sangat basa, asam


askorbat, salisilamid, pyrilamine maleat, phenilephrine
HCl

Granul laktosa hidrat mengandung kadar lembab 4-5%

Laktosa adalah gula peredukasi bereaksi dengan amin


menghasilkan reaksi Maillard

Isomer: dan (dalam campuran berada dalam


kesetimbangan kedua bentuk)
108
(Lachman Industri)

A. Pengisi
4. Laktosa

Pengisi yang paling umum, ada 2 bentuk: hidrat dan


anhidrat

Jarang bereaksi dengan obat (hidrat dan anhidrat)

Untuk Granulasi Basah pakai laktosa HIDRAT; laktosa


anhidrat tidak mengalami reaksi Maillard (dengan zat
aktif mengandung amina dengan adanya logam stearat),
tetapi menyerap lembab.

Secara umum tablet menunjukkan release rate yang


baik, granulnya cepat kering, disintegrasi tablet tidak
banyak dipengaruhi oleh kekerasan
109
(Handbook of Pharm Excipient)

A. Pengisi
4. Laktosa

Keburukan: laktosa dpr berubah warna dengan adanya


basa amin dan Mg-stearat

Dikenal 4 macam bentuk: granul kasar (60-80 mesh),


granul halus (80-100 mesh), granul spray dried (100200 mesh), dan laktosa anhidrat

Dikenal sebagai gula susu.

110

A. Pengisi
4. Laktosa

Spray-dried Lactose
(Lachman Industri)
Untuk pengisi kempa langsung, umumnya digabung dengan Avicel.
Jika tunggal digunakan dalam konsentrasi 40-50% sebagai pembawa
Sifat direct compression-nya berkurang jika kadar air < 3%; dapat
dicampur dengan 20-25% zat aktif tanpa kehilangan sifat direct
compression-nya
Kapasitas pegang 20-25% terhadap zat aktif; punya aliran baik dan
karakteristik pengikatan yang lebih baik dibandingkan laktosa biasa
Kelemahan: dapat menghitam dengan adanya lembab, amin, atau
senyawa lain yang mengandung furaldehid
Gunakan lubrikan netral atau asam

111

A. Pengisi
5. Sukrosa

Bisa berfungsi sebagai pengisi/pengikat


Jika digunakan sebagai pengikat tunggal, sukrosa membentuk
granul yang keras dan tablet lebih cenderung terdisolusi daripada
terdisintegrasi. Oleh karena itu banyak dikombinasi dengan
pengisi insoluble lain
Jika digunakan sebagai pengisi kering, biasanya digranulasi
dengan pengikat larut air atau hidroalkohol. Kekerasan granul
tergantung jumlah pengikat yang digunakan. Campuran air dan
alkohol akan menghasilkan granul yang lebih lunak.
Memiliki banyak bentuk, paling sering digunakan bentuk
confectioner untuk GB yang mengandung 3% pati jagung untuk
mencegah caking

112

A. Pengisi
5. Sukrosa

Sukrosa digunakan sebagai pemanis dalam tablet kunyah dan


digunakan sebagai pengikat untuk memperbaiki kekerasan tablet
Kelemahan: tablet yang dibuat dengan komposisi sebagian besar
sukrosa akan mengeras pada penyimpanan. Sukrosa bukan gula
pereduksi tetapi menjadi coklat pada penyimpanan dan
higroskopis
Turunan sukrosa yang dapat digunakan untuk kempa langsung:
a. Sugartab : 90-93% sukrosa, 7-10% invert sugar
b. Di Pac : 97% sukrosa, 3% modified dekstrin
c. Nu Tab : 95% sukrosa, 4% gula invert, 1% corn starch, Mg
stearat
113

A. Pengisi
6. Dekstrosa

Penggunannya terbatas pada GB sebagai pengisi dan


pengikat

Digunakan mirip dengan sukrosa, cenderung


menghasilkan tablet yang keras terutama jika
menggunakan dekstrosa anhidrat

Menjadi coklat pada penyimpanan

114

A. Pengisi
7. Manitol

Pengisi yang baik untuk tablet kunyah karena rasanya enak, sedikit
manis, halus, dingin (negatif heat solution)
Non-higroskopis, aliran jelek, membutuhkan lebih banyak cairan
pengikat
Dapat digunakan untuk formulasi vitamin, menghasilkan granul
yang lebih halus dari sukrosa atau dekstrosa
Kadar lembab granul yang dibuat dari sukrosa, dekstrosa, dan
manitol setelah pengeringan semalam pada 140-150 F adalah 0,2%
Hanya sedikit yang terabsorbsi di saluran cerna, jika digunakan
banyak dapat bersifat laksatif
115

A. Pengisi
8. Emdex dan Celutab

(Lachman Industri)
Dapat bereaksi dengan amin pada suhu dan kelembaban tinggi
Bebas mengalir dan dapat dikempa langsung, mengandung 8-10%
lembab, kekerasan tablet dapat meningkat setelah pengempaan
Starch terhidrolisa mengandung 90-92% dekstrosa dan 3-5%
maltosa
Dapat digunakan sebagai pengganti manitol pada talbet kunyah
karena manis dan berasa halus.

9. Starch 1500 (penjelasan ada di bagian Pengikat)

116

B. Adsorben

Adsorben harus memiliki titik leleh yang tinggi. Dengan


titik leleh tinggi setelah terjadi lelehan pertama akan
terbentuk massa yang bertitik leleh lebih tinggi.
Manfaat adsorben: mencegah tablet basah oleh lelehan
zat aktif, jika tablet basah maka tablet akan lengket
dalam cetakan. Bekerja menyerap lelehan zat aktif.
Contoh:
Avicel
Bolus alba
Kaolin, bentonit, Mg silikat, MgO, trikalsium fosfat
Aerosil
117

C. Pengikat

Pengikat bisa berupa gula dan polimer.


Pengikat yang berupa polimer alam: starch,
gum (acacia, tragacanth, gelatin)
Pengikat yang berupa polimer sintetik: PVP,
metilselulosa, etilselulosa,
hidroksipropilselulosa
Bisa dengan cara kering/basah. Cara basah
lebih sedikit membutuhkan bahan.
Jumlah larutan pengikat yang dibutuhkan untuk
3 kg pengisi tercantum pada tabel
118
(Lachman Tablet halaman 161)

C. Pengikat
1. Starch (amylum)
(Lachman Tablet)

Dapat digunakan sebagai pengisi, pengikat, dan


penghancur
Dalam bentuk musilago amili 5-10%
Cara: suspensikan starch 1:1/2-1 dalam air dingin,
tambahkan 2-4 kali air mendidih dengan
pengadukan konstan sampai starch mengembang
menjadi transparan yang dapat diencerkan
Cara lain: suspensi starch dalam air dipanaskan 119

C. Pengikat
1. Starch (amylum)

(Lachman Tablet)
Mengandung kadar air 11-14%; akan menyebabkan tablet
terdisintegrasi dengan cepat (hal 161)
Pembuatannya harus hati-hati agar diperoleh musilago yang
baik, tidak terhidrolisis, dan tidak mengarang
Pemakaian terbaik maksimal 30%. Jika dosis zat aktif besar,
starch diganti dengan penghacur yang lebih baik, yaitu
avicel.
Tablet yang mengandung amilum dengan konsentrasi tinggi
menunjukkan tablet yang rapuh dan sukar dikeringkan
Amilum yang tidak dimodifikasi tidak mempunyai sifat
kompresibilitas yang baik dan mempunyai friabilitas yang
besar, dan akan terjadinya capping pada tablet jika
120
digunakan dalam jumlah besar

C. Pengikat
1. Starch (amylum)

Sebagai disintegran:

Pemakaian: 1-20%, merupakan disintegran yang


paling umum digunakan

Mekanisme kerja dengan membentuk ikatan


hidrogen saat pengempaan dan pecah atau
mengembang saat air masuk melalui pori (kapiler)

Pemakaiannya disesuaikan dengan jenis starch,


tekanan pengempaan, dan kandungan air massa
cetak

Perhatian: sebelum digunakan, starch harus


dikeringkan pada suhu 80-90 C untuk
121
menghilangkan air yang terabsorpsi

C. Pengikat
2. Starch 1500

(Lachman Tablet)
Dapat digunakan sebagai pengikat basah, kering, dan
disintegran
Starch 1500 maksimal mengandung 20% fraksi larut air
yang berfungsi sebagai pengikat sedangkan sisanya
bersifat sebagai disintegran
Starch 1500 dibutuhkan 3-4 kali lebih banyak daripada
musilago amili untuk menghasilkan tablet dengan
kekerasan yang sama
Sebaiknya tidak digunakan sebagai pengisi pada Granulasi
Basah karena akan menghasilkan gel yang berfungsi
sebagai pengikat yang sangat kuat
Sebagai disintegran dapat ditambahkan kering, pada fasa 122
luar.

C. Pengikat
2. Starch 1500

(Lachman Tablet)

Aliran bagus, merupakan directly compressible starch


Dapat dikempa sendiri, tetapi jika dicampur dengan 510% obat membutuhkan lubrikan tambahan (misalnya
0,25% colloidal silicon dioxide)
Mengandung 10% lembab dan menyebabkan tablet
menjadi lunak jika dikombinasi dengan Mg stearat >
0,5%, sebagai pengganti digunakan asam stearat
123

C. Pengikat
2. Starch 1500

(Lachman Tablet)

Sebagai disintegran:

Merupakan disintegran yang baik dan ditambahkan


dalam campuran kering (dalam fasa dalam dan atau
fasa luar pada metoda granulasi kering atau kempa
langsung, atau dalam fasa luar pada metoda granulasi
basah)
Perhatian: tidak boleh diberikan pada massa basah

124

C. Pengikat
3. Amilum pragelatinasi

Merupakan pati yang sudah dimasak dan dikeringkan


lagi. Dapat digunakan sebagai pengganti starch paste
karena lebih mudah larut dalam air hangat tanpa
pemanasan
Dapat ditambahkan kering ke dalam serbuk kemudian
dibasahkan dengan air membentuk massa lembab

125

C. Pengikat
4. Gelatin

Digunakan pada konsentrasi 5-10% sebanyak 1-5% dari


formula
Sudah jarang digunakan, digantikan PVP, MC. Cenderung
menghasilkan tablet yang keras dan memerlukan
disintegran yang aktif
Dapat digunakan untuk senyawa yang sulit diikat
Kelemahan: rentan bakteri dan jamur
Jika masih diperlukan pengikat yang lebih kuat, dapat
digunakan larutan gelatin dalam air 2-10%, yang dibuat
dengan menghidrasi gelatin dalam air dingin selama
beberapa jam/semalam kemudian dipanaskan sampai
mendidih, larutan gelatin harus dipertahankan hangat
sampai digunakan karena akan menjadi gel pada
pendinginan

126

C. Pengikat
5. Larutan sukrosa

Membentuk granul keras, kekerasan diatur dari


konsentrasi sukrosa 20-85%
Sangat baik sebagai pembawa soluble dyes dan
menghasilkan warna beragam
Digunakan untuk menggranulasi tribasic fosfat yang
umumnya memerlukan pengikat yang lebih kohesif dari
musilago amili; pada tablet ferro sulfat, bertindak
sebagai pengikat dan pelindung ferrosulfat dr oksidasi
Senyawa lain yang pengikatnya bisa berupa gula:
aminofilin, asetopheretidin, asetaminofen,
meprobamate
127

C. Pengikat
6. Larutan akasia

Digunakan pada konsentrasi 10-25%; untuk mengurangi


mephenesin (dosis besar dan sukar digranulasi)
Menghasilkan granul yang keras tetapi tidak mengeras
pada penyimpanan
Kelemahan: dapat terkontaminasi mikroba
Kadang ditambah lubrikan cair PEG 6000 untuk
membantu pencetakan tablet dan disintegrasi tablet

128

C. Pengikat
7. PVP

Nama dagang: Kollidon atau Plasdon


Inert, larut air dan alkohol, digunakan dalam
konsentrasi 3-15%, sedikit higroskopis, tidak mengeras
selama penyimpanan (baik untuk tablet kunyah)
Tablet efervesen bisa dibuat menggunakan PVP dalam
etanol anhidrat. Jangan menggunakan isopropanol
anhidrat karena meninggalkan bau pada granul.
Konsentrasi 5% menghasilkan kompresibilitas yang
baik dari serbuk Natrium bikarbonat dan asam sitrat
sehingga tablet bereaksi cepat dan disolusi cepat.
PVP baik untuk tablet kunyah terutama untuk
alumunium hidroksida, Mg(OH)2
129

C. Pengikat
8. Selulosa
c.

Etil selulosa
Larutan dalam alkohol. Low grades digunakan sebagai
pengikat 2-10% dalam etanol
Dapat digunakan untuk menggranulasi serbuk yang
sukar digranulasi: asetaminofen, kafein, meprobamat,
ferofu, arat, dan dapat digunakan sebagai pengikat non
air untuk serbuk yang tidak tahan air seperti asam
askorbat
Dapat memperlambat disintegrasi
130

C. Pengikat
9. Polivinil alkohol

Larut air, mirip akasia tapi tidak terlalu rentan dengan


bakteri
Membentuk granul yang lebih lunak dari acacia,
menghasilkan tablet yang disintegrasi lebih cepat dan
tidak mengeras pada penyimpanan

10. PEG 6000

Sebagai pengikat anhidrat, dimana air dan alkohol tidak


dapat digunakan
PEG 6000 merupakan padatan putih yang meleleh pada
70-750C dan mengeras pada 56-630C
131

C. Pengikat
11. N-HPC (Nisso-HPC)

Larut dalam air dan pelarut organik alkohol, propilen


glikol, metilen klorida, aseton dan kloroform. Jika
digunakan sebagai pelarut pada granulasi basah N-HPC
dilaruntukan dalam air atau alkohol.
Cara:
Melarutkan dalam air
- N-HPC ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam
air sambil diaduk kuat
- 20-30% air dipanaskan sampai 600C dan N-HPC
ditambahkan perlahan-lahan sambil diaduk. Setelah itu
ditambahkan sisa air. Dengan cara ini pelarutan lebih
cepat.
132
Melarutkan dalam pelarut organik

D. Flavor

(Lachman Industri)
Digunakan untuk tablet kunyah
Penambahan pewangi dapat dilakukan dalam
keadaan kering, biasanya sebagai fasa luar,
sedangkan yang cair ditambahkan dengan
menyemprotkan ke dalam massa cetak
Flavour yang digunakan adalah bentuk flavour
oil yang diabsorbsikan ke adsorben
Jumlah yang digunakan maksimal 0,5-0,75%
133

E. Disintegran
Fungsi : untuk memecah tablet
Cara pakai : saat granulasi
- sebelum dicetak (paling baik)
1. Starch (amylum)
2. Starch 1500
3. Sodium starch glycolate (primogel, explotab)

Pemakaian: 1-20% dengan konsentrasi optimum 4%

Explotab tidak dapat sebagai penghancur dalam

Mekanisme sama dengan starch secara umum, merupakan starch


termodifikasi sehingga mampu menyerap air 200-300%

Waktu disintegrasi ditentukan pula oleh besarnya tekanan


pengempaan

Perhatian: pada suhu dan kelembaban yang tinggi dapat


memperlama waktu disintegrasi sehingga memperlambat waktu 134
disolusi

E. Disintegran
4. Selulosa (selulosa, metilselulosa, CMC, CMC-Na, Avicel,
Acdisol)

Acdisol merupakan ikatan silang dari CMC-Na dan


sangat baik untuk digunakan sebagai disintegran
karena larut air dan memiliki afinitas yang besar pada
air.

Acdisol ini digolongkan pada super disintegran.


Penggunaan 2-5%.
5. Gums (agar, pectin, tragacant, guar gum)

Pemakaian: 1-10%

Bukan merupakan disintegran yang baik, karena


kapasitas pengembangannya yang relatif rendah
135

E. Disintegran
6. Clays

Pemakaian: 2-10%, sifat hilang jika digranulasi

Bukan merupakan disintegran yang baik, karena dapat


menyebabkan perubahan warna secara keseluruhan
7. Alginat (asam alginat dan Na-alginat)

Pemakaian: 1-5% (asam alginat) atau 2,5-10% (Naalginat)

Memiliki afinitas yang besar terhadap air

136

F. Lubrikan

Konsentrasi optimum: 1%
Fungsi: sebagai eksipien untuk menghilangkan gesekan/friksi saat
pengempaan dan penarikan tablet ke luar cetakan
Jenis:
Water soluble: banyak digunakan untuk tablet larut air seperti
tablet/serbuk effervescent
Water insoluble: paling banyak dan digunakan konsentrasi rendah
Mekanisme:
Fluid type lubricant
Membentuk lapisan cair antara massa cetak dengan logam
cetakan. Dapat meninggalkan noda pada tablet
Boundary type lubricant
Dengan berinteraksi antara gugus polar lubrikan dengan molekul
pada permukaan logam. Tipe ini memiliki adheren terhadap
cetakan lebih baik
137

F. Lubrikan

Lubrikan dapat menyebarkan tekanan saat pengempaan dan


meningkatkan bobot jenis partikel secara keseluruhan
Semakin kecil ukuran granul, dibutuhkan lubrikan yang semakin
banyak
Secara umum lubrikan dapat memperlama waktu hancur tablet
dan menurunkan kecepatan disolusi karena sifatnya yang hidrofob
Perhatian: aspirin tidak stabil dengan adanya senyawa alkaline,
misalnya lubrikan alkalin stearat. Penggantinya dapat digunakan
talk.
Lubrikan carbowax seringkali diberikan dalam bentuk larutan
alkohol
Ketika lubrikan ditambahkan saat granulasi, mereka akan
membentuk lapisan di sekitar granul sehingga dapat mengurangi
kerusakan tablet setelah dikempa. Pembentukan lapisan ini juga
akan menyebabkan tablet menjadi labih berpori, elastik, mudah
melar, dan memberikan hasil tablet yang lebih besar sehingga
138
tablet mudah pecah

F. Lubrikan

Lubrikan seringkali ditambahkan secara kering ketika semuanya


telah homogen, dan dicampur pada 2-5 menit akhir dari total waktu
pencampuran 10-30 menit
Metode penambahan lubrikan di akhir (sebagai fasa luar-setelah
granul dibentuk) memberikan hasil yang lebih baik terhadap
kekerasan tablet dan kemudahannya untuk dikeluarkan
dibandingkan dengan metode penambahan lubrikan saat
dilakukan granulasi
Sebagai lubrikan tunggal, Mg-lauril sulfiat pada konsentrasi yang
lebih rendah dapat dikombinasi dengan Mg-stearat

139

F. Lubrikan

Water soluble lubricant Water insoluble lubricant


Asam borat : 1% Logam (Mg, Ca, Na) stearat : -2%
Sodium chloride : 5% Asam stearat
: -2%
DL-Leusine
:1-5% Sterofex
: -2%
Carbowax 4000/6000 : 1-5% Talk
: 1-5%
Sodium oleat : 5% Waxes
: 1-5%
Sodium benzoat : 5% Stearowet
: 1-5%
Sodium asetat : 5% Gliseril behapte (Compritol 888):
Sodium lauril sulfat : 1-5% dapat pula sebagai pengikat, dapat
Mg-lauril sulfat : 1-2% dikombinasi dengan Mg-stearat
Sodium benzoat + sodium asetat: 1-5%

140

G. Glidan

Secara umum, fine silica > Mg stearat > talk


murni
Talk mengandung sejumlah kecil Al silikat dan
Fe. Harus hati-hati untuk zat aktif yang
penguraiannya dikatalisis oleh Fe
1. Cab-O-Sil : 5-10%
2. Corn starch : 5-10%
3. Aerosil : 1-3%
4. Talk : 5%
5. Syloid : 0,1-0,5%
141

H. Anti Adheren

Yang paling baik adalah yang larut air, dan yang


paling efisien adalah DL-Leusine
Biasa digunakan pada produk yang mengandung
vitamin E dosis tinggi karena cenderung terjadi
picking
1. Talk
: 1-5%
2. Logam stearat : <1%
3. Cab-O-Sil : 0,1-0,5%
4. Syloid : 0,1-0,5%
5. Corn starch : 3-10%
6. DL-Leusine : 3-10%
7. Na-lauril sulfat : <1%

142

II.3 Perkembangan Formula Tablet


Pada bagian ini akan diterangkan pembuatan
tablet dan permasalahannya. Karena umumnya
bahan disini berasal dari catatan atau
pengalaman, maka tidak ada pustaka pada
bagian ini. Bagian ini dibuat untuk
pertimbangan pemilihan metode dan formulasi
teoritik, aplikasi formula teoritik, dan
penanggulangan permasalahan yang mungkin
terjadi pada pembuatan.
143

II.3 Perkembangan Formula Tablet


I.
II.
III.

Granulasi Basah
Granulasi Kering
Kempa Langsung

144

I. Granulasi Basah
1.

Zat Aktif A
Fase Dalam (92%)
Zat Aktif Sesuai dosis
Amilum Kering 10% bobot total
Musilago amili 10% bobot total (atau 1/3 bobot tablet)
Laktosa q.s

Fase Luar (8%)


Mg Stearat 1%
Talk 2%
Amilum kering 5%
145

I. Granulasi Basah

Pada tablet yang dinuat dengan menggunakan musilago amili


sebagai pengikat, disolusi zat aktif dari dalam granul akan
dipersulit, karena musilago amili yang sudah kering sulit ditembus
sehingga disolusi zat aktif dari granul akan lebih sukses. Selain itu,
pengeringan granul memerlukan waktu yang lebih lama dan
memerlukan suhu pengeringan yang tinggi. Amilum harus dalam
keadaan kering, jika fungsinya sebagai penghancur. Jika
bercampur dengan air maka sifat penghancurnya akan berkurang.
Amilum kering yang bisa digunakan adalah amprotab. Sifat dari
amilum kering : kompresibilitas kecil, waktu hancur granul lama
sehingga menyebabkan waktu hancur tablet menjadi lama, dan
friabilitas yang jelek
146

I. Granulasi Basah
2.

Pengikat diganti PVP untuk zat yang sukar dikompresi. PVP


larut dalam air, tetapi penguapannya akan diperlama
sehingga digunakan pelarut etanol 95%.
Fase Dalam (92%)
Zat aktif A sesuai dosis
PVP 2%
Etanol q.s
Amilum kering 10% dari bobot total
Laktosa q.s
Fase Luar (8%)
Mg Stearat 1%
Talk 2%
Amilum kering 5%

147

I. Granulasi Basah

PVP sifatnya higroskopis, sehingga dapat


mengakibatkan tablet menjadi basah, tapi sebenarnya
dengan 2% tidak terlalu bermasalah. Jika sedikit
bermasalah dapat digunakan aerosil sebanyak 1%
sehingga formula fase luar menjadi : Mg Stearat 1%, Talk
1%, Aerosil 1%, Amilum kering 5%, tapi formula ini jarang
digunakan.

148

I. Granulasi Basah
3.

Amilum kering bukan penghancur FD yang baik,


maka dapat ditambahkan ac-di-sol ( 3%) untuk
memperbaiki waktu hancur. Tetapi karena ac-disol mahal harganya maka sebagai alternatif dapat
digunakan starch 1500 atau primogel/eksplotab
sebagai penghancur fasa luar. Formula akan
menjadi :
Fase Dalam (92%)
Zat aktif A sesuai dosis
PVP 2%
Eatanol q.s
Amilum kering 10% dari bobot total atau
Ac-di-sol 3%
149
Laktosa q.s

I. Granulasi Basah

Fase Luar (8%)


Mg Stearat 1%
Talk 2%
Amilum kering 5% atau
Acdisol 3% atau
Eksplotab 5% atau
Starch 1500 5%

Umumnya starch 1500 dan eksplotab digunakan


sebagai penghancur luar, jarang digunakan
sebagai penghancur fasa dalam

150

I. Granulasi Basah
4.

Laktosa mempunyai kompresibilitas yang buruk


sehingga friabilitasnyapun buruk. Untuk
memperoleh tablet yang lebih baik, maka laktosa
dapat diganti dengan avicel. Terdapat tiga jenis
avicel yang sering digunakan yaitu : Avicel pH 101
(berbentuk serbuk, umumnya digunakan dalam
formulasi GB), Avicel pH 102 (berbentuk granul,
umumnya digunakan dalam formulasi Gkdan KL),
Avicel pH 103 (berbentuk granul dengan ukuran
lebih kecil dan dapat menghasilkan waktu hancur
yang lebih cepat). Formula tablet akan menjadi :

151

I. Granulasi Basah

Fase Dalam (92%)


Zat aktif A sesuai dosis
PVP 2%

Eatanol q.s

Amilum kering 10% dari bobot total atau

Ac-di-sol 3%

Avicel q.s

Fase Luar (8%)

Mg Stearat 1%

Talk 2%

Amilum kering 5% atau

Acdisol 3% atau

Eksplotab 5% atau

Starch 1500 5%

152

II. Granulasi Kering


Digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan
lembab, misalnya antibiotik

1 Fase Dalam (97%) / FD


Zat aktif A sesuai dosis
Amilum kering 10%
Laktosa q.s
Fase Luar (3%) / FL
Mg stearat 1%
Talk 2%
Pembuatan slug : FD + FL = 97% + 1,5% = 98,5%, lalu
dicetak dan dihancurkan (slug) hingga kecepatan aliran 4
gr/dt. Setelah jadi slug kemudian ditambahkan sisa FL
(1,5%)

153

II. Granulasi Kering

2. Karena kompresibilitas laktosa buruk, maka dapat diganti


dengan :

Fase Dalam (97%)


Zat aktif A sesuai dosis
Amilum kering
10%
LHPC 21 10%
Laktosa q.s
Karena laktosa memiliki sifat aliran yang jelek, laktosa
dapat diganti dengan avicel.
154

II. Granulasi Kering

Fase Dalam (97%)


Zat aktif A sesuai dosis
Amilum kering
10%
LHPC 21 10%
Avicel q.s

LHPC 21 juga dapat penghancur sehingga amilum kering


dapat dihilangkan. Penggunaan LHPC 21 akan meningkatkan
ongkos produksi karena harga LHPC 21 mahal. LHPC 21 dapat
diganti dengan eksplotab/primorgel atau starch 1500.

155

II. Granulasi Kering

Fase Dalam (97%)


Zat aktif A
sesuai dosis
Eksplotab/starch 1500 5%
Avicel
q.s

Modifikasi fase luar hampir sama dengan


modifikasi fase luar pada formulasi GB.
156

III. Kempa Langsung

Digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab
dan dosisnya kecil. Formulasi KL dibatasi oleh jumlah fine
(serbuk yang tidak mempunyai sifat aliran (seperti talk, mg
stearat, dan zat aktif). Jumlah maksimal dari fine adalah 30%.
Umumnya dosis zat aktif yang digunakan adalah dibawah 50%
agar keseragaman kandungan produk akhir bagus. Jika terlalu
besar sebaiknya disluging. Syarat-syarat zat aktif untuk cetak
langsung adalah : mempunyai sifat aliran yang bagus, kohesif,
kompresibilitas.

1. Zat aktif A
sesuai dosis
Laktosa spray dried q.s
Mg stearat
1%
Talk
2%
Amilum kering
5%

157

III. Kempa Langsung

2. Digunakan kombinasi avicel dan eksplotab.


Avicel memiliki kompresibilitas yang baik, tetapi
alirannya kurang baik. Untuk memperbaik
alirannya maka diguanakan eksplotab. Selain itu
eksplotab berfungsi pula sebagai penghancur.

Zat aktif A
sesuai dosis
Avicel : Eksplotab (3:7) q.s
Mg stearat 1%
Talk
2%
158

III. Kempa Langsung

3. Digunakan kombinasi starch 1500 dan avicel (3:1) yang


dikenal pula sebagai running powder. Running powder ini
memiliki sifat aliran dan kompresibilitas yang baik. Tapi daya
hancur running powder tidak bagus, sehingga dapat
ditambahkan penghancur luar seperti amilum kering,
eksplotab, atau ac-di-sol.

Zat aktif A
sesuai dosis
Avicel : Starch 1500 (3:1) q.s
Mg stearat
1%
Talk
2%
Amilum kering
5% atau
Eksplotab
5% atau
159
Ac-di-sol
3%

Contoh Perhitungan Tablet


I. Granulasi Basah
Contoh : Zat aktif paracetamol 500 mg
Direncanakan bobot tablet 700 mg, dibuat 1000 tablet
Formula : Fase Dalam (92%)
Paracetamol
500 g
Amilum 10% dari bobot tablet 70 g
Musilago amili 10% (1/3 FD)
21,5 g
Laktosa
52,5 g

644 g
Fase Luar (8%)
Mg stearat
1%
Talk
2%
Amilum kering
5%

160

Contoh Perhitungan Tablet


I. Granulasi Basah

Cara menghitung :

- Musilago amili = 1/3 x 644 g = 215 g


setelah dikeringkan = 10% x 215 g = 21,5 g
- Laktosa = 644 (500 + 70 + 21,5) = 52,5 g

Misalnya : Granul FD yang diperoleh 600 g dengan kadar air 2%, maka untuk
kadar air 0%, bobot granulnya = 0,98 x 600 = 588 g. Jumlah tablet yang
diperoleh = 588/644 x 1000 tablet = 913,04 tablet.
Fase luar yang ditambahkan :

Mg stearat 1% = 1/92 x 600 g = 6,52 g


Talk 2% = 2/92 x 600 g = 13,04 g
Amilum kering 5% = 5/92 x 600 g = 32,60 g

Bobot tablet yang diperoleh = 600 g + 6,52 g + 13,04 g + 32,6 g


913,04

= 714,27 g

161

Contoh Perhitungan Tablet


II. Granulasi Kering
Contoh : Zat A 400 mg; bobot tablet 600 mg; jumlah tablet 1000 tablet

Formula :
Fase dalam (97%)

Zat A
400 g
Amilum 10% bobot tablet 60 g
Laktosa
122 g
Total
582g
Fase Luar (3%)
Mg stearat 1%
Talk
2%

6 g
12 g
162

Contoh Perhitungan Tablet


II. Granulasi Kering

Slug (98,5%)
Zat A 400 g

Amilum 60 g

Laktosa 122 g

Mg stearat 3 g

Talk 6g

Total 591 g

Misalnya : slug yang diperoleh = 500 mg, maka sisa FL yang


ditambahkan :

Mg stearat = 500/591 x 3 = 2,538 g

Talk = 500/591 x 6 = 5,076 g

Slug + sisa FL = 500 g + 7,614 g = 507,614 g

Jumlah tablet yang diperoleh = 500/591 x 1000 = 846,024 g

Bobot tablet
= 507,614/846,024 0,6 g

163

Contoh Perhitungan Tablet


III. Kempa Langsung

Contoh : Zat A 25 mg; bobot tablet 250 mg; dibuat 1000


tablet

Formula : Zat A 25 g
Pengisi q.s217,5 g
Mg stearat (1%)2,5 g
Talk (2%)5 g
Total 250 g

Bahan siap dikempa menjadi tablet

164

BAB III TABLET KHUSUS

A. TABLET EFFERVESCENT
B. TABLET KUNYAH

165

A.

I . Pendahuluan
I . 1 . Tablet Effervecent
Tablet Effervecent adalah tablet yang mengeluarkan buih ketika
dimasukkan ke dalam air. Buih yang keluar tersebut adalah gas
karbondioksida yang dihasilkan dari reaksi antara asam organik
TABLET
EFFERVESCENT
dengan garam turunan karbonat. Gas korbondioksida ini
membantu mempercepat hancurnya tablet dan meningkatkan
kelarutan zat aktif. Selain itu gas korbondiokasida ini juga memberi
rasa segar seperti halnya pada minuman kaleng berkarbonasi. Di
samping menghasilkan larutan yang jernih, tablet juga
menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang
membantu memperbaiki rasa beberapa obat tertentu. Dengan rasa
asam sedikit berlebih, sehingga berasa sedikit asam ini
merupakan faktor tambahan yang membuat sediaan efervesen 166
dapat diterima di masyarakat.

Kandungan tablet effervecent merupakan campuran asam


(asam sitrat, asam tartrat) dan Natrium bikarbonat,
yang jika dilarutkan dalam lingkungan berair akan
bereaksi menghasilkan karbondioksida yang berasal
dari penguraian basa bikarbonat akibat penetralan
A. TABLET
EFFERVESCENT
oleh asam.
Reaksinya cukup cepat dan biasanya
selesai dalam waktu 1 menit atau kurang. Tablet
effervescent harus disimpan dalam wadah tertutup
rapat atau kemasan tahan lembab, sedangkan pada
etiket tertera tidak langsung ditelan.
167

I . 2. Keuntungan dan Kerugian Effervecent

Keuntungan yang dimiliki tablet effervescent, antara lain;


1. Memungkinkan penyiapan larutan dalam waktu seketika, yang
mengandung dosis yang tepat
2. Rasa menyenangkan karena karbonisasi membantu menutup
rasa zat aktif yang tidak enak
3. Tablet biasanya cukup besar dan dapat dikemas secara
individual sehingga bisa menghindari masalah ketidakstabilan zat
aktif dalam penyimpanan.
4. Mudah menggunakannya karena tablet dilarutkan terlebih
dulu dalam air baru diminum
5. Bentuk sediaan dengan dosis terukur tepat.

A. TABLET EFFERVESCENT

168

Kerugian yang terdapat pada tablet effervescent,


antara lain;

1. Kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil


secara kimia

2. Kelembaban udara selama pembuatan produk


A. TABLET
EFFERVESCENT
mungkin sudah cukup untuk memulai reaktifitas
effervescen

169

I. 3. Pembuatan Efervescent

Tablet effervecent dibuat dengan beberapa metode


yaitu dengan cara :

a. granulasi basah

b. granulasi
kering
A. TABLET
EFFERVESCENT

c. metode fluidisasi. Metode fluidisasi dengan metode


wurster, menggunakan suatu alat semprot khusus yang
dilangkapi dengan saluran penyemprot bahan pengikat
dan saluran udara pemanas.

170

I. 3. Pembuatan Efervescent

Tablet effervecent memerlukan kondisi kerja dan metode


khusus dalam pembuatannya karena dalam tablet ini
terdapat dua bahan yang tidak dapat tersatukan yaitu
garam natrium bikarbonat dan asam organik sebagai
A. TABLET
penghasilEFFERVESCENT
karbondioksida. Reaksi kedua bahan ini akan
dipercepat dengan adanya air, maka dari itu tablet
Efervescent selama perjalanannya mulai akhir produksi
sampai ke tangan pasien tidak boleh sedikitpun kontak
dengan air. Selain itu suhu tinggi juga dapat
mempercepat perusakan bahan tablet, sehingga juga
harus dijaga pada suhu yang relatif rendah.
171

I. 3. Pembuatan Efervescent

Proses pembuatan tablet efervesen membutuhkan


kondisi khusus, kelembaban harus relatif rendah dan
suhu harus dingin untuk mencegah granul atau tablet
melekat pada mesin karena pengaruh kelembaban dari
A. TABLET
udara. EFFERVESCENT

172

a. Granulasi Basah

Umumnya sama dengan tablet konvensional


Prosesnya:
1. Cara Pemanasan.
Biasanya komponen asam yang dipanaskan. Karena proses ini
sangat tidak konstan dan sulit dikendalikan jarang digunakan.
2. Granulasi dengan Cairan Reaktif.
Bahan penggranulasi yang efektif adalah air. Proses berdasarkan
penambahan sedikit air (0,1-0,5%) yang disemprotkan pada
campuran sehingga terjadi reaksi menghasilkan granul. Granul
yang masih lembab ditransfer ke mesin tablet kemudian dikempa
lalu tablet masuk ke dalam oven terjadi proses pengeringan untuk
menghilangkan air sehingga tablet menjadi stabil.
173

A. TABLET EFFERVESCENT

3. Granulasi dengan Cairan Non Reaktif.


Cairan yang digunakan adalah etanol atau isopropanol. Cairan
ditambahkan perlahan-lahan ke dalam campuran pada mesin
pencampur. Dalam hal ini perlu ditambahkan pengikat kering
seperti PVP. Setelah itu masa granul dimasukkan ke dalam oven
lalu dikeringkan. Kemudian dihaluskan lagi baru dicetak

A. TABLET EFFERVESCENT

174

b. Granulasi Kering
Dilakukan dengan dua cara:
1. Cara Slugging
Dibuat bongkah-bongkah tablet ukuran besar menggunakan mesin
tablet kemudian tablet dimasukkan ke dalam mesin granulasi
untuk dihaluskan menjadi ukuran yang dikehendaki
2. Cara Kompaktor
Menggunakan mesin khusus rol kompaktor yang mengempa
serbuk premix menjadi bentuk pita/lempeng diantara dua rol yang
berputar berlawanan. Bahan dihaluskan menjadi granul dalam
mesin granul.

A. TABLET EFFERVESCENT

175

I. 4. Bahan Tambahan Tablet Effervecent

Perlu diperhatikan bahwa bahan yang digunakan dalam


tablet effervecent seharusnya mempunyai kandungan
lembab yang sangat rendah dan sewaktu pembuatan
sediaan ini harus dilakukan pada tempat yang kering.
A. TABLET EFFERVESCENT

Bahan tambahan bisa berasal dari :

I. 4. 1. Sumber Karbondioksida

I. 4. 2. Sumber Asam

I. 4. 3. Bahan Tambahan Lainnya

176

Karakteristik komponen tablet Efervesen:

1. Dalam banyak hal prinsip yang digunakan dalam memproduksi


tablet efervesen sama dengan yang digunakan untuk tablet
konvensional. Banyak dari proses dan alat proses yang sama.
Demikian juga sifat umum granul yang diperlukan untuk
memdapatkan tablet yang sesuai persyaratan seperti:
a. Ukuran partikel
b. Bentuk partikel
c. Granulometri
d. Keseragaman distribusi
e. Aliran bebas granul
f. Granul harus dapat dikompresi

A. TABLET EFFERVESCENT

177

2. Satu sifat bahan baku yang dipilih untuk digunakan dalam


tablet efervesen yang lebih penting dari tablet konvensional yaitu
kondisi lembabnya, artinya bahan baku yang digunakan harus
kering.
Apabila bahan baku yang digunakan tidak kering (mengandung
lembab) maka terjadi reaksi asam dan karbonatnya akan
menyebabkan produk menjadi tidak stabil secara fisik dan terurai.
Sekali dimulai reaksi maka akan berlanjut lebih cepat karena
produk samping reaksi adalah pertambahan air.

Contoh:
CH2COOH CH2COONa
CH2COOH + 3NaHCO3 CHCOONa + 3 CO2 + 3 H2O
178
CH2COOH CH2COONa

A. TABLET EFFERVESCENT

Oleh karena itu bahan baku yang digunakan harus dalam keaadan
anhidrat (kering) dengan sedikit kadar lembab yang diabsorpsi.
Molekul air memang masih ada tapi sangat sedikit karena air
dibutuhkan sedikit untuk kebutuhan mengikat granul karena
granul yang terlampau kering tidak dapat dikempa.
3. Kelarutan merupakan sifat bahan baku yang penting dalam
tablet efervesen. Jika komponen tablet tidak larut, reaksi efervesen
tidak akan terjadi dan tablet tidak akan terdisintegrasi secara
cepat. Kecepatan kelarutan lebih penting dari kelarutan karena zat
yang terlarut lambat dapat merintangi desintegrasi tablet dan
larut lambat menghasilkan residu yang tidak disukai setelah tablet
terdisintegrasi.

A. TABLET EFFERVESCENT

179

A.

I. 4. 1. Sumber Karbondioksida
Sumber karbondioksida dari tablet efervesen didapat dari garamgaram karbonat. Karena garam ini dapat menghasilkan 53 %
karbondioksida. Garam yang sering digunakan adalah natrium
bikarbonat dan natrium karbonat. Natrium bikarbonat dengan
TABLET
EFFERVESCENT
kosentrasi dalam air 0,85% menunjukan pH 8,3. natrium karbonat
dengan konsentrasi 1 % dalam air mempunyai pH 11,5. Natrium
karbonat menunjukan pula efek stabilisasi di dalam tablet
efervesen karena kemampuannya mengabsorbsi lembab terlebih
dahulu yang dapat mencegah permulaan reaksi efervesen.
Oksigen dapat pula menjadi sumber efervesen dengan sumbarnya
dapat digunakan natrium perborat anhidrat.
180

I. 4. 2. Sumber Asam

Sumber asam yang umumnya digunakan pada tablet efervesen


dapat digolongkan menjadi;

Asam Makanan, antara lain :


Asam Sitrat,
merupakan asam yang paling sering digunakan
A. TABLET
EFFERVESCENT
karena harganya yang murah. Asam sitrat dapat larut dengan
mudah dan cepat, dan dalam bentuk granul dapat mengalir
dengan bebas. Terdapat juga bentuk anhidratnya sehingga
mempunyai sifat higrokopis.

Asam Tartrat, asam ini mempunyai kelarutan yang lebih besr


dari asam sitrat.
181

I Asam anhidrat
Jika asam anhidrat dilarutkan dalam air maka akan terjadi hidrolisi
yang membebaskan bentuk asamnya yang dapat bereaksi dengan
sumber karbondioksida. Contohnya adalah suksinat anhidrat.

A. TABLET EFFERVESCENT

Garam Asam
Garam ini dapat digunakan karena dalam larutan, garam ini dapat
menghasilkan proton dan menghasilkan larutan dengan pH
dibawah 7. Contohnya adalah natrium hidrogen fosfat, natrium
dihidrogen fosfat, dan natrium bisulfit.
182

I. 4. 3. Bahan Tambahan Lainnya


Bahan tambahan lainnya pada tablet efervesen antara lain seperti
bahan pengikat, bahan pengisi, dan lubrikan. Namun bahan-bahan
ini penggunaannya dalam jumlah yang terbatas. Seperti halnya
pengisi, hanya digunakan sedikit saja, karena dalam formula tablet
efervesen sudah banyak mengandung karbonat dan asam.

A. TABLET EFFERVESCENT

a. Pengisi
Biasanya hanya dibutuhkan sedikit pengisi karena zat yang
menghasilkan efervesen sudah cukup besar. Natrium bikarbonat
merupakan pengisi yang baik. Pengisi lain adalah Na. Klorida, Na.
Sulfat dan Na. Bikarbonat.

183

b. Pengikat dan zat penggranul

Untuk pembuatan tablet efervesen dengan metode granulasi


penggunaan pengikat seperti gelatin, amilum dan gom tidak dapat
digunakan karena kelarutan lambat atau karena kandungan residu
air tinggi yang dapat mempercepat ketidakstabilan tablet
efervesen. Pengikat efektif untuk tablet efervesen adalah PVP. PVP
ditambahkan pada serbuk yang digranulasi dalam keadaan kering
kemudian dibasahi oleh cairan penggranulasi yaitu isopropanol,
etanol atau hidroalkohol. Alkohol tidak bersifat pengikat tapi
ditambahkan sebagai zat penggranulasi untuk pelarut PVP.

A. TABLET EFFERVESCENT

c. Lubrikan
Lubrikan yang larut air atau zat yang dapat terdispersi dalam air
dapat digunakan sebagai lubrikan. Serbuk natrium benzoat dan PEG
8000 merupakan lubrikan larut air yang efektif.
184

II. CONTOH FORMULA (VITAMIN C)

II. 1. Formulasi

Satu tablet effervescent dibuat dengan bobot 1,5 gram.

Formula untuk 1 buah tablet effervescent :


A. TABLET
EFFERVESCENT
Vitamin
C 500 mg

Pyridoxine 20 mg

PVP 3% 45 mg

Sukrosa 15% 225 mg

Asam sitrat monohidrat 208 mg

Asam tartrat 222,9 mg

Natrium bikarbonat 249,5 mg

PEG 8000 30 mg

185

II. 2. Perhitungan

Bobot tablet effervescent 1500 mg

Fasa dalam bobot 98% = 98/100 x1500 mg = 1470 mg

Fasa luar (terdiri dari pelincir) bobot 2% = 2/100 x 1500


mg = 30 mg
A. TABLET
EFFERVESCENT

Fasa dalam terdiri dari zat aktif, asam, basa, pengikat,


dan pengisi.

Bobot asam dan basa = fasa dalam (zat aktif +


pengikat + pengisi)

= 1470 mg ( 520 + 45 + 225 ) mg

= 680 mg

186

Asam sitrat monohidrat: BM = 210,13 Bilangan ekivalen = 3


Bobot ekivalen = 210,13/3 = 70,04
Asam tartrat:
BM = 150,09 Bilangan ekivalen = 2
Bobot ekivalen = 150,09/2 = 75,05

A. TABLET EFFERVESCENT

Natrium bikarbonat:
BM = 84,01 Bilangan ekivalen = 1
Bobot ekivalen = 84,01/1 = 84,01
70,04 mol ekivalen + 75,05 mol ekivalen + 84,01 mol ekivalen = 680 mg
229,1 mol ekivalen = 680 mg
mol ekivalen = 2,97

Asam sitrat monohidrat = 70,04 X 2,97 = 208 mg


Asam tartrat = 75,05 X 2,97 = 222,9 mg
Natrium bikarbonat = 84,01 X 2,97 = 249,5 mg

187

Pertimbangan pemilihan bahan-bahan dalam formula dan


metode pembuatan

Bobot tablet yang dipilih 1500 mg karena bobot tersebut cukup


untuk bobot tablet effervescent
Dosis asam askorbat yang dipilih 500 mg/hari karena dosis
tersebut dapat digunakan untuk pengobatan sariawan akibat
defisiensi vitamin C.
Jumlah pyridoxine yang dikonsumsi per hari sebanyak 2,2 mg
harus terpenuhi untuk laki-laki dan 2 mg untuk perempuan.
Pyridoxine yang digunakan untuk pengobatan anemia
sideroblastik dan untuk merawat kelainan metabolisme akibat
defisiensi pyridoxine memiliki dosis sebesar 100-400 mg per hari.
Dosis pyridoxine yang dipilih dalam formula ini sebesar 20 mg/hari
karena masih termasuk rentang dosis yang dapat digunakan untuk
profilaksis dan defisiensi pyridoxine, juga untuk memenuhi bobot
188
tablet effervescent sebesar 1,5 gr.

A. TABLET EFFERVESCENT

Pengikat yang digunakan dipilih PVP karena PVP merupakan


pengikat yang larut air dan konsentrasi yang dipilih 3% karena PVP
yang digunakan sebagai pengikat dalam formulasi dan teknologi
Farmasi sebesar 0,5-5%
Pengisi yang digunakan adalah sukrosa karena pengisi yang
digunakan dalam tablet effervescent adalah gula. Konsentrasi
yang dipilih 15% karena sukrosa yang digunakan sebagai pengisi
pada formulasi dan teknologi Farmasi 2-20%.
Asam yang digunakan adalah kombinasi antara asam sitrat
monohidrat dan asam tartrat karena dengan kombinasi akan
diperoleh tablet effervescent yang bik. Bila digunakan asam sitrat
monohidrat tunggal maka granul yang dihasilkan lengket dan
lunak sehingga tidak dapat dikempa, sedangkan bila digunakan
asam tartrat tunggal maka akan dihasilkan tablet effervescent
yang keras dan retak-retak.

A. TABLET EFFERVESCENT

189

Basa yang digunakan adalah natrium bikarbonat


karena basa tersebut biasa digunakan dalam
kombinasi dengan asam tartrat.

Lubrikan yang digunakan harus larut air sehingga


dipilih PEG 8000

Metode pembuatan yang dipilih adalah granulasi


A. TABLET
EFFERVESCENT
kering karena
zat aktif merupakan vitamin yang tidak
tahan panas sehingga dengan granulasi kering maka
tidak diperlukan proses pengeringan yang memerlukan
panas.

190

Penimbangan dilakukan untuk membuat 500 buah


tablet effervescent

Asam askorbat 500 mg X 500 = 250 g

Pyridoxine 20 mg X 500 = 10 gr
A. TABLET
PVP 3%
45 mg X 500 = 22,5 gr
EFFERVESCENT

Sukrosa 15% 225 mg X 500 = 112,5 gr

Asam sitrat monohidrat 208 mg X 500 = 104 gr

Asam tartrat 222,9 mg X 500 = 111,45 gr

Natrium bikarbonat 249,5 mg X 500 = 124,75 gr

PEG 8000 30 mg X 500 = 15 gr

191

II.3 Prosedur Pembuatan

1.
2.

Metode Granulasi Kering


Zat aktif dan eksipien masing-masing dihaluskan dlam tempat
yang terpisah.
Dicampur menjadi satu kemudian dicampur hingga homogen.
Massa serbuk dislugging, kemudian dihancurkan hingga derajat
kehalusan tertentu.
Diayak dengan pengayak nomor 16 mesh.
Dilakukan uji aliran granul yang diperoleh. Aliran yag diperoleh
harus sebesar 10 gr/detik. Jika tidak diperoleh aliran sebesar itu,
harus dilakukan slugging kembali hingga diperoleh aliran yang
dikehendaki.
Setelah granul memiliki aliran 10 gr/detik, pada granul
ditambahkan lubrikan. Granul siap dikempa menjadi tablet dengan
192
bobot 1,5 gr.

A. TABLET EFFERVESCENT

3.
4.

5.

6.

II.4. Evaluasi Granul

II.4.1 Tujuan
Untuk memeriksa apakah granul yang terbentuk memenuhi syarat
atau tidak untuk dikempa.

II.4.2 Prosedur
i) Kandungan Air (hanya untuk granul hasil granulasi basah)
a. Penentuan dilakukan dengan menggunakan 5 gr granul yang
diratakan pada piring logam, kemudian dimasukkan dalam alat
penentuan kadar air (Moisture Ballance).
b. Atur panas yang digunakan (70 0C) lalu diamkan beberapa
waktu sampai diperoleh angka yang tetap (dalam bentuk %). Piring
logam dipanaskan hingga bobot tetap sebelum digunakan.

A. TABLET EFFERVESCENT

193

ii) Kecepatan Aliran (Menggunakan Flow Tester)


a. Sejumlah tertentu granul dimasukkan kedalam alat
penentuan (corong) penguji aliran.
b. Alat dijalankan dan dicatat waktu yang dibutuhkan oleh massa
granul untuk melewati corong.
c. Hasil dinyatakan dalam satuan gr/det. Kecepatan aliran yang
ideal adalah 10 gr/det

A. TABLET EFFERVESCENT

iii) Kadar Pemampatan


a. Masukkan 100 gr granul dalam gelas ukur 250 mL , Volume
mula-mula dicatat sebagai ketukann 0 (Vo).
b. Lakukan pengetukan, dan volume pada ketukan ke 10, 50, 100,
diukur.
c. Timbang bobot granul yang digunakan untuk pengujian ini.
194

d. Hitung kadar pemampatan dengan persamaan berikut


ini:
Kp = [(Vo-Vt)/Vo] x 100 %
Kp = kadar pemampatan
Vo = volume granul sebelum pemampatan
Vt = volume granul pada t ketukan
Penafsiran hasil : Granul memenuhi syarat jika Kp < 20%.

A. TABLET EFFERVESCENT

195

iv) Bobot jenis

a. Bobot jenis nyata

Sejumlah gram granul dimasukkan ke dalam gelas ukur.


Catat volumenya dan timbang bobot granul yang digunakan
untuk pengujian ini.
Hitung bobot jenis nyata dengan persamaan berikut ini :
P = W/V
P = bobot jenis nyata
W = bobot granul
V = volume granul tanpa pemampatan

A. TABLET EFFERVESCENT

196

b. Bobot jenis mampat

Sejumlah gram granul dimasukkan ke dalam gelas ukur pada


alat dengan menggunakan corong panjang. Catat volumenya (Vo).
Gelas ukur diketuk-ketukkan sebanyak 10 dan 500 kali. Catat
volumenya (V10 dan V500).
Timbang bobot granul yang digunakan untuk pengujian ini.
Hitung bobot jenis mampat dengan persamaan berikut ini :
Pn = W/Vn
Pn = bobot jenis mampat
W = bobot granul
Vn = volume granul pada n ketukan

A. TABLET EFFERVESCENT

197

v) Indeks kompresibilitas
Hitung dengan persamaan : [(Pn-P)/Pn] x 100 %

vi) Perbandingan Haussner


Hitung dengan persamaan berikut ini :
Angka Haussner = BJ setelah pemampatan/BJ sebelum
pemampatan.
Penafsiran hasil : Granul memenuhi syarat jika angka Haussner > 1.

A. TABLET EFFERVESCENT

198

A.

II.5 Evaluasi Tablet

II.5.1 Tujuan
Untuk memeriksa apakah tablet memenuhi persyaratan resmi
(Farmakope) atau non resmi (Non Farmakope) atau tidak.

TABLET
EFFERVESCENT
II.5.2 Prosedur
i) Pemeriksaan penampilan
Meliputi pemeriksaan visual yaitu bebas dari kerusakkan, dari
kontaminasi bahan baku atau dari pengotoran saat proses
pembuatan.

199

ii) Keseragaman ukuran


20 tablet diambil secara acak, Setiap tablet diukur diameter dan
tebalnya dengan jangka sorong. Diameter tablet tidak boleh lebih
dari tiga kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet.

iii) Keseragaman bobot


Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot
yang ditetapkan dengan menimbang 20 tablet satu persatu dan
dihitung bobot rata-rata tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak
boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang
ditetapkan pada kolom A dan tidak satu tablet pun yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari hanya yang
ditetapkan kolom B. ( FI ed III hlm. 7).

A. TABLET EFFERVESCENT

200

iv) Kekerasan tablet


20 tablet diambil secara acak, kemudian diukur kekerasannya
dengan alat Stokes Mensato. Tekanan yang diperlukan untuk
memecahkan tablet terukur pada alat dengan satuan Kg/cm2.
Kekerasan yang ideal 10 Kg/cm2.

v) Friabilitas
a. Bersihkan 20 tablet dari debu kemudian ditimbang (Wo).
Masukkan tablet ke dalam alat, kemudian jalankan selama 4 menit
dengan kecepatan 25 rpm.
b. Setelah 4 menit, hentikan alat, tablet dikeluarkan, lalu
dibersihkan dari debu dan timbang (W1).
c.Indeks friabilitas (f) = (Wo -W1)/Wo X 100%

A. TABLET EFFERVESCENT

201

vi) Friksibilitas
20 tablet diambil secara acak, bersihkan dari debu, kemudian
ditimbang (Wo), kemudian dimasukkan ke dalam friksibilator. Alat
diputar 25 rpm selama 4 menit, kemudian tablet dibersihkan dari
debu dan ditimbang (W1).
Friksibilitas = (Wo W1)/W1 X 100 %.

vii) Uji Disolusi


Masukkan sejumlah volume media disolusi sesuai monografi, alat
dipasang dan biarkan media hingga mencapai suhu 370 + 0,50C
Masukkan 1 tablet kedalam alat, hilangkan gelembung udara dari
permukaan sediaan, dan jalankan alat pada laju kecepatan seperti
yang tercantum pada monografi.
Dalam interval waktu yang ditetapkan, ambil cuplikan pada daerah
pertengahan antara media disolusi dan bagian atas keranjang
atau dayung, tidak kurang dari 1 cm dari dinding wadah. Lakukan 202
penetapan kadar sesuai monografi.

A. TABLET EFFERVESCENT

III. DAFTAR PUSTAKA

1. Pharmaceutical Excipients. 2nd edition. Editor:


Ainley Wade and Paul J. Weller. 1994. London: The
Pharmaceutical Press. Page 436-478, 123-125, 522-523,
392-399, 500-504
A. TABLET
EFFERVESCENT

2. Martindale, The Extra Pharmacopeia 29TH


Edition, Council Of The Royal Pharmaceutical Society Of
Great Britain, London, The Pharmaceutical Press, 1989,
hal. 1208-1209

3. The Pharmaceutical CODEX, Principle and


Practice of Pharmaceutics. 12nd ed. 1994. London: The
Pharmaceutical Press.
203

I. Pendahuluan

Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. Memberikan


residu dengan rasa enak dalam rongga mulut, mudah ditelan
dan tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Jenis
tablet ini digunakan dalam formulasi tablet untuk anak,
terutama formulasi
multivitamin, antasida, dan antibiotika
B. TABLET
KUNYAH
tertentu. Tablet kunyah dibuat dengan cara dikempa,
umumnya menggunakan manitol, sorbitol atau sukrosa
sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi, mengandung
bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan
penampilan dan rasa (FI IV 1995).

Karakteristik :

memiliki bentuk yang halus setelah hancur;

mempunyai rasa enak dan tidak meninggalkan rasa pahit 204


atau tidak enak.

Keuntungan :
1.
ketersediaan hayati lebih baik dan dapat meningkatkan
disolusinya;
2.
kenyamanan bagi penderita dengan meniadakan
perlunya air untuk menelan;
3.B. TABLET
sebagai pengganti
KUNYAHbentuk sediaan cair yang
memerlukan kerja obat yang cepat;
4.
meningkatkan kepatuhan penderita terutama anakanak dengan rasa yang enak.

Kekurangan :
Zat aktif yang rasanya tidak baik dan dosis yang tinggi
sangat sulit dibuat tablet kunyah.

205

II. Faktor Formulasi

Beberapa faktor yang terlibat dalam formulasi tablet


kunyah diantaranya adalah jumlah zat aktif, aliran,
lubrikan, disintegrasi, kompresibilitas, kompatibilitasstabilitas, dan pertimbangan organoleptik. Empat faktor
B. TABLET
KUNYAH
pertama di
atas merupakan faktor yang umum untuk
tablet biasa dan juga tablet kunyah, meskipun demikian
sifat organoleptik zat aktif merupakan faktor yang
paling utama. Formulator dapat menggunakan satu
pendekatan atau lebih untuk sampai pada penentuan
formula dan proses yang menghasilkan produk dengan
sifat organoleptik yang baik. Produk harus mempunyai
sifat aliran, kompresibilitas dan stabilitas yang dapat 206
diterima.

Pada umumnya, jika jumlah zat aktif dalam tablet sedikit dan
rasanya sedikit buruk maka formulasinya mudah. Sebaliknya jika
jumlah zat aktif besar dan rasanya buruk sangat sulit
diformulasikan menjadi tablet kunyah.
Faktor aliran, lubrikan, desintegran, kompresibilitas, kompatibilitas
dan sama halnya untuk tablet biasa. Sedangkan pertimbangan
organoleptik adalah sebagai berikut :
1. Rasa dan Penyedap
Secara fisiologis, rasa dalah respon panca indera sebagai hasil
angsangan kimiawi pada ujung rasa di lidah. Rasa asin/asam
diperoleh dari zat yang mampu terionisasi dalam larutan. Banyak zat
aktif organik merangsang respon pahit. Walaupun tidak mampu
terionisasi dalam air, kebanyakan disakarida, sakarida, aldehid dan
sedikit alkohol memberikan rasa manis. Istilah penyedap (flavor)
berkaitan dengan sensasi gabungan rasa dan bau.
2. Aroma
Misal tablet kunyah diberi aroma jeruk diformulasi baik rasa manis 207
dan sedikit asam.

B. TABLET KUNYAH

3. Raba mulut
Raba mulut adalah sentuhan yang dihasilkan tablet dalam mulut
ketika dikunyah. Raba mulut sangat penting dalam tablet kunyah.
Umumnya tekstur pasir atau bergetah tidak dikehendaki dalam
tablet. Sedangkan sensasi dingin dan sejuk dengan tekstur licin
seperti manitol, disukai.

B. TABLET
KUNYAH
4. Pasca efek

Pasca efek yang umum dari banyak senyawa adalah pasca rasa
(after taste) yaitu rasa yang timbul dalam mulut setelah tablet
hilang. Misalnya beberapa garam besi meninggalkan rasa karat,
sakarin memberikan rasa pahit dalam mulut.
Pasca efek umum yang lain adalah sensasi mati rasa sebagian dari
permukaan lidah, misalnya antihistamin seperti piribenzamin-HCl
menimbulkan rasa pahit kemudian mati rasa.
208

5. Pengkajian masalah formulasi


Bila memungkinkan, langkah pertama dalam formulasi tablet
kunyah adalah memperoleh profil lengkap dari zat aktif. Profil ini
biasanya menuntun keberhasilan paling efisien dari produk stabil
dan bermutu sebab zat aktif biasanya menetapkan pemilihan
senyawa pengisi, pembawa, pemanis, penyedap, dan lain-lain.

B. TABLET KUNYAH

209

Profil zat aktif secara ideal harus mengandung informasi berikut :

a. Sifat fisik : - warna, bau, rasa, pasca rasa, raba mulut, kristal,
serbuk, amorf/cairan, cairan berminyak;

- suhu mencair, melebur, sifat polimorfisa, lembab,


kelarutan dalam air, stabilitas zat aktif,
kompresibilitas.
b. Sifat kimiawi : - strukutur kimia dan golongan kimia;

- reaksi utama dari golongan kimia tersebut;

- tidak tersatukannya zat aktif.


c. Dosis zat aktif dan batas pada ukuran dosis akhir.
d. Informasi lain yang terkait.

B. TABLET KUNYAH

210

III. Teknik Formulasi


Masalah formulasi mencakup rasa yang dikehendaki atau rasa
yang buruk. Produk yang diinginkan harus dihindari dari rasa yang
tidak enak dengan menambahkan flavor, pemanis, serta untuk
mendapatkan raba mulut yang enak dan kompresibilitas yang
dapat diterima. Beberapa teknik yang digunakan untuk mengatasi
masalah formulasi adalah sebagai berikut :
1. Menyalut dengan granulasi basah
2. Mikroenkapsulasi
3. Dispersi solida
4. Pertukaran ion
5. Pembentukan garam/turunannya
6. Penambahan asam amino dan hidrolisat protein
7. Kompleks inklusi
211
8. Kompleks molekular

B. TABLET KUNYAH

1. Menyalut dengan granulasi basah

Walaupun proses granulasi basah terutama


diperlukan untuk mudah mengalir dan dikempa
B. TABLET KUNYAH
pada zat halus di bawah kondisi tertentu,
metode granulasi basah dapat berguna dalam
penyalutan partikel zat aktif guna mengurangi
rasanya.

212

Contoh formulasi tablet kunyah vitamin C :

Zat

mg/tablet

Asam askorbat (berlebih 10%)

275

Ethocel 7 cp, 10% dalam


isopropanol

q.s.

NuTab

275

Sta-Rx-1500

50

Na-sakarin

Lake (FD&C)

q.s.

Penyedap

q.s.

Mg-stearat

B. TABLET KUNYAH

213

Pembuatan :

- Asam askorbat + Ethocel, keringkan semalam pada


suhu 50 C di oven, diayak dengan ayakan 16 mesh;

- Tambahkan NuTab + Sta-Rx-1500, kocok 15 menit;

- Tambahkan
campuran Na-sakarin, lake, penyedap,
B. TABLET
KUNYAH
dan Mg-stearat yang sebelumnya telah diayak;

- Campur kemudian dicetak.

Formula di atas menggunakan ethocel yang merupakan


polimer yang tidak larut dalam air, di mana vitamin C
disalut dengan cara granulasi basah. Tujuannya untuk
meningkatkan stabilitas dan mencegah terlalu asam. 214

Pada umumnya cara ini merupakan pendekatan yang


paling sederhana untuk menutupi rasa. Granulasi
basah tertentu dapat dilakukan tanpa penambahan
eksipien seperti laktosa, manitol, sorbitol, sukrosa, dan
lain-lain. Walaupun pendekatan ini serupa dengan
granulasi basah biasa, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan
yaitu :
B. TABLET
KUNYAH

1. Zat penggranulasi harus membentuk selaput pada


permukaan zat aktif;

2. Tidak mempunyai rasa dan bau yang tidak enak;

3. Tidak larut dalam saliva;

4. Tidak mempengaruhi disolusi zat aktif setelah


ditelan.

215

Idealnya pengisi rasa manis seperti gula perlu dimasukkan dalam


granulasi, disintegran baik dimasukkan dalam granulasi basah
untuk menjamin disolusi yang baik setelah granul itu dikunyah.
Prosedur tersebut merupakan prosedur konvensional. Saat ini
banyak digunakan metode suspensi udara. Dalam teknik tersebut,
partikel zat aktif yang akan disalut disuspensikan dalam aliran
udara panas yang terkendali kecepatan tinggi langsung melalui
lempeng perforasi dalam tabung salut. Partikel zat aktif melakukan
aliran putaran lewat penembak atomisasi zat penyalut dalam
larutan/suspensi. Setelah partikel basah, partikel tersebut
disingkirkan dari daerah semprotan dan dikeringkan dalam aliran
udara panas dan disalut ulang. Putaran tersebut dilanjutkan
sampai ketebalan salut yang diinginkan tercapai. Pengaliran
partikel zat aktif meningkatkan pemaparan luas permukaan guna
penyalutan dan pengeringan yang lebih efisien. Walaupun
perbaikan rasa dengan penyalutan menarik karena sederhana,
tetapi metode ini hanya cukup untuk zat aktif yang rasanya tidak
216
enak.

B. TABLET KUNYAH

2. Mikroenkapsulasi
Mikroenkapsulasi adalah suatu metode penyalutan partikel zat
aktif atau tetesan-tetesan cairan dengan polimer yang menyalut
rasa dan membentuk mikrokapsul dengan ukuran 5 5000 mm.
Mikroenkapsulasi dapat dibuat dengan berbagai metode, yaitu :

B. TABLET
a. MetodeKUNYAH
Pemisahan Koaservasi

b. Metode Suspensi Udara


c. Metode Semprot Beku

217

a. Metode Pemisahan Koaservasi


Metode koaservasi adalah metode pengendapan makromolekul
dari larutannya menjadi 2 lapisan cairan. Dalam metode ini ada 3
langkah yaitu :
i) Pembentukan tiga fasa kimia yang tidak bercampur yaitu fasa
pembawa air, fasa inti (zat aktif), dan fasa penyalut. Caranya : fasa
penyalut dilarutkan dalam fasa pembawa cair kemudian
ditambahkan zat aktif sehingga terjadi suspensi. Proses
pemisahan dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :
- menaikkan suhu;
- menambahkan cairan bahan pelarut yang bercampur baik
dengan fasa pembawa sehingga makromolekul mengendap;
- menambahkan garam;
- menambahkan polimer lain yang tidak tercampurkan
218
misalnya gelatin (ditambah gom arab).

B. TABLET KUNYAH

ii) Terbentuk campuran di mana makromolekul terdapat paling


banyak. Di sini mulai proses penyalutan (diaduk).

iii) Pengeringan partikel pada suhu rendah.


Untuk metode koaservasi, zat salut yang biasa digunakan adalah
CMC, selulosa asetat ftalat (CAP), etilselulosa, gelatin, polivinil
alkohol, gelatin-gom arab, shellac, dan beberapa malam
tergantung pada penggunaannya.

B. TABLET KUNYAH

219

b. Metode Suspensi Udara


Zat aktif disuspensikan dalam udara.

c. Metode Semprot Beku


B. TABLET
KUNYAH

Proses semprot beku adalah pendinginan zat yang


dicairkan jadi bentuk partikel halus selama
perjalanannya dari penembak semprotan dan wadah
penyemprotan pada suhu di bawah titik beku.
220

3. Dispersi solida

Zat aktif dengan rasa yang tidak enak dapat dicegah


dengan mengadsorpsikannya pada substrat yang
mampu mempertahankan tetap teradsorpsi dalam
B. TABLET
KUNYAH
mulut tetapi
setelah di saluran cerna zat aktif
dilepaskan. Contoh Dekstrometorfan dengan
menggunakan substrat Mg-trisilikat. Adsorbat sudah
tersedia di perdagangan dalam bentuk serbuk
termikronisasi yang mengandung zat aktif 10% b/b
(tinggal dicampur lalu dicetak).

221

Contoh formulasi Dispersi solida :

Zat

mg/tablet

Adsorbat DekstrometorfanHBr 10% (berlebih 2%)


B. TABLET KUNYAH
Benzokain
Flavor
Mg-stearat

76,5

Sorbitol (kristalin)

1301

2,5
10
10

222

Pembuatan :

- Sorbitol diayak 10 mesh

- Campur adsorbat, benzokain, flavor dengan dari


jumlah sorbitol yang diperlukan
B. TABLET
KUNYAH

- Tambahkan sisa sorbitol, aduk, lalu tambahkan Mgstearat. Aduk dan cetak sehingga diperoleh tablet
kunyah dengan kekerasan 6 kp.

223

Ada beberapa metode dalam pembuatan adsorbat :

a. Metode pelarut : zat aktif dilarutkan dalam pelarut


yang mudah menguap, tambahkan substrat (zat padat),
campur kemudian pelarutnya diuapkan lalu dihaluskan.
KUNYAH
B. TABLET
b. Metode
pencairan : zat aktif dan pembawa dilebur
bersama-sama dengan pemanasan pada suhu yang
cocok (tidak merusak zat aktif). Kemudian campuran
didinginkan secara cepat dan terjadi pemadatan
(dilakukan dalam penangas es). Kemudian padatan
tersebut diserbuk menjadi partikel yang diinginkan.

224

4. Pertukaran ion
Pertukaran ion adalah pertukaran reversibel dari ion-ion antara
fasa solida dan cairan dan tidak ada perubahan permanen dalam
struktur solida. Dalam hal ini, solida adalah zat penukar ion
sedangkan ionnya adalah zat aktif. Apabila digunakan sebagai
pembawa zat aktif, zat penukar ion menjadi suatu sarana untuk
mengikat zat aktif pada matriks polimer yang tidak larut dan dapat
secara aktif menutup rasa dan bau dari zat aktif yang diformulasi
menjadi tablet kunyah.
5. Pembentukan garam/turunannya
Dilakukan upaya modifikasi komposisi kimia zat aktif sehingga
senyawa itu kurang larut dalam saliva karena itu rangsangannya
kurang pada ujung rasa atau memodifikasi zat aktif menjadi tidak 225
berasa. Misalnya kloramfenikol menjadi kloramfenikol stearat.

B. TABLET KUNYAH

6. Penambahan asam amino dan hidrolisat


protein

Dengan menggabungkan asam-asam amino dan garamgaramnya atau campurannya akan mengurangi rasa
B. TABLET
pahit dariKUNYAH
penisilin. Asam amino yang umum digunakan
adalah sarkosin, alanin, taurin, asam glutamat, dan
glisin. Misalnya rasa ampisilin diperbaiki secara nyata
dengan menggranulasikannya dengan glisin, kemudian
ditambahkan amilum, lubrikan, glidan, penyedap,
pemanis lalu dicetak.

226

7. Kompleks inklusi
Pembentukan kompleks inklusi yaitu molekul zat aktif masuk ke
dalam lubang-lubang molekul zat pengompleks membentuk
kompleks stabil. Kompleks ini mampu menutup rasa pahit zat aktif
dengan menurunkan jumlah partikel zat aktif yang terpapar atau
mengurangi kelarutan zat aktif pada waktu dikunyah.
Gaya yang terlibat dalam kompleks inklusi adalah gaya Van der
Waals dan b-siklodekstrin (digunakan sebagai zat pengompleks
inklusi) merupakan molekul oligosakarida dari amilum, manis, dan
tidak toksik. Ada 3 metode utama dalam pembuatan siklodekstrin,
dua diantaranya adalah skala laboratorium sedangkan yang
lainnya adalah skala industri.

B. TABLET KUNYAH

227

Untuk skala laboratorium adalah sebagai berikut :


a. Siklodekstrin dilarutkan dalam air panas yang dicampur zat
aktif, kemudian didinginkan dan terjadi penghabluran dari
senyawa inklusi (pada pengeringan).
b. Zat aktif tidak larut air dilarutkan dalam pelarut organik yang
tidak bercampur dengan air, dikocok dengan siklodekstrin dalam
air yang pekat, akan terjadi senyawa terkristalisasi yang
mengendap, kristal dicuci untuk menghilangkan zat aktif yang
tidak membentuk kompleks, lalu dikeringkan.

B. TABLET KUNYAH

228

8. Kompleks molekular
Pembentukan kompleks molekular melibatkan
zat aktif dan molekul organik pengompleks, dan
kompleks
ini dapat menutup rasa yang pahit
B. TABLET
KUNYAH
atau bau yang tidak diinginkan. Metode ini
menurunkan kelarutan zat aktif dalam air.

229

IV. Eksipien

Proses granulasi basah, granulasi kering dan cetak


langsung pada tablet konvensional dapat juga diterapkan
pada tablet kunyah. Dalam hal ini, perlu diperhartikan kadar
lembab, kemungkinan
B. TABLET
KUNYAH kompatibel, aliran, kompresibilitas,
distribusi ukuran granul. Selain itu, hal yang perlu
diperhatikan adalah kemanisan, mampu kunyah, dan raba
mulut. Banyak eksipien yang umum digunakan dalam tablet
konvensional dapat juga digunakan dalam tablet kunyah.

230

B.

Beberapa eksipien untuk tablet kunyah yang umum


digunakan adalah sebagai berikut :
A. Flavoring (Penyedap)
1. Pemanis KUNYAH
TABLET
Pemanis alam dan pemanis buatan yang paling banyak
digunakan adalah :
Yang perlu diperhatikan status peraturan dalam negara.
2. Aroma
Misal aroma vanila, jeruk, strawberry, coklat, peppermint.

231

B. Pewarna

Pewarna yang digunakan dalam tablet kunyah


bertujuan untuk :
B. TABLET
- meningkatkan
daya tarik estetika
KUNYAH

- memberi identitas pada produk dan membuat


perbedaan antar produk

- menutup warna yang kurang menarik

- mengimbangi dan menyesuaikan penyedap yag


digunakan dalam formulasi

232

Ada dua bentuk pewarna yang digunakan :


1) Warna Celup
Adalah senyawa kimia yang menunjukkan pewarnaan apabila
dicelupkan dalam suatu larutan, biasanya mengandung 80-93%
murni.
Pewarna celup untuk tablet kunyah biasanya digunakan 0,010,03%. Pewarna celup yang digunakan pada metode granulasi
basah biasanya dilarutkan dalam cairan granulasi. Pelaksanaan
granulasi dan pengeringan untuk meminimalkan migrasi larutan
pewarna celup harus dibuat dalam besi tahan karat atau wadah
kaca untuk menghindari inkompatibilitas antara zat warna dan
wadah. Harus dilakukan penyaringan untuk menghilangkan
partikel yang tidak larut.

B. TABLET KUNYAH

233

Larutan pewarna celup dalam air dapat disimpan selama beberapa


jam dan jika lebih dari 24 jam perlu diawetkan dengan penambahan
suatu zat pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroba, misalnya
propilenglikol, asam fosforik, Na-benzoat, dan asam sitrat.
Selama penyimpanan, penggunaan dan proses pewarna celup harus
dilindungi terhadap :
- zat pengoksidasi terutama klorin dan hipoklorit;
- zat pereduksi terutama gula invert, beberapa penyedap, ion logam
(Al, Zn, Fe, dan Sn), asam askorbat;
- pH yang ekstrim, misalnya pH < 5, zat warna tidak tahan;
- mikroba terutama jamur dan bakteri;
- pemanasan dengan suhu yang tinggi dan waktu yang lama (jadi
pewarnaan harus diproses pada suhu rendah dan waktu singkat);
234
- pemaparan cahaya matahari langsung.

B. TABLET KUNYAH

2) Warna Lake
Pewarba lake tidak larut dan biasanya didispersikan. Oleh karena
itu yang sangat penting diperhatikan adalah ukuran partikel harus
halus. Umumnya makin kecil ukuran partikel, makin tinggi daya
pewarnaan lake karena bertambahnya luas permukaan.
Lake dibuat dengaan presipitasi dan mengadsorpsikan pewarna
celup pada substrat yang tidak larut air. Biasanya sebagai substrat
digunakan Alumina hidrat. Lake yang digunakan untuk tablet
kunyah cetak langsung : 0,1-0,3%. Stabilitas lake terhadap cahaya
dan panas lebih tinggi dibandingkan warna celup dan kompatibel
dengan banyak komponen yang digunakan dalam tablet kunyah.
Lake biasanya digunakan dalam pembuatan tablet kunyah dengan
metode cetak langsung.

B. TABLET KUNYAH

235

VII. Pembuatan
Empat aspek yang penting dalam pembuatan
tablet kunyah adalah :
1. sifat tersatukannya zat aktif dengan zat
B.
TABLET
KUNYAH

warna;
2. distribusi ukuran partikel;
3. kadar lembab yang memenuhi syarat;
4. sifat kekerasan tablet.

236

CONTOH TABLET KUNYAH


A. Antasida
B. Obat batuk/obat flu
C. Vitamin/Mineral/ Food Supplement

B. TABLET KUNYAH

237

A. Antasida
Kebanyakan sediaan padat antasida dibuat dalam bentuk tablet
kunyah. Formulasi antasida sangat sulit mengingat sifat dan
jumlah zat aktif. Umumnya zat aktif terdiri dari logam, astringent,
berasa seperti kapur atau berasa pasir dan kombinasi ini
menyebabkan rasa yang tidak enak saat dikunyah. Antasida yang
umumnya digunakan dalam kombinasi dari 2 atau lebih untuk
menghasilkan efek terapeutik yang baik adalah sebagai berikut :
Alumunium hidroksida (80-600 mg), Ca-karbonat (194-850 mg), Mghidroksida/Mg-oksida (65-400 mg), Mg-trisilikat (20-500 mg), dan
lain-lain.
Sebagai tambahan digunakan zat lain seperti :simetikon
(dimetikon, dimetillpolisiloksan) dengan dosis 20-40 mg/tablet
sebagai antiflatulen; peppermint oil 3 mg/tablet digunakan
238
sebagai karminatif dan asam alginat 200-400 mg.

B. TABLET KUNYAH

Contoh formulasi Tablet kunyah antasida dengan


metode cetak langsung :

Zat

mg/tablet

Al(OH)3 dan Mg-karbonat

325

Di-Pac DTE

675

Avicel

75

Starch

30

Ca-stearat

22

Flavor

q.s.

B. TABLET KUNYAH

Pembuatan : campur semua zat, cetak. Tablet kunyah yang


diharapkan mempunyai kekerasan 8-11 SCA unit.

239

B. Obat batuk/obat flu

Formulasi biasanya untuk anak-anak. Umumnya dosis


kurang dari atau sama dengan dosis dewasa. Obat
yang umum adalah aspirin, asetaminofen,
klorfeniramin, pseudoefedrin, dan dekstrometorfan.
B. TABLET
KUNYAH
Sifat umum
yang diperoleh dari zat aktif tersebut
adalah rasa tidak enak, misalnya aspirin berasa asam
sedangkan yang lain pahit.

Semua zat aktif yang telah disebutkan mempunyai sifat


kompresibilitas yang cukup baik, kecuali
asetaminofen. Jadi untuk asetaminofen dipilih metode
granulasi basah sedangkan zat aktif lain digunakan
240
metode cetak langsung.

Contoh formulasi Tablet kunyah Asetaminofen : metode granulasi basah:

Zat

mg/tablet

Asetaminofen

120

Manitol

720

Na-sakarin

B. TABLET KUNYAH

Larutan pengikat

21,6 (Mengandung 5,4 mg gom arab dan 16,2 mg gelatin)

Peppermint oil

0,5

Syloid 244

0,5

Banana,
Permaseal F-4932
2 zat, cetak. Tablet kunyah yang

Pembuatan
: campur semua
Anise, Permaseal
F-2837
2
diharapkan
mempunyai kekerasan
8-11 SCA unit.
NaCl (serbuk)

Mg-stearat

27,5

241

Pembuatan :
- Siapkan larutan pengikat yang terdiri dari gom arab (serbuk)
15 g, gelatin (granul) 45 g, dan air ad 400 ml
- Ayak manitol dan Na sakarin dengan ayakan 40 mesh
- Campur dengan Asetaminofen. Tambahkan 180 ml larutan
pengikat untuk 1000 tablet
- Granulasi dan keringkan 1 malam pada 140-150 F. Ayak dengan
ayakan 12 mesh
- Adsorpsikan peppermint oil pada syloid 244 dan campur
dengan flavor dan NaCl
- Campur granul kering dengan flavor lalu tambahkan Mg stearat
- Cetak tablet dengan kekerasan 12-15 kp
Catatan : pengikat gom arab-gelatin menghasilkan tablet dengan
kekerasan yang tinggi. Larutan pengikat harus dibuat segar untuk
242
menghindari pertumbuhan mikroba.

B. TABLET KUNYAH

Contoh formulasi Tablet kunyah Aspirin untuk anak-anak :

Zat

mg/tablet

AlOH (dried gel)

13

Aspirin

81

TalkTABLET KUNYAH
B.

Primogel

NuTab

93,4

Mafco Magna Sweet

0,6

Flavor Jeruk

2
243

Pembuatan :
- Kocok NuTab dan AlOH, tambahkan aspirin dan
kocok (1)

- Campur primogel, talk, flavor, dan Magna Sweet dan


B. TABLET
KUNYAH
ayak 16 mesh
(2)

- Tambahkan (2) ke (1), kocok dan cetak

Kombinasi NuTab dan Magna Sweet sebagai pemanis


untuk mengurangi rasa asam dari aspirin, begitu juga
dengan flavor jeruk. Dalam keadaan kering, tidak ada
reaksi inkompatibilitas antara aspirin dengan basa
244
AlOH.

C. Vitamin/Mineral/ Food Supplement

Vitamin dan mineral mempunyai rasa yang tidak enak seperti


asam, pahit, asin, rasa sabun, hambar atau rasa seperti logam.
Beberapa cara untuk menutup rasa tersebut :
1. Rasa asam ditekan dengan cara :
2. Ferro fumarat dan ferri pirofosfat terasa hambar. Untuk itu
dilakukan proses penyalutan dengan monogliserida atau
digliserida dari asam lemak tersaturasi dengan teknik beku
semprot
3. Rasa pahit seperti vitamin B kompleks disalut (salut tunggal)
dengan monogliserida atau digliserida
4. Vitamin A dan D dalam bentuk bebas dilindungi dengan
matriks gelatin, gula atau starch dan pengawet
5. Vitamin E dalam serbuk kering teradsorpsi

B. TABLET KUNYAH

245

VIII. Evaluasi
Evaluasi tablet kunyah tidak diatur dalam FI IV. Beberapa parameter yang
dievaluasi di bawah sebagian besar mengacu pada evaluasi tablet
konvensional.
1. Evaluasi kimia
a. Penentuan Kadar
Metode analisis yang sesuai (kromatografi, titrimetri, spektrofotometri,
dan lain-lain) bisa digunakan untuk menentukan kadar zat aktif pada
sampel yang representatif (biasanya aliquot dari 20 tablet yang dipilih
acak yang dihaluskan). Jumlah kadar yang diperoleh dinyatakan dalam
persentase terhadap kadar obat di label. Nilai yang diperoleh harus
berada dalam batas-batas yang telah ditentukan untuk masing-masing zat
aktif.
b. Keseragaman Sediaan
Keragaman bobot tidak boleh melebihi 6% untuk tablet dengan kadar zat
aktif lebih dari 50 mg atau 50% terhadap obot seluruhnya.
Keseragaman kandungan perlu dilakukan jika kandungan zat aktif kurang
dari 50 mg.
246
Prosedur yang dilaksanakan sesuai dengan yang tercantum di FI IV.

B. TABLET KUNYAH

3. Evaluasi Fisik

a. Pemeriksaan Fisik meliputi pemeriksaan terhadap


adanya capping atau rengat dan parameter penampilan
lainnya.

b. Kekerasan ambil 10 20 tablet secara acak,


tetapkan kekerasan.
B. TABLET
KUNYAH

c. Friabilitas 20 tablet digerus, ambil 6 gram,


masukkan ke dalam friabilator selama 100 putaran,
kemudian timbang bobot yang hilang. Nilai friabilitas
tidak melebihi 4%.

d. Waktu hancur

e. Disolusi
247

f. Rasa

4. Uji Stabilitas

Stabilitas dipercepat dengan suhu tertentu

Stabilitas dalam kondisi nyata

Pemeriksaan stabilitas meliputi :

- Pada waktu tertentu, tentukan kadar zat aktif


B.
TABLET
KUNYAH

- Periksa terhadap adanya perubahan fisik (totoltotol pada tablet, migrasi zat warna, kristalisasi zat aktif
pada permukaan tablet, ada bau)

- Periksa perubahan kekerasan, friabilitas,


kecepatan disolusi, waktu hancur

- Periksa stabilitas rasa

248

mohammad Zaky, S.Si, Apt


pharmacist

TERIMA
KASIH
249

mohammad Zaky, S.Si, Apt


pharmacist

TERIMA
KASIH
250

mohammad Zaky, S.Si, Apt


pharmacist

TERIMA
TERIMA
KASIH
KASIH

251