Anda di halaman 1dari 70

A S P EK P ER LIN D U N G A N H U K U M B A G I B ID A N D I K O M U N ITA S

A.DEFINISI
Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) adalah rumusan tentang penampilan atau nilai
diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan
yaitu standar pelayanan kebidanan yang menjadi tanggung jawab profesi bidan dalam
sistem pelayanan yang bertujuan untuk meningkatan kesehatan ibu dan anak dalam
rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 2001: 53).
B.STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN
Standar I : Falsafah dan Tujuan
Pengelolaan pelayanan kebidanan memiliki visi, misi, filosofi dan tujuan
pelayanan serta organisasi pelayanan sebagai dasar untuk melaksanakan tugas
pelayanan yang efektif dan efisien.

Standar II :Administrasi dan Pengelolaan


Pengelolaan pelayanan kebidanan memiliki
pedoman pengelolaan pelayanan, standar pelayanan,
prosedur tetap dan pelaksanaan kegiatan pengelolaan
pelayanan yang kondusif yang memungkinkan
terjadinya praktek pelayanan kebidanan akurat.
Standar III : Staf dan Pimpinan

Pengelolaan pelayanan kebidanan mempunyai

program pengelolaan Sumber Daya Manusia, agar


pelayanan kebidanan berjalan efektif dan efisien.

SumberIV:FasilitasdanPeralatan
Tersediasaranadanperalatanuntukmendukungpencapaiantujuanpelayanankebidanansesuaidengantugasnyadanfungsinstiusipelayanan.

StandarV:KebijaksanaandanProsedur
Pengelolapelayanankebidananmemilkikebijakandalampenyelenggaraanpelayanandanpembinaanpersonilmenujupelayananyangberkualitas.
StandarVI:PengembanganStafdanProgramPendidikan
Pengelolapelayanankebidananmemilkiprogrampengembanganstafdanperencanaanpendidikan,sesuaidengankebutuhanpelayanan.

StandarVII:StandarAsuhan

Pengelolapelayanankebidananmemilikistandarasuhan/manajemenkebidananyangditerapkansebagaipedomandalammemberikanpelayanankepadapasien.
StandarVIII:EvaluasidanPengendalianmutu
Pengelolapelayanankebidananmemilikiprogramdanpelaksanaandalamevaluasidanpengendalianmutupelayanankebidananyangdilaksanakansecaraberkesinambungan.

C .K ode Etik
a. Definisi Kode Etik
Kode etik merupakan suatu cirri profesi yang
bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu
disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif
suatu profesi yang memberikan tuntutan bagi anggota
dalam melaksanakan pengabdian profesi.

b.

Kode Etik Bidan

Kode etik bidan Indonesia pertama kali disusun pada


tahun 1986 dan disahkan dalam Kongres nasional Ikatan
Bidan Indonesia X tahun 1988, sedangkan petunjuk
pelaksanaannya disahkan dalam rapat kerja nasional. IBI
tahun 1991, kemudian disempurnakan dan disahkan pada
kongres nasional IBI ke XII tahun 1989.Sebagai
pedoman dalam berperilaku, kode etik bidan Indonesia
mengandung beberapa kekuatan yang semuanya tertuang
dalam mukadimah dan tujuan dan BAB.

c.Tujuan Kode Etik


Pada dasarnya tujuan menciptakan atau merumuskan
kode etik suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota
dan kepentingan organisasi.
Secara umum tujuan menciptakan kode etik adalah
sebagai berikut:
1. Untuk menjunjung tinggi martabat dan citra
profesi
2. Untuk menjaga dan memelihara
kesejahteraan para anggota
3. Untuk meningkatkan pengabdian
para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.

Secara umum kode etik tersebut berisi 7 BAB. Ke 7


BAB dapat dibedakan atas 7 bagian yaitu :
a. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat.
b. Kewajiban bidan terhadap tugasnya.
c. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga
kesehatan lainnya.
d. Kewajiban bidan terhadap profesinya
e. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri,
f. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, bangsa dan
tanah air.
g. Penutup

Beberapa kewajiban bidan yang diatur dalam


pengabdian profesinya adalah :
a. Kewajiban terhadap klien dan masyarakat
b. Kewajiban terhadap tugasnya
c. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga
kesehatan lainnya.
d. Kewajiban bidan terhadap profesinya.
e. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri.
f. Kewajiban bidan terhadap pemerintah nusa, bangsa
dan tanah air.
g. Penutup

D .Standar A suhan
K ebidanan
Standar asuhan kebidanan dapat dilihat dari ruang
lingkup standar pelayanan kebidanan yang meliputi 25
standar dan dikelompokkan sebagai berikut :
1. Standar pelayanan umum.
2.
3.
4.
5.

Standar pelayanan antenatal


Standar pertolongan persalinan.
Standar pelayanan nifas
Standar penanganan kegawatdarurat obstetric neonatal.

1.Standar P elayanan
U m um
Standar 1 : Persiapan untuk kehidupan keluarga
sehat.
Pernyataan standar :
Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada
perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segala hal
yang berkaitan dengan kahamilan, termasuk penyuluhan
kesehatan umum, gizi, keluarga berencana, kesiapan
dalam menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang
tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik dan
mendukung kebiasaan yang baik.

Standar 2 : Pencatatan dan Pelaporan


Pernyataan Standar :
Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang
dilakukannya, yaitu registrasi semua itu hamil diwilayah
kerja, rincian pelayanan yang diberikan kepada setiap ibu
hamil/bersalin/nifas dan bayi baru lahir, smeua kunjungan
rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Disamping
itu, bidan hendaknya mengikutsertakan kader untuk
mencatat ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang
berkaitan dengan ibu dan bayi baru lahir.

2.Standar Pelayana A ntenatal

Standar 3 :IdentifikasiIbu H am il
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi
dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan
penyuluhan dan motifasi ibu, suami dan anggota
keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan
kehamilannya sejak dini dan secara teratur.
Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal
Standar Pelayanan :
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan
antenatal dan pemantauan ibu dan janin seksama untuk
menilai apakah perkembangan berlangsung normal.
Bidan juga harus mengenal kehamilan resti atau kelainan,
khususnya anemia, kurang gizi, hypertensi, PMS/infeksi

Standar 5 : Palpasi abdomen


Pernyataan standar :
Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara
seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan
usia kehamilan, serta bila umur kehamilan bertambah,
memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya
kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari
kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.

Standar 6 : Pengelolaan anemia pada kehamilan


Pernyataan standar :
Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan,
penanganan, dan atau rujukan semua kasus anemia pada
kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Standar 7 : Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan


Pernyataan standar :
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan
tekanan arah pada kehamilan dan mengenali tanda serta
gejala pre eklampsi lainnya serta mengambil tindakan
yang tepat dan merujuknya.
Standar 8 : Persiapan persalinan
Pernyataan standar :
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil,
suami serta keluarganya pada trisemester ke 3, untuk
memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan
aman serta suasana yang menyenangkan akan
direncanakan dengan baik, disamping persiapan
transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi
keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan

3. Standar Pertolongan Persalinan


Standar 9 : Asuhan saat persalinan
Pernyataan standar :
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah
dimulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan
yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien,
selama proses persalinan berlangsung.
Standar 10 : Persalinan yang aman
Pernyataan standar :
Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman,
dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta
memperhatikan tradisi setempat.

Standar 11 : Pengeluaran plasenta dan peregangan tali


pusat
Pernyatan standar :
Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar
untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput
ketuban secara lengkap.
Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin
melalui episiotomi
Standar pelayanan :
Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin
pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi
dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti
dengan penjahitan perineum.

4. Standar Pelayanan Nifas


Standar 13 : Perawatan bayi baru lahir
Pernyataan standar :
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk
memastikan pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder,
menentukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk
sesuai dengan kebutuhan.Bidan juga harus mencegah atau
meangani hipotermia.
Standar 14 : Penanganan pada 2 jam pertama setelah
persalinan
Pernyataan standar :
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap
terjadinya komplikasi dalam 2 jam setelah persalinan, serta
melakukan tindakan yang diperlukan.

Standar 15 : Pelayan bagi ibu dan bayi pada masa nifas


Pernyataan standar :
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas
melalui kunjungan rumah pada hari ke minggu ke 2 dan
minggu ke 6 setelah persalinan, untuk membantu proses
pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat
yang benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan
komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,
kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi
baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

5. Standar Penanganan Kegawatan Obstetri dan


Neonatal
Standar 16 : Penanganan perdarahan pada kehamilan
Pernyatan standar :
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala
perdarahan pada kehamilan, serta melakukan pertolongan
pertama dan merujuknya.
Standar 17 : Penanganan kegawatan pada eklampsi
Pernyataan standar :
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala
eklampsi yang mengancam, serta merujuk dan atau
memberikan pertolongan pertama.

Standar 18 : Penanganan kegawatan pada partus lama


atau macet
Pernyataan standar :
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus
lama / macet serta melakukan penangan yang memadai
dan tepat waktu atau merujukny
Standar 19 : Persalinan dengan forcep rendah
Pernyataan standar :
Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi forcep
rendah, menggunakan forcep secara benar dan menolong
persalinan secara aman bagi ibu dan bayinya.

Standar 20 : Persalinan dengan penggunaan vakum


ekstraktor
Pernyatan standar :
Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum,
melakukannya secara benar dalam memberikan
pertolongan persalinan dengan memastikan keamanannya
bagi ibu dan janin / bayinya.

Standar 21 : Penanganan retensio plasenta


Pernyataan standar :
Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan
memberikan pertolongan pertama, termasuk plasenta
manual dan penanganan perdarahan, sesuai kebutuhan

Standar 22 : Penanganan perdarahan post partum


primer
Pernyatan standar :
Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan
dalam 24 jam pertama setelah persalinan (perdarahan post
partum primer) dan segera melakukan pertolongan
pertama untuk mengendalikan perdarahan.
Standar 23 : Penanganan perdarahan post partum
sekunder :
Pernyataan standar :
Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda
serta gejala perdarahan post partum sekunder, dan
melakukan pertolongan pertama untuk menyelematkan
jiwa ibu dan atau merujuknya.

Standar 24 : Penangan sepsi puerperalis


Pernyataan standar :
Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan
gejala sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan
pertama atau merujuknya.
Standar 25 : Penanganan Asfiksia
Pernyataan standar :
Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir
dengan asfiksia, serta melakukan resusitasi secepatnya,
mengusahakan bantuan medis yang diperlukan dan
memberi perawatan lanjutan.

E. Registrasi Praktik Bidan


PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010
TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN
PRAKTIK BIDAN

Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
1.Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai ketentuan peraturan
perundangan-undangan.
2.Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif, yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat.
3.Surat Tanda Registrasi, selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga
kesehatan yang diregistrasi setelah memiliki sertifikat kompetensi.
4.Surat Izin Kerja Bidan, selanjutnya disingkat SIKB adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang sudah memenuhi
persyaratan untuk bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
5.Surat Izin Praktik Bidan, selanjutnya disingkat SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang sudah
memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik bidan mandiri.
6.Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi yang meliputi standar
pelayanan, standar profesi, dan standar operasional prosedur.
7.Praktik mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.
8.Organisasi profesi adalah Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

PERIZINAN
Pasal 2
(1)Bidan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau
bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
(2)Bidan yang menjalankan praktik mandiri harus
berpendidikan minimal Diploma III (D III) Kebidanan.
Pasal 3
(1)Setiap bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan
kesehatan wajib memiliki SIKB.
(2)Setiap bidan yang menjalankan praktik mandiri wajib
memiliki SIPB.
(3)SIKB atau SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) berlaku untuk 1 (satu) tempat.

Pasal 4
(1)Untuk memperoleh SIKB/SIPB sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3, Bidan harus mengajukan
permohonan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota
dengan melampirkan:
a.fotocopy STR yang masih berlaku dan dilegalisasi;
b.surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki
Surat Izin Praktik;
c.surat pernyataan memiliki tempat kerja di fasilitas
pelayanan kesehatan atau tempat praktik;
d.pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 3
(tiga) lembar;
e.rekomendasi dari kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk; dan

F. Kewenangan Bidan Komunitas

Wewenang bidan dalam memberikan pelayanan di


komunitas yaitu :
1. Meliputi kepada wanita
Meliputi pada masa pra nikah termasuk remaja
putri, pra hamil, kehamilan, persalinan, nifas dan
menyusui.
2. Pelayanan kesehatan pada anak yaitu pada masa
bayi, balita dan anak pra sekolah, meliputi :
a. Pemberian obat yang bersifat sementara pada
penyakit ringan.
b. Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir.
c. Penyuluhan kepada ibu tentang pemberian
ASI eksklusif

A. Pengertian Asuhan Antenatal


Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses
pengambilan keputusan atau tindakan yang dilakukan
oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup
praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan
( Depkes,2005)
B. Tujuan Asuhan Antenatal
1. Tujuan Umum
Memelihara dan meningkatkan kesehatan ibu dan janin
yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga kehamilan dapat
berjalan secara normal dan bayi dapat lahir dengan sehat (
Yuilifah,2012 )

2. Tujuan Khusus
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan
kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan bayi.
b. Mendeteksi adanya
C. Standar Pelayanan Antenatal
Terdapat 6 standar dalam standart pelayanan antenatal
seperti berikut ini ( Depkes RI,2002) :
1. Standart 3 : identifikasi ibu hamil
2. Standart 4 : pemeriksaan dan pemantauan antenatal
3. Standart 5 : palpasi abdominal
4. Standar 6 : pengelolaan anemi pada kehamilan
5. Standar 7 : pengelolaan dini hipertensi pada
kehamilan.
6. Standar 8 : persiapan persalinan

E.
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Standar Alat Antenatal


Peralatan tidak steril
Timbangan BB dan pengukur TB
Tensi meter dan stetoskop
Funandoskop
Thermometer dan alat pengukur
Senter
Reflek hammer
Pita pengukur LILA
Metline
Pengukur HB
Bengkok
Handuk kering
Tabung urine

m.
n.
o.
2.
a.
b.
c.
d.
3.
a.
b.
c.
d.
e.

Lampu spiritus
Reagen untuk pemeriksaan urine
Tempat sampah
Peralatan steril
Bak instrument
Spatel lidah
Sarung tangan
Spuit dan jarum
Bahan-bahan habis pakai
Kassa bersih
Kapas
Alkohol 70%
Larutan klorin
Formulir yang disediakan

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
4.
a.
b.
c.
d.

Buku KIA
Kartu status
Formulir rujukan
Buku register
ATK
Kartu penapisan dini
Kohort ibu/bayi
Obat-obatan
Golongan roborantia (vit B6 dan B kompleks)
Vaksin TT
Kapsul yodium
Obat KB

F. Manajemen Asuhan Antenatal


Manajemen asuhan antenatal di komunitas
merupakan langkah-langkah alamiah sistematis yang
dilakukan bidan, dengan tujun untuk mempersiapkan
kehamilan dan persalinan yang sehat berdasarkan standar
yang berlaku. Dalam manajemen asuahan antenatal di
komunitas, bidan harus melakukan kerja sama dengan
ibu, keluarga, dan masyarakat megenai persiapan recana
kelahiran, penolong persalinan, tempat bersalinan, tabung
untuk bersalinan, dan mempersiapkan recana apabila
terjadi komplikasi

Upaya yang harus dilakukan bidan untuk mengatasi


kendala-kendala tersebut adalah dengan ( Retna
dkk,2008):
1. Melakukan kunjungan rumah
2. Berusaha memperoleh informasi mengenai alasan ibu
tidak melakukan pemeriksaan.
3. Apabila ada masalah, coba untuk membuat ibu dalam
mencari pemencahannya.
4. Menjelaskan pentingnya pemeriksaan kehamilan.
a. Kunjungan Rumah.
1) Kunjungan rumah yang minimal dilakukan selama
antenatal care.
a) Satu kali kunjungan selama trimester I, sebelum
minggu ke -14.

b) Satu kali kunjungan selama trimester II, diantara


trimester ke-14 sampai minggu ke -28.
c) Dua kali kunjungan selama trimester III, antara
minggu ke-28 sampai minggu ke-36 dan setelah minggu
ke-36.
2) Kunjungan ideal selama kehamilan.
a) Pertama dilakukan sedini mungkin ketika ibu
mengatakan terlambat haid 1 bulan.
b) Satu kali setiap bulan sampai usia kehamilan 7 bulan.
c) Dua kali setiap bulan sampai usia kehamilan 8 bulan.
d) Satu kali setiap minggu samapai usia kehamilan 9
bulan.
e) Pemeriksaan khusus apabila ada keluhan
b. Pelaksanaan Asuhan Antenatal di Rumah

Bidan dapat melakukan beberapa hal berikut dalam


memberikan asuhan antenatal di rumah :
1) Bidan harus mempunyai data ibu hamil diwilayah
kerjanya.
2) Bidan melakukan identifikasi apakah ibu hamil
melakukan pemeriksaan kehamilan dengan teratur.
3) Bidan harus melakukan ANC di rumah, apabila ibu
hamil tidak merasakan kehamilannya.

ASUHAN INTRANATAL PADA KEBIDANAN


KOMUNITAS
1.Standar pelayanan kebidanan
a. Asuhan saat persalinan
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai,
kemudianmemberikan asuhan dan pemantauan yang
memadahi, denganmemperhatikan kebutuhan klien,
selama proses persalinan berlangsung.
b. Persalinan yang aman
1) Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman
dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta
memperhatikan tradisi setempat.
2) Pengeluaran plasenta dengan penegangan tali pusat

3) Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar


untuk membantupengeluaran plasenta dan selaput
ketuban secara lengkap
4) Penanganan kala II dengan gawat janin melalui
episiotomi.
5) Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin
pada kala II yanglama, dan segera melakukan episiotomi
dengan aman untuk memperlancarpersalinan, diikuti
dengan penjahitan perineum.
2. Persiapan
a. Persiapan Bidan
Persiapan bidandalam memberikan asuhan intranatal
di komunitas adalah harus mempersiapkandiri sebaikbaiknya terutama dari segi kompetensi,

sehingga dapat memberikanpelayanan persalinan yang


bersih dan aman serta tahu saat yang dapat untuk merujuk
kasus-kasus kegawatdaaruratan. Dengan demikian bisa
menyelamatkanibu dan bayi dan dapat menurunkan AKI.
Persiapan bidan meliputi:
Menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai,
kemudianmemberikan asuhan dan pemantauan yang
memadai denganmemperhatikan kebutuhan ibu selama
proses persalinan.
Mempersiapkan ruangan yang hangat dan bersih serta
nyaman untuk persalinan dan kelahiran bayi.

3. Persiapan rumah dan lingkungan


Apabila lokasi tempat tingggal ibu di daerah pegunungan
atau yang beriklim dingin, sebaiknya sediakan minimal 2
selimut, kain atau handuk yang kering dan bersih untuk
mengeringkan dan menjaga kehangatan tubuh bayi.
Pada intinya untuk persiapan Rumah dan lingkungan
dapat dibedakan menjadi berikut :
Situasi dan Kondisi
Situasi dan kondisi yang harus diketahui oleh keluarga,
yaitu :
a)Rumah cukup aman dan hangat
b)Tersedia ruangan untuk proses persalinan
c)Tersedia air mengalir

d)Terjamin kebersihannya
e)Tersedia sarana media komunikasi
Rumah
Tugas bidan adalah mengecek rumah sebelum usia
kehamilan 37 minggu dan syarat rumah diantaranya :
a)Ruangan sebaiknya cukup luas
b)Adanya penerangan yang cukup
c)Tempat nyaman
d)Tempat tidur yang layak untuk proses persalinan

4. Persiapan alat / bidan kit


Perlengkapan yang harus disiapkan oleh keluarga untuk
melakukan persalinan di rumah :
1. Persiapan untuk pertolongan persalinan
o Tensimeter
o Stetoskop
o Monoaural
o Jam yang mempunyai detik
o Termometer
o Partus set
o Heacting set
o Bahan habis pakai ( injeksi
oksitosin,lidokain,kapas,kasa,detol/lisol)
o Set kegawatdaruratan

o Bengkok
o Tempat sampah basah,kering dan tajam
o Alat alat proteksi diri
5. Persiapan ibu dan keluarga
Persalinan adalah saat yang menegangkan bahwa dapat
menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu.
Upaya untuk mengatasi gangguan emosional dan
pengalaman yang menegangkan dapat dilakukan dengan
asuhan
sayang ibu selama proses persalinan. Adapun persiapan
ibu dan keluargadiantaranya:
Waskom besar
o Tempat/ember untuk penyediaan air
o Kendil atau kwali untuk ari-ari

o Tempat untuk cuci tangan (air mengalir)


+sabun+handuk kering
o Satu kebaya (daster)f
o Dua kain panjang, satu untuk ibu dan satu untuk ditaruh
diatas alas plastik atau karet.
o BH menyusui
o Pembalut
o Satu handuk
o Sabun
o Dua waslap.
o Perlengkapan pakaian bayi
o Selimut bayi
o Kain halus atau lunak untuk mengeringkan dan
membungkus bayi

6.Manajemen Ibu Intranatal


1).Intranatal Di Rumah
1. Asuhan Persalinan Kala I
Bertujuan untuk memberikan pelayanan kebidanan yang
memadai dalam pertolongan persalinan yang bersih dan
aman.Bidan perlu mengingat konsep tentang konsep
sayang ibu, rujuk bila partograf melewati garis waspada
atau ada kejadian penting lainnya

2. Asuhan Persalinan Kala II


Bertujuan memastikan proses persalinan aman, baik
untuk ibu maupun bayi.Bidan dapat mengambil
keputusan sesegera mungkin apabila diperlukan
rujukan.Tugas yang harus dilakukan bidan dalam asuhan
kala II adalah sebagai berikut :
Melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan
aman;
Menghargai hak ibu secara pribadi;
Menghargai tradisi setempat;
Mengizinkan ibu untuk memilih pendamping
persalianan;

3. Asuhan Persalinan Kala III


Bidan sebagai tenaga penolong harus terlatih dan terampil
dalam melakukan manajemen aktif kala III..
Asuhan persalinan pada kala III merupakan hal penting,
mengingat salah satu penyebab kematian ibu adalah
perdarahan. Oleh karena itu, dalam asuhan kala III ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu bidan sebagai
penolong persalinan harus terlatih dan terampil
melakukan manajemen aktif kala III, tersedianya
peralatan dan perlengkapan manajemen aktif kala III dan
pencegahan infeksi, tersedianya obat-obatan dan metode
efektif untuk penyimpanan , serta sistem rujukan untuk
kegawatdaruratan obstetri yang efektif.

4. Asuhan Persalinan Kala IV


Asuhan persalinan yang mencakup pada
pengawasan satu sampai dua jam setelah plasenta
lahir.Pengawasan/observasi ketat dilakukan pada hal-hal
yang menjadi perhatian pada asuhan persalinan kala IV.
Pada kala ini tidak menutup kemungkinan terjadi
perdarahan dan atonia uteri. Kehilangan darah biasanya
terjadi karena pelepasan plasenta dan robekan serviks dan
perinium.. jumlah darah yang keluar harus diukur (1
bengkok = 500 cc), apabila jumlah perdarahan lebih
dari 500 cc harus dicari penyebabnya.
Hal-hal yang herus diperhatikan pada asuhan persalinan
kala IV adalah sebagai berikut :
Kontraksi uterus

Perdarahan
Kandung kemih
Adanya luka
Keadaan plasenta dan selaputnya harus lengkap

Asuhan Kebidanan Ibu Postpartum Di Rumah


Asuhan ibu postpartum adalah suatu bentuk manajemen
kesehatan yang dilakukan pada ibu nifas dimasyarakat.
Pemberian asuhan secara menyeluruh, tidak hanya
kepada ibu nifas, akan tetapi pemberian asuhan
melibatkan seluruh keluarga dan anggota masyarakat
disekitaranya
A.Jadwal Kunjungan Di Rumah
Ibu nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali
kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan
ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi
dan menangani masalahmasalah yang terjadi.

1. Perencanaan Kunjungan Rumah


a. Merencanakan kunjungan rumah dalam waktu tidak
lebih dari 24-48 jam setelah kepulangan klien ke rumah
b. Pastikan keluarga telah mengetahui rencana mengenai
kunjungan rumah dan waktu kunjungan bidan ke rumah
telah direncanakan bersama anggota keluarga.
c. Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan
2. Keamanan merupakan hal yang harus dipikirkan oleh
bidan.
Tindakan kewaspadaan ini dapat meliputi:
a. Mengetahui dengan jelas alamat yang lengkap arah
rumah klien
b. Gambar rute alamat klien dengan peta sebelum
berangkat perhatikan keadaan disekitar lingkungan rumah

Jadwal kunjungan rumah paling sedikit dilakukan 4x,


yaitu diantaranya :
1. Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)
Kunjungan pertama dilakukan setelah 6-8 jam setelah
persalinan, jika memang ibu melahirkan dirumahnya.
2. Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)
Kunjungan kedua dilakukan setelah enam hari pasca salin
dimana ibu sudah bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari
seperti sedia kala.
Tujuan dari dilakukannya kunjungan yang kedua yaitu :
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus
berkontraksi, fundus dibawah umbikalis, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.

b. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak


memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
c. Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh
asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat,
dan merawat bayi sehari-hari
3. Kunjungan 3 ( 2-4 minggu setelah persalinan)
Kunjungan ke tiga dilakukan setelah 2 minggu pasca
dimana untuk teknis pemeriksaannya sama persis dengan
pemeriksaan pada kunjungan yang kedua. Untuk lebih
jelasnya tujuan daripada kunjungan yang ketiga yaitu :
a. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal (Ambarwati, 2010).
b. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan
dan istirahat

4. Kunjungan 4 (4-6 minggu setelah persalinan)


Untuk kunjungan yang ke empat lebih difokuskan pada
penyulit dan juga keadaan laktasinya. Lebih jelasnya
tujuan dari kunjungan ke empat yaitu :
a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang
ia atau ibu hadapi
b. Tali pusat harus tetap kencang
c. Perhatikan kondisi umum bayi (Ambarwati, 2009: 88).

Manajemen ibu postpartum antara lain :


1. Pengkajian/ Pengumpulan data
Didasarkan pada data subjektif daan juga Objektif. Data
subjektif yaitu data yang didapatkan langsung daari
pasien atau Pasien atau keluarganya langsung yang
berbicara. Sedangkan data Objektif adalah data yang
dihasilkan dari hasil pemeriksaan bidan atau tenaga
kesehatan.
a. Melakukan pengkajian dgn mengumpulkan semua data
yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan ibu.
b. Melakukan pemeriksaan awal post partum.
c. Meninjau catatan/ record pasien, seperti :
1) Catatan perkembangan antepartum dan intra partum
2) Berapa lama (jam/ hari) pasien post partum

4) Pemeriksaan laboratorium & laporan pemeriksaan


tambahan
5) Catatan obat-obat
6) Catatan bidan/ perawat
d. Menanyakan riwayat kesehatan & keluhan ibu,seperti :
1) Mobilisasi
2) BAK dan BAB
3) Keadaan Nafsu makan
4) Ketidaknyamana/ rasa sakit
5) Kekhawatiran
6) Makanan bayi
7) Reaksi pada bayi
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi :


a. Tekanan Darah, Suhu, nadi
b. Kepala, wajah, mulut dan Tenggorokan, jika
diperlukan
c. Payudara & putting susu
d. Auskultasi paru2, jika diperlukan
e. Abdomen yang di lihat adalah kandung kencing,
keadaan uterus (perkembangannya)
f. Lochea yang dilihat adalah warna, jumlah dan bau
g. Perineum : edema, inflamasi, hematoma, pus, bekas
luka episiotomi/robek, jahitan, memar,hemorrhoid
(wasir/ambeien

POST PARTUM GROUP


Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu post partum di
komunitas salah satunya adalah dalam bentuk kelompok.
Ibu post partum dikelompokkan dengan
mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu post
partum dengan ibu post partum lainnya .
Kegiatan dapat dilaksanakan di salah satu rumah ibu post
partum/ posyandu dan polindes. Kegiatannya dapat
berupa penyuluhan dan konseling.tentang :
1. Kebersihan diri
2. Istirahat
3. Gizi

a. Nasi 200 gram (1 piring sedang)


b. Lauk 1 potong sedang
c. Tahu/tempe 1 potong sedang
d. Sayuran 1 mangkuk sedang
e. Buah1 potong sedang
f. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
g. Makanan dengan diet berimbang: protein, mineral,
vitamin yang cukup
4. Menyusui
a. Nasi 200 gram (1 piring sedang)
b. Lauk 1 potong sedang
c. Tahu/tempe 1 potong sedang

5. Lochea
Pembagian lochea antara lain:
a. Lochea rubra (1-3 hari postpartum) : warna merah
segar dan berisi gumpalan darah, sisa selaput ketuban,
sisa vernik, lanugo.
b. Lochea sanguolenta (3-7 hari postpartum) : berwarna
merah kekuningan, berisi darah dan vernik kaseosa.
c. Lochea serosa (7-14 hari postpartum) : Berwarna
kekuning-kuningan, berisi serum
d. Lochea alba ( 14-40 hari post partum) : berwarna putih

6. Involusi uterus
7. Senggama
8. Keluarga berencana

Jadwal kunjungan neonatus atau bayi baru lahir antara


lain:
1. Kunjungan I
Dilakukan pada 6 jam pertama setelah persalinan.
a. Menjaga agar bayi tetap hangat dan kering. Menilai
penampilan bayi secara umum yaitu bagaimana
penampakan bayi secara keseluruhan dan bagaimana ia
bersuara yang dapat menggambarkan keadaan
kesehatannya.
b. Tanda-tanda pernapasan, denyut jantung dan suhu
badan penting untuk diawasi selama 6 jam pertama.
c. Menjaga tali pusat agar tetap bersih dan kering.
d. Pemberian ASI awal.

2. Kunjungan II
Pada hari ke-3 setelah persalinan
a. Menanyakan pada ibu mengenai keadaan bayi
b. Menanyakan bagaimana bayi menyusui.
c. Memeriksa apakah bayi terlihat kuning (ikterus)
d. Memeriksa apakah ada nanah pada pusat bayi dan
apakah baunya busuk
3. Kunjungan III
Pada minggu ke-2 setelah persalinan
a. Tali pusat biasanya sudah lepas pada kunjungan 2
minggu pasca salin
b. Memastikan apakah bayi mendapatkan ASI yang
cukup
c. Bayi harus mendapatkan imunisasi

Manajemen pada Bayi Baru Lahir dan Neonatus


1. Pengkajian segera BBL
a. Pemeriksaan awal
1) Nilai kondisi bayi
2) Apakah bayi menangis kuat/bernapas tanpa
kesulitan ?
3) Apakah bayi bergerak aktif/lemas ?
4) Apakah warna merah muda,pucat/biru ?
5) APGAR Score Merupakan alat untuk peagkajian
bayi setelah lahir meliputi 5 variabel yaitu pernapasan,
frekuensi jantung, warna kulit, tonus otot, reflek . Apgar
score ditemukan oleh virginia apgar (1950).

b.Pemeriksaan lengkap beberapa jam kemudian


Semua bayi harus diperiksa lengkap beberapa jam
kemudian, setelah membiarkan bayi beberapa waktu
untuk pulih karena kelahiran. Bayi secara keseluruhan.
Bayi normal berbaring dengan posisi fleksi (menekuk).
Warnanya merah muda. la menangis. Pernapas-annya
teratur. la memberikan respon terkejut yang normal, jika
tiba-tiba diberi sentakan (ia akan melemparkan tangannya
ke arah depan luar seperti hendak meraih seseorang). Ini
disebut refleks Moro.
a) Kepala
1) Ukurlah lingkar kepala. Ukuran kepala yang
tidak normal besarnya disebut hidrosefalus. Ukuran
kepala yang terlalu kecil disebut mikrosefalus. Lingkar

2) Rabalah fontanela anterior, seharusnya tidak


menonjol (membengkak).
3) Lihatlah adanya celah bibir (seperti bibir kelinci)
atau celah palatum.
b) Punggung.
Spina bifida merupakan kelainan tulang belakang pada
bayi. Tidak didapatkan tulang dan kadang-kadang tidak
ada kulit yang menutupi sumsum tulang belakang bayi.
c) Anus
Periksalah apakah anus terbuka dan mekonium dapat
keluar. Ini untuk meyakinkan tidak adanya anus
imperforate/atresia ani. Anus imperforata atau atresia ani
merupakan kelainan kongenital pada anus dimana tidak
terdapatnya lubang anus.

4. Kunjungan IV
Pada 6 minggu setelah kelahiran
a. Memastikan bahwa laktasi berjalan baik dan berat
badan bayi meningkat
b. Melihat hubungan antara ibu dan bayi.
c. Menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke
posyandu untuk penimbangan dan imunisasi

THANK YOU